
Bertahun-tahun telah berlalu, Lily hamil anak kedua tepat di usia Shanshan yang ke sepuluh tahun. Axel sempat pasrah jika memang tak dikaruniai seorang anak pun.
Lantas, kesabaran berbuah manis. Lily diberikan kesempatan untuk hamil lagi setelah sekian lama menikah dengannya.
Bulan ini baru akan memasuki bulan ke sembilan, yang itu berarti Lily tengah menunggu detik-detik kelahiran putra pewaris Millers-corpora.
Pukul satu Lily terbangun untuk pipis, dan sekarang tengah berdiri di sisi meja dapur. Semakin banyak pipis, semakin Lily merasa dehidrasi.
Ponsel miliknya dia letakkan di meja setelah membalas pesan singkat dari suaminya. Axel masih dalam perjalanan pulang.
Merasa ada gerakan yang cukup kuat di perutnya, Lily duduk pada kursi. Sejenak mengangkat sedikit perutnya ke atas agar lebih lega lagi.
Lily menghela napas, lalu mengembuskan lewat mulutnya. Biasanya metode ini berhasil menenangkan pada masa kontraksinya.
Namun, sudah semakin lama semakin kuat lilitan di perutnya. Pergerakan janin seperti sedang merosot ke bawah.
Lily ingat, beginilah rasanya saat Livia akan lahir ke dunia. Dan mungkin, kali ini pun putra Axel yang akan lahir ke dunianya.
"Ah!"
"Lilyana!" Lily menerima rengkuhan tangan dan lekas dia genggam. "Kayaknya sebentar lagi aku melahirkan, Pa!"
"Aku Alex, Ly!" Wanita itu menoleh tajam tapi kemudian nanar karena sakit di perutnya tak tertahankan.
Lily lupa jika Axel tengah dalam perjalanan bisnis dan malam ini lelaki itu sedang dalam perjalanan pulang. Lily juga melupakan, jika sore tadi Alex pulang untuk putrinya.
Lily melepas tangan Alex. "Maaf." Lily ingin bangkit dari duduk, lalu terduduk kembali setelah merasakan kontraksi yang lebih kuat.
"Aku antar ke rumah sakit ya?" Alex terlihat cemas. Lelaki itu berputar untuk menghadapi tubuh Lily.
"Tidak usah!" Lily menepisnya. "Sebentar lagi Axel datang. Dia sudah dekat."
"Dan kau akan menunggu dengan kondisi yang seperti ini, begitu?" Alex menegur ketus.
"Nona Lily kenapa?" Pelayan datang dan melihat ringisan sang Nyonya.
"Sepertinya mau melahirkan!"
Alex lancang merengkuh Lily untuk digendong. Lily berusaha menepis tapi kemudian Alex menyentaknya.
__ADS_1
"Diam saja!"
Sakit membuat Lily pasrah saat Alex memboyong tubuhnya keluar dari rumah. Satu mobil segera bersiap dengan sopir yang berlari siaga.
Pelayan kembali ke kamar Shanshan untuk memastikan anak itu tidak terbangun. Lalu memberikan kabar pada Tuan Dhyrga Miller dan Nyonya Queen bahwasanya Nona Lily telah dibawa ke RS.
Di mobil Alex terus memandangi Lily yang bergerak-gerak tak tentu arah. Jika melihat gigitan bibirnya, Alex yakin Lily sangat sakit.
"Kau boleh remas tangan ku!"
Alex mengulur tangan pada wanita itu. Tak ada sahutan dari Lily karena perempuan itu tak mungkin bisa melakukannya sebab yang disisinya bukan suaminya.
"Apa saat melahirkan Livia, kau seperti ini juga? Apa sesakit ini juga?" Alex tiba-tiba melankolis, Alex tiba-tiba ingin kembali ke masa di mana dia masih gila pada Angel.
"Aku minta maaf pernah membuat mu berada di titik ini tanpa aku. Terima kasih sudah mempertahankan Livia meski sulit seperti ini."
Lily menatap pria itu. "Diam Alex, kita sudah tidak pantas membahas ini lagi. Kau sudah punya istri, dan istri mu juga sedang hamil."
Alex paham soal itu. "Aku hanya penasaran, saat kau melahirkan Livia. Dan aku tidak tahu sama sekali. Kau pasti lebih sakit dari ini."
