Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Amarah Lily


__ADS_3

"Will you marry me?"


Alex memalingkan wajah saat Axel mendekati Lily. Kakinya sedikit mundur demi menjauh dari celah pintu.


Meski sesungguhnya Alex sendiri tak yakin jika Axel yang sedingin Antartika, berani mencium seorang wanita.


Namun, suasana yang tercipta diantara Lily dan saudaranya seolah mendukung adegan romansa keduanya.


"Khaaaa."


"Lily!" Alex mendengar suara Axel sedikit meninggi. "Kamu baik-baik saja kan?"


Berangkat dari rasa penasaran. Kembali Alex melangkah maju demi mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar tamu.


Kening Alex mengerut. Di sisi ranjang sana, Lily terduduk gusar, kedua tangannya tampak menekan-nekan sebagian dada seperti seseorang yang tengah mengalami sesak napas.


"Lily!"


Di dalam Axel lebih terlihat cemas. Ia berjongkok, memastikan kondisi Lily yang tiba-tiba berubah, sesaat setelah ia khilaf menyentuh wanita itu.


Kerap Lily menarik napas secara berat setelah barusan pagutan bibirnya menghanyutkan dirinya hingga dengan lancang Axel menyentuh bagian dada wanita itu.


"Kamu sakit?" Tak mau ambil resiko, Axel memeriksa jalan napas, serta nadi Lily. Lancang, ia melonggarkan gaun Lily dengan menarik resleting di bagian punggung.


Tak berapa lama, gusar Lily pun berangsur membaik. Axel melepas jas putihnya demi menutupi punggung Lily.


Terpenting, Lily tak lagi mengalami sesak napas seperti yang terjadi beberapa saat lalu.


Sekilas Axel melirik ke arah nakas, rupanya sudah ada aneka buah-buahan termasuk air minum yang disediakan oleh pelayan.


Segera Axel meraih gelas kosong untuk dituang air putih dari kan kaca dan menyodorkannya pada Lily.


"Minum dulu."


Lily menerima, kemudian meneguknya secara perlahan. "Maaf." Lirihnya setelah itu.


Axel mengangguk lega, beruntung Axel memiliki banyak pengetahuan seputar kesehatan dari buku-buku bacaannya.


Ini kondisi yang cukup aneh. Lily tiba-tiba mengalami sesak napas saat Axel secara lancang menyentuhnya.


"Maafkan saya Pak." Kembali Lily berkata lirih.


Axel menggeleng. "Tidak masalah, ini salahku, aku yang lancang menyentuh mu, ..."


Sejenak kata terhenti. "Tapi kalau boleh tau, ada apa ini hmm? Kamu sakit?" Tanyanya kemudian.


Lily menggeleng. "Tidak seharusnya kita melakukan hal ini, Pak. Maaf, tapi saya masih dengan pendirian saya, saya tidak layak untuk Anda." Katanya.


Axel paham sekarang, rupanya kejadian ini pun menjadi bagian dari trauma berat yang Lily alami.


Axel bisa memaklumi. Tak dipungkiri bahwa Livia hidup di dunia fana akibat dari sebuah kesalahan masa lampau.

__ADS_1


Dampaknya, psikologis wanita kesayangannya ini juga ikut terpengaruh.


Melihat kondisi Lily yang semakin membaik, Axel tersenyum sambil membelai lembut pucuk kepala wanita itu.


"Aku minta maaf sudah lancang padamu, sekarang kamu istirahat." Ucapnya pelan.


Lily mengangguk perlahan. Sedang Axel terpaksa bangkit dan keluar dari ruangan tersebut dengan langkah gamang.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Sepeninggal Axel, tertegun Lily menatap wajah polos Livia yang saat ini tertidur dengan nyaman di bawah selimut tebal putih.


Syukurlah malam ini Livia tak rewel. Mungkin Livia lelah setelah banyak orang yang bergantian menggendongnya.


Tak mau terus terpaku di sisi ranjang dengan gaun pesta. Lily bangkit, ia kecup pipi Livia sebelum berjalan memasuki kamar mandi.


Terlepas dari semua keanehan yang barusan terjadi, ia juga perlu membersihkan diri.


Di atas meja marmer wastafel, Lily melihat handuk, skincare, sekaligus baju tidur yang sudah disiapkan dengan sangat rapi.


Lily mendekati wastafel, cukup lama ia berdiri terdiam, menatap bayangan wajah cantiknya di cermin.


Sebenarnya apa yang sudah Lily lakukan? Kenapa berani sekali ia membiarkan Axel mencium bibir lebih dalam dari sebelumnya?


Bukannya hanyut dalam buai asmara cinta, ingatan dejavu Lily justru mengarah pada saat pertama kali Alex menyentuh bagian dadanya.


Jujur ini menjadi hal paling mengerikan sepanjang hidup Lily. Barusan Axel yang menyentuh dirinya, namun justru Alex yang menyinggahi ketakutannya.


