Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Numpang lewat?


__ADS_3

"Lily. Ku mohon, kasihan Livia." Queen meminta untuk tidak menguasai Livia seorang diri saja.


Livia lahir dengan fisik yang nyaris sempurna, cantik, bermata biru, berkulit putih, ceriwis, sehat, bahkan jika dipikir secara seksama, Livia sangat mirip Queen Kirana Rain.


Pertama dari sekian generasi yang telah launching, baru Livia anak perempuan yang memiliki potensi untuk dijual di dunia keartisan.


Livia penurut saat berpose manja, mampu menirukan senyum ala model, Livia bahkan memiliki mood yang tidak labil untuk ukuran anak di bawah satu tahun.


Terlebih, Livia anak cantik dan pintar, Livia sangat mampu dijadikan kebanggaan keluarga Miller dan Rain.


Cheryl saja belum bisa hamil lagi sampai sekarang, mengingat silsilah keturunan mereka memang lumayan sulit jika sudah urusan anak.


Raka menjadi satu-satunya pewaris X-meria. Dan Dhyrga pun menjadi satu-satunya anak Tuan Harlan. Belum lagi keluarga lainnya juga sama sulitnya untuk menghasilkan anak.


Haruskah Livia terasingkan? Queen tak mau melepas bayi cantik itu.


"Tolong jangan egois Lily. Biarkan Livia mendapatkan hak istimewa sebagai cucu kami." Pintanya.


Lily tersenyum. "Apa karena saya miskin, Nyonya menganggap Livia tidak akan pernah bahagia?" Tanyanya.


"Ly." Alex menimpali. "Mommy hanya mau yang terbaik untuk Livia." Katanya.


Mendengar itu, sekali lagi Lily menyatukan kedua tangannya, tatapan secara pelan menyisir seluruh wajah rupawan dari keluarga konglomerat itu.


"Terima kasih atas perhatian kalian semua. Tapi saya mohon pengertiannya juga, Livia akan tetap hidup dengan identitas dari saya, sedari lahir Livia hanya memiliki satu orang tua yaitu Lilyana. Tidak perlu ada pengakuan Tuan dan Nyonya. Jika pun keberadaan Livia akan terungkap, biar saja terungkap seiring waktu yang berjalan."


Semua orang bisa apa? Meski geram, Dhyrga tak mampu memaksa Lilyana. Kenyataannya Alex putranya lah yang bersalah.


Alex bahkan sempat dengan kejamnya meminta Lily menggugurkan kandungan, lalu memilih menjalin hubungan dengan Angel.


"Aku bisa saja memaksa mu." Alex kembali menyeletuk. Berharap, ancaman itu membuat Lily gentar.


"Biarkan Livia hidup bersama Lily, Lex." Krystal sang Nenek menimpali. Kemudian semua orang menatap ke arah wanita setengah keriput itu.


Raka menatap istrinya. "Sayang." Seharusnya mereka orang tua cukup menjadi pendengar saja.


Krystal genggam tangan suaminya. "Lily benar. Lily punya hak asasi manusia. Aku yakin Livia tidak akan hidup kekurangan jika memiliki Ibu yang luar biasa seperti Lily."


"Livia cucu kita, Sayang." Menggeleng, Raka kembali mengingatkan istrinya.


Betapa dahulu Raka harus beristri dua, hanya untuk memiliki sepasang anak yaitu Queen dan Raja.

__ADS_1


Lalu, di kehidupan masa depan rupanya Alex cucunya harus menyia-nyiakan Livia. Ini tidak di benarkan baginya.


"Kenapa kamu seolah tidak peduli Livia Krystal? Sama seperti Ezra, Livia cucu mu juga." Harlan mengimbuhi.


Krystal mengangguk. "Cucu tetaplah cucu, tapi tidak seharusnya memaksa Lily menikahi Alex. Aku setuju, kalau Lily menolaknya."


Krystal menjadi satu-satunya orang yang sependapat dengan cara pikir Lilyana.


Menikah dengan lelaki yang tidak mencintai, kemungkinan besar yang terjadi hanya akan makan hati, tersakiti, lalu pada akhirnya bertahan demi status, itu bukan prinsipnya.


"Terima kasih Nyonya." Lily tersenyum pada wanita tua itu. Akhirnya dari semua orang, ada juga yang mendukungnya.


Krystal beralih pada Lily. "Pergilah, jalani hidup mu sendiri. Semoga bahagia, Grandma yakin, sukses akan selalu menyertai mu."


"Mommy."


"Grandma." Secara bersamaan Queen dan Alex protes pada Krystal.


Krystal berdiri kemudian mendekati Lily. Elusan lembut ia berikan pada pucuk kepala wanita muda itu. "Pergilah, Livia hak mu."


