Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Model Livia


__ADS_3

Berlatar belakang angin sepoi-sepoi, awan putih berkilau, dan langit biru yang silau.


Axel mengajak Lily bicara serius. Roof top tempat yang Axel pilih untuk menyatakan lamarannya kali ini.


Keduanya berdiri berhadapan. Cincin berlian tersuguh di depan mata Lily.


Axel mantap mau menjadikan Lily istrinya, dan mungkin pernikahan akan membuat Lily terhindar dari bullying para karyawannya.


Bukan tidak bahagia, tidak bersyukur atau pun tidak tahu terima kasih, sejatinya Lily hanya sedang membatasi diri untuk tidak bermain api lebih jauh lagi.


Axel laki-laki baik, Axel perfect, bag kertas putih Axel masih sangat suci. Tak pernah tersentuh, tak jua bermain dengan wanita.


Cukup ia tersulut oleh percikan yang Alex buat, Lily tak mau Axel pun ikut terbakar ke dalamnya.


"Maaf, saya lancang mengatakan ini, tapi saya tidak punya kuasa untuk menerima lamaran Bapak." Lily menutup kotak cincin yang Axel sodorkan.


"Kamu menolak ku lagi Ly?" Axel berkata lirih.


Sudah berapa kali Lily menolaknya, jujur saja Axel juga tak mau memaksa atau bahkan sampai mengemis.


Nyatanya cinta pertama memang sulit sekali dilepaskan. Pertama kalinya Axel merasakan getaran tak biasa saat berdekatan bersama seorang wanita, yaitu Lilyana.


Lily menggeleng. "Tidak begitu, tapi, ..."


"Ada yang tidak kamu ceritakan padaku?" Axel menyela ungkapan Lily.


Lily mengangguk. "Ini memang sulit, dan percaya lah, Pak Axel tidak seharusnya bersama dengan saya. Saya yakin, Pak Axel akan bersyukur jika suatu saat nanti, Pak Axel pada akhirnya tahu, kenapa saya harus menolak lamaran Pak Axel berkali-kali."


Axel terkekeh samar. "Alasannya kamu tidak menyukai ku, apa lagi selain itu?" Sambung nya.


Lily menggeleng, karena memang bukan karena tidak suka, manusia bodoh saja yang tidak suka pada laki-laki setampan, sepintar, sebaik dan sesukses Axel.


"Tidak sama sekali. But, ada hal yang tidak bisa saya terangkan tapi memohon untuk dimengerti Pak."


Perlahan Axel manggut-manggut, sebagai pertanda bahwa ia sedang mencoba mengerti Lilyana. Lantas kembali ia memasukkan kotak cincin miliknya ke dalam saku celananya.


"Aku akan tunggu sampai kau mau menerima ku." Katanya. "Sekarang, anggap saja hari ini aku tidak mengatakan apa pun."

__ADS_1


Lily tersenyum, meski tiada mungkin juga Lily menerima, sebab sampai kapan pun jawaban Lily akan tetap sama, yaitu takkan pernah berhubungan dengan saudara kembar dari ayah biologis putrinya.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


"Apa, SP Bang?" Luna dan semua temannya ternganga mendengar kabar dari asisten personal sang CEO.


Rudolf manggut-manggut. "Kalian dapet SP, karena sudah bertindak tidak baik di lingkungan kantor, membully karyawan lain, bahkan merusak benda-benda pribadinya tanpa izin. Untung saja tidak langsung dipecat!" Katanya.


"Tapi kami kan hanya mengungkapkan kebenaran Bang." Sanggah Gina.


Rudolf mengernyit. "Kebenaran tentang apa?"


"Kalo Lily itu seorang simpanan Om Om yang punya anak di luar pernikahan! Dan kita semua tertipu sama wajah sok polosnya!" Sahut karyawan lainnya geregetan.


Rudolf mengangkat kedua bahu. "Mungkin kalian yang merasa tertipu, tapi tidak dengan kami yang sudah sangat tahu." Jelasnya.


Semua orang membulat matanya. "Sudah sangat tahu?"


Rudolf mendekati mereka. "Bahkan, Baby nya Lily juga manggil si Bos Papa." Bisiknya.


"Apa?" Kejut semua orang.


"Jadi ternyata Pak Axel sendiri yang menjadikan Lily simpanan, gitu?" Wanita berbaju hitam menyeletuk.


