Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Edisi daily¹


__ADS_3

Dhyrga Miller harus menelan pil pahit, saat satu putranya menolak kembali padanya. Ada sesal yang dia rasakan, dirinya menganggap sudah berlebihan dalam mendidik Alex.


Bukannya mempersatukan Lily, Livia dan Alex, Dhyrga justru mendukung satu putranya lagi.


Bukan tanpa alasan, karena pada dasarnya Lily dan Axel sudah saling mencintai satu sama lain.


Menyoal tentang Livia, anak itu tak pernah menjadi korban, nyatanya selama ini Livia selalu mendapatkan kasih sayang yang cukup, meski harus sembunyi-sembunyi dari kejauhan, Axel juga tetap mengawasinya.


Terlepas dari semua itu, sepertinya si arogan Alex sudah menemukan cara hidup yang membuatnya betah.


Tamparan keras dari ucap sindiran Dhyrga lumayan membuat laki-laki tampan itu berkaca dan mengintropeksi diri.


Dhyrga paham betul, meski kembar ke dua putranya memang memiliki karakter, sikap dan perilaku yang berbeda.


Kerasnya, jiwa main-mainnya, manjanya, dan arogannya, Alex mungkin masih menuruni Raka Rain, sedang Axel dilambangkan seperti dirinya yang seumur hidup hanya pernah mencintai satu wanita saja.


Pertama kalinya Axel mencintai, dan itu terjatuh pada mantan one night saudara kembarnya.


Sulit beralih, tapi jika kita kembali mengingat lagi masa lalu, begitulah Dhyrga pada Queen. Cintanya setia dari Queen masih kecil sampai Queen dewasa dan matang.



Hari ini cuaca cukup terik, memasuki April Indonesia tercinta sudah minim curah hujan.


Setelah menyelesaikan Baby Or Doll season ke dua. Lilyana, Livia, dan semua tim kembali ke Indonesia.


Sangat disayangkan sekali, karena film ini harus menjadi syuting terakhir Livia sang balita mungil.


Bukan apa-apa, Lily hanya mau mengembalikan masa kecil Livia, masa emas Livia, sesuai balita seusianya.


Mengingat Livia masih cukup kecil, dengan sangat terpaksa Lily memutuskan kontrak kerja dengan PH milik Britney.


Kembali Lily menjadi Lily yang dahulu, termasuk mengubah kembali identitasnya seperti semula, yaitu Lilyana Bachir.



Lilyana adalah nama pemberian ibunya, jika kemarin Lily berganti identitas, itu karena keterpaksaan yang harus dia lalui.


Modal yang cukup, akhirnya membawa Lilyana untuk melanjutkan cita-cita awalnya, yah cita-cita sebelum Livia menjadi artis, yaitu merintis bisnisnya sendiri.


Setelah menjadi ibu Livia sang bintang, Lily mulai mengerti tentang banyak hal, entah itu fashion, skincare, make up, dan perintilannya.


Dari situ Lily memutar otak, dia menjatuhkan pilihan pada skincare dan make up yang akan dia jadikan lahan bisnis.


Sebagai kekasih CEO, bisa saja Lily berhenti bekerja, tapi Lily bukan wanita yang bisa berdiam diri di rumah, ongkang-ongkang kaki, menghamburkan uang kekasihnya.


Lily memang realistis, selalu mengukur sesuatu dengan materi, namun untuk menghambur-hamburkan uang, juga bukan kebiasaan Lily.


Meski Livia hiatus dari dunia hiburan, Lily masih memanfaatkan kepopuleran Livia untuk usaha SHANSHAN MAKE UP AND SKINCARE nya.


Lily juga tak mau menyia-nyiakan masa depan adik-adik dari panti asuhan Kasih bunda. Dari pada orang lain, Lily lebih suka merekrut adik-adiknya menjadi rekan setim.


