
"Lily!" Mitha menjentikkan jari di depan mata sahabatnya. "Eh?"
Lily tersentak hingga naik kedua bahunya, namun tak begitu merespon dengan ekspresi yang sewajarnya orang kaget, Lily masih terlihat datar.
"Kamu bener mau pindah kota?" Mitha duduk di sisi Lily. Sudah ada dua koper besar yang teronggok di depan mereka.
Lily mengangguk. "Iya, terima kasih yah atas semua bantuan kamu selama ini. Aku nggak tahu apa jadinya aku sama Livia tanpa mu."
"Aku seneng Ly kamu di sini. Dari kecil kita susah seneng sama-sama. Di panti asuhan Bunda kita besar sama-sama, kalo bisa jangan pergi Ly. Aku kesepian." Sambung Mitha.
"Aku minta maaf. Tapi Livia harus jauh-jauh dari orang kayak Alex. Kamu tahu, terakhir kali Alex mengancam. Dia mau misahin aku sama Livia." Lilyana berkata lirih.
"Terus kalian mau ke mana?" Imbuh Mitha. Lily sudah seperti keluarga kandung baginya, berat rasanya berpisah.
"Aku mau titipin Livia di rumah Bunda sama Ayah. Kayaknya di sana lebih aman. Sembari aku nabung, aku mau kerja di tempat yang direkomendasikan sama Bunda." Jelas Lily.
Mitha mengernyit. "Bunda kasih kamu kerjaan apa memang nya?" Tanyanya.
"Cuma asisten aktris sih, tapi gajinya gede. Sekalian aku ambil ilmunya juga. Aku masih berharap, setelah Livia cukup umur, aku bisa jadi manager Livia kan?" Sambung Lily.
"Kamu serius mau Livia jadi model?"
Lily mengangguk. "Aku yakin rezeki Livia di sana. Tapi mungkin untuk sekarang ini, Livia belum bisa aku paksa buat ikutan casting. Aku kepikiran, setelah cukup tabungan, aku mau hidup di luar negeri sama Livia, berdua." Katanya tersenyum.
"Kamu yakin?" Mitha terperanjat, luar negeri? Tanpa koneksi? "Jangan gila kamu Ly!"
Lily genggam tangan Mitha. "Di Jerman, Livia punya kesempatan jadi artis tanpa diketahui keluarga Miller kan? Kamu tahu sendiri, dunia hiburan di Indonesia juga melibatkan Nyonya Queen, aku nggak mau berurusan sama keluarga mereka lagi." Ujarnya.
Mitha menggeleng. "Tapi aku nggak mau kamu pergi sejauh itu Ly. Ya ampun, bisa-bisanya kamu punya pikiran buat pergi dari Indonesia!"
"Itu salah satu cita-cita ku juga. Kamu cukup doain aja Mit. Di mana pun tempatnya. Aku masih butuh bantuan doa tulus mu." Kata Lily.
"Kalo doa, udah pasti." Lirih Mitha kemudian.
Ting tong...
"Siapa?" Mitha menoleh ke arah pintu. Berharap bukan Alex yang akan mengambil paksa Livia.
"Biar aku cek." Lily bangkit dari duduk, kemudian mendekati pintu untuk dibukanya.
Dua pria tinggi berseragam hitam berdiri di depan sana. "Permisi Nona. Kami diminta oleh Tuan besar Dhyrga untuk menjemput Anda dan Nona kecil Livia." Katanya.
"Untuk?" Lily mengerut kening. "Aku pikir, aku sudah tidak ada urusan lagi dengan keluarga mereka." Ucapnya.
Pria itu mengangguk. "Kami hanya punya kuasa menjemput Nona saja, tidak tahu menahu mengenai apa alasan Tuan besar."
__ADS_1
"Ly." Mitha menepuk pundak sahabatnya, seolah berkata jangan mau pergi, bagaimana jika ternyata Livia direbut paksa oleh keluarga konglomerat itu?
Lily menggeleng senyum. "Aku nggak apa-apa. Aku pergi tanpa Livia. Kamu tolong kemasi semua barang ku yang sudah rapih. Setelah itu kamu bawa Livia, siap-siap jemput aku dari sana. Sekalian kamu antar aku dan Livia ke rumah Ayah Bunda." Bisiknya.
Cukup lama terdiam, Mitha pada akhirnya mengangguk setuju. "Ok."
Lily masuk ke dalam kamar, ia mengambil Livia yang masih tertidur pulas. "Aku pergi dulu, tolong kamu sama Livia juga siap-siap." Pamitnya.
Mitha mengangguk menerima Livia, segera ia menelepon bantuan untuk mengemasi semua koper dan tas yang perlu dibawa Lily ke dalam mobilnya di parkiran basement. Sementara itu, Lily keluar dari apartemen.
"Mari Nona." Lily berjalan di depan diikuti kedua pria suruhan Dhyrga Miller.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Satu jam berlalu. Sampai di rumah utama, Lily keluar dari mobil jemputan yang biasanya menjadi fasilitas Livia saat melakukan pemotretan.
Tak gamang Lily melangkah memasuki hunian mewah Dhyrga Miller.
Di sofa ruang tamu, rupanya hampir semua anggota inti keluarga Dhyrga dan Queen ada ditempat, hanya minus Axel saja.
Dhyrga, Queen, Krystal dan Raka Rain yaitu Ayah dan Ibu kandung Queen, ada juga Harlan dan Rania Ayah dan Ibu kandung Dhyrga.
Di sofa lainnya, ada Cheryl dan juga Alex yang duduk berdampingan. Lily terus melangkah hingga sampai di depan lingkaran keluarga besar ayah biologis Livia.
"Selamat datang Lily." Queen yang pertama kali berdiri menyambut kedatangannya.
