Secretary & Secret Baby

Secretary & Secret Baby
Edisi_Daily²


__ADS_3


Seperti terang yang akan terbit sehabis gelap, begitu pula dengan hidup Lily yang kemudian bahagia setelah nasib malangnya.


Detik-detik terindah yang tiada terlupa telah terukir dalam benak. Sepenggal momen yang paling berharga dalam hidup setelah memiliki Livia pun tercipta.


Seharian penuh Lilyana Bachir berdiri di pelaminan, bersama sang tampan yang kini menjadi suami sahnya yaitu Axel Prince Miller.


Senyum Livia begitu lebar mengembang, akhirnya setelah sekian lama ia memiliki seorang ayah.


Tidak tanggung-tanggung, Livia bahkan mengklaim telah memiliki dua ayah, Papa Esel dan Papa Ales.


Anak sekecil itu mana tahu bagaimana rumitnya percintaan sang ibunda tercinta? Yang Livia tahu hanyalah kebahagiaan hakiki setelah memiliki keluarga yang utuh.


Kakek, Nenek, Tante, Om, Ayah, Ibu, dan seterusnya. Livia bahkan sangat senang memiliki Abang Eza yang begitu peduli padanya.


Keluarga Dhyrga Miller minus Alex. Meski demikian Dhyrga selalu mengawasi putranya dari kejauhan.


Biarkan Alex belajar menghargai dirinya sendiri, hidup di atas kakinya sendiri, juga menyudahi kebiasaan berganti-ganti wanita.


Setelah cukup dengan drama kelelahan, sang pengantin perempuan dituntun masuk untuk beristirahat oleh Mitha.


Sementara mempelai pria masih menemui para tamu undangan yang datang tiada jeda.


Lily dan Axel melangsungkan pernikahan di tepi pantai, sebuah kepulauan estetika yang cukup terkenal.


Hal ini bertujuan supaya tamu-tamu dari luar negeri bisa sembari berlibur, berjemur, atau mungkin sekedar snorkeling.


Kamar pengantinnya berada di sudut tempat yang jauh dari cottage lainnya. Axel sengaja memilih yang lebih dekat dengan pantai.



Tiba di kamar pengantin, Lily duduk di sisi ranjang mengudarakan desah lelahnya.


"Akhirnya, aku bisa istirahat."


"Capek kan?" Mitha melepas ikatan tali yang bersilangan di punggung mulus sahabatnya.


Lily mendengus. "Capek banget, bahkan lebih capek dari kerja di rumah Nona Miley."


"Ngomongin soal Miley, sore tadi tuh cewek songong juga dateng kan? Kayaknya dia bawa bingkisan deh," sambung Mitha.


"Iya, dia juga minta maaf kok."


"Tapi gatau kenapa, aku kalo liat dia bawaannya kesel," seperti wanita pada umumnya, Mitha bergosip ria.


"Tapi, aku seneng, akhirnya kamu sama Axel nikah. Btw, selamat yah Sayang."


Lily tersenyum malu. Apa kabarnya kalau sampai Axel datang ke kamar, mungkin mereka terlibat canggung bersama malam ini.


Mitha meraih dress tipis dari sudut ruangan, dress tidur yang cukup mini, bahkan tak ada kain yang menutupi bagian punggung.


"Kamu ganti baju dulu, baru setelah itu tidur, dari tamu-tamu yang datang, kayaknya Axel masih lama di luar," katanya.


"Iya." Lily menurut untuk menanggalkan gaunnya, ia masuk ke dalam kamar mandi hanya dengan handuk kimono saja.


Detik-detik berikutnya Lily keluar lagi dengan kotak putih besar di tangannya. Mitha sempat berkerut kening mendapati raut sahabatnya.


"Kok balik lagi?"


"Apa ini Mith?" Secara berapi-api, Lily menyodorkan kotak pada Mitha dalam keadaan terbuka.


"Hah?"


Mitha terperangah, di dalam sana terdapat benda-benda aneh seperti borgol, alat getar, pita merah berukuran besar, ikat leher guguk, bahkan cambuk. Keduanya sempat menelan saliva.


"Ini alat B.D.S.M? Serem banget Ly, ini punya siapa? Punya Axel?" Berapi-api pula Mitha memastikan.


