Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Ke Jerman


__ADS_3

Setelah berjam-jam lamanya Axel dan Rudolf menunggu Lily di parkiran, pada akhirnya ada salah satu pengurus panti yang datang mengambil kendaraan beroda dua itu.


Dari sini lah Axel kemudian mengikuti pria tersebut untuk datang ke sebuah panti asuhan, tempat di mana selama ini Lily tinggal.


Secara baik-baik Axel bertamu dan di sambut dengan baik-baik pula. Kini Rudolf dan Axel duduk berdampingan di sofa ruang tamu.


"Sudah pergi?" Axel terhenyak mendengar pernyataan dari pemilik panti asuhan Kasih bunda.


Rima menyampaikan semua peristiwa hari ini, di mana siang tadi Lily memang pulang lalu segera membawa koper- koper yang sudah dikemas dari kemarin.


"Jadi sebelum ketemu Bos saya pun, Lily memang sudah berencana mau pergi dari tempat ini Buk?" Sambung Rudolf penasaran.


"Iya benar." Rima mengangguk mengiyakan.


"Hari ini gaji terakhir Lily. Dan Lily sudah pamit mau pergi dari satu Minggu yang lalu. Sebetulnya kami juga merasa berat melepas Lily dan Livia, tapi Lily kekeuh untuk pergi bersama putrinya."


"Ke mana?" Axel berharap Rima mau memberitahukannya. Cukup sudah Lily menyiksa batinnya, dia pikir mudah melupakan Lily rupanya sangat sulit.


Kenyataannya, Axel gagal move on.


Rima menggeleng. "Soal ke mana Lily pergi, Ibu tidak tahu menahu Nak, Lily cukup tertutup untuk urusan pribadinya. Yang pasti, Lily akan pergi dalam waktu yang cukup lama. Dia cuma bilang begitu saja." Jelasnya.


"Oh Tuhan." Axel mendengus frustrasi. Baru saja bertemu, lalu menghilang kembali.


"Lebih baik, biar saja Lily pergi. Biar Lily hidup tenang sesuai dengan cita-citanya." Kata Rima kembali.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Detik detik berlalu, Axel memutuskan untuk pulang dengan sebilah hati yang merindu.


Benar kata orang, perjumpaan sesaat hanya akan menambah rasa rindu yang membelenggu.


Axel tak habis pikir, bagaimana bisa Lily terlihat baik sementara dirinya terus mengalami yang namanya G4M, gundah, gulana, gelisah, galau, merana.


Kenapa Lily seacuh itu? Apakah ini berarti, Lily benar benar tidak pernah menyukai dirinya?


Oke Axel terima, tapi kenapa Lily juga menolak lamaran Alex waktu itu? Oh Tuhan, Axel terus bergulat dengan pikiran semrawutnya.


"Kita minta bantuan Rega saja." Axel menaiki mobil dengan gerakan tak bersemangat. Rudolf yang mengambil alih kemudi kali ini.


"Semoga terlacak ke mana Lily pergi." Harap Rudolf.

__ADS_1


Yah, Axel juga berharap demikian, jika pun tidak dipersatukan cinta mereka, setidaknya Lily mau memaafkan kesalahannya.


Jujur, Axel merasa sangat bersalah, ternyata karena dirinya lah Lily sampai harus menjadi budak Miley dengan identitas tersembunyi.


Perlahan mobil melaju. Selama perjalanan, mereka mengobrol random, hingga tak terasa macet sedikit menjeda waktu sampainya.


Pukul lima sore Axel dan Rudolf tiba di kediaman Raka Rain sang Kakek. Segera mereka turun dari mobil lalu memasuki hunian luas itu.


Di halaman belakang, terlihat kakek dan neneknya tengah duduk berdampingan menghabiskan waktu senja bersama.


Sementara di ruang tengah, ada Om Raja tengah sibuk bercanda gurau dengan tante Kimmy nya, sepertinya keluarga ini cukup bahagia terkecuali Axel saja.


Axel melanjutkan langkah menuju lantai atas dengan lift. Axel sengaja datang ke sini demi menemui adik sepupunya yaitu Rega Putra Rain.


Di lantai lima, kamar Rega berada. Ting... Bersama Rudolf Axel keluar dari lift. Satu kamar saja, besarnya seluas tanah di bangunan ini.


"Hey, hello."