Kebetulan, mereka juga tidak kalah pintar dari Lily. Meski ada yang masih hanya lulusan SMA, tapi ada pula yang S1 bahkan S2.

__ADS_1


Yang pasti untuk posisinya, Lily yang mengatur sesuai lulusan adik-adiknya.


Kali ini, bukan waktu yang tepat untuk membahas bisnis baru Lily, karena malam ini juga, Lily sedang mencoba gaun pengantin.


"Oh Tuhan." Lily mengernyit, sedikitnya ia menahan sesak, sepertinya gaun yang dicoba kurang longgar.


"Kayaknya berat badan ku naik lagi. Gimana kalo pas hari H gaun ini nggak bisa dipakai?" Lily bergumam, menggerutu.


Lily mundur agar sedikit keluar dari ruangan penuh gorden putih itu. "Mit, lepas ajah talinya. Aku sesek banget pake gaun ini."


Sedari tadi Cheryl dan Mitha lah yang menemaninya fiting baju. Mereka pula yang membantu merekatkan tali kecil yang bersilangan di punggung mulusnya.


Perlahan sentuhan lembut terasa di punggung, namun disaat napas sudah sangat kesulitan untuk dia hela, Mitha justru hanya berdiam diri saja.


"Mit, cepetan, aku sesek napas." Seketika Lily berbalik, dan matanya membesar mendapati sosok tampan berdiri di hadapannya.


"Kamu cantik." Bukan Mitha, melainkan Axel yang menatapnya dengan raut kagum mendamba.


"Xel." Lily terbelalak, "Ssstt." Axel menarik pinggang meliuk Lily untuk disudutkan di balik gorden yang menjuntai.


Kemarin Dhyrga dan Queen sudah menanti wanti supaya Axel dan Lily tidak saling bertemu secara pribadi sebelum disahkan.


"Kamu ngapain di sini? Nanti dilihat sama Grandpa, Grandma, Mommy Daddy, gimana?"


"Makanya diam-diam, Sayang." Axel semakin menundukkan wajahnya. "Aku kangen, hampir dua bulan ini kamu sibuk sama kerjaan baru mu." Protesnya.


Tak peduli dengan kerinduan Axel, Lily menggeleng dengan wajah yang kian memerah.


Cup, ...


Terpejam, secara lancang Axel mentransfer napasnya pada bibir Lilyana, sebelah tangannya menarik tali kecil yang bersilangan di punggung mulus Lilyana sementara sebelahnya lagi menekan tengkuk wanita itu agar lebih dalam pagutan bibirnya.


Axel merindu, candu, ia bisa saja sakau jika tidak merasai manisnya bibir itu.


"Khaaa." Lily kesulitan bernapas, lalu Axel memberikan sedikit kesempatan untuk calon istrinya meraih oksigen sebelum ia kembali menggigiti bibir-bibir wanita itu.


Merasa gaunnya setengah melorot, Lily melepas paksa pagutan bibir Axel, lalu mempertahankan gaunnya dengan kedua tangan.


"Kamu gila Axel?" Ketus namun berbisik, ia melotot. Sesekali memastikan lingkungan sekitar, takut takut ada Krystal, Queen atau keluarga lainnya yang datang memergoki mereka.


Axel terkekeh-kekeh. "Nyulik dulu sedikit Yank, lagian dua hari lagi kita sudah halal." Enteng nya.


"Iya dua hari lagi! Bukan sekarang, sekarang keluar, biar aku ganti baju." Ketus Lily kembali.


Axel mengangguk, tapi seolah tak mau rugi sekali lagi lelaki itu mencium bibir Lily, pipi Lily, dan telinga Lily.


"Aku tunggu di luar." Bisiknya, tangannya iseng menarik gaun Lily hingga turun ke bawah.


"Axel!" Pria tampan itu tergelak seraya berlari keluar.


Lily menghela napas. "Kenapa dia mengerikan begitu? Aku kira dia lebih pendiam, lebih cupu dari pria-pria pada umumnya." Gerutunya.


