Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Hotel London


__ADS_3

^^^London, 25 Januari.^^^


Mengenakan busana musim dingin. Berdiri Lily tertegun seorang diri. Kini ibu satu anak tanpa suami itu tengah mengamati setiap inci dari bangunan megah hotel bintang lima ini.


Tak dinyana, ia mampu menyewa tempat mahal ini untuk menginap, dahulu saat masih kuliah Lily datang ke sini hanya untuk bekerja paruh waktu saja.


Mirisnya adalah, di hotel ini lah tempat pertama kalinya Lily dibuat jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sosok tampan memesona.


"Di hotel ini, Alex terlihat baik. Tapi malam dan pagi itu, dia seperti monster."


Kenangan manis akan masa lalu menjadi rentetan peristiwa yang entah kenapa tiba-tiba saja ingin ia ingat kembali.


Kilas balik....


Di depan meja resepsionis yang sama, yah dari sini lah kisah Lily dimulai. Mengenakan seragam karyawan paruh waktu berwarna putih hitam Lily menyambut kedatangan pria tampan itu.


"This way please, sir." Silahkan lewat sini Tuan. Instruksi Lily sembari menarik handel koper bawaan pria itu.


"Hmm." Pemuda itu hanya sedikit merespon dan mengikuti langkah kakinya berayun.


"Come sir." Tak lama setelah keduanya menunggu lift terbuka, Lily pun mempersilahkan pelanggannya masuk terlebih dahulu ke dalam transportasi vertikal tersebut.


Ting.... Pintu lift tertutup. Lily berdiri di sisi tamu tampannya.


Grekk..... Secara tiba-tiba, lampu dan laju lift berhenti di tengah-tengah perjalanan.


"Khaaa?" Lily mendelik, seketika ia menarik napas panjang sembari menakan nekan dadanya.


Lily memang memiliki gangguan kecemasan, kepanikan dan sesak napas. Bila mana Lily mendapati ingatan buruk atau kejadian apa pun yang menakutkan, tubuh Lily akan segera merespon dengan cara yang tidak wajar.


"Are you okay?" Kamu baik-baik saja? Melihat gelagat Lily, pemuda di sisinya mendekat, sontak Lily menatap wajah tampan itu, terlihat dahi yang mengernyit tipis.


"Relax, everything will be fine." Tenang, semuanya akan baik-baik saja. Kata pemuda itu kembali.


Lily mengangguk perlahan dengan mata yang masih meredup cemas. Tampak, lelaki itu segera menekan tombol darurat untuk mendapatkan bantuan dari maintenance hotel.


"Relax."

__ADS_1


Lily terdiam di sudut lift. Genggaman tangan dan aroma damai yang menguar dari tubuh bidang pemuda itu cukup menenangkan hingga tiba saatnya lampu dan lift itu kembali berjalan.


Grekk... Terdengar suara mesin bergerak, yang mana membuat Lily mampu bernapas lega. "Oh, God." Desah nya.


Lily menoleh, saat pemuda itu perlahan-lahan menarik kembali genggaman dari tangannya.


"I hope, after this you can go to a psychologist." Aku harap, setelah ini kamu bisa mengunjungi psikolog. Saran pemuda itu.


Sebab untuk gangguan kecemasan, kepanikan, atau sesak napas saat mengalami hal yang memacu traumatis, psikolog lah salah satu solusinya. Bisa jadi ada hubungannya dengan masa lalu gadis itu.


"You need to check your condition." Kamu perlu memeriksa kan kondisi mu. Imbuh pria itu lagi.


"Emmh." Lily menjawab dengan tersenyum tipis-tipis. Oh Tuhan, pria tinggi berwibawa ini, Lily ingin tahu siapa namanya. "Udah ganteng, baik pula."


Bukan kali pertama Lily bertemu dengan pria tampan ini. Sebelumnya pun di bawah lampu merah Lily melihat pria bule bermata biru ini membantu anak-anak menyebrang jalan.


Satu Minggu setelah kejadian itu. Hari demi hari Lily lalui, sebuah kehormatan selama satu minggu terakhir Lily bisa bertugas melayani satu tamu saja, dan itu pun permintaan khusus dari tamu tersebut.


