
Sampai malam begini Lily masih berada di lokasi syuting. Tergesa-gesa Lily masuk ke dalam ruang makeup dengan membawa banyak pakaian yang dibungkus plastik.
Di depan cermin besar berhiaskan bohlam lampu putih, wanita cantik menunggu kedatangannya dengan tangan yang terlipat di dada.
Wajah jutek wanita itu menjadi tanda bahwa ia tidak puas dengan hasil pekerjaan Lily yang serba lambat.
Seperti rencana Bunda Rima, Lily bekerja menjadi asisten artis papan atas bernama Miley Keyz, 'mantan aktris cilik yang sudah beranjak dewasa'.
Gaji Lily saat ini masih setara dengan gaji di perusahaan besar, namun jarang ada yang betah bekerja dengan wanita pemarah seperti Miley.
Semua pekerjaan harus dipegang. Dari mengatur skedul, urusan baju, sepatu, bahkan sampai rumah tinggal pun Lily yang harus mengerjakan.
Mau apa lagi? Lily memang sengaja menyembunyikan identitasnya demi bisa hidup tenang tanpa turut campur keluarga besar dari ayah putrinya.
"Aku gaji kamu gede, tapi lelet nya minta ampun!" Ketus Miley.
"Maaf Nona." Satu persatu Lily menggantung baju-baju milik majikannya di salah satu rak.
"Sayang, kita mulai briefing yah." Satu pria gemulai masuk, tapi kemudian ia melirik ke arah Lily yang seharusnya tidak ada di ruangan ini.
"Nek, ngapain ada Mbak-mbak ini sih? Suruh pergi dulu gih. Nanti dia tahu rahasia perusahaan kita lagi." Memey, namanya.
Miley terkekeh. "Udah nggak apa-apa. Lagian dia cuma lulusan SMP, dia anak panti asuhan bodoh, mana ngerti dia tentang pembicaraan bisnis kayak gini! Nggak sampe otaknya!"
"Oh. Ya udah." Memey manggut-manggut, lalu beralih pada Lily. "Heh, Mbak, tutup pintunya, terus beresin make up yang di situ." Titahnya.
"Baik." Lily tersenyum sekilas, meski wajah-wajah orang itu teramat jutek padanya.
Sembari mengerjakan tugas, Lily sengaja mendengar percakapan Miley dan manager artisnya.
Ada hal yang perlu Lily ketahui dari pembicaraan ini, setidaknya saat Livia menjajakan diri ke lingkungan keartisan Lily sendiri yang akan menjadi manager.
...๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ...
Senja menyemburat, dan selalu ada renjana dalam selimut jingganya.
Lihatlah bagaimana suasana Axel selepas kepergian Lilyana, pria tampan itu hanya duduk termenung pada sofa yang teronggok di sisi kolam renang penthouse miliknya.
Dari semua CCTV yang dia amati hari ini, rupanya tak ada satu pun kelebatan wajah Lily dan Livia.
Siang tadi pun Axel sempat menyatroni apartemen Mitha. Yah, memang tak mengetuk pintunya, tapi kemudian dia tak sengaja berpapasan dengan wanita itu.
"Kamu di sini?"
Siang tadi pula Mitha menyapa dengan raut dingin. Meski tak sekalipun Axel menjawab, Mitha tetap memberikan wejangan wejangan padanya.
"Lily sudah pergi ke luar kota, tolong jangan lagi ganggu dia. Biarkan Livia dan Lily bahagia. Sudah cukup Lily disakiti, direndahkan, dihempaskan, Lily berhak menjalani hidup tanpa masalah dengan orang-orang berkuasa seperti kalian."
__ADS_1
Axel mendengus perlahan, bagaimana caranya melupakan, sementara semua kenangan yang Lily ciptakan tiada celahnya.
Lily yang biasa membetulkan dasinya. Lily selalu menemani makan siangnya. Lily dan Livia memadati hari-hari monoton nya. Kini, semua itu lenyap tak bersisa.
Kehidupan yang sempat berwarna, rupanya kembali mengabu sepeninggal Lilyana dan Livia.
๐ฉ Klik...
Ponsel berdering membuat Axel melirik ke arah meja. Ada pesan gambar. Sebuah foto dengan wajah cantik tersenyum di layarnya, Axel swap ke kanan, rupanya body perempuan itu cukup seksi.
Bergegas Axel melambungkan panggilan telepon pada si pengirim. Tak lama, Dhyrga menyapa hangat dirinya.
๐ "Xel."
"Hmm, ... Siapa gadis ini?" Datar Axel.
๐ "Temui dia besok."
"Siapa memangnya?" Axel mendengar gelak tawa dari seberang sana.