"Sayang." Raka menegur. Namun, tak jua mampu memaksimalkan kehendaknya, selama ini langkah pilihan Krystal selalu menjadi pilihannya juga.


"Terima kasih Nyonya." Lily bangkit, terharu ia mencium tangan Krystal, sebelum kemudian ia berpamitan kepada semua orang untuk pergi dari tempat itu.


Tak mau menerima keputusan neneknya. Alex ikut berdiri demi mengikuti langkah kaki Lilyana.


"Lily!" Kembali Alex meraih tangan mulus wanita itu. "Dengar dulu penjelasan ku Ly. Kamu harus tahu, everyone's feelings can change! Perasaan semua orang bisa berubah kapan saja bukan, termasuk aku."


Lily menoleh sinis. "Dah yah, semua orang memang bisa berubah kapan saja. Termasuk aku yang dulu sangat mempercayai mu, menjadi tidak sama sekali." Jawabnya.


"Ly, please." Alex meredup ekspresi.


"Kalau kau menyesal. Menyesal lah Lex, mungkin penyesalan ini lah yang akan membantu mu menjadi lebih dewasa." Kata Lily.


"Mengenal mu, sumpah sekalipun aku tidak pernah menyesal, karena Livia ada karena kau pun ada. Tapi untuk luka yang sudah kamu torehkan padaku, biar dia mengering tanpa perlu kamu obati lagi." Lirihnya.


Alex bergeming menelaah buraian kata-kata Lilyana, dan disaat itulah Lily memanfaatkan kesempatan untuk kembali pergi dari tempat itu.


"I know, you dare to say this, because you love Axel." Aku tahu, kamu berani bicara seperti ini, karena kamu mencintai Axel.


Seketika, langkah kaki Lily terhenti. Dan tanpa menoleh ia berujar. "Kalau kau berpikir seperti itu, anggap saja begitu."

__ADS_1


Alex tergagu menatap berlalunya punggung kecil wanita itu. Rupanya tak sedikitpun Lily mau menengok kembali ke belakang.


Kendati Lily perempuan realistis, tak secuil pun Lily tergiur pada rumah besarnya ini.


Menjadi menantu keluarga kaya raya, bukan jaminan hidup bahagia.


Bisa saja, satu atau dua tahun menikah, penyakit playboy Alex kambuh melanda puber kedua dan lain sebagainya.


Sepertinya, Lily tak mau terlalu banyak mengambil resiko. Lebih baik realistis, belajar dari pengalaman, supaya tidak masuk kepada lubang yang sama.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Di lain tempat, sedari awal Lilyana datang, rupanya Axel berdiri di sisi ruangan.


Semua yang Lily katakan, ia dengar dengan sangat jelas.


Jawabannya adalah, Lily memilih pergi dari Alex dan seluruh keluarganya.


Axel mengayun langkah memasuki kamar miliknya. Berlanjut, kaki-kaki panjang itu mendekati jendela besar di kamarnya.


Dari balik tirai yang sedikit ia singkap, Axel menatap punggung Lily menghilang di telan pintu mobil milik Mitha.


Ada rasa yang seolah tidak ingin merelakan kepergian wanita pertama yang ia sukai, tapi keras hati yang menyelimuti menguasai ego diri.


"Kamu nggak kejar dia?" Suara Cheryl membuat Axel mengalihkan pandangannya.


Cheryl berdiri di sisi pintu, melipat kedua tangannya di dada. "Kamu yakin nggak mau maafin dia?"


"Tentu saja." Dingin, Axel menjawabnya, Axel lalu berpaling dari mobil Mitha yang perlahan menjauh. "Aku paling benci orang yang membohongi ku."


Cheryl terkekeh. "Di mana dia membohongi mu? Apa dia pernah mengarang cerita tentang masa lalunya?" Sindirnya.


Axel menoleh. "Setidaknya katakan siapa yang menghamilinya, maka aku tidak perlu merasa dibohongi!" Ketusnya.


"Kau pikir mudah melakukan itu?" Cheryl pernah berada di posisi Lily, yah meski berbeda kasusnya.


"Kakak malah salut sama Lily, dia bisa move dari laki-laki pujaannya, dan hidup bahagia, membesarkan bayinya dengan keterbatasan materi yang ada." Puji Cheryl.


"Dulu Kakak takut sengsara padahal Badai mau bertanggung jawab sepenuhnya!" Tambahnya.


Axel mendecak lidahnya. "Now, Lily sudah pergi. Dua tiga hari, dia akan berlalu. Lupakan saja! Lily hanya wanita yang numpang lewat di kehidupan kita." Katanya.

__ADS_1


Yakin?? 🥱🥱


__ADS_2