Atasannya bilang, tamu yang di sebut-sebut sebagai Mr. Prince Miller itu satu dari jajaran pemilik saham di hotel tempatnya bekerja.


Atasan Lily juga sempat mengatakan bahwa tuan tamu tampannya tak mau berhubungan dengan banyak pekerja, maka hanya Lily saja yang boleh berbolak-balik ke kamar presidential suite milik pemuda itu.


Sayangnya laki-laki itu pergi tanpa menunggu dirinya mengembalikan jam tangan luxury yang bahkan sampai detik ini masih Lily simpan dengan baik.


Yah, dari mulai saat itu untuk yang pertama kalinya Lily menyukai lawan jenis, dan sampai pada akhirnya di kampus tempatnya kuliah, Lily bertemu dengan pemuda berparas tampan itu kembali yang dikenal dengan nama Alex.


Kilas balik selesai....


Air mata Lily menetes sesaat setelah bernostalgia dengan kenangan manis yang lalu membawa petaka dalam kisah percintaannya.


Seandainya saja Lily tak menyukai pemuda itu terlebih dahulu. Mungkin tak akan pernah terjadi peristiwa satu malam yang kelam.


"Heh Lily Babu!" Lily tersentak mendengar gertakan nada seseorang. Sontak Lily menoleh pada wanita berparas rupawan.


"Nona Miley." Dari atas hingga bawah, Miley berdiri menatapnya dengan cemoohan. Dunia sempit sekali.


"Oh, pantes kamu nggak dateng lagi ke rumah, ternyata kamu pindah jadi babu di hotel ini?"

__ADS_1


Lily tersenyum. "Apa kabar Nona Miley?"


Miley berpaling sinis. "Buruk, setelah liat Kamu di sini!" Ujarnya ketus.


"Nih bawa koper ku!" Tanpa menatap, Miley melempar koper miliknya pada Lily.


Lagi-lagi Lilyana tersenyum. Entah harus menjawab dengan apa, Lily pun bingung.


"Aa, Jackson!" Teriakan dari beberapa wanita terdengar gaduh. Lily dan Miley menoleh bersamaan.


Rupanya pria tampan yang dikenal sebagai aktor Hollywood, tengah berjalan melambaikan tangannya ke arah para fans.


Langkah Jackson menuju meja resepsionis. Tempat di mana Lily dan Miley berdiri.


"Jackson?" Miley ternganga. Oh Tuhan, mimpi apa dia disatroni lelaki seperti Jackson?


"Tuan Jackson." Lily juga ikut tersenyum pada pria itu. Terlihat, Jackson pun membalas senyumnya.


"Lihat, Jackson pasti ke sini, mau ngajakin aku main film bareng. Yah, secara Miley aktris ternama!" Kata Miley percaya diri.


"Nirina?" Menatap serius Lilyana, Jackson membuka kacamata hitam miliknya.


Miley meredup ekspresi, Jackson menyebut nama yang bukan miliknya. "Nirina? I'm sorry, ..."


"Yes that's right." Yah, benar. Jawaban Lily memotong kata-kata heran Miley.


"Come on, let's talk in the meeting room." Mari, kita bicara di ruangan pertemuan saja. Ajak Jackson.


Lily mengangguk, lalu orang-orang berbaju hitam menggiring Lily dan Jackson menuju sebuah tempat.


Miley terperangah menatap berlalunya mantan asisten pribadinya bersama aktor Hollywood papan atas. "Nirina? Bukan Lilyana?" Gumamnya terheran-heran.


"Apa Axel juga sudah tahu, Lily babu kerja di hotel ini?" Tambah nya kemudian.


"Wait, tapi kenapa juga Jackson ngajak Lily babu bicara di ruangan pertemuan? Padahal kan yang artis papan atas Miley!" Rutuk nya lagi.


"Apa Jackson salah orang?" Imbuh nya kembali. Miley terus saja bergumam sendiri. Ia bingung dengan apa yang barusan terjadi.

__ADS_1


Bagaimana Lily yang hanya lulusan SMP, bisa berjalan beriringan dengan Jackson si aktor terkenal.


"Ini mencurigakan. Gimana kalo aku tanya Axel, Rega, atau Alex saja. Mungkin mereka tahu gosip tentang Lily."


__ADS_2