Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Usaha Alex


__ADS_3

Tersenyum-senyum Lily memasuki kamar hotelnya. Tiba di dalam matanya dikejutkan oleh wajah tampan Alex.


"Lex." Lily menutup dadanya dengan sebelah tangan. Piyama miliknya sudah tak memiliki kancing atas. "Kamu bangun?"


Alex tersenyum. "Livia sudah tidur. Aku harus pulang." Pamitnya.


"Oh, ..." Lily sedikit melangkah dari pintu agar Alex bisa melewatinya. "Sekali lagi terima kasih Lex." Ucapnya.


Alex mengangguk. "Mungkin mulai besok aku tidak sering-sering datang. Seperti biasa aku titip Livia padamu."


Dia sempat ketiduran tapi Alex juga sempat melihat Lily keluar dari kamar dengan gelisah, lalu kembali dalam keadaan yang tersenyum gembira.


"Baiklah?" Sahut Lily.


Senyum kecil Alex terbit. "Aku tahu kamu menyukai saudara ku. Setidaknya aku lega karena Axel bukan pria yang buruk untuk putriku."


Alex menepuk kepala Lily pelan. "Maaf untuk apa yang sudah aku rampas darimu, sekarang bahagia lah." Ucapnya.


Lily mengangguk meski tak menyahut dengan kata-kata. Tapi ia tersenyum setelah Alex keluar dari kamarnya.


Setelah sekian lama ia hampir gila karena keegoisan dan dendam hingga berani membawa Livia bahkan menjadikan Livia objek kepopuleran, pada akhirnya Lily berhasil berdamai dengan laki-laki yang pernah menyakiti hati dan mentalnya.


Tak dipungkiri Alex sangat tampan rupawan, tapi jika hati sudah memilih yang lain, Lily tak mampu berbuat apa-apa selain jujur pada diri sendiri.


Kendati Lily memiliki putri di luar pernikahan, namun ada kesan manis yang Axel gores saat dirinya masih menjadi sekretaris kesayangan pria itu.


Sementara hanya tatapan merendahkan yang Alex berikan sebelum pria itu tahu Livia benar-benar putrinya.


Lily satu dari wanita realistis yang selalu menilai dari berbagai sudut pandang.


"Semoga kamu juga menemukan kebahagiaan mu sendiri Lex. Terima kasih sudah memberikan Livia padaku."


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Seperti Alex yang sudah ikhlas mengalah pada takdir, begitu juga dengan malam yang kemudian mengalah pada pagi.


Selanjutnya sang pagi harus menghilang digantikan siang, dan siang pun bergulir menjadi sore hari.


Demi tidak mengingat peliknya kehidupan, Alex mengalihkan perhatian pada semua pekerjaannya.


Berapa kali anak buah Dhyrga bahkan Miko juga menyusulnya untuk kembali pulang ke Indonesia, Alex selalu tegas menolak.

__ADS_1


Mungkin saja setelah malam tadi hubungan Axel dan Lily menjadi lebih dekat lagi. Dan Alex tak ingin menjadi pihak ke tiga di antara mereka.


Livia hanya murni dari hasil kesalahan, skandal satu malamnya bersama Lilyana. Biarlah akan seperti itu sampai saatnya Livia mengerti dengan sendirinya.


Seperti biasa, sore ini Alex mengendarai motor lengkap dengan helm dan seragam kurir demi mengantar paket ke rumah klasik yang terletak di kawasan hunian elit.


Sebagai pemuda yang memiliki paras tampan, tentu tidak mudah Alex melewati hidup tanpa pengawal dan cukup fasilitas.


Selama menjadi kurir, banyak godaan yang Alex alami, dicemburui suami pelanggan, dijebak tante-tante girang di apartemen, bahkan dikejar gadis belia.


Salah satunya gadis cantik yang saat ini duduk cemberut sambil menekuk lutut di depan pintu rumah itu.


Alex telah sampai di rumah tujuan, segera ia memarkir motor di halaman, sebelum turun, melepas helm, lalu meraih paket pesanan pelanggan setianya.


Melenggang langkah Alex menuju teras rumah. Tak seperti kemarin-kemarin, kali ini Alex merasa heran dengan kondisi gadis itu.


Terlihat lesu juga merengut, padahal hari-hari biasanya, gadis itu tak pernah membiarkan mulutnya tertutup walau hanya satu detik.


"Paket." Alex tahu gadis ini warga negara Indonesia yang merantau untuk kuliah di kampus yang sama dengannya.


"Hiks." Isakan tiba-tiba dari gadis itu. Wajah dibuat sendu, bahkan menghiba.


