
Setelah berhasil memisahkan Alex dari Angel, Dhyrga memutuskan untuk menghukum putra nakalnya pergi menyelesaikan pendidikan di California, tanpa fasilitas.
Alex diawasi secara ketat oleh orang-orang Dhyrga. Yah, Alex menjadi bule rejected saat ini.
Kesalahan fatal Alex tak hanya menghamili Lily dan membuat cucu Dhyrga pergi. Namun, hubungan bersama Angel yang semakin hari kian toxic saja berhasil menyulut amarah Dhyrga Miller.
Sesabar dan secuek Dhyrga. Laki-laki itu pun memiliki batas kesabaran, yah meski orang bilang, bahwa bukan sabar jika ada batasnya.
^^^Minggu, tanggal 20.^^^
Ditemani secangkir kopi, Dhyrga dan Queen menatap Cheryl, Ezra, beserta Badai berjoging bersama di halaman rumah utama mereka.
"Semoga Cheryl cepat diberikan momongan lagi. Kasihan Eza, kesepian." Queen membuka obrolan.
"Aamiin." Sahut Dhyrga. "Harusnya Livia juga ikut berlarian di sini." Tambahnya.
Queen menghela. "Livia pasti sudah besar. Mommy jadi pengen lihat dia sekarang. Terakhir kali Mommy tanya teman satu apartemennya, Lily sudah pergi ke luar negeri."
Dhyrga terkekeh. Rupanya, diam-diam istrinya sempat mencari tahu bagaimana kabar Lily dan Livia.
Memang harus sekali dilakukan secara diam-diam, sebab bukan Alex melainkan Axel yang mengalami perubahan setelah Lily dan Livia pergi.
Axel sering melamun, menjadi lebih penyendiri, semakin pendiam, selain bekerja Axel seperti tak ada semangat hidup.
Lebih parahnya lagi, acap kali Axel delusi, Queen, Cheryl, bahkan siapa pun yang dia anggap langsing Axel kira Lily.
"Semoga Axel cepat move on dari Lily dan Livia." Lirih Dhyrga.
Queen menggenggam tangan besar suaminya. "Tenang. Rudolf pasti sudah berhasil bujuk Axel kita buat dateng ke rumah Miley."
"Semoga saja begitu."
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Di depan pintu utama sebuah town house, Axel berdiri dengan ekspresi wajah datar, baru saja dirinya menekan bel.
Klekk...
Tak lama kemudian, senyum manis menyambut kedatangannya.
"Ex-sel." Miley si gadis cantik itu membuka setengah pintunya. Sedikit ia menjulurkan kepalanya keluar. "Anaknya Om Dhyrga kan?"
"Yah." Jawab Axel.
Miley menarik lengan Axel. "Masuklah. Aku takutnya ada paparazi yang datang. Kamu pasti dicecar mereka." Katanya.
Sementara Miley sudah merasa akrab, Axel justru mengedar pandangan. "Kamu tinggal sendiri?" Tanyanya.
"Yuapz, Mami Papi di luar negeri. Tapi di dapur lagi ada asisten ku, dia masak buat sarapan pagi kita. Kamu pasti belum sarapan kan?"
"Hmm."
Dari atas hingga bawah, Miley tersenyum menatap sekujur tubuh Axel, ia menggeleng, bukankah seharusnya Axel yang terpesona pada celana ketat dan kaos top terbukanya?
Kenapa justru Miley yang terkagum pada tubuh atletis laki-laki itu? Bibirnya, matanya, semuanya perfect.
__ADS_1
Tak peduli pada busana mini Miley, Axel justru menyisir seisi rumah yang sangat estetika menurutnya, hitung-hitung sebagai referensi untuk dekorasi properti miliknya.
"Xel."
"Hmm?" Axel beralih pada Miley. Gadis itu mendekat lalu menyentuh dada bidangnya.
"Kamu pasti suka olahraga. Tubuh mu bagus. Atletis, tinggi, nilai plusnya adalah, kamu sangat mirip Om Dhyrga." Puji Miley.
"Biasa saja."
Miley terkekeh. "Tapi aku suka tipe pria seperti mu. Cool." Ujarnya.
Bukan cool, Axel hanya sulit untuk hangat pada wanita selain Lilyana.
"Mau ke kolam renang?" Tawar Miley. Di tempat yang lebih terbuka, mungkin saja Axel akan lebih relax.
Axel mengangguk. "Boleh." Suka tidak suka, Axel harus mendekatinya. Ini semua dia lakukan demi melupakan kisah tragis Lilyana.
Keduanya berjalan beriringan menuju kolam renang di halaman belakang, mereka melewati pintu kaca yang terbuka secara otomatis.
Udaranya sejuk, rumahnya juga sangat menakjubkan. Axel pengelola real estate, tentu saja ia memiliki ketertarikan pada setiap desain rumah yang dianggap bisa menjadi referensi. Dan Miley merasa Axel menyukai huniannya.
"Biasanya aku lari muter-muter di sini, kalo enggak, aku renang dulu. Baru setelah itu aku mandi terus sarapan." Miley mencoba akrab dengan calon tunangannya. "Yah, gitu-gitu aja sih kegiatan ku selain syuting, ... Kalo kamu, sukanya ngapain?"
"Bernapas."