"Duduk Ly." Kata Dhyrga, dan Lily mengangguk seraya duduk. Tak ada gemetar, karena Lily yakin Lily tidak bersalah, Livia pun aman bersama Mitha.
Sejenak suasana ruangan itu menjadi canggung dan hening. Kelihatannya, dari semua orang hanya Nek Rania yang tak menyukai pertemuan ini.
"Ada apa Tuan besar memanggil saya?" Lily menatap polos Dhyrga, lalu beralih pada Queen, Krystal dan mengedar seterusnya.
Melihat kediaman keluarga itu, Lily menyeletuk kembali. "Apa benar kalian mau merebut Livia ku?"
Queen menggeleng. "Bukan merebut, tapi kami mau Livia mendapatkan hak sebagai mana mestinya. Livia, akan kita umumkan menjadi keluarga besar kami." Katanya.
Lily terkekeh. "Atas dasar apa?" Tanpa mengurangi rasa hormat, Lily bertanya.
"Bukankah Livia putri Alex?" Queen berkerut kening mendengar ucapan Lily. "Bukankah Livia berhak atas pengakuan itu?"
Lily menggeleng. "Tapi Livia anak di luar nikah Nyonya. Berdasarkan undang-undang perkawinan, anak di luar nikah hanya memiliki hubungan darah atau nasab dan kekerabatan dengan ibu dan keluarga ibu saja. Akta kelahiran Livia juga hanya akan tercantum nama ibunya, Lilyana Bachir. Jadi untuk apa Livia kalian umumkan?"
"Lilyana." Alex menegur. Dia tak percaya Lily mampu menegakkan kepala di depan keluarga besarnya.
"Apa lagi?" Toleh Lily. Tatapan kebencian masih selalu menusuk, Lily terus mengingat bagaimana Alex menghardik, mencaci, bahkan mencampakkan setelah menidurinya.
__ADS_1
Alex duduk mendekat. "Aku serius mau bertanggung jawab. Aku serius mau menikahi mu. Kasihan Livia, dia hanya memiliki mu, padahal, dia juga punya keluarga lain dariku."
Lily terkekeh kecil. "Kamu lupa kamu yang menyuruh ku menggugurkan Livia? Anggap saja Livia sudah mati." Ketusnya.
Alex menunduk. "Aku minta maaf, aku menyesal." Lirihnya. "Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi saja."
Harlan Ayah Dhyrga menimpali. "Lily, terima lamaran Alex, Nak. Maafkan kesalahan Alex selama ini. Sekarang biar Alex bertanggung jawab padamu."
Lily beralih pada Harlan. "Bertanggung jawab tidak harus dengan menikah bukan Tuan?"
"Lily, please, kasih aku kesempatan!" Alex menyambar kembali.
"Untuk apa?" Tajam, Lily menatap wajah menyesal Alex. "Kamu mau aku setuju menikah dan memberikan kesempatan padamu untuk menyakiti ku lagi?" Tukasnya.
"Kamu meragukan ku?" Sergah Alex menceku.
Lily terkekeh samar. "Tidak ada cinta di hatimu Lex, aku hanya melihat sesal dan kewajiban tanggung jawab saja darimu. Cinta mu bukan untuk ku, tapi untuk Angel. Menikah dengan laki-laki yang mencintai wanita lain, seperti memakan api neraka setiap harinya."
Raka meredup ekspresi. Itulah yang terjadi saat dirinya masih menjadi suami Viona sedang hatinya tertuju pada Krystal sang istri ke dua.
"Lily." Dhyrga menegur. "Cinta akan datang seiring berjalannya waktu bukan?"
"Benar Tuan." Lily menoleh pada Dhyrga, ia mengangguk membenarkannya. "Tapi tidak dengan putra Anda."
"Alex mencintai Angel Tuan. Saya melihat bagaimana seorang Alex memperlakukan Angel dengan sangat baik. Masih saya ingat, bagaimana senyum bahagianya mekar ketika Angel meneleponnya pagi itu, padahal malamnya, putra Anda baru saja menodai saya. Saya menyimak bagaimana setianya Alex pada Angel, padahal semua tahu, Alex playboy."
"Alex menerima kekurangan dan kelebihan Angel. Termasuk perbedaan keyakinan, budaya, dan prinsip hidupnya." Tambah Lily.
"Lalu dengan saya, perilaku putra Anda hanya sebatas pertanggung jawaban setelah menyesal melihat Livia saja."
Alex menggeleng, kenapa Lily sedetil itu memikirkan masa depan, padahal kehidupan manusia tak ada yang pernah tahu alurnya.
"Kamu terlalu menganggap ku buruk Ly." Alex memekik tak terima.
"Memang begitu lah Alex yang sebenarnya!" Tukas Lily.
"Kau hanya menginginkan Livia, karena Angel kesayangan mu tidak mau memiliki momongan. Aku mendengarnya Lex, aku mengingatnya Lex, aku menelaahnya sendiri Lex. Kemarin kau takut menyakiti Angel, sementara padaku tidak."
Dari semua orang, Krystal menjadi satu-satunya yang tersenyum melihat keberanian wanita itu.
"Berapa banyak wanita yang diduakan hanya karena alasan klasik. Aku terpaksa menikahi wanita itu, karena dia hamil anakku!" Kata Lily.
"Lily." Queen meraih tangan Lily. Berharap, ibu dari cucu perempuannya mau memaafkan putranya, dan Livia tidak harus terbuang dari keluarganya.
"Tolong hargai keputusan saya. Karena semiskin apa pun saya, saya masih punya hak asasi manusia." Lily memohon dengan menyatukan kedua tangannya.
__ADS_1
Uaaahhh, panjang banget part ini, vote nya lah kasihan saya, wkwk...