"Mana aku tahu!" Gegas Lily melangkah keluar, lalu membuang kotak beserta isinya sembarangan.


Di belakangnya, Mitha masih terlihat shock, di malam pertama sahabatnya, ia menemui alat aneh yang cukup ekstrim.


"Axel punya kelainan? Diam-diam begitu, dia psikopat Ly?" Cukup sulit Mitha membendung pertanyaan penasarannya.


"Jangan nakut-nakutin aku gitu!"


Mitha shock. "Gila sih, bertahun-tahun aku hubungan sama Om Rodeo, dia nggak pernah ngajakin aku pake benda-benda B.D.S.M kayak gitu. Ini Axel diem-diem fan.tasinya liar banget."


Terdiam, Lily menelan saliva kembali. Saking takutnya menghadapi Axel malam ini bahkan untuk bicara saja, dia kesulitan.


...🎬🎬🎬🎬🎬...


Pukul empat pagi hari, Axel baru bisa masuk ke dalam kamar pengantinnya. Sayup-sayup terdengar deburan ombak dari arah pantai.


Di sela-sela lelahnya, Axel tersenyum manis saat pandangan terarah pada ranjang serba putih berukuran king.

__ADS_1


Lily sudah terlelap di balik gulungan selimut tebal. Sembari melepas satu persatu anak kancing kemeja putihnya, langkah kaki begitu pelan namun pasti menuju Lilyana.


Axel berdiri di tengah-tengah hamparan tirai putih, temaram lampu melingkupi dirinya.


Netra biru itu tak sekalipun meleset dari wajah cantik istrinya. Surai hitam nan panjang milik Lily tergerai di atas permukaan bantal-bantal tinggi.


Oh Tuhan, Axel bahkan masih tak percaya bahwa ia menikahi ibu dari keponakannya sendiri.


Gejolak Axel berdesir, melihat bagian atas Lily yang hanya ada tali kecil di pundaknya.


Huh...


Jantung tiba-tiba berdebar lebih kerap kala angan kotornya melayang-layang, betapa sengitnya ia akan menghujam tubuh wanita itu bila ada kesempatan nantinya.


Bibir Lily yang sebelumnya masih terlihat baik-baik saja, malam ini begitu seksi di matanya.


"Sejak kapan aku jadi mesum begini?" Axel menggeleng cepat kepalanya, mengusap kasar wajahnya.


Tak mau lelah-lelah berdiri. Axel meninggalkan tempat itu untuk kemudian memasuki kamar mandi.


Bagian bawah yang menegang biar saja dia urus dengan air dingin, mungkin takkan ada malam pertama baginya, buktinya hari sudah pagi.


Sebentar lagi, bisa saja Lily terbangun dan mengajaknya sarapan bersama Livia.


Resiko punya istri yang memiliki satu anak ya seperti itu. Harus pandai mengatur sabar juga waktu saat ingin bercumbu rindu, sekalipun mereka pengantin baru.


Brakk... Brakk...


Tak lama dari ia menanggalkan satu persatu pakaiannya, sebuah gedoran dari balik pintu terdengar gaduh.


"Sayang?" Axel menyeru, ia memastikan seraya meraih handuk miliknya.


"Iya, aku di sini." Sahutan gusar Lily terdengar juga dari balik pintu.


Segera Axel berjalan sambil melilitkan handuk pada pinggang kokoh miliknya sebelum membuka pintu kamar mandi.


"X-xel." Lily membulat matanya, ekspektasi saat Axel membuka pintu bukanlah panorama kotak-kotak perut Axel.


"Ada ada?" Axel mengernyit. Bukannya tadi Lily tertidur? Kenapa tiba-tiba terbangun? Axel curiga. "Kamu kebangun, apa belum tidur?"


Lily terus menoleh ke arah jendela kamar, terlihat beberapa lampion terjatuh berserakan di lantai yang dipenuhi kelopak bunga mawar.


"Barusan lampu di situ jatuh sendiri, terus lampu yang satunya jatuh lagi, yang satunya lagi juga ikutan jatuh Xel, mungkin nggak sih di sini angker?"


Lily merapat setelah antusias bercerita, yang mana membuat Axel menyengir kecil. Lily cukup menggemaskan saat kalut seperti ini.


Axel melangkah ke arah jendela, memindai kondisi kamar pengantinnya, pantas saja ada deburan ombak yang sayup-sayup terdengar dari luar, rupanya terdapat celah di sana.


