
Tak sehelai pun kain menutupi tubuhnya, Lily berdiri membungkuk di tepi jendela yang terbuka.
Raganya terguncang, ia maju mundur seirama dengan hujaman maha dahsyat Axel yang berdiri di belakangnya.
Sejauh mata memandang, Lily menatap sayu luasnya lautan lepas. Melihat ke atas, langit mulai benderang.
Angin pantai berembus kencang, deburan ombak mengiringi setiap lenguh Lily yang mengudara.
Surai panjangnya dia miringkan ke pundak, gigi-gigi nakal menapakinya, meninggalkan jejak jejak merah legam.
Dari hari masih subuh gelap, hingga fajar menyingsing keduanya masih bergulat dengan lenguh dan desah.
Untuk yang kedua kalinya raga mereka bersatu, bertempur, tereksekusi belitan keringat kenikmatan yang hakiki.
Bagian inti Lily sempat lecet-lecet di ronde pertama, tapi kemudian dahaga bercinta mereka masih mengalahkan segalanya, dan terjadilah pertempuran ke dua.
Tentunya, setelah mengakhiri pertanyaan aneh seputar kotak putih berisikan borgol dan cambuk.
Rupanya dugaan Lily salah, kotak itu hadiah iseng dari Miley yang sengaja Axel letakan di kamar mandi.
Tadinya Axel pikir hanya untuk lucu-lucuan saja, ternyata istrinya terlalu menganggap serius candaannya.
Lupakan soal B.D.S.M, tanpa itu semua Axel dan Lily bercucur keringat di pagi hari begini.
"Masih sakit?" tanya Axel bersuara parau.
Mungkin Lily sudah tidak lagi gadis, tapi benda itu begitu elastis, terlebih bagi yang pandai merawat diri, belum lagi pusaka original Axel over size.
"Sekarang tidak terlalu," Lily melenguh kala mengucapkan itu. "Malah lebih baik dari sebelumnya," ucapnya.
Axel melepas pertautan kedua inti mereka, lantas membawa serta istrinya ke atas sofa.
Dari banyaknya spot di kamar ini, hanya sofa lah yang belum mereka singgahi. Mungkin akan lain fan.tasinya.
Seperti gaya yang pernah mereka tonton di film-film affair Hollywood. Giliran Lily yang berada di atas pangkuan suaminya.
Axel terus mengernyit menatap bagian inti mereka, sungguh posisi ini cukup membuatnya lebih tergigit.
Pandangan lalu beralih pada kedua bulatan sintal istrinya. Ia naik turun seiring dengan gerakan sang pemilik.
Lily mendongak, bibirnya ternganga, berdesah, melenguh, berteriak, sesuai apa yang ia rasakan saat itu.
Axel puas hanya memandang wajah oriental Lily, mungkin itu bagian dari fe.tish yang ia miliki.
Leher jenjang, bibir peach yang tidak terlalu tebal, mata sayu, lengkungan alis yang sederhana, melihat itu saja Axel sudah tergila-gila.
__ADS_1
"Sayang," tak mampu lagi menahan gejolak, ia meraih tengkuk Lily untuk menyampaikan pagutan basah.
Lily memelankan laju gerakannya, samar samar ada sesuatu yang berkedut di bawah sana.
Ini seperti kedutan diawal ronde, dan seakan sudah tahu, sejurus kemudian mereka sama-sama mencapai pucuk surga dunia dengan teriakan sensual.
"Oh my God," secara lemas, Axel mengecup bibir Lily lalu kening Lily. "I love you Sayang."
Lily terkulai dalam dekapan berlumuran keringat suaminya. Berbeda dengan Alex dahulu, Axel selalu mengutarakan kata cinta di setiap kesempatan yang ada.
Perlahan Axel merebahkan punggung Lily di atas sofa, sebelum ia pun ikut memeluknya.
Tirai yang menjuntai di sisinya Axel tarik demi menutupi kepolosan tubuh mereka.
"Aku mencintai mu," Lily tersenyum kecil melihat perlakuan Axel padanya. "Terlebih aku," timpalnya.
Hari berlalu, momen demi momen bersama anak dan istrinya telah Axel abadikan lewat foto-foto dalam album kenangan.
Suka cita menyertai keluarga kecilnya, di sela kegiatan sibuknya, Axel menyempatkan waktu berkualitas untuk berlibur bersama.
Tak jauh dari pernikahan Axel dan Lily, rupanya Alex sudah menemukan kembali tambatan hatinya.
