
Kepada pintu keluar, Lily melenggang langkah pelan, tatapannya kosong, dengung di telinga memekik hingga tak mampu ia mendengar apa pun lagi.
Gelap, "Lily!" Sebutan dari Axel yang sempat Lily dengar sebelum melunglai di lantai.
"Kamu kenapa?" Gegas Axel meraih tubuh ramping berbalut busana musim dingin itu untuk ditempatkan ke dalam gendongannya.
"Dia kenapa Xel?" Gesya kekasih Rudolf bertanya cemas. Wanita yang membuat Lily kehilangan kesadaran tidak lebih dari orang lain bagi Axel.
"Panggil Rudolf sekarang!"
"Ok." Axel bergegas keluar dari kamar setelah Gesya membukakan pintu kamar.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Di parkiran hotel, siang ini Alex kembali datang dengan maksud menemui saudaranya.
Miko sempat memberitahukan bahwa Axel juga sudah tahu tentang Livia dan menginap di hotel yang sama.
Alex yang selalu glamor kini hanya berpakaian seadanya. Jaket tebal musim dingin, celana jeans dan sepatu tertutup seperti pribumi pada umumnya.
Terlebih, Alex juga harus menaiki sepeda motor milik perusahaan kurirnya untuk jalan ke mana-mana.
Tak ada yang mengira bahwa Alex putra pewaris yang sangat kaya di negaranya.
"Uncle, ..."
Alex menoleh pada gadis mungil yang menyapa dirinya. Di balik jendela mobil Van, Livia melambaikan tangan.
"Uncle, Uncle, ..."
"Hey, ..." Tersenyum manis Alex menyatroni mobil tersebut. Dia tatap wajah sumringah Livia. "Shanshan di sini hmm? Ngapain?"
"Tunggu Mama." Mata Livia tak sengaja melirik ke arah lobby utama, di mana Lily terlihat lunglai dalam gendongan seorang pria tak dikenal. "Mama, itu Mama Shanshan!"
"Axel!" Alex beralih pada Axel yang lantas memasukkan Lily ke dalam mobilnya. "Lily kenapa Xel?"
Axel menoleh. "Dia pingsan, kebetulan kamu di sini. Bawa Shanshan ke rumah sakit juga."
Erina yang sedari tadi hanya di dalam mobil, ia keluar setelah melihat Lily dibawa seorang pria. "Kakak Nirina kenapa?"
Alex segera meraih Livia dari gendongan Erina. "Kalian ikuti saja mobil kami. Biar Shanshan ikut bersama kami." Katanya.
__ADS_1
"Tapi, ..." Sama sekali Erina tak tahu siapa ke dua pria tampan ini.
"Kalian perlu tahu, aku Papa Livia, aku papa Shanshan." Melihat kebingungan terpahat di wajah Erina Alex berujar.
"Hah?" Erina tersentak.
"Kalian ikuti saja mobil kami, kita ke rumah sakit sekarang." Instruksi Alex, mau tak mau Erina mengangguk setuju.
Alex bergegas membawa serta putrinya masuk ke dalam mobil Axel, ia duduk memangku Livia di jok penumpang bagian depan sementara Rudolf mengemudi dan Axel sudah mengondisikan Lily di jok belakang.
"Mama kenapa?" Livia terus ingin mendekat pada wanita pertama dalam hidupnya.
"Dia baik-baik saja." Alex usap pucuk kepala Livia penuh kasih sayang. "Mama Shanshan akan baik-baik saja."
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Tiba di rumah sakit Lily diberikan kamar terbaik, Livia aman bersama Alex dan Axel, tak lupa Rudolf selalu bersama mereka.
Sementara menunggu Lily membaik Alex menitipkan Livia pada Rudolf dan Gesya, Alex masih harus membawa Axel untuk bicara empat mata.
Tepatnya di lorong tunggu suite mereka berdiri berhadap-hadapan. Saling menyalahkan satu sama lain sudah barang pasti.
Alex terkekeh kecil mencibir saudaranya. Jadi rupanya, sampai sekarang pun Axel masih mengikuti Lilyana. "Kamu menjadi stalker?"
Alex terkekeh kembali. "Aku tidak mungkin maju. Jadi majulah kalau kau benar-benar mencintainya, dia milikmu." Katanya.
Axel yang terkekeh sinis kali ini. "Dia menolak ku berkali-kali Lex, dia bahkan berani meneriaki ku setelah tahu, aku ikut campur dalam urusan Livia, kau tahu, itu karena dia masih sangat mencintai mu." Sanggahnya.