Duduk bersandar di balkon kamar, Rega sudah menyambut kedatangan Axel. Tak pelak, CCTV yang tersebar di seluruh sudut rumah menjadi mata ke dua Rega.


Rega tampan dengan pakaian kasual pendek dan sendal jepitnya.


Tanpa mau berbasa-basi. Satu lembar kertas Axel lempar tepat di meja santai sepupunya.


"Upahnya?" Rega menyengir. Sebab, untuk urusan lacak melacak, Rega pasti mampu melakukannya.


"Ck!" Axel mendecak lidahnya. "Kerja saja dulu, baru minta sesuatu!" Axel yakin bukan masalah uang melainkan barter jasa lainnya.


Manggut-manggut setuju, Rega membuka laptop buatan perusahaan miliknya. Rudolf dan Axel duduk di sisi kanan dan kiri pemuda tampan itu.


Data tentang Lily ia masukan dan bergegas membobol data data dari list penumpang bis antar kota, kereta, bahkan pesawat terbang.


Sekitar dua puluh menit Rega mengutak-atik gawai miliknya. Tak pula ada nama Lilyana dan Livia di mana- mana.


"Kenapa nggak ada satu pun aktivitas Lily dan Livia! Memangnya mereka pergi jalan kaki?" Rega merutuk.


"Masa sih?" Rudolf menyambar penasaran.


Rega mengangguk. "Serius, biasanya kalau data- datanya benar, tidak lama aku bisa menemukannya, tapi ini benar-benar nggak ada aktivitas dengan nama Lilyana Bachir dan Livia. Bahkan dari tanggal dan bulan-bulan sebelumnya mereka nggak beraktivitas."


"Masa taksi online saja mereka nggak pake sih?" Kembali Rudolf menyeletuk.

__ADS_1


"Tidak sama sekali." Yakin Rega.


Axel mendengus. "Kalo begitu, kamu retas CCTV di sekitar panti asuhan Kasih bunda saja. Siapa tahu dari sana kita bisa menemukan ke mana Lily pergi."


Rega manggut-manggut. "Baiklah baiklah. Kita lihat, ke arah mana Livia dan Lily pergi."


Tak seperti Rega yang santai. Axel dan Rudolf justru harap-harap cemas menanti kabar selanjutnya.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Malam melarutkan hawa mencekam, Lily sudah merasakan dinginnya AC di dalam pesawat bersama Livia.


Memang bukan kelas pertama seperti anak sultan, tapi Livia menurut, seperti sudah terbiasa menaiki pesawat saja.




Untuk baby satu setengah tahun mungkin berat dan tinggi Livia berada di atas rata-rata anak Indonesia.


Lama sudah Lily mengurus pergantian identitas Livia dengan nama Shanshan, sedang dirinya Nirina.


Akhirnya, Lily bisa ke pergi ke Jerman tanpa terlacak hacker milik keluarga Miller.


Meski orang bilang Lily lelet, tapi pemikiran Lily matang, tidak salah Lily mendapat beasiswa untuk sekolah tinggi di luar negeri.


"Mama, ..." Livia menyentuh pipi Lily. Ada setitik air yang mengelicak di sana dan sudah diseka oleh tangan mungil anak itu.


"What's wong wit cyu?"


Lily tersenyum. "Mama terharu. Akhirnya kita bisa pergi ke Jerman. Di sana, tidak akan ada lagi yang bisa mengganggu kebahagiaan kita." Ujarnya.


"Shasan love Mama." Tersenyum manis, gadis itu memeluk hangat ibunya.


Sejenak Lily bersyukur, beruntung Livia mewarisi kerupawanan ayah biologisnya.


Karena dengan modal itu lah, Livia mendapat kesempatan untuk bergabung dengan agensi keartisan di Jerman. Lewat daring, Livia telah mengikuti audisi dari tahap ke tahap.


Selain bisa menyelesaikan sesi tanya jawab, Livia juga bisa bernyanyi dengan bahasa Inggris, Livia pun pandai berakting, dan yah Livia sangat cerdas untuk ukuran anak di bawah dua tahun.


Tak heran jika melihat dari siapa Livia hadir di dunia fana. "Terlebih Mama yang sangat sayang Shanshan." Katanya.

__ADS_1


Thanks kalian yang selalu hadir like dan komentar nya... 👌❤️🤗


__ADS_2