Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Pemotretan


__ADS_3

Membawa serta putrinya, Lily keluar dari rumah besar Dhyrga Miller. Ada Nina yang tadi menghilang lalu sekarang nongol begitu saja.


"Nona." Raut Nina seperti merasa bersalah.


"Mbak dari mana? Kenapa bisa Mbak biarkan Livia masuk kamar Tuan muda?" Saking takutnya, Lily sampai ketus pada Nina.


"Maaf Nona, saya tadi menemui Ibu." Jawaban yang membuat Lily meluluh, mungkin saja Nina rindu Sari.


Lily mengangguk. "Ya sudah, sekarang kita pulang yuk, Livia sudah selesai kok, kita juga perlu istirahat kan."


"Baik Nona." Angguk Nina.


Setelah berpamitan pada tuan rumah, Lily pergi dengan mobil fasilitas dari Cheryl, yah sekarang Livia punya transportasi fasilitas sendiri.


Diwakili Lily, Livia sudah tanda tangan kontrak menjadi brand ambassador dari sebagian produk-produk fashion milik Cheryl.


Sekali lagi Lily bersyukur, hingga saat ini rezeki Livia mengalir bag air hujan yang tak mampu dihitung atau bahkan dinyana kapan datangnya.


Setelah kemarin Lily menguras seluruh tabungannya bahkan sampai berhutang pada Mitha, ternyata ada saja cara Livia menggantikan uang-uang nya.


Lily yakin Livia anak yang beruntung, melimpah rezeki dan selalu sehat, terbukti selama ini Livia tak pernah menyusahkan dirinya.


"Ivi au Pappa." Livia merengut kecewa, sampai pulang kembali rupanya Axel tak terlihat di rumah besar Dhyrga.


Lily terkekeh. "Pak Axel Livi lagi sibuk, jadi Pak Axel Livi nggak bisa dateng dulu. Livi sabar yah, mungkin besok dateng."


Lily menghela napas. Rupanya Livia benar-benar menganggap Axel ayahnya. Melihat itu, ada ketakutan tersendiri baginya.


...๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ...


Di lain tempat. Sari tergesa-gesa menemui anak majikannya. Alex segera tahu, Sari pasti sudah berhasil melakukan perintahnya.


"Gimana Bik?" Seperti biasa, Alex memastikan lingkungan sekitar aman dari mata-mata ayahnya atau adiknya.


Secara celingukan, Sari menyodorkan satu plastik berisi helaian rambut juga potongan kuku mungil. "Ini Tuan muda. Rambut sama akar-akar nya." Katanya.


Alex manggut-manggut. "Bagus. Terima kasih Bik. Nanti Miko yang akan kasih Bibi uang lebih." Ujarnya.


"Beres Tuan muda." Sari undur diri sebelum ada orang yang mencurigai mereka.


Padahal, tidak seharusnya mereka ketakutan, sebab hubungan dekat mereka dimulai sudah sedari Alex dan Axel kecil.


Alex masuk ke dalam kamar miliknya, ia lantas meraih ponsel dari atas permukaan ranjang. Dan nomor Miko yang ia hubungi setelah itu.


๐Ÿ“ž "Iya Tuan." Segera ada suara dari seberang sana.


"Mik, ..."


๐Ÿ“ž "Bagaimana Tuan?"

__ADS_1


"Sekarang kamu ke kamar ku, ambil sampel Livia, dan segerakan tes DNA, ambil tempat yang paling akurat tapi paling cepat untuk urusan ini!" Titah Alex.


๐Ÿ“ž "Ok." Alex menutup ponselnya setelah mendengar persetujuan Miko.


...๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ...


Hari-hari terlewati, setelah satu Minggu sibuk dengan padatnya aktivitas kantor, seperti kesepakatan, di hari Minggu ini Lily kembali membawa Livia untuk melakukan pemotretan.


Kali ini Lily juga ikut menjadi modelnya, sebab produk yang akan Livia kenakan juga harus berpasangan dengan outfit ibunya.


Lily dan Livia sudah cantik dengan pakaian couple, seperti biasa Cheryl sengaja memilih rumah utama ayahnya, sebab di sini sudah dilengkapi dengan studio pemotretan beserta fotografer handal.


Maklum, Queen sang ibunda masih menjadi publik figur, yang mana sudah bisa dipastikan sering melakukan pemotretan pula.


"Ini terlalu pendek kan Nona?" Lily keluar dari ruang ganti, lalu tiba-tiba wajahnya merah padam seperti merasa aneh dengan busananya.


Dress terusan berbahan kaos berwarna merah muda. Lily dan Livia juga sama-sama mengenakan sepatu sneaker putih.


Cheryl tergelak. "Enggak sih, cuma kamu nya ajah yang terlalu tinggi mungkin. Di aku ngepas kok nggak kependekan."


"Tapi saya nggak nyaman Nona." Lily menciut.


Apa lagi kalau sampai Axel datang, entah lah setiap apa pun yang ia sandang, Lily merasa Axel perlu tahu.


