Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Hasil


__ADS_3

...POV (Point of View) Lilyana Bachir....


Aku, Pak Axel duduk berdampingan di atas jok mobil sport tanpa atap. Kami mengenakan pakaian hangat, merayakan hari ulang tahun ku yang ke 24 tahun.


Seumur hidup ku, baru kali ini ada pria tampan yang mengucapkan happy birthday pada ku dengan cara yang sangat manis.


Memberikan buket bunga, kalung berlian, tas dan sepatu branded, juga membawa ku ke tempat indah seperti ini.


Berbalut selimut tebal, sudah sedari sepuluh menit yang lalu Livia tertidur manis di jok belakang dengan baby car seat miliknya.


Di bawah jingganya langit senja, angin kencang yang terus mengudara, bisingnya deburan ombak, bahkan riak pantai yang menggelora, kami bertiga seperti keluarga kecil yang bahagia.


Bila mana ada yang mengatakan Lily serakah, mungkin saja benar, sebab meski mulut ini tak mampu berkata 'yah aku menerima cinta mu', tapi sejauh ini aku menikmati setiap perlakuan manis Pak Axel padaku.


Bukan tidak mau, sejatinya rasa suka ku, rasa ingin ku, rasa sayang ku, lebih kecil jika dibandingkan dengan rasa ketakutan ku selama ini.


Mau ku berterus terang, tapi percayalah berkata jujur menjadi bagian tersulit dalam diriku.


Katakan bagaimana cara ku mengutarakan riwayat masa lalu ku?


Uraikan seperti apa kata yang pantas untuk memulai pembicaraan soal siapa ayah Livia ku?


Sementara laki-laki baik hati yang kini berada di sisiku sudah pasti akan tersakiti jika itu terucap dari bibir ku.


Yah, anggap saja Lilyana serakah, karena mungkin aku memang tamak untuk hal ini.


Memandang ke arah lautan lepas, Pak Axel menggenggam erat tangan ku. Ku lihat senyum manis terbit di bibirnya yang tipis.


Keindahan wajahnya mengalahkan indahnya pantai ini. Tuhan, kenapa aku harus berada di posisi ini?


Seandainya aku bisa memutar kembali waktu, aku ingin Livia hadir setelah cinta ku dan cintanya bersatu.


...POV Lilyana end....


"Kenapa harus ada masa lalu? Jika menjadi duri di kehidupan masa depan?" Pertanyaan Axel terus seputar tentang itu.

__ADS_1


Lily tersenyum. "Bagaimana pun, saya tidak menyesali hadirnya Livia dalam hidup saya Pak." Katanya.


"Coba buka hati Pak Axel lebih lebar lagi biarkan wanita lain masuk, mungkin Pak Axel juga akan menemukan rasa yang sama persis seperti rasa tulus yang sekarang Pak Axel rasakan padaku." Imbuhnya.


Axel terkekeh. "Kalau bisa semudah itu, aku juga mau." Katanya.


"Mungkin orang bilang aku naif, bodoh, tidak berkelas, tapi aku yakin, aku menjadi orang paling beruntung seandainya nanti aku bisa mendapatkan mu. Akan ku buktikan, pada kerinduan yang ku peluk lirih, ia pun lenyap dengan hadirnya dekap hangat mu."


Lily terkikik mendengar untaian kata gombal dari mesin freezer di hadapannya. Menyadari keanehannya, Axel pun ikut terkekeh.


Yah, semenjak mengenal Lily, hidup Axel berubah, menjadi lebih berwarna, tak lagi mengabu.


"Kehangatan mu mengubah balok kayu menjadi butiran abu. Kesederhanaan mu melelehkan gunung es yang membatu angkuh." Ungkap Axel.


"Aku ingin memiliki mu dengan sederhana, seperti isyarat yang tak sempat tersampaikan, mendung kepada hujan yang menjadikannya terang." Tambahnya.


"Ciyeee, ..." Axel tergelak renyah bersamaan dengan tawa Lily yang mengudara.


