
Alex bergeming menatap berlalunya punggung Lily yang semakin menjauh.
Alex bertanya-tanya. Di mana Lily yang dahulu tergagap-gagap saat bicara? Di mana Lily yang dahulu hanya diam dan menangis saat orang orang membully?
Alex merasa asing dengan wanita itu. Lily yang sekarang seperti bukan Lily yang dahulu ia tiduri. Bahkan, Lily bilang lupakan saja semua yang pernah terjadi di antara mereka.
Namun, kenapa kok rasanya sulit sekali melepaskan wanita yang pernah dia renggut kegadisannya.
Dahulu Alex mungkin tidak merasa terusik karena Lily tak terlihat oleh retinanya, namun kali ini Lily benar-benar ada di hadapannya bahkan telah masuk ke dalam lingkungan keluarganya.
"Tuan muda, ..." Dari belakang Miko menyerukan panggilan.
Alex menoleh. "Hmm?"
"Ada penemuan baru dari kasus berlian- berlian yang 15 bulan lalu di beli dengan kartu kredit Anda." Bisik Miko.
Alex manggut-manggut. "Bagus, kita bicara di ruangan Kak Cheryl saja." Ajaknya.
"Baik."
Miko mengikuti langkah kaki sang Tuan, mereka memasuki sebuah ruangan yang didominasi warna merah muda sebab dahulunya tempat ini milik Cheryl Arsya sang kakak.
Dari kursinya Alex masih bisa melirik pada sosok Lily yang duduk serius di depan meja Axel.
"Gimana?" Setelah mengamati Lily, Alex beralih menatap Miko. Entah lah, kasus Lily menjadi sangat menarik untuk dia ulik.
Miko menyodorkan layar ponselnya demi menunjukkan bukti rekaman CCTV pada sang Tuan.
"CCTV merekam, setelah pembelian tiga set perhiasan, Nona Lily tidak lagi datang ke toko ini. Tapi, ..." Miko terlihat tak nyaman mengutarakan kebenarannya.
"Tapi?"
"Keesokan harinya, Morgan teman Anda, datang ke toko ini lagi dan melakukan transaksi dengan kartu kredit yang sama."
"Morgan?" Alex terhenyak.
Bukankah Morgan menjadi satu-satunya teman yang paling mendukung dirinya? Kenapa setega itu Morgan menipu dirinya? Padahal jika untuk urusan uang saja, Morgan tak harus menipu dengan cara murahan seperti ini?
"Tim kami juga menemukan CCTV di area apartemen Morgan, Nona Lily juga sempat datang ke sana untuk mengembalikan kartu kredit Tuan muda." Terang Miko lagi.
__ADS_1
"Jadi bukan Lily?"
"Bukan Tuan." Sanggah Miko.
Seketika itu juga, Alex merasakan desiran aneh di sekujur tubuhnya. Antara merasa kesal, bersalah, malu, marah bercampur aduk menjadi satu.
Wajar jika kala itu Lily membeli tiga set perhiasan dari uang miliknya. Mungkin Lily memang perlu uang untuk bisa kembali ke negaranya tanpa hambatan.
Perlahan Alex melenggang pandangan ke arah meja Axel. Di sana juga ada Lily yang berdiri di sisi meja. Memakaikan dasi bergaris miring pada leher adik kembarnya.
Alex paham sekarang. Mungkin keberanian Lily berasal dari kekuasaan yang Axel miliki, tapi untuk alasan apa pun, Axel tak pantas bersanding dengan Lily.
"Tuan muda baik-baik saja kan?" Miko bertanya memastikan.
Alex mengusap wajahnya, tentu jawaban Alex tidak baik-baik saja. "Kamu pergilah, aku mau sendiri!" Usirnya lirih.
"Baik." Miko pamit undur seperti yang Alex titah kan.
Bukan tanpa alasan Alex datang ke sini, hari ini ada rapat pemegang saham yang memang melibatkan dirinya. Namun, melihat Axel bersama Lily entah kenapa Alex bosan berada di tempat ini.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Lima jam berlalu, hampir seluruh karyawan Millers-corpora berhamburan memadati kantin karyawan, tempat ibadah, toilet dan lain sebagainya.
Lily keluar dari bilik toilet setelah lengkap dengan pouch khusus asinya, rasa sakit di bagian dada sudah sedikit berkurang setelah ia memindahkan asi Livia ke dalam botol.