Melihat kelakuan calon suaminya, pundak Lily bergidik ngeri. Tak berapa lama, Mitha dan Cheryl masuk secara bersamaan.

__ADS_1


Lily mendengus, rupanya dia sempat ditinggal tanpa sepengetahuannya. Cheryl bilang Badai memanggilnya, dan kebetulan Mitha juga dari toilet.


Mengeluh gaun pengantinnya sesak, akhirnya Cheryl memberikan gaun lain. Dan kali ini tidak terlalu sesak, gaun ke dua yang Lily coba sangat nyaman dikenakan.


Lily menghela napas lega. "Syukurlah. Akhirnya ada yang muat gaunnya. Semoga berat badan ku tidak naik lagi setelah ini."


Mitha terkikik. "Tenang lagi Ly, kan cuma dua hari dari sekarang pestanya, nggak mungkin dalam dua hari kamu naik lagi."


"Iya, lagian Kakak juga udah siapin gaun cadangan kok, tenang saja." Tambah Cheryl.


Mitha tersenyum menatap wajah cantik sahabatnya dari cermin. "Kamu cantik banget Ly."


"Lily definisi cantik wanita Asia." Sambung Cheryl.


Lily terkekeh. "Kalian apaan sih," Ia sedikit berjalan menuju cermin di sudut tempat.


"Kak Cheryl." Suara berat terdengar memasuki ruangan kembali.


Di balik gorden Lily memutar bola matanya, sudah pasti Axel datang untuk memastikan dirinya mencoba gaun cantik ini lagi.


Cheryl menoleh, kerutan yang tergores di dahi Axel membuatnya bingung. "Ada apa?"


"Bang Badai. Dia mual muntah dari tadi. Kelihatannya lemes banget. Kakak mending urusin suaminya dulu sana!" Kata Axel terlihat begitu cemas.


Cheryl terkikik enteng. "Nggak usah panik. Badai emang lagi mengalami Couvade Syndrome."


"Hah?" Axel terlihat terkejut.


Penasaran, Lily pun keluar dari gorden sebelahnya dengan masih mengenakan gaun pengantin. "Maksud Kakak semacam kehamilan simpatik?" Tanyanya nimbrung.


Cheryl mengangguk. "Hmm, nggak apa-apa, udah satu Minggu Badai mual muntah kalo nyium bau-bau parfum. Emang gitu dia, tapi nanti baik lagi."


Axel justru berkerut kening. "Ini suami mu lagi mual muntah serius di toilet. Tapi Kakak santai begitu!" Tukasnya.


"Ya mau gimana lagi? Dulu waktu Eza juga Kakak yang begitu. Mual muntah, pusing. Biar sekarang gantian Papinya Eza dong yang ngidam." Sambung Cheryl.


"Yank." Memelas, Axel beralih menatap calon istrinya.


"Hmm?"


"Dulu pas kamu hamil Shanshan, apa kamu juga mengalami mual muntah begitu?" Cecar Axel.


Lily mengangguk. "Tentu saja. Bahkan hampir sembilan bulan aku ngalamin itu, saking parahnya ngidam waktu itu, Mitha sampai kerepotan."


"B-benar kah?" Axel mendelik. Sungguh ekspresi yang tidak sewajarnya. Lalu, apa di kehamilan ke dua nanti, dia yang mengalami kehamilan simpatik?


"Emang kenapa?" Lily menegur.


Axel kemudian menyengir. "Tapi kita sudah cukup punya Shanshan saja kan? Dia pasti nggak suka punya adik lagi." Ujarnya.


Cheryl menyela. "Shanshan yang nggak mau punya adik lagi, apa kamu yang nggak mau ngalamin Couvade Syndrome?" Tudingnya.


Lily dan Mitha tergelak melihat raut wajah Axel yang tidak sepemberani biasanya.

__ADS_1


__ADS_2