
Alex menggontai langkah pelan untuk keluar dari kamar Lily dan Livia. Tak peduli dengan trolly miliknya, Alex justru menenteng kotak hitam besar pemberian Lilyana.
Lorong suite ia telusuri. Tak mampu lagi ia berkata-kata, Alex tercengang dengan apa yang barusan Lilyana katakan padanya.
Kilas balik....
"Uncle punya banyak coklat, tapi ingat, Shanshan harus memakannya sesuai persetujuan Mama Shanshan saja."
Untuk yang pertama kalinya Alex memberikan sesuatu pada putrinya dan itu hasil kerja kerasnya.
"Okay, thanks Uncle." Livia berlari membawa sekotak coklat pemberian pria tampan yang ia anggap hanya seorang fans.
Alex bangkit dari jongkok, ia berdiri sambil menatap menghilangnya punggung kecil Livia di balik ornamen penyekat ruangan.
Status masih belum menikah tapi Alex sudah memiliki putri kecil yang sangat manis, pintar, lucu lagi terkenal.
Perlahan Alex mengalihkan pandangan pada Lily. Wanita cantik itu masih terlihat kuat, tegar, meski tanpa pasangan.
Yang jelas Alex melihat perubahan signifikan dari penampilan Lilyana. Tak ada Lily cupu seperti waktu kuliah dulu, Lily justru tampak memesona dengan gaun malam elegan.
"Terima kasih untuk kesempatannya. Meski tidak mengenal ku sebagai seorang ayah. Setidaknya aku tahu Livia tumbuh dengan baik di tangan mu. Dia sopan, sama seperti mu." Ucap Alex.
"Sudah selesai kan?" Entah lah, rasanya Lily tak mampu berkonfrontasi terlalu lama setelah apa yang Alex lakukan padanya.
Kata orang tidak baik mendendam, tapi mau bagaimana, nyatanya Lily tak lagi respect pada laki-laki perenggut kesuciannya ini.
"Kamu sudah punya kekasih?" Dalam Alex menatap wanita itu.
"Sepertinya ini bukan urusan mu."
Alex terkekeh. "Kamu cantik. Kamu pasti sudah memiliki calon ayah untuk Livia. Aku yakin banyak pria yang menyukai mu."
__ADS_1
"Suka padaku belum tentu suka sama Livia. Dalam hidup ku, cukup memiliki Livia saja." Tampik Lily.
Alex mengernyit. "Kamu trauma? ... Kamu menolak lamaran ku, tapi tidak juga mau dekat dengan pria lain, kamu yakin kamu baik-baik saja?" Tanyanya.
Lilyana terdiam, mungkin sampai saat ini Lily tidak baik-baik saja makanya untuk mencapai kebaikan itu Lily perlu melakukan sesuatu.
"Tunggu sebentar."
"Hmm."
Lily melangkah ke sudut tempat. Di dalam lemari, ada kotak hitam berpita rapi yang harus dia pulangkan pada pemiliknya.
Lily meraih kotak itu, bahkan sempat membuka dan meraba isinya secara perlahan.
Sudah cukup jas dan jam tangan mahal ini menemani dirinya. Lily ingin move on dari pemiliknya.
Kembali Lily mendatangi Alex kemudian menyodorkan kotak tersebut tepat di hadapan laki-laki itu. "Bawa ini bersama mu. Mungkin setelah itu trauma ku akan selesai." Ujarnya.
"Aku harap, aku tidak lagi mengingat kalian."
"Jas, ..." Jas hitam mahal milik Axel yang Alex sendiri tak tahu kenapa ada pada Lilyana.
"Itu milik Pak Axel. Itu jas yang dia berikan di hari pertama aku bekerja." Lily tergelak kecil mengingat kenapa ia tak mengembalikan jas hitam milik Axel.
"Aku tidak sengaja merobek bagian dalam jasnya, aku takut Pak Axel marah, makanya aku selalu pura-pura lupa saat dia menanyakan jas ini." Jelasnya.
Alex melihat perubahan ekspresi setelah Lily membicarakan tentang Axel. Ada sesuatu yang membuat wajah Lily berbinar.
"Maaf aku sudah berani masuk ke dalam hidup keluarga mu. Maaf aku sudah lancang Lex, maafkan aku." Lily meredup goresan raut wajahnya.