"Pantesan aja di belain banget. Jadi rupanya mereka itu, ..." Sahut yang lainnya berbisik-bisik.


Rudolf hanya menggelengkan kepalanya, perempuan memang memiliki jiwa intelejen dadakan yang cukup tinggi. Bahkan, ahli forensik saja kalah peka nya.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Mendapati Lily di bully, Axel membawa Lily untuk makan siang di ruang makan ekslusif. Tentu saja ada Alex juga yang duduk di sana.


Hari ini rapat pemegang saham yang mana melibatkan hampir seluruh keluarga besar Miller dan Rain.


Dhyrga, Queen, Raja sang paman, Kimmy sang Tante, Radit beserta putranya, ada juga Cheryl dan Badai suaminya.


Axel duduk di sisi Lily, sementara Alex duduk di depan Lily. Sedang yang duduk di kursi utama meja panjang itu ada Dhyrga dan Radit.

__ADS_1


Di sela kegiatannya, sesekali mata Alex mencuri pandang ke arah Lily. Pertanyaan demi pertanyaan masih terus berputar di otaknya.


Kalau pun iya Lily membesarkan benih miliknya, kenapa pula Lily harus lari tanpa memberi sedikit pun kabar. Kemudian tiba-tiba Lily datang lagi ke perusahaannya dengan identitas menjadi sekretaris.


Bukankah ini terasa ganjil? Mungkin kah Lily memang sengaja ingin membalas dendam padanya? Menghancurkan, seperti ancaman Lily pagi tadi?


Tak ada percakapan selama makan siang dilangsungkan. Hingga Queen selesai makan minum dan mengelap ujung bibirnya dengan tisu.


"Oya Xel, hari ini jangan lupa bawa Lily dan Livia fiting baju juga yah. Kan pernikahan Chika sudah dekat. Takutnya desainer Cheryl keteteran." Titahnya.


"Ok." Angguk Axel.


Badai menimpali setelah menyelesaikan tegukan air putihnya. "Livia berapa bulan memangnya?" Tanyanya.


"Sudah 8 bulan Pak." Jawab Lily.


Mendengar itu, Badai lantas menoleh ke arah istri cantiknya. "Kenapa nggak kamu rekrut saja Livia jadi model kamu Yank?" Tanyanya.


Cheryl menyengir. "Iya juga yah, kok Mami baru kepikiran sih?" Sumringah nya.


"Model?" Axel menimpali, sementara Alex hanya diam dalam pergolakan batinnya.


"Iya, Kan Kakak lagi ngeluncurin perlengkapan baby new born. Plus pakaian anak-anak kecil, dari yang pair of twins, sampai yang couple sama ibunya. Lucu-lucu loh, apa lagi badan Lily juga bagus buat model ibunya." Kata Cheryl.


"Tanya dulu ke Lily, mau enggak?" Queen mengimbuhi.


"Gimana Ly?" Cheryl lalu menatap ke arah Lily.


Lily menyengir tak nyaman. "Jujur Nona, sekalipun saya belum pernah mengajak Livia pemotretan, jadi belum tahu kalo nantinya Baby Livia bisa diajak serius atau tidak, takutnya Livia rewel." Ujarnya.


"Kita coba saja nanti yah. Kalo bisa pose-pose, kan seru, Kak Cheryl juga nggak perlu cari model lagi." Sambung Cheryl, dan Lily mengangguk ragu-ragu.


"Livia cerdas, cantik, kalo bisa pose-pose, Mommy jamin deh, kamu bakalan banjir job Ly. Apa lagi, kalo Livia bisa acting, Mommy ajak Livia buat jadi bintang di production house X-meria." Tambah Queen.


"Sayangnya baru Ezra, generasi Mommy yang bisa diajak syuting, selain Ezra belum ada lagi. Dari Chika, Rega, Alex, Axel, bahkan Cheryl nggak ada yang tertarik menjadi publik figur." Rutuknya lagi.


"Kamu tertarik?" Axel memastikan pada Lilyana.

__ADS_1


"Belum terpikirkan saja Pak." Lily menggeleng.


...Kesediaannya buat sayang sayang kooh yang mau bantu Pasha kasih bintang lima nya hehe, nggak maksa kok....


__ADS_2