
Axel tak berhasil membawa kembaranya menemui Dhyrga sang ayah. Alex yang keras kepala, tegas menolak dengan alasan apa pun.
Alex hanya akan hadir di acara-acara Livia saja, kebetulan beberapa hari ini anak mungil itu banjir acara, dan salah satunya menerima penghargaan di guinness world record, juga acara award untuk kategori pendatang baru termuda.
Pesta demi pesta Lily dan Livia lalui. Namun, sejumlah ia mendatanginya, tak satu pun Axel ikut hadir di tengah-tengahnya.
Sering kali Lily diam-diam mencari-cari sosok tampan mantan CEO nya. Entah ke mana perginya, Lily enggan untuk bertanya.
Sejauh ini selalu Alex yang menemani Lily dan Livia. Tak ayal, semenjak kedatangan Alex, Livia selalu dibuat mencari papanya.
Setelah menghadiri acara penghargaan untuk yang ke sekian kalinya, Livia pulas tertidur dalam gendongan sang Papa.
Diiringi asisten dan kru Livia. Lily dan Alex berjalan beriringan seperti keluarga yang bahagia.
Malam ini Lily cantik dengan gaun dan sepatu hak tinggi silver glamour, juga rambut tercepol.
Alex yang Lily lihat malam ini, Alex yang tampan, Alex yang gagah dengan mengenakan kemeja slim dan sepatu mahal.
Alex sengaja membelinya dari hasil kerja sendiri demi bisa hadir di acara Livia.
Tiba di kamar, Lily membuka beberapa pintu untuk sampai ke dalam kamar pribadinya.
Erina dan asisten lainnya memasuki ruangan lain. Di dalam kamar hotel kelas presidential ini, ada beberapa ruangan untuk asisten Livia termasuk sofa ruang tamu juga balkon.
Alex masuk untuk kemudian meletakkan putrinya di atas ranjang super king dan Lily berdiri di sisi ranjang menatap keduanya.
"Terima kasih untuk malam ini." Ucap Lily.
Sekarang, wanita itu lebih memilih berdamai dengan keadaan, bahwa Alex juga orang tua Livia dan Livia membutuhkan pengakuan ini.
Alex mengangguk. "Sama-sama. Aku lebih berterima kasih, kamu membolehkan aku terus menerus mendampingi Livia."
"Livia berhak atas mu." Sambung Lily.
Alex tersenyum kecil lalu menunduk, Lily yang dilihat sekarang benar-benar Lily yang dahulu dia dekati.
"Kalo gitu aku pulang sekarang." Baru saja Alex berpamitan Livia sudah bangkit dari bantalnya.
"Papa mau pulang ke mana?" Lily menoleh pada Livia. Rupanya anak itu menjadi ketergantungan pada ayah biologisnya.
"Papa mau pulang dulu Sayang, besok mungkin Papa Shanshan datang lagi main sama Shanshan." Kata Lily, ia belai pucuk kepala Livia agar mau kembali terbaring.
Livia menggeleng. "Kenapa tidak di sini saja bobok sama Shanshan?" Sanggah nya.
Alex melebar bibir. "Ok, Papa here." Katanya, kemudian beralih pada Lily. "Aku mungkin pulang setelah Shanshan tertidur lagi. Bolehkah?"
"Boleh." Lily mengangguk membiarkan Alex menemani putrinya terbaring di atas ranjang, tentunya setelah Lily mengganti pakaian Livia.
Detik berikutnya Lily memilih untuk pergi ke dalam kamar mandi dengan membawa pakaian ganti.
Beberapa menit kemudian, Lily keluar sudah lengkap dengan stelan piyama pendek berwarna merah maroon.
Livia sudah tertidur, tapi Alex pun ikut tertidur di atas ranjangnya dengan posisi memeluk putrinya.
Lily menghela napas, lalu menarik selimut untuk menutupi sekujur tubuh anak dan ayah yang sedang berpelukan.
Lily tak berani membangunkan pria itu. Mungkin Alex juga lelah setelah ke sana kemari menemani Livia.