Axel menarik lengan Lily yang melipir lipir ketakutan di sisinya. Dia peluk Lily dari belakang, menunjukkan celah kecil yang membuat angin dari pantai masuk ke dalam.


"Ada celah di sini Sayang, lampion itu ringan, pasti akan jatuh saat tertiup angin," jelasnya.


Dalam dekap suaminya, Lily menatap polos jendela itu, rupanya memang ada embusan angin yang cukup kencang dari sana.


"Aku pikir kamu tidur beneran tadi," Axel berbisik di telinga.


"Hah?"


Lily meneguk saliva, matanya membulat seketika, gara-gara jiwa penakutnya ia jadi lupa sedang berpura-pura tidur.


Seharusnya Mitha tidak pergi meninggalkan dirinya sendiri di kamar ini bukan? Bagaimana kalau Axel menghukumnya seperti di film-film psikopat?


"Kamu pura-pura?" Kembali Axel berbisik, ada gigitan basah yang terasa di telinganya.


"Emm, eng, enggak juga," Lily melepas pelukan Axel lalu kembali menyatroni ranjangnya.


"Tadi a-aku kebangun Yank, hoam, padahal udah ngantuk banget." Lily berusaha terlihat mengantuk, ia bahkan berpura-pura menguap.


Melihat itu Axel menghela napas. Dilihat dari gelagat istrinya, sepertinya Lily tidak ingin dia sentuh.


"Tidur saja kalau begitu, setelah mandi aku keluar lagi, biar aku tidur sama Rudolf saja di cottage sebelah."


Lily terdiam patung, hanya matanya yang bergerak mengamati geseran tubuh Axel memasuki kamar mandi.


Tiba-tiba ruangan ini bukan lagi dilingkupi hawa dingin dari angin pantai. Sebab, wajah tampan Axel lebih terasa beku dari apa pun.


Lily tahu, Axel tersinggung dengan sikapnya, bukan menolak, Lily hanya belum siap untuk terlibat kencan ekstrim bersama suaminya yang psikopat.


"Sayang marah?"


Merasa bersalah, Lily melangkah menyusul Axel, ia mengetuk pintu kamar mandi sebelum membukanya pelan-pelan.


"Papa Esel, tadinya aku cuma, ..."


Ucapan Lily terjeda oleh saliva yang tiba-tiba mencekat kerongkongan, tak ada jawaban apa pun, Axel sudah berdiri mendongak di bawah guyuran air shower dengan mata yang terpejam.

__ADS_1


Perlahan dan tanpa sadar Lily menyentuh dadanya, betapa kencang degup jantung yang Lily rasakan, pagi begini matanya disuguhkan kekokohan perut kotak-kotak dan dada bidang suaminya.


Bagaimana bisa ia menolak?


Lihatlah, bahkan tetesan air-air yang menyisir sekujur tubuh atletis Axel, mereka juga seolah bersorak gembira dapat melewati bagian bagian seksi lelaki itu.


Perlahan, manik biru Axel terlihat ketika Axel mulai membuka matanya pelan-pelan seraya menyugar rambutnya ke belakang, masih di bawah guyuran air shower Axel menatap Lily lekat.


Tampan dan seksi, dua kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan kondisi Axel saat ini.


Gegas Axel menyelesaikan mandi singkatnya dan kembali melilitkan handuknya, asal tidak lengket saja sudah cukup baginya.


Seperti Axel yang sudah-sudah, orang itu beku, punya gengsi yang tinggi pula, Axel tak mengindahkan tatapan terkesima istrinya.


Bahkan, lelaki itu keluar dari kamar mandi melewati tubuh Lily secara acuh. "Xel."


"Hmm?" Meski dingin, rupanya masih ada jawaban juga.


Mencebik sendu, Lily mengikuti langkah kaki suaminya. "Sayang marah?" ia memberanikan diri untuk memeluk pria itu.


Gaun tipisnya ikut basah oleh punggung bidang suaminya. Sekuat hati ia mengenyampingkan ketakutan-ketakutan yang tadi ia rasakan.


Dari pada menolak jiwa psikopat suaminya, Lily justru lebih takut saat Axel acuh padanya.


