Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Kebenaran


__ADS_3

Lily terlihat begitu ketakutan saat Axel menunjukkan kemarahan. Namun pada Alex, Lily tak pernah menyampaikan sesalnya.


Benarkah Lily sudah betul-betul menyukai Axel? Alex terdiam dengan pergolakan batinnya.


Setelah memastikan Lily aman hingga masuk ke unit apartemen Mitha, Alex bergegas pulang.


Melangkah gagah, Alex turun dari mobil dan memasuki halaman rumah utama ayahnya.


Duarr!


Letusan demi letusan terdengar. Di tengah taman sana, Axel menembakkan peluru pada target-target khusus berlatihnya.


Semburat murka Axel tak pernah meredup, dingin mencekam. Sikap Axel memang tak sehangat Alex, meski kembar keduanya sangat berbeda.


Alex tahu, sedari kecil Axel lebih suka melampiaskan amarah dengan caranya sendiri.


Kendati lahir beberapa menit setelahnya, Axel selalu menjadi saudara yang mengalah.


Kali pertama Axel jatuh cinta, kenapa harus pada Lily yang pernah bersama dirinya. Alex terus bergulat dengan batinnya yang menyesal.


Duarr!


"Xel."


Grekk....


Sesaat setelah mendengar seruan Alex, Axel mengalihkan moncong senjatanya pada kening Alex.


"Axel, stop!" Dari arah pintu halaman, Dhyrga menegur. Ia membelalak shock mendapati satu putra kebanggaannya tengah menodongkan pistol pada putra lainnya.


Di tempatnya Alex terpaku, netra biru kedua putra Dhyrga Miller saling bertemu tajam. Bedanya, ekspresi Alex lebih ke sendu sedang Axel penuh amarah.


Entah siapa yang mengkhianati, sebab Axel tahu Lily sudah bersama Alex lebih dahulu.


Malam itu Rudolf memberitahukan semua yang terdengar dari mulut Angel, padanya.


Segera Axel menyelidiki masa lalu keduanya, dimulai dari London. Kali pertama Axel ingin mengorek masa lalu Lily, itu pun karena Alex.


Inginnya Axel berpura-pura tak tahu, namun tak sanggup ia melakukan hal itu.


Axel juga tahu Angel menjebak Lily. Malam tadi pun Axel tahu Lily tidur di dalam restoran fine dining bersama Alex.


Memang tak terjadi apa pun, tapi berat baginya untuk tidak marah.


"Aku minta maaf." Alex berkata pelan dengan menyertakan raut sesal. Dhyrga menyimak setiap kata yang terburai di sana.


"Sudahi hubungan kalian. Bukannya kalian belum berhubungan lebih jauh, sedang Livia, dia putriku."


"Alex!" Dhyrga melotot, tersentak.


Pengakuan macam apa ini? Livia putrinya? Konyol! Pantas saja Livia digegerkan mirip dengan Axel, ternyata memang Alex ayah biologisnya.


Klekk...


Lebih berdenyut sakit lagi jantung Dhyrga ketika Axel menoyor kepala Alex lebih dekat, bahkan terkesan ingin menarik pelatuk.


"Stop Axel, turunkan senjata mu!" Titahnya meringis, sebelah tangan Dhyrga menekan letak jantung yang berdenyut menyengat.

__ADS_1


Alex terdiam pasrah. Dia yakin saudaranya takkan pernah berani membunuh dirinya.


"Aku tidak masalah meski puluhan kali Lily tidur dengan laki-laki yang berbeda. Aku anggap itu bagian dari masa lalunya. Aku tulus mencintainya, aku tulus padanya, aku mau menerima dia bagaimana pun masa lalunya, aku tidak peduli sekalipun dia mantan pelacur."


Kalimat yang pertama kalinya terucap dari bibir Axel, Alex dan Dhyrga tergagu pilu mendengarnya.


Alex tahu Axel kesakitan, ini pertama kalinya Axel jatuh cinta, tragisnya adalah pada wanita yang pernah bersamanya.


"Tapi dari semua pria, kenapa harus kau yang menidurinya?" Bersamaan dengan itu, sebutir air terjatuh dari sudut netra Axel.


"Aku minta maaf. Semua terjadi begitu saja." Sanggah Alex.


Klekk...


Duarr!


"Axel!"


Menutup mata, suara Dhyrga memekakkan telinga, namun setelah membuka kembali netra birunya, rupanya Axel membawa peluru-peluru itu menembus samsak pasir di sudut tempat.


Wajah dingin Axel terus menyertainya. Alex dibuat tak bisa lagi berkata apa-apa.


"Axel." Dhyrga mendekat menghampiri Axel. Sengaja ia meraih pistol milik Axel, dan membuangnya serampangan. "Cukup."


Penjaga dan pelayan yang kebetulan melihat, hanya berani mengamati saja dari kejauhan.


Axel menatap serius ayahnya. "Untuk yang pertama kalinya, Axel menyesal punya saudara sepertinya, Daddy!" Lurus, Axel menunjuk wajah Alex yang terdiam.


"Kenapa aku harus dilahirkan satu rahim dengan pria bodoh, brengsek, dan tidak berguna sepertinya?"


"Axel." Dhyrga pilu. Sementara Axel bergegas berlalu dari hadapannya.


Dhyrga lantas beringsut pada putra lainnya. Alex masih bergeming dengan raut sesal.


"Kau sadar apa yang sudah kau lakukan Alex?" Tajam, Dhyrga menatap pemuda itu.


"Maaf." Alex menunduk.