Lily mengalah tidur di ruangan lain, yaitu sofa ruang tamu. Berjalan lemah Lily keluar dari kamar dan menutup pintu.
__ADS_1
Dihempasnya sang raga yang lelah kepada sofa empuk berwarna biru muda. Pikir mulai melayang setelah malam dingin menghampiri kesendirian.
Disaat seperti ini, siapa yang melingkupi isi kepalanya? Apakah Alex yang ada di dalam kamarnya?
Bukan, melainkan Axel yang entah berada di mana? Bagaimana kabarnya, masihkah berharap padanya?
Sudah beberapa hari ini CEO tampan dari perusahaan Millers-Corpora itu tak ada nampak di hadapannya.
Bukankah kesuksesan Livia juga andil dari lelaki itu? Lalu setelah banyaknya penghargaan yang Livia tuai, Axel justru kembali tak terlihat.
Mungkinkah karena Alex dan Livia menjadi dekat sejak saat pemberian coklat, sementara Lily tak pula menjawab lamaran terakhir Axel?
Mengingat Axel, malam Lily selalu hampa, ingin menghindar tapi setelah terhindar Lily justru merindukan sosoknya.
"Apa Axel masih menginap di kamar hotel sebelah?" Lily bergumam lirih.
"Tapi untuk apa aku ke sana? Bukannya bagus kalau Axel menyerah lagi? Aku tidak perlu menerima lamaran nya."
Detak jam dinding terdengar dalam keadaan sunyi senyap sepi seperti ini. Lily menoleh pada benda bundar tersebut, waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi.
"Sudah malam, lebih baik aku tidur saja." Lily meraih jaket miliknya untuk menyelimuti tubuhnya.
Sepuluh menit ia terbaring di sofa, dua puluh menit ia di sana, Lily tak pula berhasil memejamkan matanya. "Ck!"
Sempat Lily berpindah-pindah tempat dan posisi tidur demi mencari kenyamanan istirahat baginya, sampai puncaknya ia bangkit dan keluar dari kamar hotel.
Lorong suite ini kosong seperti tak berpenghuni. Mungkin semua penyewa tempat sudah lari ke alam mimpi.
Langkah gamang Lily terayun menuju kamar sewaan milik Axel, dengan harapan lelaki itu masih menginap di sini.
Tepatnya di depan pintu bernomor 1001, Lily menghela napas berat sambil memandangi belnya saja.
Belum menekan bel Lily sudah urung dan berpaling. Namun, bersamaan dengan itu, Axel berdiri menatapnya di sudut lorong yang sama.
Axel melangkah mendekat, sepertinya Axel baru saja tiba dari lift. "Kamu di sini?" Hening terpecah oleh suara berat lelaki itu.
Lily menarik lengkungan bibir seraya menggaruk tengkuk. "K-kamu juga."
"Aku dari luar. Cari suasana baru. Rudolf sama Gesya ada di bar bawah." Jawab Axel.
"Oh." Lily kikuk, jujur ia tak tahu harus berkata apa, sebab saat ini Lily merasa terciduk, mendatangi pintu kamar Axel.
Beberapa hari ini bukan menghilang, Axel hanya ingin memberikan ruang untuk Alex menunjukkan tanggung jawabnya.
Sejauh ini Lily hanya diam tak menjawab IYA atau pun TIDAK untuk lamarannya, yang mana membuat nyali Axel kembali menciut.
Mungkin juga karena watak dari keluarga Dhyrga pantang mengemis, maka terkesan gengsi dan arogan untuk ukuran orang yang benar-benar mencinta seperti Axel ini.
Terlebih, Alex selalu membahas tentang Livia dan Lily yang akan jatuh pada Axel. Jujur, hal itu membuat Axel merasa menjadi perenggut keutuhan keluarga kecil Livia.
"Kamu ada perlu, atau, ..."
"T-tidak ada! Aku hanya kebetulan lewat saja tadi, b-begitu." Lily memotong dengan cepat. Meski setelahnya Lily menyesali kenapa harus berbohong soal keberadaannya di sini?