๐ "Miley, masa kamu nggak tahu? Dia model terkenal, cewek yang sering Daddy ceritain itu loh."
"Ketemu buat apa?"
๐ "Kok buat apa? Kenalan Xel. Daddy rasa dia cocok dengan mu. Dia keturunan baik-baik, Miley anak Om Tomi."
๐ "Sampai kapan kamu mau seperti ini?"
"Sampai benar-benar bisa lupa semua tentangnya." Tak menyahut, sebab kata itu hanya terucap dalam batin.
...๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ...
Minggu bergantian, hingga sembilan bulan pun berlalu begitu saja. Hari-hari Lily lewati penuh semangat juang.
Senyum telah terbit di wajah cantik Lilyana, sedang tangannya meletakkan sarapan sandwich untuk Livia.
"Selamat pagi Shanshan!" Kecupan manis menjadi pembuka hari indah mereka. Cuaca cukup cerah, secerah senyum Livia.
"Pagi Mama cantik." Sambung nya. Sekarang, Livia dipanggil dengan sebutan Shanshan.
Lily tersenyum, anak itu sangat cantik. Lily bersyukur, sejauh ini tumbuh kembang Livia cukup baik, Livia sehat dan semakin pintar saja.
Tak terasa satu tahun setengah usia Livia. Bukan hanya berdiri, Livia bahkan sudah bisa berlari dengan lincahnya.
Untuk berkomunikasi pun Livia sudah semakin lancar, kemarin Lily mendaftarkan Livia untuk bergabung dengan agensi permodelan.
Yah, semacam ajang pencarian bakat di Jerman, Lily memang sengaja ingin mengawalinya dari sana.
__ADS_1
Tabungan Lily sudah lebih dari cukup untuk terbang ke Jerman. Semoga cita-cita Lily untuk Livia, tercapai.
"Baby Shanshan mamam sendiri yah, Mama mau langsung berangkat kerja. Shanshan sama Bunda Rima yah."
Ada Rima juga yang tersenyum damai di sisi meja makan kotak itu.
"Ok." Livia menyengir. Ia membiarkan ibunya pergi setelah mengecupi seluruh wajahnya.
"Lily pamit yah Bunda, Lily titip Shanshan." Lily mencium punggung tangan Rima sebelum kemudian ia berlalu dari sana.
Tiba di luar, Lily meraih skuter matic, ia memang terbiasa memakai kendaraan beroda dua milik Rima, beserta helmnya.
Sebelum menarik gas, perlahan Lily menghela napas dalam. "Semangat Lily. Hari ini hari terakhir mu bekerja. Setelah itu, Jerman menyambut mu dan Livia. Semangat!" Gumamnya.
Brumm....
...๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ๐ฌ...
Dua puluh menit kemudian, pada lain tempat, hari ini mobil sport tanpa atap milik Axel berada di kawasan town house milik seseorang.
Ada Rudolf juga di sisinya. Seperti biasa Rudolf selalu duduk di jok kemudi sedang Axel duduk pada jok penumpang bagian depan.
"Yang mana rumahnya?" Axel bertanya.
"Sebelah kanan." Kata Rudolf, ia turun di susul oleh Axel yang juga turun.
"Apa harus pagi-pagi sekali?" Axel merutuk. Jujur, ini ide gila dari Rudolf, dan baru kali ini Axel mau menuruti.
"Supaya Bos cepat-cepat menikah, dan segera punya anak yang lucu, Bos harus mau dijodohin! Semoga Tuan Alex juga bisa dapat jodoh lagi di California. So, kalian nggak perlu lagi saling bermusuhan." Kata Rudolf.
"Apa hubungannya dengan datang pagi-pagi sekali begini?" Sela Axel.
Rudolf menyengir. "Biasanya jadwal pagi gadis cantik itu, olah raga, joging, lari di tempat, pake busana ketat, pokoknya, ini semua supaya Bos bisa punya ketertarikan sama calon jodoh Bos!"
Axel mengernyit. "Aku tidak semesum itu!" Pukulan mendarat di kepala asistennya.
"Coba saja dulu. Siapa tahu setelah lihat fisik yang aduhai, gairah Bos normal kembali."
"Sial!"
"Semangat!" Rudolf mendorong punggung bidang Axel agar masuk ke dalam rumah gadis pilihan Dhyrga.
Mendengus, Axel melangkahkan kakinya. Yah, demi bisa hidup normal kembali, Axel perlu mengikuti saran-saran dari Rudolf kali ini.
"Ku mohon, kembalikan kewarasan ku Tuhan."
Wait, kewarasan yg bagaimana? ๐คง
__ADS_1