Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Hollywood


__ADS_3


Hollywood, yah kali ini Lily sudah berada di sini. Hollywood sendiri adalah sebuah distrik di Los Angeles, California.


Seperti rencana awal, setelah melakukan pers di London. Lily dan Livia segera terbang ke Amerika.


Sebuah hotel bintang lima yang selalu menjadi tempat istirahat mereka, fine dining salah satu fasilitas di hotel ini.


Untuk perencanaan film berikutnya, malam ini juga Lily duduk bersama dengan jajaran aktor dan aktris pendukungnya.


Untuk tokoh utama, tentu melibatkan Jackson sang bintang Hollywood yang sudah tidak diragukan lagi jam terbangnya.


Sedari satu jam yang lalu, aktor tampan itu terus menatap Lilyana dari kursinya.


Sudah sejak awal Jackson tertarik pada Lilyana. Tak heran, karena wanita Asia menjadi tipe ideal seorang Jackson.


Apa lagi malam ini Lily mengenakan gaun hitam yang sangat elegan. Mumpung Livia masih berada di kamar, Jackson menggeser duduknya mendekati Lily.


"Ekm Ekm." Dahaman itu di sambut oleh senyuman manis Lily.


Keduanya asyik mengobrol karena memang banyak sekali topik yang mereka bahas. Dari karir sampai kehidupan sehari-hari.


"Does Miss Nirina have no plans to get married?" Apa Nona Nirina tidak memiliki rencana untuk menikah. Tanya Jackson.


"There are no plans for that yet." Belum ada rencana untuk itu. Jawab Lily.


Jackson terkekeh ringan. "You are still young. You are also very beautiful." Anda masih muda. Anda juga sangat cantik. Pujinya.


Lily hanya membalas dengan senyuman, yah selama ini banyak yang mengatakan Lily cantik, tapi nyatanya tak ada satu pun laki-laki yang serius mendekati dirinya.


Dari Alex, Axel, sampai laki-laki setelah putra Miller pun sama tak seriusnya, mereka hanya sekedar memuji lalu pergi.


"Excuse me, can we talk for a second?" Permisi, bisa kita bicara sebentar? Pria tinggi berjambang menepuk punggung Jackson, dia Milanov.


"Of course."


Ramah, Jackson menyahutinya. Lalu ia kembali menatap Lily untuk pamit undur diri, yang mana segera dipersilahkan oleh wanita itu.


Gegas Jackson bangkit dan mengikuti langkah kaki Milanov berayun.


Di sudut tempat keduanya berhenti untuk membicarakan sesuatu sembari menenteng minuman berwarna merah wine.


"What is this?" Ada apa ini? Jackson menatap Milanov penasaran.


"I hope, you do not intend to approach Nirina." Kuharap, kamu tidak berniat mendekati Nirina.” Bisik Milan di telinga.


"Why?" Seketika Jackson mengernyit. Apa salahnya mendekati wanita tak bersuami?


Lagi, Milan berbisik. "She belongs to someone else. So Better, forget about her." Dia milik orang lain. Jadi lebih baik, lupakan dia. Tuturnya.


"Who does she own?" Siapa pemiliknya?


"He is one of the shareholders of the Britney production house." Dia salah satu pemegang saham di rumah produksi Britney. Jelas Milanov kemudian.

__ADS_1


"OMG." Kejut Jackson. Jadi rupanya, ada kekuatan seseorang di balik kesendirian Nirina.


Milanov mengangguk. "Forget it, there are plenty of fish in the sea." Lupakan saja, masih banyak ikan di laut. Katanya menyarankan.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Malam semakin larut, dengan menggunakan lift, Lily kembali menuju kamarnya diiringi beberapa asisten Livia.


Dari kejauhan lorong, Axel hanya bisa memastikan Lilyana masuk ke dalam kamar dengan aman. Yah, memang seperti itu lah kelakuan pengecut yang satu ini.


Pertama kali jatuh cinta, pertama kali pula Axel gagal untuk berpindah. Mau apa lagi? Sudah berulang kali melamar Lilyana hanya berakhir ditolak mentah-mentah.


Berapa banyak laki-laki yang mendekati pujaan hatinya, dan semuanya terhempas setelah semuanya tahu siapa sosok dibalik berdirinya Nirina dan Shanshan.


"Bos, .."


"Hmm?"


Rudolf berdiri di sisi sang tuan. Pria itu gusar saat menunjukkan sesuatu dari layar ponselnya. "Tuan Alex di sini."


Axel terdiam cukup lama. Lantas, ia kembali menyeletuk kan kata. "Biarkan saja." Melangkah, memasuki kamar miliknya.


Rudolf tergelak samar. "Bos yakin? Menurut Rudolf, akan ada kemungkinan besar mereka balikan kalau sampai dipertemukan kembali." Ujarnya.