Brakkk...
Sebuah kotak berisi jam tangan luxury dan jas hitam Alex lempar ke atas permukaan sofa tunggu dalam kondisi terbuka. Mata Axel memindai ke dua benda tersebut.
"Itu milik mu." Kata Alex. "Yang Lily kagumi bukan aku melainkan kamu." Ujarnya lagi.
Axel mengerut kening. "Apa ini?" Jam tangan luxury miliknya yang hilang bertahun-tahun lamanya.
"Sebelum bertemu dengan ku, ternyata dia sudah lebih dulu mengagumi mu." Alex mencoba mengurai duduk perkaranya.
Alex terkekeh mengingatnya. "Pantes, waktu itu Lily langsung merespon ku, rupanya dia mengira aku dan kamu orang yang sama. Orang yang dia temui di hotel London."
"Hotel London?"
__ADS_1
Alex mengangguk. "Dari semua teman-teman kampus yang mendekatinya. Hanya aku yang Lily respon."
Alex lagi-lagi terkekeh. "Ternyata bukan karena aku paling tampan di antara mereka melainkan karena aku, dia anggap kamu."
Kata per kata yang Alex siarkan, telah Axel dengarkan secara baik. Dia raih jam tangan luxury miliknya, jam tangan pemberian dari ibunya yang raib entah kemana.
Axel tak habis pikir, rupanya benda yang selama bertahun-tahun silam menghilang, kini benar-benar berada di depan retinanya.
"Gadis housekeeping?" Kembali Axel mengingat rentetan peristiwa yang lama tak ia ingat-ingat.
"Good morning, Sir."
Axel mengingat sapaan itu, namun untuk mengingat wajah dan senyum Lily, Axel tak mampu. Yah, Axel paling tidak suka menatap perempuan.
"A-apa boleh saya pikir-pikir dulu?"
Tiba-tiba Axel mengingat saat Lily meminta dispensasi waktu berpikir tepat di hari Lily diterima kerja.
Jadi rupanya ini alasan kenapa dirinya tak perlu pikir panjang untuk memberikan kesempatan selama satu Minggu pada Lily?
Alasannya adalah Axel sudah merasa klik dengan gadis itu, sama seperti saat dirinya berada di hotel London dan dia hanya ingin dilayani oleh Lily saja.
Alex berdecak. "Lily korban dari keadaan yang rumit. Jujur aku mau bertanggung jawab, aku mau menebus semua kesalahanku demi bisa mendapatkan maaf dari Daddy, Mommy terutama Livia darah daging ku. But, after aku tahu yang disukai Lily bukan aku, nyaliku menciut." Jelasnya.
"Aku ingat benar, dia panik saat kamu marah, tapi padaku, sekalipun dia tidak pernah menunjukkan kecemasan itu. Bahkan, tepat di hari aku menyuruhnya menggugurkan kandungan, dia pulang dengan wajah datar." Imbuh Alex.
"Ada kebencian saat dia menatap ku. Tapi dia tersenyum saat bercerita tentang mu. Lalu apa jadinya kalau aku berhasil memperistri dia, tapi masih kamu yang ada di hatinya?" Tambah Alex realistis.
Axel tercengang.
Tak tak tak....
Suara dentuman tapak sepatu terdengar menggaung, Axel dan Alex menoleh, rupanya Erina yang datang membawa pria paruh baya.
"Di mana Nirina?" Clive asli Malaysia. Pria ini menetap di Jerman, sebelumnya Clive datang ke negara ini hanya untuk menghadiri acara Livia di Guinness World Records yang akan langsungkan beberapa hari lagi.
"Anda siapa?" Axel bertanya balik.
Erina menyela. "Tuan Clive ini psikolog Kak Nirina Pak. Jadi biar Tuan Clive juga ikut memeriksa kondisi Kakak saya."
"Psikolog?" Axel dan Alex saling menatap satu sama lain. Ada apa dengan Lily selama ini? Kenapa harus ada psikolog yang juga turut campur?
__ADS_1
"Apa Lily. Emmh maksud saya, apa Nirina memiliki masalah dengan mental? Kalau pun iya, tolong beritahu kami apa yang terjadi padanya?" Cecar Axel.
Clive menghela. "Sebenarnya ini menyangkut tentang privasi pasien. Tapi saya tidak mau ikut serta dalam mengkerdilkan lingkaran hitam Nirina yang tidak kunjung selesai, ku lihat Nirina hanya berputar di dalam perkara situ saja, jadi lebih baik kita bicara di tempat lain."