"Pak Axel lebih pantes jutek deh dari pada gombal gitu, vibes nya kurang greget ajah." Kata Lily dan Axel terkikik kembali.


"Ok." Axel setuju untuk menyalakan mesin mobilnya.


Sore ini mereka tutup dengan suka cita. Hingga pada akhirnya Axel mengantarkan Lily pulang ke apartemen Mitha. Livia bahagia, terlebih Lilyana.


"Terima kasih untuk sore ini Pak." Di sisi pintu Lily tersenyum pada Axel. Hari sudah malam mereka harus rela berpisah untuk sementara.


"Jangan lupa, besok malam, pakai semua aksesoris yang ku kasih. Gaun, sepatu, tas dan lainnya, Livia juga harus hadir." Pesan Axel.


"Baik." Axel berlalu setelah mendapat anggukan kepala Lily.


Kini saatnya semua orang beristirahat, sebelum besok bertempur dengan acara pernikahan Chika dan Sandy yang sudah dipersiapkan secara megah dan mewah.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Di lain tempat, tepatnya di dalam mobil sport berwarna putih, di atas jok penumpang bagian depan.

__ADS_1


Alex tercengang mendapati kenyataan bahwa hasil tes DNA yang dilakukan secara berulang-ulang selama satu Minggu terakhir, tetap menyatakan lebih dari 99.99 persen paternitas.


"Jadi Lily benar-benar hamil anakku?" Alex berkata sangat lirih, dan Miko mengangguk mengiyakan.


Sudah berapa kali saja Alex mengulangnya, namun hasilnya tetap sama, Livia memang anak kandungnya.


"Tuan muda cukup diam saja, saya lihat, Nona Lily juga tidak terlalu menuntut pertanggung jawaban Tuan muda." Usul Miko.


Axel melurut tatapan menusuk. "Lalu gimana dengan nasib anak cantik itu? Dia darah daging ku, yang artinya Livia juga cucu Mommy Daddy!" Ketusnya.


"Tapi Nona Lily, sudah hidup tenang dengan kehidupannya sendiri. Tuan muda cukup pura-pura tidak tahu saja, sudah, urusan selesai." Sanggah Miko.


"Kau pikir mudah?" Alex terkekeh samar.


"Selama beberapa hari ini otak ku tidak habis-habisnya memikirkan Lily, Livia, Lily, Livia! Dan kamu bilang, aku cukup pura-pura tidak tahu?" Tambahnya.


Miko menggeleng. "Bukan begitu Tuan muda. Sesal saya adalah, kalau pada akhirnya Tuan muda mau bertanggung jawab, kenapa tidak dari dulu saja? Karena kalau sekarang, Tuan muda akan menghadapi kemungkinan besar di usir dari rumah bahkan di coret dari kartu keluarga Tuan Miller."


"Aku tidak peduli." Kendati berucap demikian, jujur Alex takut dengan hukuman ayahnya, kakeknya, dan mungkin ibunya.


"Ini terlalu beresiko, belum lagi Nona Angel dan Kakaknya yang punya kuasa juga akan menuntut Anda. Pikirkan lagi dulu saja, sebelum Tuan muda bertindak." Kata Miko kembali.


Alex menghela napas berat. "Aku pusing, kepala ku serasa mau pecah. Jadi selama ini Lily memakai uang ku untuk membesarkan Livia? Dan aku, ..."


Tak kuasa Alex melanjutkan katanya, betapa sulitnya Lily kala hamil dan melahirkan tanpa satu pun pendukung, Alex tak mampu membayangkannya.


Brakkk....


Pukulan Alex tujukan pada kaca mobil hingga mengalir kecil setitik darah dari buku-buku di tangannya.


"Tenang dulu Tuan muda. Pikirkan semuanya dalam keadaan tenang." Miko terus menerus mencari solusi terbaik bagi tuan mudanya.


"Dari sekian banyak laki-laki, kenapa harus Axel yang dekat dengan Lily?" Lirih Alex.


📌 Disclaimer, kata-kata Axel, ada yang aku ambil dari puisi indah Sastrawan; Sapardi Djoko Damono...

__ADS_1


__ADS_2