
Secara bersamaan Axel dan Alex tertegun, di depan mereka Clive membeberkan masalah kesehatan mental Lilyana.
Lilyana memiliki masa lalu yang cukup kelam, di mana Nadia sang ibunda juga memiliki riwayat yang tidak berbeda dengan dirinya.
Nadia muda dihamili oleh seseorang yang dicintainya, lantas dicampakkan lalu Nadia menikah dengan pria lain bernama Handoko.
Sayangnya Lily kecil harus menyaksikan secara langsung bagaimana ayah tirinya membawa wanita lain di kamar hotel.
Selain kemiskinan, Lily kecil selalu menjadi alasan utama mengapa ayah tirinya terus menerus bertengkar dengan ibunya.
Di lain sisi ada Firman yaitu ayah biologis Lilyana yang tiba-tiba menikahi wanita kaya setelah berhasil memporak-porandakan kehidupan ibunya.
Dihardik, dihujat, sudah menjadi makanan keseharian Nadia dan Lily kecil.
Tak hanya itu saja, puncaknya adalah Lily kecil yang saat itu baru saja terbangun dari tidur, ia harus menyaksikan bagaimana ibunya menghembus napas terakhir setelah memutus nadinya di kamar yang sempit dan gelap.
Dalam kemiskinan dan pengkhianatan Nadia sang ibunda tak sanggup melewati pedihnya kehidupan.
Lilyana tak ingin mengalami hal itu kembali, ia harus kuat untuk putrinya Livia. Menjadi kaya, menjadi orang yang realistis.
Tak pernah terpikirkan oleh Lily untuk menikah dengan orang yang mencampakkan dirinya, seperti Alex.
Lily juga tak ingin menikah dengan pria lain seperti Axel yang pada akhirnya hanya akan menjadikan Livia alasan pertengkaran.
Sebisa mungkin Lily ingin membuat derajat Livia naik meski tanpa pengakuan keluarga Miller.
Jalan satu-satunya adalah Livia harus memiliki karir yang bagus, tabungan yang banyak, setidaknya jika dia tiada Livia sudah terbiasa hidup dengan bakatnya.
Ketakutan ketakutan itu membuat Lilyana terkesan tamak, arogan, egois, tapi Lily mau yang terbaik untuk Livia saja.
Mengetahui Axel ikut campur dalam kepopuleran Livia, Lily merasa rendah diri di tengah usahanya yang begitu besar untuk bisa ke Jerman.
Ditambah lagi ketika Lily melihat seorang wanita keluar dari kamar mandi hotel milik Axel, hal yang mengingatkan dirinya akan kejadian masa lalu bersama sang ibu dan ayah tiri.
Masa lalu tidak berlalu bagi Lily, buktinya ia terus menerus berada di lingkaran hitam yang membuatnya mengalami kekecewaan secara berulang.
"Jadi sesak napas yang sering Nirina alami ketika mengalami hal yang tidak dia inginkan, itu terjadi karena, ...?" Axel bertanya.
Clive menyela. "Benar, karena OCD yang dideritanya. Pikiran berlebihan atau obsesi yang menyebabkan perilaku repetitif kompulsi. Mencakup trauma masa lalu yang begitu berat, kemungkinan karena melihat ibunya mengakhiri hidup." Angguknya.
"Ditambah lagi, ketika dewasa dia juga harus mengalami hal yang sama dengan almarhumah ibunya." Imbuhnya.
"Nirina orang yang pemikir dan penuh pertimbangan. Semua karena dia pernah mengalami kepahitan luar biasa di waktu waktu emasnya." Timpalnya.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Malam pun tiba, hari ini Lily gagal mengajak Livia bermain sky bersama.
__ADS_1
Dari atas sofa kamar pasien Lily duduk termangu menatap jendela yang menyuguhkan pemandangan luar.
Kepingan salju yang perlahan mendarat ke bumi rupanya sangat lah indah. Dalam hening Lily memasak ucapan Clive yang barusan diberikan padanya.
Terkadang melawan ketakutan tidak dengan menjauh tapi mendekati, tidak harus menghindar namun mencoba merasuki.
Percayalah, Livia takkan mengalami hal yang sama seperti dirinya. Meski tidak harus bersatu dengan Alex, Livia tetap memiliki hak untuk tahu siapa ayahnya.
Jangan terus lari dari kenyataan, karena nyatanya Livia juga memiliki keluarga yang menyayangi selain dirinya.
Klekk...
Suara pintu terbuka lalu tertutup kembali. Lily tak beringsut walau hanya satu inci. Dari aroma parfum yang terkuar Lily paham siapa yang mendekat dan duduk di sisinya.
Siapa lagi selain Axel yang memiliki aroma damai seperti ini, aroma yang membuat Lily jatuh cinta sekaligus sesak.
Cukup lama mereka terdiam tanpa kata, sebelum akhirnya sentuhan dari jemari-jemari Axel yang semula lembut berubah menjadi genggaman erat.
"Maafkan aku." Ucap berat lelaki itu mungkin bisa menjadi awal dari perbincangan mereka.
Lily menoleh. "Untuk apa? Bukankah kita sudah tidak ada lagi urusan? Kecuali kalau nanti kamu mengundang ku hadir di pesta pernikahan mu, aku pasti datang." Katanya.
"Aku berbohong." Axel menunduk dan Lily mengernyit kuat-kuat dahinya.
"Aku di negara ini karena mu dan Livia. Aku di sini untuk mu dan Livia. Rega berhasil menemukan data pergantian identitas mu. Dari mulai saat itu, aku menjaga kalian dari jauh." Ungkap Axel.