Seharusnya ia tepis rasa itu sebelum semua tumbuh membesar. Oh Tuhan, kenapa diam diam, Lily memiliki kepedulian tentang pandangan Axel padanya.


"Tatik, Mammma." Semakin bertambah Minggu, semakin Livia bertambah pintar saja.


"Ya udah sekarang mulai pemotretan nya, sebelum Axel dateng, nanti Livia malah fokus sama Axel lagi." Ajak Cheryl.


"Baik Nona." Segera Lily meraih tubuh mungil putrinya dari kursi khusus balita. Di sana juga sudah banyak kru yang bersiap.


"Liviaaaa, ..." Benar saja, belum apa-apa Axel sudah datang dengan sebuket bunga Daisy di tangannya.


Cheryl, Livia, dan Lily menoleh. Lily kikuk, ia jadi sering menarik rok pendeknya ke bawah, sementara Axel mendekat pada Livia yang kegirangan.


"Pappaaa."


"Happy birthday." Sembari mencium pipi Livia, Axel berujar demikian.


Lily membulat matanya. Hari ini memang hari ulang tahun, tapi bukan Livia melainkan ulang tahunnya.


"Happy birthday yang ke 24 tahun. Semoga di tahun ini, kamu mau cepat membuka hati for me." Axel kembali berbisik saat menciumi kepala Livia.


Kru dan pelayan yang melihat, hanya tahu bahwa Axel mengecupi Livia, memberikan bunga pada Livia, mereka tak mendengar bagaimana romantisnya Axel mengucapkan happy birthday pada Lilyana.


Lily tersentuh. "Pak Axel tahu tanggal, ..."


"Aku punya data lengkap tentang mu. Tentu saja aku tahu." Bergumam lirih mereka bercakap-cakap.

__ADS_1


"Terima kasih." Lily menerbitkan senyum yang sama manisnya dengan senyuman Axel.


"Ekm Ekm." Cheryl mendekat, lalu menengahi ketiganya. "Jadi kapan nih pemotretannya? Udah mau siang, Kak Cheryl buru-buru, belum lagi nanti Badai sama Eza minta quality time."


"Iya, ..." Axel mundur setelah itu. Biar saja setelah ini selesai, Lily baru akan dia ajak ke suatu tempat yang spesial.


"Kamu tunggu di sana, biar Livia tenang dan nggak rewel." Cheryl mengatur semua posisi duduk adiknya.


"Hmm." Axel menurut, ia duduk pada sofa empuk yang teronggok di sisi tempat.


Terlihat, berkali-kali Lilyana menghela napas, kenapa rasanya gugup dipandangi oleh atasannya ini.


Cheryl bertepuk tangan. "Ok, yuk merapat semuanya, mulai dari produk pertama." Ia mengatur para kru nya.


...๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ๐ŸŽฌ...


Dari lantai atas, sedari dua puluh menit yang lalu, Alex setia menatap setiap gerakan Lily di lantai bawah.


Terkadang tersenyum, terkadang terlihat frustasi. Alex merasakan sesuatu yang berbeda setelah beberapa hari ini sering melihat Lilyana.


"Ngapain sih ngeliatin mereka terus? Kamu suka sama sekretaris Axel?" Setelah cukup lama diam saja pada akhirnya Angel protes juga.


"Ck." Alex menatap rumit Angel. "Suka?"


"Kamu jangan coba-coba main-main Lex."


Alex tergelak samar. "Apa aku tidak boleh menyukai anak kecil itu? Yang ku lihat Baby nya bukan ibunya." Kilahnya.


"Tapi ekspresi kamu lain. Menyukai anak kecil itu berbeda Alex, ekspresi mu saat melihat mereka, bukan seperti menatap anak bayi, kamu lebih terkesan melihat ibunya! Kamu nggak ped-ofil kan?"


"Angel!" Alex memekik tak terima. Tapi jika dipikir lagi, ucapan Angel memang benar adanya.


Dia sendiri heran, kenapa akhir-akhir ini ia merasa lebih tertarik pada wanita selain Angel, contohnya Lily.


"Aku capek berdebat." Kendati menyadari goyahnya sebilah kelembutan di dadanya, Alex tetap menampik.


"Kamu berubah!" Ketus Angel.


"Lalu?"


Angel terkekeh sinis, ia merasa Alex sudah tidak peduli dengan protes yang dia lakukan.


"Jadi kamu mau aku minta putus? Kamu sekarang lebih sering marah. Kamu berubah. Kamu sibuk dengan urusan kamu sendiri. Aku tidak melihat kehangatan lagi diantara kita."


"Angel!" Alex menegur.


"Kamu bosan kan?"


"Tidak sama sekali." Alex menggeleng.

__ADS_1


Namun, apakah dirinya benar-benar serius dengan ucapannya? Kenyataannya, Alex tak merasa berat jika Angel memutuskan dirinya sekalipun.


__ADS_2