
📩 [Lex, kau tidak berniat membawa ku ke rumah utama keluarga mu kah? Kamu mengacuhkan aku Lex, kau lupa aku bisa saja pulang ke negara ku tanpa mu!] Angel.
📨 [Kasih aku waktu untuk melakukan hal yang seharusnya aku lakukan dari dulu, tidak puas kah selama ini kau menyita seluruh waktu ku?] Balas Alex.
📩 [Kamu mulai protes padaku Lex?] Angel.
Akhir-akhir ini Alex sibuk berpikir keras, hingga lupa Angel sendirian di penthouse dan membutuhkan dirinya.
Niat hati ingin mengajak Angel liburan di Indonesia, Alex justru sibuk dengan urusan yang seharusnya tidak pernah dia urus.
Tak peduli pada ponsel yang terus menerus berdering. Alex pulang ke rumah utama ayahnya.
Dapur tempat yang Alex tuju, dan pelayan lah yang Alex cari setelah itu. "Mbak, Bik Sari ke mana?"
"Sebentar saya panggil Den Tuan muda." Satu pelayan muda undur ke belakang kemudian kembali bersama wanita paruh baya.
"Ada apa Tuan muda?" Sari tersenyum menyambut kedatangan anak majikannya.
Alex berbisik. "Boleh kita bicara?"
"Boleh Tuan." Sari manggut-manggut secara cepat, biasanya jika ada urusan pribadi, upah pun lebih banyak dari uang bulanan mereka.
Alex melangkah ke sudut tempat, di ikuti oleh Sari. Sedikit menjauh, Alex lalu berhenti dan fokus pada pelayan setia ayahnya.
"Gimana Tuan?" Sari penasaran.
"Aku dengar, anak perempuan Bibi bekerja di tempat sekretaris Axel?" Alex tak basa basi lagi.
Sari mengangguk. "Iya, benar Tuan muda. Memang ada apa yah? Apa Nina berbuat salah?" Tanyanya khawatir.
"Tidak, bukan itu, Alex cuma butuh bantuan Bibi sama anak Bibi saja." Sanggah Alex.
"Bantuan, bantuan apa Tuan?" Wanita itu begitu keheranan, sebenarnya apa hubungan Alex dengan sekretaris Axel? Agaknya serius sekali.
Alex mendekat ke telinga. "Saya mau, rambut Baby Livia, tapi usahakan sampai ke akarnya."
"Rambut?" Sari terkejut. "Tuan mau nyantet bayi?" Celetuknya keras.
"Sstt, ..." Alex membekap mulut Sari dengan sebelah tangannya. "Jangan berisik!"
"Iya Tuan maaf." Sari mengangguk menyengir setelah Alex melepasnya.
"Ini rahasia, Alex akan kasih uang yang banyak buat Bibi, kalau anak Bibi berhasil melakukan perintah Alex dengan baik."
Alex menyodorkan gepokan uang. "Dan ini, anggap sebagai DP nya." Ujarnya.
"Tapi, ..." Sari sedikit gamang, pasalnya ini terlalu mencurigakan, bagaimana jika Axel tahu dan Nina dipecat?
Alex terkikik. "Tidak untuk hal mistis Bik, tapi tes DNA. Alex bukan mau mencelakainya, serius deh."
"Memangnya buat apa Tuan?" Sari memastikannya sekali lagi.
"Ini urusan pribadi Alex, sekarang Bibi nurut saja, dan lakukan sesuai perintah, lalu jangan bilang siapa-siapa mengenai ini semua, atau kalian juga akan kena dampaknya, mengerti kan Bik?"
"Mengerti." Terbata-bata Sari mengangguk.
__ADS_1
Alex menyengir. "Bagus. Tapi misi ini secret Bik, rahasia." Pesannya.
"Ok, yes!" Angguk Sari.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Siang, malam telah bergantian mengiringi setiap embusan napas para insan manusia.
Setelah melalui perdebatan sengit, pada akhirnya Alex membawa Angel ke rumah utama keluarganya.
Namun, sampai detik ini pun Dhyrga tak mau bertemu dengan pacar putranya. Banyak faktor yang mendasari ketidak setujuannya.
Selain asal usul Angel yang adik seorang mafia kelas berat, ayah Angel pun terkenal tidak menganut agama apa pun. Sebab meski berasal dari barat, Dhyrga masih memegang teguh budaya ketimuran.
Di depan kolam renang panjang, Alex duduk di kursi malas bersama kekasihnya.
Sedari tadi Alex hanya terdiam menatap goyangnya pepohonan rindang di balik tembok pembatas rumahnya.
Angel sadar, Alex sudah mulai jenuh dengan aturan aturan yang mengekang kebebasan Alex.
Mungkin dahulu Angel bisa memperlakukan kekasihnya dengan sesuka hati, sebab sang kakak mafia kaya rayanya memiliki kewenangan yang cukup tinggi.
Sebucin apa pun Alex padanya, Angel tahu Alex juga bukan laki-laki yang datang dari keluarga biasa.
"Are you still mad at me?" Kamu masih marah padaku? Angel mengusap lembut dada bidang kekasihnya.
"Tidak." Alex tersenyum. Sejatinya bukan marah pada Angel, ia hanya sedang dilema, karena semakin hari semakin Alex dibuat penasaran kepada Lily.