"Maaf aku berbohong, yang kamu lihat pagi tadi di kamar hotel ku, dia Gesya, kekasih Rudolf." Terang Axel.
Sementara Lily tak bersuara, wanita itu masih terperangah mendengar kenyataan ini.
"Maaf, bukan maksud menyakiti mu. Aku hanya terlalu cupu mengakui perasaan ku." Imbuh Axel
"Baru pernah aku menemui seseorang yang terus menerus menolak ku tanpa alasan. Malam itu, saat aku pulang mengantar mu, Rudolf memberitahukan tentang apa yang dia dengar dari pertengkaran Alex dan Angel di kamar tamu."
Axel kemudian menaikan tatapannya hingga melekat pada netra kecoklatan Lilyana.
"Maaf, malam itu juga aku lancang mencari tahu tentang mu. Dan aku baru tahu kalau ternyata kau dan Alex pernah berhubungan di masa lalu." Jelasnya lagi.
Axel usap pipi mulus Lily pelan. "Sebelumnya aku tidak pernah peduli bagaimana pun masa lalu mu. Tapi nyatanya, berdamai dengan keadaan tidaklah mudah." Ujarnya lirih.
"Dari semua orang, kenapa harus Alex yang meniduri mu? ... Dan sekarang aku tahu jawabannya. ... Rupanya karena Alex dan aku memiliki wajah yang sama."
Kembali Lily mengernyit keheranan, bibir pucatnya masih dalam kondisi terkatup, masih tak mampu mengeluarkan suara.
"Jam tangan yang kamu simpan selama bertahun-tahun terakhir, itu milikku."
Ada dentuman hangat yang tiba-tiba Lily rasakan di dadanya. Apa ini? Informasi apa yang dia dengar barusan? Tidak masuk akal!
__ADS_1
Axel tersenyum. "Kamu gadis yang sama dengan gadis housekeeping di hotel London. Maaf aku harus mengatakan ini, tapi kamu salah orang, ... Orang yang kamu temui di hotel London bukan Alex, tapi aku." Katanya.
"Hh?" Desah kejut Lily.
Otaknya kemudian berputar ke masa lalu, di mana ia juga menemukan banyak sekali perbedaan antara pemuda hotel dengan pemuda yang ia temui di kampus.
"Aku lelah memandang mu dari jauh. Aku mau memiliki mu seutuhnya. Bukankah perasaan ku tidak bertepuk sebelah tangan?"
Setelah lama terdiam dengan pergolakan pikir, Lilyana menggeleng pelan.
"Tapi semuanya sudah terlambat Axel. Meskipun kamu orang yang aku temui di hotel. Nyatanya aku sudah tidur dengan saudara mu. Apa pun alasannya aku tetap tidak pantas untuk mu." Lily bangkit dan berjalan sedikit menjauh dari sofa.
"Lalu?"
Kembali Lily menoleh. "Lalu apa lagi? Tentu saja kita sudahi semuanya. Aku janji tidak akan menghalangi keluarga kalian untuk menemui Livia, tapi tidak dengan hubungan kita yang tidak seharusnya bersama."
Axel berdiri mendekati wanita tercinta setelah ibunya. "Kamu yakin menolak ku lagi?" Tanyanya.
Lily mengangguk ragu. "A-aku yakin. Aku terbiasa sendiri. Aku bisa dan aku mampu hidup tanpa pendamping. Aku cukup memiliki Livia saja." Tukasnya.
Axel tersenyum melihat kegugupan yang tergores di wajah Lilyana. "Kamu yakin kamu mampu melihat pernikahan ku dengan wanita lain? Kamu yakin nggak akan pingsan lagi?"
Lily mengalihkan pandangannya. "A-aku pingsan bukan karena cemburu. A-aku hanya lelah saja."
Lancang, Axel meraih tengkuk Lily untuk didekatkan padanya. "Ok, kalau kamu memang yakin bisa tanpa ku. Tapi aku belum, ..."
"Itu urusan mu." Potong Lily, sesekali berusaha memalingkan wajah namun tak sedikit pun Axel biarkan terlepas.
"Untuk meyakinkannya, mari kita buktikan saja dengan ini, ..." Menunduk memangkas jarak keduanya.
Lily terbelalak saat setangkup bibir terbuka lelaki itu mendarat pada bibirnya.
Memang bukan ciuman pertama bagi mereka, sebab sudah dua kali Lily dikecup CEO tampannya, tapi untuk kali ini tubuh Lily tak melakukan penolakan seperti yang sudah-sudah.
Rengkuhan kedua tangan Axel telah sampai pada punggung Lily, hingga melekat tubuh keduanya, bersatu dibalut dengan biduk rindu.
Melihat kediaman Lilyana, Axel bersorak menang. Akhirnya, setelah sekian lama, ia mendapatkan jawabannya. Lily terhanyut oleh liarnya kecupan panas pria itu.
"Emmh." Desah sesak yang Lily keluarkan membuat Axel melepaskannya perlahan.
Mata biru itu menatap dalam-dalam wajah cantik yang diliputi debaran ketakutan.
"Siapa pun kamu. Aku tidak peduli dengan masa lalu mu. Mungkin kemarin aku pengecut, tapi itu sebelum aku tahu kau juga memiliki perasaan yang sama dengan ku."
Axel menggeleng ringan. "Bukan masa lalu, aku hanya mau kamu dan masa depan kita, termasuk Livia." Katanya.
Lily bergeming bisu.
__ADS_1