
Axel senyap, namun tetap menikmati semua hidangan yang disajikan oleh Lilyana. Ini rasa yang khas, rasa yang membuatnya rindu, Axel semakin dibuatnya terjerembab ke dalam memori indah terdahulu.
Sementara Axel terus menatap wanita kuat itu, Lily acuh melakukan tugas-tugas yang belum terselesaikan.
"Dia ini manekin atau robot, dia bahkan tidak terganggu dengan keberadaan ku."
Axel membatin sinis. Sebetulnya bukan tidak terganggu, tapi sebisa mungkin Lily bertahan di tempat ini.
Yah yah yah, tanggal 20 tanggal di mana Lily menerima gajinya, baru setelah itu Lily akan pergi ke Jerman bersama Livia.
"Kamu ngapain lihatin Lily mulu?" Miley sadar akan keanehan calon tunangannya. "Kamu kenal sama dia?"
Axel menoleh gagu. Entah harus menjawab pertanyaan Miley dengan cara apa, pastinya Axel tidak mungkin mengaku-ngaku sedang wanita di dapur sana hanya cuek saja.
"Tunggu bentar." Setelah mengelap setitik bibirnya dengan tisu, Miley bangkit dan berjalan menuju sebuah sofa di ruang sebelah.
"Persetan!" Tak tahan dengan gejolak diri, Axel berdiri menyatroni meja dapur.
Berdiri tegak Axel di depan Lilyana, jaraknya hanya terpaut meja marmer saja di antara mereka.
Yang membuat heran adalah, tak sedikit pun Lily beringsut. Ekspresi saja masih sama datarnya, seperti tidak mengenal dirinya.
"Kamu lupa dengan wajah ku?" Pertanyaan aneh yang tiba-tiba Axel celetukan.
"Hah?" Lily mendongak menatap Axel. Raut frustrasi terulas jelas di wajah tampan lelaki itu.
"Kenapa seacuh ini kamu padaku, kepala kamu pasti dianiaya Miley sampai kamu amnesia." Tuding Axel.
"Lily."
Tak mau meladeni Axel, Lily mengindahkan seruan majikannya. "Iya Nona."
Miley mendekati Lily. "Ini gaji mu. Kamu langsung pulang saja. Aku mau berdua sama tunangan ku." Ujarnya.
Lily menyengir menerima gepokan uang di balik amplop coklat. "Jadi saya boleh pulang Nona?" Akhirnya, ia segera mendapatkan gaji terakhirnya.
"Iya." Miley melipat tangan di dada. Pandangan lalu terarah pada wajah kesal Axel.
Bagaimana mana tidak kesal, barusan Miley mengatakan tunangan, tapi ekspresi Lily tak secuil pun keheranan.
"Terima kasih, saya permisi." Tanpa pikir panjang, Lily bergegas berlari dan berlalu.
"Ly!" Secara reflex Axel mengikuti langkah kaki Lily yang kemudian menghilang di balik pintu kaca.
"Xel!" Sayangnya Miley selalu menghalangi jalannya. Wajah Miley mulai bosan. "Kamu ngapain sih?"
"Aku ada perlu sama Lily." Tak ada goresan selain kesal yang Axel tunjukkan.
__ADS_1
"Jangan gila kamu. Memang siapa dia?"
"Dia mantan sekretaris ku." Axel ketus.
"Sekretaris?"
"Aku tidak punya waktu menjelaskannya padamu!" Kembali Axel bergegas, dan lagi Miley menghalanginya.
"Tunggu Xel, kamu sudah ke sini, ..."
Axel menyela keras. "Orang yang kamu bilang hanya anak panti asuhan, dia sangat berarti bagiku!"
"What?" Miley terperanjat.
"Permisi." Segera Axel melanjutkan langkah, meninggalkan Miley yang tercengang tak percaya.
"Sial!" Axel mengumpat. Lari Lily cepat sekali. Sepertinya Lily benar-benar ingin menghindari keluarga Miller untuk selama lamanya.
"Lily, tunggu!" Sampai di luar, Lily sudah ngacir dengan skuter matic. "Ah, Sial!"
Axel berlari menyatroni mobil sport tanpa atap miliknya, segera ia melompat ke jok kemudi kemudian melajukan kendaraannya.
"Bos, woy, Bos, tunggu aku!"
"Rudolf sialan, apa lagi ini!" Lagi-lagi Axel mengumpat, rupanya Rudolf berlari di belakang mobilnya.
Tak ayal, barusan Rudolf asyik menelepon Gesya, lalu tiba-tiba mobil sang Tuan melaju begitu saja.
Kembali Axel melajukan kendaraannya dengan pandangan terus tertuju pada wanita bermotor yang sudah keluar dari persimpangan jalan.
"Kenapa cepat sekali larinya!" Rutuknya.
"Bos gila hah? Aku mau di tinggal sendiri di kota orang! Kalo di culik Tante-tante gimana? Kan keenakan akunya." Keluh Rudolf.