"Ini tidak benar. Kamu jangan menyerah Lily. Ingat, Pak Axel tidak seharusnya menjalin hubungan dengan mu." Gumamnya.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Alex tak kuasa terus dihantui rasa penasaran, rasa bersalah, dan rasa aneh lainnya. Masalah Livia, biarlah akan ia selesaikan malam ini juga.


Miko mengawasi pergerakan Alex dari jauh sementara Alex sudah berhasil masuk dan menutup pintu kembali.


Krekk...


Suara tertutup nya pintu sedikit membuat Livia yang tertidur berjingkrak kecil.


Seketika Alex tersenyum, gadis yang sudah memasuki bulan ke sembilan itu sangat menggemaskan.


Samar-samar terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Sepertinya Lily sedang melakukan ritual pembersihan diri.


Melangkah pelan Alex mendekati Livia, ia usap pipi mulus gadis mungil itu lantas memberikan kecupan kecupan lembut pada seluruh wajah wangi Livia.


Semakin dalam ia tatap, rasa ingin memiliki pun kian membesar. Tak pelak, Angel tak mau melahirkan satu pun anak, sementara Livia putrinya hidup dengan sangat baik.


"Now, Baby Livia milik Papa Alex." Bisiknya.


"Alex!"

__ADS_1


Seketika Alex mengalihkan pandangan pada perempuan yang berlari dari pintu kamar mandi menuju ranjang yang ia dan Livia naiki.


"Lily."


Wanita itu mengenakan pakaian tidur kimono maroon berbahan licin.


Segera Lily meraih putrinya. Sedikit terkejut Livia, namun bayi itu masih bisa terkendali setelah desis sang ibu menenangkannya.


"Ly." Berkerut kening, Alex pun bangkit dari tempat, ia memutari ranjang demi mendekati ibu dari putrinya.


Masih mendekap erat Livia, Lily mundur ketakutan hingga terpentok nakas. "Mau apa kamu masuk ke sini?"


Tadinya ia sempat berpikir Axel yang kembali memasuki kamarnya, tapi gaya rambut Alex cukup berbeda.


Alex memberi tanda jangan takut dengan tangannya. "Aku ke sini mau bicara dengan mu."


"Apa lagi?" Ketus Lily.


Dalam mindset Lily, Alex bukan laki-laki yang baik. Alex laki-laki mengerikan. Alex laki-laki yang tidak pantas mendekati putrinya.


"Pergi jauh dariku dan Livia!" Lily melangkah untuk keluar dari kamar, lalu sebuah kata yang terucap dari bibir Alex membuat ayunan kakinya terkatung urung.


"Livia milikku Lily."


Sontak Lily menoleh sinis, tatapan mata legamnya begitu menghujam, opak yang putih kian memerah penuh dendam.


"Milikku?" Cibirnya.


Alex kembali mendekat, sesopan mungkin Alex berusaha meyakinkan Lily. "Dengar kan aku sebentar saja. Kita perlu bicara soal Livia."


Lily mengernyit, sebenarnya apa yang sedang Alex coba katakan padanya? Apa Alex sudah tahu Livia putrinya?


"Diam-diam aku melakukan tes DNA. Now, aku tahu, Livia milikku."


"Atas dasar apa kamu melakukan tes DNA dengan putriku? Bukannya kamu tidak mengakui keberadaannya?" Sergah Lily.


Livia sempat berjingkrak terkejut, kemudian Lily menyenangkan kembali dengan desisnya. Sungguh Alex pun tercekik mendengar ungkapan ketus Lily barusan.


"Aku sempat salah paham padamu. Dulu kamu yang menghilang begitu saja setelah membawa kartu kredit ku!"


Lily terkekeh samar. "Lalu apa aku harus terus mengemis pertanggung jawaban seperti wanita wanita mu, begitu? Pikir mu kau siapa?"


Sekali lagi Alex tercekik, kembali ia setuju dengan ucapan Lily. Sejauh ini, untuk sekali pun Lily tidak pernah mengemis padanya.


Setelah ia memberikan kartu kredit. Lily pergi dan tak mau tahu lagi kabarnya. Jelas Lily memiliki pendirian yang berbeda dari kebanyakan wanita yang pernah ia campakkan.


"Kau yang memaksa ku menerima kartu mu, lalu kau sendiri yang menghina ku, mencaci maki ku, kamu lupa bagaimana jahatnya kamu padaku dan Livia?" Meledak sudah kata yang terbendung selama ini.


"Setelah kau menyuruh ku membunuh benih Livia, saat itu juga aku mengklaim, kau tidak pantas menjadi ayah dari anak yang ku kandung Lex!"


"Aku bersumpah, sampai mati pun, Livia tidak akan pernah mengetahui siapa ayah biologisnya!"

__ADS_1


Alex tergagu mendengar kata-kata Lily yang begitu diselimuti dendam masa lalu.


Huaaa, maaf mentemen, kemarin aku nggak bisa up, ... mulai hari ini insya Allah ngebut lagi, ...


__ADS_2