Sebelumnya Lily sudah menyempatkan waktu untuk melaksanakan kewajiban menurut kepercayaannya, lalu sekarang saatnya touch up supaya ia keluar dari toilet dalam keadaan segar.
Lily terbiasa membawa dua pouch, ia selalu meletakan pouch khusus asinya di atas permukaan granit wastafel, lalu satunya lagi ia buka untuk meraih make-up miliknya.
"Hay Lily, bagi make up dong." Baru saja mengikat rambut dengan karet khusus, secara tiba-tiba seorang wanita merenggut pouch putihnya tanpa izin.
Lily menoleh mengernyit, rupanya Luna yang menyeringai menatapnya. "Bagi lipstik dong." Ledek nya basa-basi.
Lily tahu Luna hanya mau mencari gara-gara saja padanya. "Kembalikan pouch ku!"
Lily mencoba merebut haknya, namun Luna melempar pouch asi Lily pada teman lainnya.
"Jangan pelit lah." Gina nama gadis yang memutar mutar kan pouch Lily. "Aku juga pengen cantik biar bisa gaet cowok tajir kayak Lo."
__ADS_1
"Kembalikan kata ku!" Kali ini Lily berusaha meraih pouch nya dari Gina, lalu gadis itu melemparkannya kembali pada Luna.
"Ini bukan lipstik, ini asi." Luna tergelak renyah setelah berhasil merontokkan seluruh isi pouch asi Lily.
Ada dua botol asi yang terisi penuh. Lily mendelik mendapati itu. "Kalian kenapa sejahat ini?"
"Asi?" Semua karyawan yang kebetulan melihat ikut terperangah. "Jadi kamu me-nyu-sui Ly?"
"Oh, jadi ternyata Lily beneran simpanan Om Om? Jadi ternyata bener Lily pela-cur? Jadi ternyata Lily punya anak setan di luar pernikahan!" Sarkas Luna.
"Sini kamu, ..." Lily diseret keluar oleh Gina dan Luna. Lalu beberapa gadis lainnya pun ikut mengarak nya.
"Luna!" Lily meronta.
"Apa-apa an ini?" Axel dan Rudolf baru saja tiba, ia tak sengaja membegal jalan Luna beserta teman-temannya.
Kebetulan sekali, Luna memang ingin menunjukkan gosip terkait Lily pada atasan tampannya. Di tempatnya, Lily hanya diam menunduk.
"Ini Pak, Lily kedapatan memompa asi di toilet, ternyata benar dugaan kami, kalo Lily ini simpanan Om Om, Lily punya anak hasil hubungan gelap. Kita semua ditipu sama wajah polos dia Pak." Luna berujar lantang.
"Harusnya Pak Axel pecat saja wanita racun seperti ini, takutnya Bapak Bapak di kantor ini pada tergoda sama dia!" Timpal Gina.
"Iya bener Pak, cewek simpanan nggak boleh kerja di sini!" Usul yang lainnya.
"Rudolf!" Axel justru menyerukan panggilan pada asisten personalnya, dan seketika ruangan itu menjadi lebih tenang.
"Siap Bos!" Rudolf maju.
"Urus mereka yang terlibat." Axel menarik lengan Lily untuk kemudian di bawa pergi.
"Sudah ku bilang, lawan mereka yang menyakitimu bodoh!" Axel merutuki sekretaris kesayangannya. Sementara wanita itu hanya bisa pasrah, mengikuti langkah panjang Axel.
Di sudut tempat, ada Alex dan Miko yang sedari tadi setia mengamati kejadian tersebut.
Barusan Alex melihat sendiri bagaimana karyawan Millers-corpora menghardik Lilyana hanya karena ketahuan memompa asi.
"Jadi benar anak lucu itu milik Lily?" Alex bergumam lirih. Jika di ingat lagi, anak perempuan yang kemarin Lily gendong masih belum berusia satu tahun.
Alex ingat betul, mata bulat Livia sama persis dengan miliknya. "Apa menurut mu, anak cantik itu mirip dengan ku?" Lirih nya kembali.
__ADS_1
Miko menundukkan kepalanya. "Saya belum melihatnya secara pasti Tuan." Ungkap nya.
Alex terkekeh sumbang. "Bilang saja tidak, aku akan lebih senang." Alangkah bejat dirinya jika sampai Livia benar-benar putrinya.