"Kau tidak berhak tahu!" Lily memalingkan wajahnya ke luar. Dia nikmati rasa sakit ini tanpa menunjukkan kesakitannya atau Alex akan terus mencecarnya dengan pertanyaan.
"Tidak, jangan masuk!"
Alex memang sering lupa jika dirinya sudah tidak berhak atas Lily. Atau mungkin tidak pernah berhak atas Lily, dulu hingga kini.
Alex keluar membiarkan dokter menangani iparnya. Tak lama Axel datang dengan berlari penuh kecemasan.
Axel sendiri tak mengira jika hari perkiraan lahir putranya akan maju karena ini baru akan menginjak bulan ke sembilannya.
"Lily sudah ditangani?" tanyanya pada Alex.
"Hmm." Alex mengangguk dan keduanya sama-sama berjalan mondar-mandir bahkan saling berpapasan.
Axel merasa ini tidak seharusnya. "Ngapain kamu ikut mondar-mandir begitu Alex!?"
Alex terkekeh kesal. "Ini ekspresi orang cemas, kau tahu!" ketusnya.
"Kau mungkin lupa, tapi aku ingatkan lagi, yang di dalam sana itu istri ku!" tukas Axel.
__ADS_1
"Astaga, kau cemburu?" Alex memutar bola matanya malas malasan.
"Aku tahu kau masih memiliki perasaan padanya." Axel bukan orang yang asal menuduh, karena dia sering kali memergoki Alex menatap istrinya secara diam-diam.
"Kamu punya istri, Lex! Kau tidak berhak mencemaskan Lily seperti ini!" tegurnya kembali.
"Anggap aku menyayanginya sebagai ipar! Kau jangan salah paham dulu!" sanggah Alex.
Axel tergelak samar. "Aku bukan orang lain. Aku kembaran mu, kita bersama semenjak masih di dalam rahim, aku tahu perasaan sesal mu sudah berubah jadi kekaguman padanya. Hentikan itu dan mulai hidup baru mu tanpa mengingat-ingat masa lalu!"
"Jangan menggurui ku!" Alex ketus. Tahu apa Axel soal hidupnya, dia bahkan merenggut Lilyana dan Livia tanpa rasa bersalah.
"Suami Nyonya Lilyana!" Dokter keluar beriringan dengan suara tangisan bayi di dalam sana. Alex dan Axel segera mendekat.
"Bayinya laki-laki dan sangat tampan, dia mirip dengan Anda!" Dokter wanita itu menatap ke arah Alex.
"Saya suaminya!" Axel menyelanya dengan nada ketus. Membuat dokter itu seketika mati kutu, mati gaya, matilah dia.
"Oh, maaf Tuan." Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Saya kehilangan fokus!"
"Periksa lagi matamu!" Axel melewati wanita itu dengan kesal. Sedang Alex tertawa pelan melihat kembarannya uring-uringan.
"Sayang!" Axel mengecup kening Lily. "Terima kasih sudah memberikan aku satu anak lagi."
"Selamat Lily." Alex tersenyum sekilas dan benar-benar hanya sekilas saja.
Lily mengangguk senyum. "Terima kasih. Semoga selamat juga untuk putri kembar kalian, Lex."
Tak lama perawat membawa semungil bayi merah dengan mata biru dan hidung tegak tingginya. "Namanya siapa?" Alex bertanya pada saudaranya.
"King Miller, Asyraf King Miller!" Dengan bangga Axel mengutarakannya.
"Semoga kau tidak menuruni sikap dingin Daddy mu, Boy!" Alex mengecup pipi lembut keponakannya. "Kau tahu, dia tidak asyik sama sekali!"
"Aku harap, King tidak meniru mu yang play boy! Amit-amit!" sela Axel.
Lilyana menggeleng melihat keduanya, sudah dia katakan ini tidak mudah. Tapi, beruntung kedua lelaki itu tidak saling menjatuhkan di hadapannya.
...📌 Terima kasih sudah membaca tambahan part ini... Kesayangan kooh, yang mau baca novel King Miller, ada di bawah yaa, menikahi cewek pesantren....
__ADS_1
...Kalau ditanya perasaan Alex condong ke istrinya atau ke Lily. Jawabannya, seperti perasaan Shinta yang tidak terdeteksi lebih condong ke siapa, Rama atau Rahwana... Jiaaaaaahh, kuno bet......