"Kamu tahu bagaimana perasaan Mommy mu setelah mendengar berita ini?" Tukas Dhyrga.


Alex mengangguk. "Alex mau tanggung jawab. Alex mau menikahi Lily. Alex cukup butuh restu saja."


"Apa semua itu akan menyelesaikan masalah?" Dhyrga terkekeh getir. "Kau berniat bertanggung jawab, tapi gimana dengan Lily?" Tanyanya.


"Sampai Livia sebesar itu kau baru mau bertanggung jawab? Wanita bodoh saja yang mau menerima mu Lex!" Pekik Dhyrga.


Sekilas ia terkekeh. "Ingat, tidak semua wanita seperti Cheryl kakak mu!" Katanya.


"Setidaknya ada niat Alex bertanggung jawab, Livia putriku Daddy, cucumu." Sambung Alex.


"Kamu mau menikahinya dengan tamplate, Livia darah daging mu, begitu?" Dhyrga terkekeh, mencibir putranya. "Kau pikir, Lily mau menerima mu?"


"Aku mau berusaha mencintai ibunya juga." Kata Alex.


Dhyrga menggeleng ringan, jadi bukan karena cinta atau tertarik pada Lily Alex meniduri gadis itu, hebat sekali kelakuan putranya ini.


"Siap-siap saja mendapat hukuman dari Mommy mu." Dhyrga melangkah pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Dhyrga memang tak pernah terlihat mendukung Alex. Namun, sesungguhnya Dhyrga tak pernah membedakan kedua putra kembarnya.


Alex selalu mendapatkan fasilitas yang terbaik, dari uang, kartu kredit, mobil, tempat tinggal, meski demikian nakalnya pemuda itu.


Mengusir Alex, takkan mungkin Dhyrga lakukan. Tapi jangan lupa, Queen istrinya lebih perasa, bahkan akan lebih tegas dalam menyikapi semua kesalahan fatal yang dibuat putra-putrinya.


Cheryl saja dipisahkan dari menantunya, hanya karena ayah mertua Cheryl berbuat jahat.


Dhyrga justru takut, Alex akan diusir dari rumah setelah Queen tahu kebenaran mencengangkan ini.


"Jangan ada yang memberi tahu Nyonya besar kalian!" Dhyrga mencetuskan kata itu pada pengawal dan pelayan yang ada di sana.


"Baik Tuan."


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Hari berganti, satu, dua, tiga, empat, sampai akhirnya masa liburan Millers-Corpora pun selesai.


Seperti hari-hari biasanya, setelah memastikan Livia sarapan, mandi, berganti pakaian dan lain sebagainya, Lily kembali masuk kantor dengan kendaraan umum.


Bukan tidak tahu malu, Lily hanya merasa ia masih memiliki tanggung jawab untuk pergi ke gedung perkantoran ini.


Sudah berhari-hari lamanya Axel tak mau mengabarkan kondisi padanya. Axel bahkan memblokir nomor ponselnya.


Tak apa, dengan menebalkan muka, Lily berdiri di sisi meja kerja miliknya, pandangan tertuju pada pria tinggi berwibawa yang kala ini menggontai langkah melewati tubuhnya.


Axel acuh, dingin, ia masuk ke dalam ruangan CEO. Setelah itu, Lily dan karyawan lainnya duduk kembali di masing-masing kursinya.


Berwajah sendu Lily menatap selalu ke arah ruangan Axel. Ini lah salah satu alasan Lily enggan untuk berkata jujur.


Yah, Lily tak ingin membuat Axel membenci dirinya seperti sekarang ini.


Tak berapa lama, Rudolf berlari masuk ke dalam ruangan Axel, kemudian sesaat nya lagi Rudolf kembali keluar dan menghampiri meja kerja Lilyana.


"Ly." Ekspresi Rudolf seperti tak rela mengutarakan apa apa pada temannya.


"Iya." Lily segera berdiri, mungkinkah Axel sudah ingin menyuruh dirinya masuk?


"Kamu, ..."


"Kenapa?" Sergah Lily. "Apa kita jadi ke luar kota hari ini?" Tanyanya.


Rudolf menunduk, ia menyodorkan amplop coklat pada Lily. "Kamu diberhentikan Ly."


Lily terdiam sejenak, lalu tersenyum, jadi benar dugaannya, Axel akan memecat dirinya setelah tahu kebenarannya.


Bukankah pengunduran diri yang selama ini Lily inginkan. Yah, meski tak rela jauh dari tempat mewah ini, Lily akhirnya bisa meninggalkan semua drama pelik yang mengungkungnya.


"Maaf, kemarin aku yang melapor tentang siapa Livia." Rudolf menunduk, merasa bersalah.


"Tidak apa," Lily tersenyum sekali lagi, lalu menepuk pundak laki-laki itu. "Terima kasih sudah mau menjadi bagian dari hari-hari ku selama beberapa bulan terakhir." Katanya.


"Kamu berkemas, biar aku antar kamu pulang." Sambung Rudolf.


"Aku bisa sendiri." Lily meraih tas dan beberapa dokumen pribadi untuk kemudian di peluknya.


Mata Lily melenggang pada ruangan pribadi Axel. Di kursi kebesarannya, Axel bahkan tak mau menatap dirinya.

__ADS_1


"Kamu yakin bisa pergi sendiri?" Tawar Rudolf kembali. Entah lah, meski baru beberapa bulan saja, persahabatan mereka sudah cukup membekas.


"Aku yakin." Lily mengayunkan kakinya memutari meja kerja miliknya. Tak melihat lagi ke arah Axel, Lily berlalu dari ruangan itu.


__ADS_2