
"Rumah apa ini? Kenapa kecil sekali? Nenek, apa Nenek yakin kalau kita akan tinggal disini?". Nasya mengeluh sambil memperhatikan setiap sudut rumah yang akan mereka sewa.
"Kita tidak punya pilihan lain. Ini adalah pilihan rumah yang lebih baik untuk kita tinggali", sahut bu Melati menimpali sang cucu.
"Tapi, Nek. Rumah ini begitu kecil. Hanya ada 3 kamar dengan 1 kamar mandi. Bagaimana kita bisa tinggal dirumah kecil seperti ini? Aku tidak bisa. Aku harus menghubungi kak Lucky dan memintanya untuk membawaku tinggal bersamanya". Nasya terus saja mengeluh dengan apa yang dia dapatkan sekarang dan hendak menghubungi Lucky.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak boleh memberitahu Lucky mengenai kondisi kita sekarang. Nenek khawatir jika dia sampai tahu kondisi kita, mungkin dia akan memutuskan pertunangan kalian", ujar sang nenek yang bicara sambil menahan tangan Nasya yang hendak menghubungi Lucky.
Nasya terdiam memikirkan ucapan sang nenek.
Nenek benar. Apa yang akan terjadi jika kak Lucky tahu mengenai keadaanku saat ini? Tapi … sampai kapan aku bisa merahasiakan ini? Kak Lucky pasti akan segera mendengar kondisi keluargaku.
Nasya terus bergelut dengan pikirannya mengenai keadaannya saat ini dan juga hubungannya dengan Lucky.
"Soni, apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu terus diam seperti itu?". Bu Melati bertanya pada ayah Nasya setelah menyadari kalau putranya itu terus saja diam seribu bahasa.
"Mah, apa yang salah denganku ya? Karirku hancur, rumah tanggaku dengan kedua istriku juga sedang berada diujung tanduk, sekarang keadaan kita pun jadi seperti ini. Mau ditaruh ditaruh dimana mukaku?", ujar soni dengan raut wajah murung.
"Kamu sudah tahu aturan dalam pemerintahan petugasnya tidak boleh memiliki lebih dari satu istri, tapi kamu tetap melakukannya dan menunjukkan kepada semua orang tentang hubungan kalian. Menurutmu siapa yang harus disalahkan dalam hal ini?". Bu Melati menanggapi soni dengan sikap yang sinis dan tatapan yang tajam.
"Aku tidak tahu kalau akan ada seseorang yang mengenaliku bahkan sampai mengambil fotoku dan menyebarkannya ke media sosial". Soni menanggapi dengan sikap acuh tak acuh sambil berbaring di sofa yang tersedia disana.
"Aku yakin kalau Itu bukanlah perbuatan iseng. Pasti ini ulah musuh Papa yang ingin menggulingkan papa dari kursi penjabat. Pasti itu". Nasya menebak dengan sangat percaya diri.
"Musuh Papa? Siapa yang mungkin jadi pelakunya ya?", tanya Soni dengan suara lemah.
"Entahlah, kita tidak mungkin mencurigai setiap orang. Lebih baik kita istirahat sekarang. Kita harus menghadiri pelelangan besok", ujar bu Melati mengakhiri pembicaraan.
"Baik, Nenek"
...****************...
Beberapa hari kemudian, tibalah hari pelelangan aset milik keluarga Darawan.
"Nenek, apa kita harus menghadiri pelelangan itu?". Nasya bertanya dengan nada bicara yang manja.
"Tentu saja. Kita harus tahu siapa yang bisa membeli rumah dan juga perusahaan kita". Bu Melati menanggapi dengan sikap yang tenang sambil bersiap pergi kepelelangan.
"Dimana papamu? Nenek tidak melihatnya. Apa dia juga akan ikut dengan kita?", sambung bu Melati mencari putranya.
__ADS_1
"Hah, sejak hari itu … papa terus pergi kerumah perempuan itu dan pulang dalam keadaan mabuk. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan padanya". Keluh Nasya dengan acuh tak acuh.
"Bagaimana dengan ibumu dan Lucky? Nenek tidak pernah melihat kamu menghubungi mereka?". Bu Melati menatap Nasya dengan tatapan penasaran. Dia ingin tahu dengan perkembangan hubungan antara Nasya dengan ibu dan juga tunangannya.
"Aku tidak berani menghubungi mereka. Aku takut jika mereka akan menjauhiku".
Bu Melati terdiam sesaat setelah melihat raut wajah sedih cucunya.
"Sudahlah. Sebaiknya kita pergi sekarang. Nanti kita bicarakan lagi masalah itu", ujar sang nenek sambil beranjak pergi.
