
Dara berjalan pergi meninggalkan rumah keluarga Darmawan dengan hati yang sangat hancur. Dia berusaha bersikap tenang melewati kerumunan tamu undangan yang memadati aula rumah itu. Namun, begitu Dara keluar dari rumah dan tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang, air matanya kembali mengalir. Dara berjongkok ditanah sambil berderai air mata.
"Jahat! Kalian semua jahat! Pah ... Mah ... Kenapa kalian tinggalkan aku sendiri didunia ini? Kenapa kalian tidak bawa aku pergi bersama kalian? Pah ... Mah ... Aku merindukan kalian... Hiks... Hiks... Hiks... "
Tanpa Dara sadari, Kenzie mengikutinya dari belakang. Cukup lama dia menatap Dara yang menangis dari kejauhan.
"Bagaimana kamu bisa menangis dipinggir jalan seperti itu?", tanya Kenzie yang berdiri tepat dihadapan Dara sambil menyodorkan sapu tangan padanya.
Zara mendongak, menatap wajah orang yang berdiri dihadapannya.
"Pak Kenzie? Bagaimana anda bisa ada disini?". Dara menatap Kenzie dengan mata yang masih berkaca-kaca. Diapun meraih sapu tangan yang diberikan Kenzie dan perlahan berdiri.
"Aku mendapat undangan pesta, tapi tiba-tiba saja aku melihat sekretarisku berlari keluar meninggalkan pesta, karena itu aku mengikutimu. Aku pikir ada yang berani macam-macam dengan sekretaris pribadiku". Kenzie mendelik dengan senyum tipis dibibirnya saat dia mengejek Dara.
"Disini tidak ada yang tahu kalau saya sekretaris anda. Lagipula, anda melarang saya untuk menunjukkan batang hidung saya ditempat yang tidak dibutuhkan. Anda hanya mengizinkan saya menjadi sekretaris anda untuk berhubungan dengan klien bisnis saja". Dara mulai tenang dan menanggapi Kenzie dengan sikap acuh tak acuh dan bibir mengerucut.
"Kamu benar".
"Non Dara! Tolong tunggu sebentar! Nyonya meminta anda kembali ke dalam!". Dara menoleh ketika mendengar suara asisten neneknya.
"Sepertinya bukan tempat yang tepat jika kita terus berada disini", ujar Kenzie yang menatap asisten bu Melati dengan seringai tipis dibibirnya.
"Anda benar. Bisakah anda membawa saya juga?", tanya Dara dengan wajah memohon.
"Baiklah. Ayo pergi". Kenzie pun beranjak pergi darisana diikuti Dara yang berjalan dibelakangnya.
"Non Dara! Tolong kembali!", teriak Dodi sambil berlari mengejar Dara yang kini sudah masuk ke mobil Kenzie.
"Terima kasih karena sudah menolong saya", ujar Dara setelah mereka mulai menjauh.
"Bukan masalah besar". Kenzie menanggapi dengan sikap yang tenang.
__ADS_1
"Jadi sekarang... Kita mau kemana? Sebagai informasi kalau hari ini adalah akhir pekan dan saya tidak bisa menemani anda seharian. Jika anda ingin bersama saya maka anda harus membayar uang lembur 2x lipat". Noey bicara dengan sikap yang tenang sambil mengendarai mobil Kenzie. Sesekali dia melihat Kenzie dari kaca spion mobil.
"Ya ya ya. Aku ingat kalau kamu harus segera menjemput istrimu. Jadi kamu bisa turun sekarang dan aku akan bawa mobil sendiri. Aku juga tidak ingin menghabiskan akhir pekan denganmu jika tidak ada masalah pekerjaan yang penting,. Terlebih lagi kalau aku harus membayar uang lemburmu sebanyak 2x lipat, itu pemborosan yang tidak berguna". Kenzie menanggapi ucapan Noey dengan sikap acuh tak acuh.
Dara yang berada satu mobil dengan mereka, cukup terkejut melihat cara bicara Noey dan Zie diluar jam kerja. Mereka terlihat santai tanpa ada batasan. Dara terus menatap Zie dan Noey secara bergantian dengan tatapan heran. Sesekali terlihat senyum tipis diwajahnya sambil menggelengkan kepala.
"Kalau begitu aku turun disini. Aku akan naik taksi ke tempat Mariana". Noey langsung menepi dan menghentikan mobil setelah dia bicara. Dari sini Kenzie yang mengambil alih kemudi.
"Apa yang kamu senyumkan? Apa ada yang lucu?". Zie bertanya sambil fokus mengemudi. Sesekali dia menoleh pada Dara yang duduk disampingnya.
"Tidak ada. Saya hanya terkejut melihat sikap Pak Zie dan Pak Noey diluar jam kerja. Saat kerja kalian terlihat sangat serius, ternyata saat tidak bekerja, kalian berdua sangat akrab. Sepertinya kalian berdua adalah teman baik", ujar Dara sambil sesekali melempar senyum pada Kenzie.
