
Lily bergeming bisu. Mungkin saja Axel mau menerima masa lalunya. Tapi bagaimana dengan keluarga dan masyarakat lainnya?
Terlebih fans Livia yang mungkin akan menganggap fenomena ini aneh. Dihamili oleh Alex lalu menikah dan mencintai Axel.
Sebagian besar orang akan menghujat, bahkan memandang remeh dirinya dan putrinya, terlebih Axel yang mungkin akan dianggap sebagai laki-laki paling rugi di dunia.
Tatapan dalam Lily tak pernah meleset, selalu kepada netra biru laki-laki itu. Pria pertama sekaligus ke dua yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
"Kamu terlalu tinggi untuk ku Xel. Aku hanya wanita hina yang tidak pantas menikah dengan siapa pun. Aku bisa hidup sendiri Xel, aku mampu, meski aku hancur setelah melihat pernikahan mu, biarkan aku sendiri." Lirihnya.
Axel menggeleng. "Sudahi obsesi mandiri mu, obsesi pura-pura kuat mu dan semua obsesi mu tentang Livia. Biar Livia menikmati hidup layaknya anak seumurannya. Semua orang berhak bahagia bersama pasangannya, termasuk kamu."
Axel meletakan sebagian wajah Lily ke belahan dada bidangnya. "Aku janji, tidak akan pernah menyoal tentang Livia. Aku janji, sekarang atau pun kelak Livia masih akan mendapatkan tempat yang baik di hatiku."
"Dunia tidak berputar hanya untuk membuat mu sengsara. Coba lihat ke sekeliling, kamu dikaruniai orang-orang yang menyayangi mu." Tambahnya.
"Bunda asuh mu, Ayah asuh mu, Mitha, Livia, dan sekarang hampir semua orang menyayangi mu, terutama aku." Timpalnya.
Lily setuju, karena benar yang dikatakan Axel padanya. Meski Nadia sang ibu pergi dalam keadaan tragis, Lily masih memiliki sumber kasih sayang dari Rima, Mitha, terlebih Axel yang rupanya selama berbulan-bulan terakhir menjaga dirinya dari kejauhan.
Kali ini Lily benar-benar mampu melihat ketulusan dan usaha laki-laki itu. Wanita mana yang tidak tersentuh? Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan kembali.
Klekk...
Pintu terbuka seiring dengan menolehnya Lilyana. Di depan sana Alex mendekap erat tubuh mungil Livia yang sudah tertidur pulas dalam gendongan.
"Shanshan." Lily mendekati Alex lalu mengambil alih putrinya dari lelaki itu.
"Pappaaa." Livia mengigau, yang mana membuat Lily mengernyit dahinya.
Alex meredup ekspresi. "Maaf, aku khilaf memberitahunya." Ujarnya. "Bagaimana pun, dia putriku. Kamu menganggap ku atau tidak, aku tetap ayahnya."
Lily terenyuh, ia ciumi pucuk kepala putrinya, seruak sesak mulai melingkupi dadanya, teruntuk Livia ia mengucapkan "Maaf, ..."
Maaf sudah egois selama ini, maaf sudah menjadi ibu yang terobsesi akan sesuatu, maaf untuk semua yang dia lakukan tanpa ingin tahu apa yang cocok dan tidak untuk anak perempuan kecilnya ini.
Klekk...
Pintu kembali terbuka, kali ini ada Rudolf dan Gesya yang lalu hadir di tengah-tengah mereka.
"Bos, Tuan muda, ..." Tanpa ekspresi, Rudolf melebar bibirnya. "Sekedar informasi. Tuan Dhyrga dan Nyonya Queen di sini."
Alex mendelik. "Sejak kapan mereka di negara ini?" Tanyanya.
"Sejak kemarin." Jelas Rudolf.
__ADS_1
"Setelah tahu Shanshan cucu mereka, beliau-beliau memang berencana mau menghadiri perhelatan Shanshan di guinness world record, dan mungkin orang-orang Tuan Dhyrga sudah tahu kalian di rumah sakit ini, makanya malam ini juga mereka datang." Terangnya lagi.
"Sampai mana?" Cecar Alex.
"Lantai lobby."
Alex menoleh pada Axel lalu menepuk punggung laki-laki itu. "Aku titip Livia."
Axel menautkan alisnya. Kenapa saudaranya seperti tergesa-gesa ingin pergi dari tempat ini.
Sekali lagi sebelum pergi Alex mengecup kepala Livia yang saat ini berada dalam gendongan Lily. "Papa pamit." Bisiknya.
Lily terdiam.
Tak mau Alex pergi, Axel mencegah dengan menarik jaket saudaranya. "Kamu mau ke mana? Mommy Daddy di sini, ini kesempatan mu pulang!" Katanya.
"Aku baik-baik saja." Alex menepis tangan Axel lalu keluar dari kamar, detik berikutnya Axel mengejar.
"Jangan gila kamu, Lex! Temui Mommy Daddy mumpung mereka di sini, minta ampun supaya mereka memaafkan mu!" Ketusnya.
Alex terkekeh samar. "Tenang saja, aku tidak akan gila hanya karena kau menikahi ibu dari putriku!"
"Jangan menyalahkan aku kenapa merebut mereka darimu. Usaha mu apa selama ini? Tidak ada! Kau bahkan sempat-sempatnya membuat Daddy marah dengan terus melanjutkan hubungan toxic mu bersama Angel! Kau lebih pecundang dariku! Apa kau berniat memiliki dua istri seperti Grandpa?"