"Maaf, aku pura-pura tidur tadi, bukan apa-apa, aku cuma takut. Apa lagi ini pertama kalinya kita tidur di kamar yang sama,"


Tanpa sepengetahuan Lily, bibir Axel mengulum senyum. Rupanya saat dia acuh, Lily justru lebih berani mengutarakan rasa.


Axel berbalik badan, dia sisir setiap lekukan tubuh wanita itu dengan tatapan penuh damba.


Lily seksi dengan baju tidur pilihannya. Tercetak pula bulatan besar dari balik dress tipis nan basah itu.


Melihat tatapan Axel, lagi-lagi Lily terkesima, bulir yang masih menghiasi wajah Axel cukup membuat lelaki itu segar.


Tak ada lagi kata, karena tiba-tiba saja bibir mereka bersatu. Terpejam, Axel memagutnya dengan cara yang begitu dalam seolah tak mau ia lepaskan.


Untuk seorang Axel, ingin marah pun tak bisa, dan bagi seorang Lilyana, mau menolak pun tiada mungkin ia lakukan.


Keduanya saling terpaut cinta.


Lilyana pasrah jika pun iya malam ini suaminya akan memperlakukan dirinya seperti tawanan psikopat.


Tanpa terlepas dari tautan bibir. Perlahan kaki keduanya menuju ranjang, Lily terduduk lalu terbaring bahkan kini Axel berada di atasnya.


Lily meremang, ini rasa yang berbeda dari yang pernah ia dapatkan dari Alex dahulu.


Dari cara caranya, tampaknya Axel begitu sangat menginginkan dan mencecarnya.


Satu persatu, cap cap merah pun mulai Axel lukis di setiap bagian leher istrinya hingga tak bersisa.


"Ahh." Lily membuka mata setelah cukup menutupnya. Dalam batin ia bergulat, kenapa Axel memperlakukan dirinya selembut ini.


"Sayang." Axel memandang lembut manik kecoklatan Lily. Wanita itu hanya terdiam membalas tatapannya. "I love you."


"Ahh." Lily terpejam, bagaimana bisa ia menjawab kata-kata Axel, ia bahkan dibuat melayang oleh remasan tangan suaminya.


Sisa kain yang menutupi bagian depan tubuhnya, terlepas secara tidak disengaja.


Axel juga tak ingin menyia-nyiakan bulatan merah muda di pucuk dada istrinya.


"Boleh yah?" Suara Axel memang lirih tapi deru napasnya bergemuruh mengalahkan teriakan ombak-ombak di pantai.


Lily menarik kepala suaminya agar menyatu bibir Axel pada are.olanya. Desah Lily mulai jelas terdengar bahkan lebih parau dari sebelumnya.


Dalam iseng, di tengah nuansa erotik, jemari Axel mulai berkelana, ia menyinggahi satu persatu bagian sensitif istrinya.


Sembari menikmati sentuhan sentuhan suaminya, Lily masih berpikir keras, kenapa selembut itu Axel memperlakukan dirinya.


Lalu untuk apa Axel meletakan alat-alat aneh di kamar mandinya? Sebenarnya itu milik siapa? Axel, atau orang lain?


"Aw Yank!" Lilyana memekik, saking asyiknya berpikir ia baru menyadari barusan Axel memberikan pemasukan besar ke dalam miliknya.


"Sakit?" Axel memastikan, perasaan dia sudah sangat pelan-pelan. Sebisa mungkin Axel tidak menyakiti istrinya.


Lily menggeleng, terlebih saat benda keras itu memenuhi isi dalamnya. "Aku hanya kaget saja." Lenguhnya.


"Kamu melamun?" Axel menatap serius istrinya.


Bagaimana ini, Lily tak bisa lagi membendung rasa penasaran. "Aku mau tanya."


"Hmm?" Tak mau sia-sia, Axel bergumam sembari menggerakkan pinggulnya perlahan.


Lily merem melek. "Apa bener, kamu punya fe.tish ekstrim?" Desahnya.


Axel berkerut kening mendengar pertanyaan aneh istrinya. "Fe.tish ekstrim?" ia sampai menghentikan laju pinggulnya.

__ADS_1


"Kenapa berhenti?" Lily protes.


...📣 Dua bab aku jadiin satu loh, jadi sambung lagi di bab berikutnya yaaa... Karya baru ku udah rilis yaaa... ...


__ADS_2