Mungkin benar kata Dhyrga, sifat pecinta seribu wanita telah tertancap pada putra pertamanya.
Tak seperti Axel yang sulit beralih, namun mudah sekali bagi Alex menemukan kembali seseorang dalam hidupnya.
Hal yang dahulu membuat Lily berpikir realistis, Alex mungkin hanya merasa bersalah namun untuk rasa cinta, pria tampan mantan Casanova itu masih mengambang.
Sehari-harinya Lily harus mengurus makan siang suaminya di kantor, kegiatan belajar putrinya di sekolah, juga usaha skincare miliknya di rumah adik-adik panti asuhannya.
Sudah dua tahun pernikahan, Lily masih dalam keadaan tidak punya anak lagi selain Livia.
Entah lah apa yang salah dengan dirinya, kemarin saat cek ke dokter Lily baik-baik saja.
Axel sering merasa dirinya lah yang bermasalah, jujur ini lumayan membuatnya berpikir keras.
Senja yang mencuat di sore ini cukup indah, Axel dan Lily duduk bersama di sofa taman, rumah utama Dhyrga Miller.
__ADS_1
Semakin bertambahnya usia, pola pikir Axel, tubuh Axel, bahkan bulu-bulu halus di wajah tampannya mulai menunjukkan tanda-tanda sugar Daddy.
"Kalau seandainya aku tidak bisa membuat mu hamil lagi, apa kamu kecewa?"
Pertanyaan tiba-tiba yang Lily dengar membuat Lily berkerut kening. "Kita baru dua tahun menikah, kenapa seburuk itu cita-citanya?"
"Aku takut Alex mengambil Shanshan, lalu kamu kesepian, sementara aku tidak bisa memberikan mu keturunan."
"Tidak akan ada yang bisa mengambil Shanshan dariku Xel. Lagian jangan juga pesimis, buktinya Bang Badai dan Kak Cheryl bisa punya anak lagi kok."
Axel meraih kepala Lily untuk melekatkan wajah cantik wanita itu pada dada bidangnya.
Ketakutan yang Axel rasakan bukanlah tanpa alasan, sebab sejatinya ia sendiri sudah memeriksakan kesehatannya, dan dokter mengatakan ada masalah dengan fungsi reproduksinya.
Kecil kemungkinannya untuk bisa membuahi, tapi masih ada kesempatan dengan kuasa illahi Rabbi.
Tidak ada yang tidak mungkin, karena jika Tuhan berkehendak, maka jadilah tanpa bisa manusia terka-terka.
Lily tak terlalu meributkan meski bagaimana pun keadaan suaminya, mungkin manusia diciptakan akan selalu lengkap dengan kekurangannya.
Seperti dirinya yang memiliki banyak kekurangan, begitu pula dengan Axel prince Miller yang terlihat sangat sempurna.
Kebahagiaan tercipta bukan karena kesempurnaan yang dimiliki pasangan kita.
Melainkan lebih kepada usaha-usaha sepasang insan untuk menyempurnakan cinta itu sendiri.
CINTA, adalah ketika kamu duduk di samping seseorang tanpa melakukan apa-apa, namun kamu merasa sangat bahagia, dan itulah yang Lily dan Axel rasakan meski tahu mereka memiliki masing-masing kekurangan.
...TAMAT...
Sisanya ektra part yaah, jujur kacang ijo, aku menulis ini agak mental juga wkwk, mungkin kejenuhannya berasal dari tokoh dingin Lily yang kurang bisa aku kuasai...
Dari sini aku mulai tahu jati diriku. Aku lebih menguasai, tokoh utama dengan peran bar bar, manja, ceplas ceplos, seperti Queen, Kimmy, Sachi, Alula.
Untuk tokoh laki-lakinya, aku lebih menguasai peran seperti Dhyrga, Dave, Raka, Raden.
Aku izin undur diri dulu sejenak, sambil cari ide yang banyak untuk pemantapan materi berikutnya.
Mungkin aku mau pindah ke cerita Sandy Chika dulu sampai aku bisa punya ide buat melanjutkan cerita ini.
See you next kesempatan sayang-sayang... Maaf yang kecewa alurnya, maaf atas tidak menariknya cerita ini...
Terima kasih gift nyaaa, kakak kakak yang namanya selalu nangkring di top fans... Lopeyou all...
Mampir ke karya temen kooh yok.... bisa langsung cari nama authornya yang tertera di gambar yaaa....
__ADS_1