"Setelah tahu Millers-Corpora milik Daddy mu. Saat itu aku tidak berniat untuk melanjutkan, tapi kemudian aku berpikir realistis, karena di perusahaan mu aku di bayar dengan nominal yang sangat besar." Lily menggeleng pelan.
"Aku kira setelah tabungan ku cukup, aku bisa pergi begitu saja dari perusahaan mu. Hidup tenang, membuka usaha sendiri di rumah supaya aku tidak perlu lagi meninggalkan Livia." Tambahnya.
"Aku kira aku bisa meninggalkan Pak Axel tanpa perlu merasa berat." Lily menyatukan kedua tangannya.
__ADS_1
"Maaf aku lancang, mungkin aku memang serakah Lex, aku pikir setelah disakiti oleh mu, aku tidak akan pernah lagi merasakan jatuh cinta." Lirih lalu tertunduk. "Ternyata aku salah. Aku merasa nyaman bersamanya."
"Kamu mencintainya?" Tukas Alex.
Lily mengangguk. "Untuk yang ke dua kalinya, aku dibuat jatuh cinta, dan itu pada saudara mu." Ngakunya. Sebutir air tergelinding jatuh hingga ke pipi.
Alex bergeming, jadi rupanya Axel dan Lily benar-benar saling mencintai. Mungkin tak salah pada siapa hati berlabuh. Salahnya, kenapa harus ada Livia dan malam kelam itu.
Di atas jas, juga ada arloji mahal yang Alex tahu benda ini milik, ... "Jam tangan?"
Lily menyeka pipinya. "Itu milik mu, mungkin kamu lupa, tapi aku masih ingat semuanya." Potongnya.
"Tentang?" Alex menatap Lily dalam-dalam. Jujur, dirinya tak paham dengan apa yang Lily maksudkan.
Lily tersenyum samar. "Satu tahun sebelum aku tahu kamu kuliah di kampus yang sama dengan ku, aku sudah pernah melihat mu Lex, aku sudah sangat menyukai mu, aku sudah lebih dulu mengagumi mu."
"Dan jam tangan ini, satu-satunya kenang-kenangan yang selama ini aku simpan darimu. Kenangan manis saat satu Minggu aku melayani mu sebagai staf housekeeping di hotel London."
"Hotel?" Alex mengernyit kuat. Hotel mana, kapan, Alex tak paham.
Lily mengangguk. "Maaf aku tidak segera mengembalikannya. Tapi arloji itu aku temukan setelah kamu check out dari hotel tempat ku bekerja dulu." Ucapnya.
"Untuk yang pertama kalinya aku jatuh cinta dan itu hanya padamu. Cukup satu Minggu aku bertemu dengan mu. Aku merasa jatuh sejatuh-jatuhnya padamu." Jelasnya lagi.
Biar saja Lily curahkan semua beban cerita terpendam yang membuat dirinya terus menerus terbelenggu masa lalu.
Sementara Alex, masih bingung menelaah, sebab dia sendiri tidak merasa bertemu dengan gadis housekeeping di hotel London.
"Siang malam aku terus mengingat mu Lex. Doa ku selalu tentang mu. Sampai pada akhirnya aku merasa doa ku terkabul, kamu tiba-tiba muncul mendekati ku," Katanya.
Alex masih setia mendengar suara lembut Lily. Suara damai yang malam itu mampu menyihirnya hingga terjerumus ke dalam dosa besar.
"Kau tahu Lex, sampai malam itu aku masih sangat percaya bahwa kau laki-laki yang baik, kau laki-laki yang aku kagumi selama ini, tapi esoknya kau menghancurkan semua harapan ku." Kembali Lily menyatukan kedua tangannya.
"Ku mohon bawa kotak ini bersama mu. Jangan lagi ganggu kami. Biarkan kami hidup tanpa trauma masa lalu. Biarkan Lily menjadi Nirina, dan Shanshan akan tumbuh besar tanpa tahu siapa ayahnya."
__ADS_1
Alex menyela. "Kamu terlalu egois Lily, kamu sadar itu? Mungkin untuk sekarang Livia tidak perlu tahu siapa keluarganya, but, someday, dia akan mencari tahu dari mana dia berasal."