"Hmn... Tidak bisa dikatakan teman baik juga. Bisa dibilang kalau dia adalah mata-mata Kenzo yang ditempatkan disebelahku. Terlepas dari itu kami sudah lama saling mengenal". Zie menjelaskan dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuh.
"Mata-mata? Kenapa bisa begitu?". Dara mengernyitkan dahi dan menatap Zie dengan heran saat dia bertanya.
"Kamu tentu pernah dengar tentang saudara kembarku kan?".
"Iya". Dara menanggapi sambil menganggukkan kepala.
"Benarkah? Tapi yang saya lihat hubungan pak Kenzie dengannya terlihat baik-baik saja. Tidak mungkin pak Noey bersikap seperti itu jika tidak menganggap pak Zie sebagai temannya". Dara memicingkan mata tak percaya ketika mendengar penjelasan yang diberikan oleh Kenzie.
"Lupakan tentang aku dan Noey. Apa yang kamu lakukan dirumah bu Melati? Bukannya kamu bilang kalau kamu tidak mengenalnya?". Kenzie mengalihkan pembicaraan dan bertanya dengan sikap yang tenang pada Dara.
"Saya … itu …".
Tidak mungkin aku menceritakan kehidupan pribadiku yang suram pada pak Kenzie. Aku hanya sekretarisnya saja.
Dara yang sebelumnya bersikap tenang dengan sesekali menunjukkan senyum, seketika langsung terlihat murung dan salah tingkah sambil menoleh ke sekelilingnya.
"Ehm … sepertinya ini sudah dekat dengan tempat tinggal saya. Anda bisa menurunkan saya disini", sambung Dara yang berusaha menghindari pembicaraan mengenai masalah pribadinya.
__ADS_1
"Benarkah? Ku kira tempat tinggalmu masih memerlukan waktu sekitar 1 jam darisini? Bukannya kamu tinggal diapartemen milik temanmu? Atau mungkin kamu sudah pindah rumah hanya dalam waktu 2 hari saja?". Kenzie bicara dengan sikap yang tenang dan senyum yang tipis, namun dalam kata-katanya tersimpan unsur mengejek Dara.
Aku baru tahu kalau mulut pak Kenzie sangat tajam.
Dara tidak dapat berkata apa-apa lagi dan langsung diam ketika mendengar ejekan dari Kenzie. Dia hanya memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela dengan wajah memerah karena malu.
...****************...
Sementara itu di kediaman Darmawan.
Pesta pertunangan Nasya masih berlangsung dengan meriah, namun bu Melati hanya diam di salah satu ruangan kosong dengan raut wajah kesal.
"Permisi Nyonya", ujar Dodi yang baru saja kembali dari upaya mengejar Dara.
"Bagaimana? Dimana gadis itu?!". Bu Melati langsung bertanya pada Dodi dengan sorot mata yang tajam.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak berhasil membawa nona Dara kemari. Dia sudah pergi menggunakan mobil pemuda asing". Dodi menjelaskan sambil menundukkan kepala karena gagal membawa Dara.
"Apa?! Dasar bodoh! Menangkap seorang gadis saja kamu tidak becus. Bagaimana bisa kamh kehilangan dia?!". Bu Melati berteriak kesal sambil menghentakkan tongkatnya ke lantai.
"Saat saya mendekati non Dara, dia dengan segera naik ke sebuah mobil. Saya tidak tahu itu mobil siapa, tapi yang pasti mobil itu sangat mewah dan tidak sembarangan orang bisa memilikinya". Dodi kembali menjelaskan mengenai apa yang dia lihat. Dia terlihat hati-hati agar bu Melati tidak semakin narah padanya.
"Maksudmu … Dara sedang memiliki hubungan dengan seseorang? Kamu yakin itu?". Bu Melati kembali bersikap tenang dan bertanya dengan raut wajah penuh tanya.
"Benar, Nyonya. Tidak mungkin kalau non Dara akan naik ke sembarangan mobil tanpa mengenalnya, atau mungkin memang non Dara naik sembarangan mobil untuk menghindari kerjaran saya".
Bu Melati terlihat diam sambil mempertimbangkan ucapan Dodi.
"Kamu benar. Selidiki siapa pria yang dekat dengan Dara! Jangan biarkan dia menjalin hubungan dengan orang sembarangan!", ujar Melati dengan raut wajah sinis.
"Baik, Nyonya. Saya permisi"
__ADS_1
Dara, aku tidak sudi jika kamu hidup bahagia. Kamu harusnya mati dengan mengenaskan seperti putraku dan ibu yang ja**ng itu!
Gumam bu Melati sambil mengencangkan pegangan pada tongkat yang dia bawa.