Alex menatap tajam Axel. "Aku bisa saja melupakan Angel. Tapi bukan Angel masalahnya, nyatanya Lily sendiri tidak pernah menginginkan ku! Kau tahu Xel, Alex pantang mengemis!" Cetusnya, seraya melanjutkan langkah.
"Ok, aku setuju kau menyerah, tapi kau berhak mendapatkan fasilitas mu lagi! Lihat lah sekujur tubuhmu, pakaian mu, sepatu mu. Kau sudah seperti gembel!" Ejeknya.
Alex menyeringai. "Aku sudah nyaman seperti ini, dengan atau pun tanpa nama Miller di belakang nama ku, aku tetap akan melanjutkan pendidikan ku, di sini."
"Lex!" Axel berteriak keras, namun saudaranya terlalu keras kepala untuk dihentikan.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Alex turun dari lantai dua dengan berlari menapaki satu persatu anak tangga darurat. Jika dengan lift, mungkin saja Dhyrga dan Queen memapas jalannya.
Alex sudah bisa menebak, akan seperti apa akhir dari kisah ini. Livia dan Lily jatuh ke tangan Axel lalu Dhyrga Miller yang selalu membeda-bedakannya menertawakan imbas dari semua perbuatannya.
Dalam langkah pikir Alex bersumpah, ingin menunjukkan kepada manusia kaya seperti ayahnya bahwa dirinya juga bisa hidup tanpa fasilitas.
"Kamu ini laki-laki Lex, harusnya kamu malu berada dibawah kendali wanita seperti Angel, kau tahu, saat seumuran kamu Daddy sudah bergabung dengan perusahaan! Lihat Rega adikmu, anak cengengesan sepertinya saja sudah berhasil menduduki jabatan penting di perusahaan X-meria. Sementara kau, masih hura-hura menghabiskan uang ku!"
Masih membekas kata-kata menohok Dhyrga yang bahkan sampai detik ini tidak sedikitpun ia lupakan. Masih terngiang dalam ingatan, saat ayahnya memisahkan dirinya dari Angel dengan caci maki dan kekuasaannya.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
__ADS_1
Di iringi beberapa bodyguard, Dhyrga dan Queen telah sampai di kamar pasien milik Lily.
Banyak-banyak Queen menciumi kepala cucunya. Jika dilihat kembali, semakin besar Livia, semakin gadis itu mirip dengan bentukan wajah keturunannya.
"Kabar kamu gimana Ly?" Queen beralih menatap ibu dari cucunya.
"Baik Nyonya." Keduanya duduk di sofa, Lily masih merengkuh tubuh mungil putrinya yang masih tertidur pulas.
Dhyrga lega, akhirnya kewajiban untuk menuruti kemauan istri kecilnya terlaksana, yaitu bertemu dengan Livia.
Bukan hanya itu saja, Dhyrga juga lega akhirnya Axel berhasil membuat Lily tak pergi lagi seperti kemarin-kemarin.
Kendati sudah ada Lily, Livia dan Axel, seorang ayah tak kan tenang jika satu putranya lagi belum nampak di depan retinanya.
Dhyrga celingukan. "Alex ke mana? Daddy dengar dia di sini?" Tanyanya pada Axel.
"Dia sudah pergi."
Informasi Axel membuat Queen menoleh seketika. "Pergi ke mana? Dia masih kerja di bar?"
Axel menaikan kedua bahu. "Mungkin masih ada urusan dengan pekerjaannya. Besok, biar Axel yang jemput dia di kontrakan."
"Suruh dia menemui Daddy." Titah Dhyrga.
Axel termangu, sepertinya untuk saat ini Alex saudaranya yang arogan dan keras kepala tak kan pernah mau menemui ayahnya.
"Alex baik-baik saja kan Xel?" Queen menimpali cemas setelah melihat raut tak enak putranya, begitulah firasat seorang ibu.
"Alex baik." Axel sedikit menurunkan pandangannya.
"Tentu saja baik. Dia putraku yang malang. Sungguh pun sulit aku melahirkannya, Daddy mu membuangnya begitu saja!" Sindir Queen ketus.
Dhyrga, Axel, Lily hanya terdiam.
Menuju ending musim pertama Yeay, sorry yang nggak suka alurnya...
Q: Kenapa Alex tidak dibuat berjuang untuk Lily, Pasha?
Aku buat cerita ini dengan judul awal sekretaris sang pewaris. Yang artinya, kisah cinta antara CEO dan sekretarisnya.
Aku bisa ajah buat Axel yang menghamili Lily misalnya. But, kalian bisa baca cerita seperti itu di judul lain karena sudah banyak banget alur cerita seperti itu termasuk Badai dan Cheryl kemarin.
One-night, lalu laki-lakinya menyesal dan bersatu. No, aku mau sedikit profesional dengan membuat cerita yang tidak sama dengan cerita sebelumnya.
Mengenyampingkan pantas atau tidaknya Lily yang bekas Alex dengan pemuda yang super super perfect seperti Axel, karena ini hanya fiktif belaka.
__ADS_1
Untuk season duanya, mungkin Alex yang terbuang akan mengalami hal mengejutkan di dalam hidupnya. Bisa ke judul baru atau tetap di sini tergantung komentar kalian ajah.