Axel berdecak. "Lily di sini bodoh!"
"What?" Rudolf mendelik. "Lily?"
"Selama ini dia kerja di rumah Miley!" Sambung Axel.
Rudolf terkekeh cibir. "Bos yakin itu Lily? Bos lupa, berapa kali Bos mau memperkaus ku gara-gara penyakit delusi Bos yang menganggap semua orang Lily!"
"Ini benar-benar Lily!" Axel memotong ketus. "Aku tidak sedang berhalusinasi!"
"Serius?"
"Sumpah, kayaknya dia baik-baik saja selama ini, bahkan sialnya lagi, dia lebih cantik dari sebelumnya." Axel bahkan sempat-sempatnya mengutarakan itu.
__ADS_1
Rudolf tertawa renyah. "Penyakit mantan emang gitu, kalau sudah lepas, pasti lebih glowing."
Axel tak menggubris, Axel fokus pada motor Lily yang tiba-tiba menepi di keramaian. "Itu motornya, kita turun, ..."
"Ok." Rudolf menurut, keduanya mengejar ke arah mana Lily berlari, dan yah Lily memasuki kerumunan orang di pasar.
Rudolf dan Axel berpencar, entah lah semakin banyak orang di dalam sana, Axel dan Rudolf semakin dibuat bingung.
Sampai akhirnya pada satu titik Rudolf dan Axel di pertemukan kembali dengan tubuh membungkuk dan napas yang menderu-dera.
"Tidak ada di mana pun!" Kata Axel, ia tengok kanan dan kiri, sepertinya Lily sudah khatam sekali pasar tradisional ini.
Lihatlah ke bawah, sepatu mahal Axel harus berkubang dengan genangan air berbau ikan segar. Ya Tuhan, ini kali pertama Axel masuk ke pasar.
"Dia pake baju apa memangnya? Aku kurang pasti, semuanya samar." Sambung Rudolf terengah-engah.
"Dress putih polos, rambut lurus, ah, sial, dia makin cantik saja Rudolf!" Axel mengusap kasar wajahnya secara frustrasi, niat ingin melupakan kenapa justru menemukan.
Rudolf terkikik. "Kayaknya Bos nggak hanya butuh psikolog, serius deh, Bos butuh psikiater, Bucin mu sudah kronis level mau mampus!" Gelaknya.
"Sialan!" Tepukan keras mengenai kepala Rudolf. Asisten laknat memang, bukannya simpatik malah menertawakan.
"Kita ke parkiran ajah deh. Motor Lily mungkin masih di depan, kita tunggu di sana." Usul Rudolf.
"Hmm." Axel setuju untuk ikuti kata-kata Rudolf kembali. Keduanya berjalan beriringan bahkan sesekali berdesakan untuk segera keluar dari pasar.
Benar kata Rudolf, motor matic Lily masih terparkir di depan. "Syukurlah." Akhirnya, mereka masih berkesempatan untuk bisa menemukan Lilyana.
"Kita tunggu di sini. Sampai Lily menyerah datang." Kata Rudolf masih tersengal. Axel mengangguk dan setuju menunggui motor Lily.
Satu jam, dua jam, tiga jam. Axel berjongkok, duduk, bahkan berdiri mondar-mandir. Sampai siang terik begini, Lily tak jua muncul.
"Dia sangat membenci ku kah?" Lirih Axel.
Rudolf terkekeh remeh. "Ya iyalah. Cuma karena Lily mantan One-Night-Stand Tuan Alex, Bos pecat dia gitu ajah, Rudolf kalo jadi Lily juga pasti kesel, untung nggak dikirimin paku biar muntah palu sekalian." Katanya.
Axel meraup wajahnya dengan kedua tangan. Axel setuju. Yang dikatakan Rudolf memang benar adanya. Dia terlalu ceroboh memecat Lily begitu saja.
"Ya Tuhan!" Rudolf menepuk dahinya, sesaat setelah menyadari sesuatu. "Kenapa nggak kita coba minta tayangan video CCTV saja!"
Axel memukul kepala asistennya. "Alah, kenapa jadi bebal begini sih otak kita? Brengsek! Cepetan!" Pekiknya emosi.
Dalam kondisi yang tidak waras karena cinta, mungkin wajar Axel bebal, tapi kenapa Rudolf pun ikut-ikutan bebal.
Gegas Rudolf pergi menuju pos yang mungkin bisa menunjukkan CCTV di seluruh sudut tempat ramai ini.
Axel mendengus, di saat begini lah, dia memerlukan kepandaian meretas milik Rega sepupunya. Tapi di hari Minggu begini mungkin Rega si anak badung masih tidur.
__ADS_1
"Astaga, aku benar-benar sudah gila!"
👻OTW, bab keduanya hari ini... Terima kasih dukungan vote dan lainnya....