"Kalau memang itu yang terbaik, kenapa tidak?" Kata Axel.


Lebih baik bersama Alex, daripada Lily dan Livia terus ke sana kemari untuk bekerja dan bertemu dengan banyak pria yang tidak keruan asal-usulnya, Axel lebih tak tenang melihatnya.


"Kalo begitu, selamat menangisi pernikahan saudara mu Bos." Sambung Rudolf.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Cukup lama Alex dalam perasingan, Alex perlu memastikan putrinya dalam keadaan baik.


Setidaknya hanya di negara ini saja Alex bisa menemui Livia, karena jika sudah ke luar dari California, mungkin akan sulit baginya.


Pada Lily, Alex bisa acuh tapi pada darah dagingnya Alex masih memiliki rasa ingin bertemu.


Alex sengaja memakai seragam ala room attendant, tak lupa ia juga mendorong trolly hotel, tujuannya agar lebih mudah menjangkau kamar Livia dengan alasan menyampaikan layanan fasilitas.


Entah lah, jalan Alex untuk sampai ke tempat ini lumayan mudah. Mungkin semua orang lupa memperketat pengawasan.


Ting tong...


Bel dia tekan. Tak lama dari itu, pintu terbuka seiring dengan munculnya raga cantik Lilyana.


"Mmm, ..." Baru saja Lily ingin menyapa, Alex menyerobot masuk tanpa membawa trolly miliknya. "Biar aku masuk."


"Alex." Lily melotot.


Rupanya benar dugaannya, setelah dia muncul di media, Alex mendatangi dirinya.


"Ngapain kamu ke sini?" Catuk Lily.

__ADS_1


Alex meredup ekspresi. "Apa kabar?"


"Seperti yang kau lihat, aku baik. Sekarang pergilah sebelum aku panggil security." Lily membuka pintu kembali.


Alex menggeleng. "Biar aku bertemu dengan Livia." Pintanya.


"Untuk apa?" Tak sengaja Lily menaikan nada bicaranya.


"Apa seorang ayah perlu alasan menemui putrinya?" Sanggah Alex.


"Kamu bukan ayah yang baik!"


Alex menundukkan wajah. "Aku tahu."


"Mama." Mendengar suara gaduh, gadis mungil itu keluar dari sarangnya.


Sontak Alex menoleh dan memekarkan senyuman. "Hay." Sapanya, ia berjongkok menatap Livia dari dekat.


"Hay." Senyum Livia. Dilihat dari seragamnya Livia tahu om tampan ini hanya pekerja hotel.


Alex mendongak ke arah Lily, berharap Lily membiarkannya menemui Livia walau hanya sekejap.


Lily bisa apa, nyatanya Livia sudah kadung keluar dan melihat Alex di sini.


Mendapat persetujuan tersirat Lily, kembali Alex menatap putrinya. "Aku penggemar mu Shanshan." Katanya tersenyum.


Livia berdecak. "Uncle bisa bahasa Indonesia?"


Alex terkekeh. "Jadi Shanshan juga masih ingat bahasa Indonesia?" Tanyanya.


"Little." Sedikit kedipan mata Livia membuat Alex tertawa. Tuhan, ini kah anak yang dahulu tak dia inginkan, kenapa harus secantik ini?


"Jadi apa Uncle ke sini mau minta tanda tangan Shanshan?" Tanya Livia polos.


Alex menggeleng. "Tidak."


"Lalu?"


"Uncle mau peluk dan kecupan manis. Boleh kah?" Pinta Alex.


Livia sempat menatap ibunya demi mendapatkan izin untuk memeluk laki-laki asing yang dia kira hanya fans.


"I'm sorry, Baby." Alex merengkuh tubuh mungil putrinya setelah mendapat anggukan persetujuan Lily.


Livia membuka mulut lucunya. Di depan sana Lily hanya diam memperhatikan mereka. Tak ada rasa rindu atau empati, mungkin rasa Lily telah mati.


Terharu, Alex menghirup, mengecupi telinga Livia lembut. "I'm sorry Baby." Ulangnya.


"For?" Cadel Livia.


"For all." Alex sesak seketika memeluk putrinya. Yah, putri yang dahulu dia buang begitu saja kini tumbuh besar bahkan memiliki kepopuleran tanpa embel-embel dari keluarga Miller.


Lily mengurai pelukan mereka. "Shanshan perlu istirahat. Besok dia harus bangun pagi. Dia juga perlu liburan sebelum melakukan syuting berikutnya." Katanya.

__ADS_1


...Masih bertanya-tanya, sama siapa ending-nya? Nggak akan lama, segera Kalian tahu dan bisa menyimpulkan....


__ADS_2