Alex memutar bola mata, sudah biasa para gadis melakukan hal ini demi mendapatkan perhatian darinya.


"Bang Kur!" Keysha nama gadis itu. Gadis kaya nan manja yang setiap harinya membeli apa pun lewat online dan berlangganan jasa antar di perusahaan tempat Alex bekerja.


Keysha bangkit dari duduk, lalu meraih tangan kiri Alex agar urung pergi. "Tunggu dulu Bang Kur." Cegahnya bernada manja.


Sudah tiga bulan Keysha berlangganan jasa antar Alex dan Abang kurir yang dia singkat Bang Kur menjadi sebutan khusunya.


Alex menoleh datar. "Tidak perlu bayar tips. Dari hari sebelumnya kamu sudah banyak memberi ku tips. Hari ini aku menolak tips darimu." Katanya.


Alex yang dahulu playboy menjadi tidak berselera menggoda wanita setelah memiliki Livia, takut karma.


"Baguslah kalau masih ingat sama tips tips yang udah Keysha kasih. Sekarang giliran Keysha yang minta bantuan Bang Kur!" Sendu gadis itu dengan bibir meleyot.


"Bantuan apa?"


Keysha lantas menunjukkan rumah tinggal miliknya. "Bang Kur nggak liat, rumah Keysha di kasih garis polisi?"


"Lalu?" Alex berkerut kening.

__ADS_1


"Keysha sekarang nggak punya tempat tinggal." Keysha mengucek matanya sambil sesenggukan.


"Lalu?" Kembali Alex mengernyit.


"Kayaknya Keysha dibuang deh sama Papi Mami, mereka tega cabut fasilitas Keysha, dari ATM, kartu kredit, sampai rumah juga!"


"Lalu?" Astaga, Alex sudah mulai curiga arah rengekan gadis itu.


Keysha menyatukan kedua tangan. "Tolong Keysha dong. Untuk sementara Keysha mau tinggal di rumah Bang Kur. Di negara ini, Keysha benar-benar nggak punya saudara apa lagi temen yang bisa dimintai pertolongan."


Alex menyela ketus. "Aku juga bukan teman mu apa lagi saudara mu!"


"Tapi Bang Kur dan Keysha kan sama-sama dari Indonesia. Pas banget kan kalo Keysha minta tolong sama Bang Kur!"


"Kamu sudah gila?"


"Hiks." Lagi, Keysha menangis. "Keysha terpaksa Bang Kur. Keysha nggak punya tempat bernaung. Sumpah, Papi Keysha menikah lagi, Keysha jadi korban yang terlantar. Atas nama kemanusiaan tolong Keysha." Bujuknya.


Alex sempat menghela napas. "Ok, aku bantu kamu cari kontrakan di sekitar sini." Ujarnya.


"Keysha nggak punya uang!" Keysha menggeleng memelas, yang mana membuat Alex mengerutkan dahinya secara kuat.


"Kau bahkan memesan barang mahal setiap harinya. Tapi untuk mengontrak rumah saja kamu tidak punya uang?" Ketusnya.


"Ya Tuhan, apa lagi ini?" Mengusap dahi, Alex menggerutu.


"Makanya kasih Keysha tumpangan tempat tinggal sampai Keysha bisa kerja kayak Bang Kur." Paksa gadis itu.


"Kau benar-benar gadis gila. Kau tahu, aku tinggal di kos khusus laki-laki."


"Pindah saja kalo begitu. Biar Keysha bisa ikutan numpang. Suwer, Keysha kepepet banget, bentar lagi malem, Keysha bingung mau tidur di mana malem ini?"


"Apa lagi musim dingin begini. Kalo Keysha tidur di jalanan. Pasti besok pagi, Keysha ditemukan mati membeku lalu arwahnya gentayangan ngintilin Bang Kur ke mana-mana sampe ngintipin Bang Kur mandi."


Alex berpikir keras, bukan karena ancaman receh gadis itu, dia hanya menelaah secara manusiawi, jika benar gadis ini ditelantarkan ayahnya, dia tak kan tega meninggalkannya sendiri.


"Aku sewakan kontrakan murah saja kalo begitu." Putus Alex.


Keysha menggeleng. "Kalo sewa kontrakan, terus Keysha makannya gimana? Kan Keysha nggak punya uang Bang Kur."


"Astaga," Alex mendecak lidahnya. "Hidup ku sudah susah, sekarang kamu minta aku juga menghidupi mu begitu?"

__ADS_1


Keysha sempat menyengir di tengah raut frustrasi Alex. "Keysha janji. Nanti setelah Keysha punya duit lagi, Keysha ganti deh uangnya."


__ADS_2