"Baik, Nenek". Nasya pun mengikutinya dari belakang.
...****************...
Sementara itu dirumah Kenzie.
Kenzie sedang menunggu Dara yang sedang bersiap untuk pergi kepelelangan. Dia menunggu sambil berbicara dengan bu Delia melalui sambungan telepon.
"Apa ada sesuatu yang ingin anda tanyakan pada saya?", tanya Kenzie dengan sikap yang tenang.
"Ehm … begini, apa tawaran anda pada saya untuk tetap bekerja diperusahaan Darmawan masih berlaku? Saya ingin mengambil kesempatan itu dan tetap mengelola perusahaan Darmawan. Biar bagaimanapun, saya sudah mengelola perusahaan itu sejak orang tua Dara meninggal dunia". Delia bicara dengan ragu-ragu dan sangat hati-hati.
"Baik. Saya mengerti. Saya akan mengelolanya dengan baik sampai Dara kembali". Delia menanggapi dengan senyum ceria sambil mengangguk berkali-kali.
"Bagus. Kalau begitu sampai jumpa dipelelangan nanti". Kenzie langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Delia.
"Bicara dengan siapa?".
Kenzie langsung menoleh begitu mendengar suara sang istri yang baru saja selesai berias.
"Wow, hampir saja aku pingsan karena mengira kalau ada bidadari turun dari khayangan dan datang kerumahku", goda Kenzie sambil berjalan menghampiri sang istri.
"Ternyata kamu pandai merayu juga ya? Tidak heran kalau banyak gadis tergila-gila padamu", ujar Dara menimpali dengan senyum manis.
"Ya banyak gadis yang memang tergila-gila padaku, tapi aku hanya tergila-gila pada satu gadis yang berdiri dihadapanku saja". Dara kembali terdiam dengan wajah merah merona.
"Aaah … sudah hentikan!". Dara yang salah tingkah mejerit sambil menutup mulut Kenzie dengan kedua tangannya.
Kenzie yang merasa senang dengan respon Dara, tersenyum manis lalu mengecup tangan Dara yang menutup mulutnya.
__ADS_1
Cup!
Dara semakin tersipu dibuatnya dan berbalik meninggalkan Kenzie dengan wajah yang bahkan lebih merah dari tomat rebus.
"Sudahlah kita harus berangkat sekarang sebelum terlambat!", ujar Dara sambil berlalu pergi. Kenzie yang melihatnya hanya tersenyum dan mulai melangkahkan kaki mengikuti sang istri.
...****************...
Pelelangan dilakukan dikediaman Darmawan. Disana sudah terlihat banyak orang yang berkumpul termasuk bu Melati dan juga Nasya.
"Ternyata ramai juga yang datang", ujar Nasya sambil menoleh kesana kemari.
"Tentu saja. Itu semua karena mereka ingin menertawakan kita". Bi Melati menanggapi dengan sikap yang sinis.
"Perhatian-perhatian. Terimakasih atas kehadiran anda sekalian di acara pelelangan aset milik keluarga Darmawan. Saat ini kita akan melakukan lelang terhadap gedung perusahaan dan juga rumah beserta isinya. Dimulai dengan gedung perusahaan. Harga awal adalah 15 milyar. Silahkan!"
"15,1 milyar!"
"15,1 pertama, ada lagi?"
"15,5 milyar!"
"15,5 milyar, ada lagi?"
"16 milyar!"
"16 milyar pertama, ada lagi?"
"17 milyar!"
"20 milyar!". Semua terkejut mendengar tawaran saat ini yang terhitung sangat tinggi untuk bangunan gedung tua.
"Hah? Siapa itu? Bukankah itu Kenzie?". Semua orang saling berbisik setelah tahu kalau Kenzie yang memberikan tawaran tertinggi saat ini".
"Nenek, untuk apa pak Kenzie membeli gedung perusahaan kita? Bukannya dia sudah punya perusahaan yang sangat bagus?". Nasya yang bingung bertanya pada sang nenek.
"Entahlah. Mungkin dia hanya ingin mengejek kita", jawab bu Melati yang juga tidak mengerti.
"20 milyar pertama. Apa ada lagi yang ingin menawar?". Pembawa acara pun bertanya sambil memperhatikan sekeliling. Setelah memperhatikan dan sepertinya tidak ada lagi yang ingin menawar, diapun melanjutkan
__ADS_1
"Kalau begitu kita akan mulai hitung sampai 10. 1… 2… 3… 4… 5… 6… 7… 8… 9… 10. Terjual!"