Mendengar itu, Miley terkikik geli hingga menunduk sedikit tubuhnya. "Ya ampun, kamu lucu sih."
Axel masih hanya diam secara datar. Entah lah, Miley yang dia lihat hanya sebatas cantik dan seksi, tapi tidak menarik.
Sejauh ini, Miley merasa cocok dengan pria muda nan tampan serta kaya raya itu.
"Kita sarapan pagi yuk. Kayaknya jam segini, Mbak udah selesai masak deh." Ajak Miley.
"Hmm."
Miley meraih lengan Axel. "Lewat sini, soalnya ruang makan sama dapur ku terkoneksi sama kolam renang ini."
"Hmm." Axel menuruti langkah kaki sang Tuan rumah.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Di lain tempat, yang tak jauh dari sana. Lily sudah selesai dengan sup bening vegetarian kesukaan majikannya.
Setelah tertata di dalam mangkuk kaca. Segera Lily membawanya pada meja makan berbentuk bundar yang teronggok di sisi dapur.
"Udah siap belum sarapannya?" Lily menoleh senyum pada perempuan yang menyerukan pertanyaan itu.
"Sudah Nona." Seketika mata Lily membulat sempurna. Benarkah yang dia lihat saat ini? Axel berdiri tegak di sisi Miley.
Lily tergagu, napas bergemuruh, keringat dingin, jantung berdebar kencang, tangan pun menjadi gemetar.
Crakkk...
"Ahh!"
__ADS_1
Mangkuk ditangannya terjatuh, kaki Lily reflek untuk mundur. Sejenak Lily ternganga, sayur mayur yang baru saja dia masak, kini berserakan di lantai.
"Ya ampun, Lily!" Miley berteriak, gadis itu tak kalah mendelik. Sedang Axel terdiam terpaku ditempatnya.
Axel masih sibuk bermonolog, benarkah yang dia lihat kali ini Lilyana? Atau hanya delusi seperti hari-hari biasanya?
"Emmh, ma-maaf Nona." Lily berjongkok lalu memunguti pecahan mangkuk milik majikannya.
"Aku kan bilang, jangan ceroboh, lelet, apa lagi merusak benda ku. Ini mangkuk kesayangan ku Lily!" Dengan tangan berkacak pinggang, Miley memperlihatkan keasliannya.
Lily tak berani menatap ke arah Axel. Mungkin Axel sudah tak mau mengingatnya, tapi tetap saja Lily canggung saat pertemuan tidak sengaja ini dimulai.
"Maaf Nona, saya ceroboh."
"Memang iya, untung aku sabar, kalo nggak, udah aku pecat kamu dari dulu!" Ketus Miley.
"Aw!" Kaki Axel reflek bergerak saat Lily berkeluh mendapati goresan kecil di jarinya hingga berdarah.
"Xel." Sayangnya Miley meraih lengannya. "Kamu lewat sini ajah. Biar diberesin dulu sama asisten ku." Katanya.
"Ini, ..." Axel terlihat bingung, antara ingin menolong Lily atau, ...
"Biar saja." Miley memaksa Axel duduk, sedang pandangan laki-laki itu tetap terarah pada Lily.
"Cepetan! Kita udah laper." Miley kembali bersuara.
"Baik Nona."
Axel baru tahu sekarang, ternyata Miley punya suara yang lantang sebab sedari tadi, Miley selalu berkata manis saat bicara padanya.
"Maaf yah Xel, dia emang begitu, ceroboh, lelet, kerjanya nggak becus. Tapi mau gimana lagi, kalo ku pecat kasihan, dia anak panti asuhan."
Mata Axel mengikuti gerak tubuh Lily, terlihat wanita itu kembali ke dapur dan menyiapkan kembali sup vegetarian yang masih tersisa di wajan.
Entah bagaimana kondisi luka di jarinya, Lily terkesan tidak merasakan apa-apa.
Saking penasarannya, Axel lalu beralih pada Miley. "Kenapa dia harus diberikan kerjaan di dapur?" Tanyanya.
"Memangnya harusnya di mana?"
Axel menyela. "Di bagian yang lebih baik dari seorang pembantu rumah tangga, seperti manager atau, ..."
Miley terkikik geli. "Ya ampun Xel, dia cuma lulusan SMP. Mana pantes kerja di bagian yang lebih tinggi?"
"Lulusan SMP?" Axel terhenyak, jadi begini rupanya, Lily memalsukan CV nya kembali.
"Sebenarnya aku tuh nggak suka berurusan sama banyak orang Xel. Makanya aku ambil satu pegawai buat ngurus semuanya." Kata Miley.
"Hari gini udah jarang banget ada yang mau ambil rangkap kerjaan. Makanya aku pakai jasa Lily, yah biarpun dia cuma lulusan SMP, tapi aku gaji dia dengan nominal yang sangat besar. Hitung hitung bantu perekonomian orang minus lah."
Kembali Axel menatap ke arah Lily. Sialnya adalah, Lily justru terlihat sangat baik setelah membuat hidupnya kacau.
Tak ada yang berubah, meski selama berbulan-bulan Lily menjadi asisten rumah tangga dengan banyak rangkap kerjaannya, Lily masih tampak menarik baginya.
"Oh my God! Kau membuat ku semakin gila saja setelah ini."
__ADS_1