"Di depan ramai orang, siapa mereka? Kenapa mereka tidak mau menyapa ku?" Angel meredup ekspresi.
Alex terkekeh. "Maklum, Kak Cheryl mungkin lagi sibuk melakukan pemotretan untuk brand fashion nya. Kebetulan modelnya anak perempuan sekretaris Axel, dan setahu ku Lily memang pendiam. So, jangan ambil hati."
"Uncle! Uncle!" Alex menoleh pada anak laki-laki yang menyerukan panggilannya.
Ezra sekarang sudah 11 tahun, bocah tampan itu menggendong gadis mungil berpakaian princess yang sangat cantik.
Tak ayal, Livia memang baru saja selesai pemotretan. Tentu Livia masih mengenakan atribut menggemaskan.
"Hey, ..." Alex mengernyit ketika Ezra meletakan baby Livia pada perutnya. "Eza!"
"Eza mau ke kamar mandi, Eza titip Livia dulu!" Tergesa-gesa Eza berujar.
"Your mom?"
"Mami sama Tante Lily lagi shalat dulu, sekarang gantian uncle jagain Livia, Eza kebelet!" Ezra lari setelah mengatakan itu.
"Uncle Axel ke mana?" Alex berteriak.
"Belum pulang!" Ezra menjawabnya dengan berteriak pula.
"Oh my God!" Alex mendengus menatap berlalunya Ezra yang tenggelam di balik pintu kaca.
Alex menghela napas berat. Matanya lalu beralih pada wajah cantik gadis itu. "Hey, ..." Sapanya menyengir.
__ADS_1
"Ehek." Livia tergelak setelah mengirimkan cairan hangat di atas perut Alex. Yah, Livia pipis tanpa pampers.
"What!" Alex berjingkrak. "Baby, kau, apa yang kau lakukan dengan kaos mahal ku hmm?"
"Ehek, ..." Livia menyengir, terkekeh, tergelak, menggemaskan. "Pipih." Katanya.
Alex kembali menatap Livia, dan kecantikan Livia meluluhkan hatinya. "Kau manis sekali, tapi kenapa harus pipis di sini hmm?"
"Alex!"
"Iya?" Alex menoleh kekasihnya, terlihat Angel berdiri dengan menutup hidungnya.
"Kamu bau, ganti baju gih!"
Alex terkekeh. "Ok, now, kamu gantiin aku jagain Livia." Ia sodor kan Livia pada Angel dan gadis itu menepisnya. "No!"
"Lalu gimana cara ku ganti baju?"
"Kamu kan bisa bawa dia ke kamar mu, aku nggak suka anak kecil, mereka so annoying." Angel duduk di kursi yang jauh dari Alex.
"Sayang, Livia anak yang cantik, lagi pula bukankah semua wanita akan berakhir memilliki anak?"
"But not with me!" Tapi tidak dengan ku! Ketus Angel. "Cepetan ganti baju! Kamu bau pipisnya baby!"
Alex mendengus, namun bibirnya lantas tersenyum setelah menatap kembali ke arah Livia. "Ok baby, ini semua karena mu, jadi, kamu harus ikut aku ganti baju." Katanya.
Alex menggendong Livia sedang gadis kecil itu selalu mengayunkan tangannya ke arah yang lain. "Pappa mannna? Pappa?"
"Papa?" Alis Alex bertautan. "Your Papa ke mana? Memangnya Baby punya Papa?" Tanyanya.
"Pappaaa Mammmma." Livia menunjukkan arah yang dirasa ada ibunya.
Alex mengangguk. "Ok, nanti kita cari Mama kamu, tapi setelah Om ganti baju dulu, setuju?" Bujuknya.
"Egi!" Angguk Livia.
Alex terkikik. "Agree maksud mu?" Dan Livia manggut-manggut menggemaskan. "Ya Tuhan, kamu sangat manis."
Pada Lily mungkin Alex bisa menunjukkan rasa benci dan tidak suka, tapi pada gadis secantik dan semenggemaskan Livia, bagaimana caranya?
Setelah sampai di dalam kamar pribadinya, Alex meletakan Livia di atas ranjang super king miliknya. "Baby tunggu Om di sini, Ok."
Tak ingin Livia menangis, Alex lalu mengedarkan pandangannya, ia mencari sesuatu yang mungkin bisa Livia mainkan.
Ada globe kecil di atas nakas, ia kemudian meraih dan memberikannya pada Livia. "Baby jangan bergerak dari sini, ..."
"Livia!"
Alex dan Livia menoleh, dari arah pintu Lily berlari cemas meraih putrinya.
"Kamu baik-baik saja kan?" Lily kecup seluruh wajah Livia dan gadis itu tersenyum sebagai pertanda ia baik-baik saja. "Syukurlah."
"Lily." Alex mengulas kerut tipis di keningnya, ia lantas meraih lengan Lily yang baru akan pergi. "Apa kau takut aku menyakiti bayi mu?"
Tajam Lily menatap Alex, setelah menepis tangan pemuda itu, Lily segera berlalu dari kamar tersebut tanpa sedikitpun statement.
__ADS_1
Alex berbicara seolah takkan pernah menyakiti Livia, padahal dia sendiri yang dahulu menyuruhnya membunuh janin Livia.
Di tempatnya, Alex masih berdiri menatap punggung Lily dengan raut wajah yang merasa direndahkan. "Kau berbuat seolah aku monster yang sangat kejam!" Rutuknya.