Axel tersenyum sangat manis, ia menepuk pelan kepala Lily. "Kalau begitu selamat malam. Semoga mimpi indah, aku masuk dulu." Pamitnya.
Lily bergeming membiarkan Axel masuk ke dalam kamar. Di tempatnya Lily hanya terpaku menatap pintu kamar milik Axel.
Kemarin Lily masih baik-baik saja melihat pintu kamar ini tertutup, tapi kenapa hari ini ia merasa sakit?
__ADS_1
Rasanya sang kaki enggan untuk beringsut walau hanya satu geseran. Kepalanya mulai tertunduk ke bawah.
Kenapa sulit sekali mengakui perasaannya dan menerima lelaki itu? Tapi dari perilaku Axel, mungkinkah Axel sudah tidak lagi berharap padanya?
Klekk...
Setelah cukup lama terdiam pilu, kembali Lily mendongak, di depan sana Axel membuka kembali pintunya. "Kamu masih di sini?"
Lily menunduk. "Maaf." Lirihnya.
"Kenapa harus minta maaf? Kamu butuh sesuatu? Bilang saja padaku." Axel memastikan.
Lily mendongak kemudian mengangguk secara perlahan.
"Perlu apa, biar aku telepon Rudolf sekarang."
Lily menggeleng pelan. "Gimana kalo ternyata, aku yang membutuhkan dirimu?"
Degup....
Axel terhenyak, antara senang tapi tidak mempercayainya.
"Maaf Xel, tapi aku merindukan mu."
Secara cepat Axel menarik lengan Lily untuk dimasukkan ke dalam kamarnya.
Brakkk....
Axel tekan punggung Lily pada permukaan pintu yang tertutup hingga menyatu kedua pasang bibir mereka.
Apa lagi memangnya? Sudah lama Axel ingin jawaban Lily, tak mau ia sia-siakan lagi semua kesempatan ini.
"Ahh." Lily mendongak setelah merasai gigitan kecil di bibir bawahnya. Terhanyut keduanya dalam belitan indera perasa yang saling mencecap.
Pertukaran saliva ini berhasil membangunkan gejolak lelaki yang Axel miliki. Udara yang dingin tak berlaku baginya, tubuhnya dikuasai nuansa erotik.
"Sial!" Tanpa menghentikan aktivitas bibir, Axel melepas jaket tebalnya dan membuang serampangan.
Seperti manusia pada umumnya, Lily juga bisa khilaf, dia hanya mampu diam bahkan membalas serangan anarki bibir Axel.
Tak hanya itu saja, tangan Axel berkelana menjelajahi ceruk leher, lalu menarik kerah piyama Lily hingga runtuh beberapa kancing berjatuhan ke lantai.
"Xel." Lily mulai takut dengan gerakan predator Axel, sekuat tenaga ia dorong tubuh bidang lelaki itu lalu menatapnya cemas.
Axel tergagu, ia teguk saliva tanda gugupnya, oh Tuhan, apa ini? Barusan dia menunjukan keasliannya kembali, di mana dia terlalu rapuh jika sudah bertatapan langsung dengan wanita kesayangannya.
Lihatlah busana Lily yang terbuka sebagian, rambut Lily yang sudah setengah acak- acakan karena ulahnya, bibir Lily yang rupanya terdapat bekas gigitan nakalnya.
"Sorry." Axel mengusap sisa saliva di bibir Lily, kemudian membetulkan kembali rambut dan baju Lily. "Lebih baik kamu pulang." Usirnya.
"Kenapa?" Lily masih rindu, tapi Axel mengusirnya begitu saja.
"Aku takut khilaf." Axel membuka pintu lalu memaksa Lily keluar. "Aku telepon saja dari kamar." Ucapnya.
Brakkk....
Lily terkikik setelah Axel menutup pintu kembali. Kali ini Lily merasa bahagia meski Axel mengusirnya.
Lega rasanya, setelah berani jujur dengan perasaanya. Dalam langkah, Lily mengusap bibirnya, seolah baru mendapatkan ciuman pertama.
__ADS_1