Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Rencana Delia


__ADS_3

Dara dan Kenzie masih berada dirumah sakit setelah mengobati kaki Dara. Dia mendapat beberapa jahitan dikakinya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?", tanya Dara pada Kenzie yang menatapnya dengan lekat.


"Bagaimana kamu bisa melukai kakimu sendiri seperti itu? Apa yang akan terjadi jika aku tidak datang kesana?". Kenzie bicara dengan nada yang dingin dan tatapan yang tajam.


"Sudah aku bilang kalau aku tidak sengaja menginjak sesuatu saat permainan mencari harta karun", Dara menanggapi dengan nada yang sedikit malas.


"Apa kamu hanya seorang diri? Bukannya ini berkelompok?". Kenzie bertanya dengan sikap yang dingin.


"Memang berkelompok, dan kelompokku tetap melanjutkan pencarian mereka". Dara menjelaskan dengan hati-hati karena dia tahu kalau Kenzie tengah marah.


"Apa kamu masih marah? Aku sudah mendapat perawatan sekarang dan bukankah itu yang penting?", sambung Dara dengan hati-hati. Dia juga menatap Kenzie dengan tatapan polos agar Kenzie tidak marah lagi padanya.


"Haa … apa kamu akan diam saja diperlakukan seperti itu? Kamu harusnya lebih waspada pada orang lain". Kenzie pun menghela napas panjang dan kembali bicara dengan lembut.


"Aku tidak bisa menyalahkan mereka atas luka yang aku terima ini karena ini adalah kecelakaan, tapi kalau alasan mereka meninggalkanku begitu saja padahal kakiku sedang terluka... sepertinya mereka belum pernah merasakan ditinggalkan sendiri saat sedang kesusahan?". Dara bicara dengan acuh tak acuh namun ada seringai tipis yang terlihat dari bibir mungilnya.


"Sepertinya istriku sudah tahu cara bermain-main? Apa kamu sudah kembali jadi sekretarisku yang disegani?". Kenzie pun menanggapi ucapan Dara dengan sikap yang tenang dan senyum yang tipis.


"Tidak, karena Dara sekretaris anda sudah meninggal. Sekarang saya adalah Ana, istri sekaligus sekretaris pribadi anda. Saya akan menikmati permainan kecil ini sambil perlahan menikmati permainan besar yang akan ditampilkan dari keluarga Darmawan". Dara bicara dengan sangat yakin sambil perlahan menggoda Kenzie.


"Aku suka rasa percaya dirimu ini. Aku akan menikmati permainan istriku"


...****************...


Ditempat lain,

__ADS_1


Nasya sedang berada dikantornya sambil memeriksa daftar nama toko yang tidak memperpanjang kontraknya dan memilih meninggalkan mall miliknya.


"Apa iya sebanyak ini?", tanya Nasya pada sekretarisnya dengan tatapan tidak percaya.


"Benar, Bu. Toko-toko ini memilih keluar dari mall kita. Mereka bilang kebijakan mall ini sudah tidak cocok dengan mereka". Sekretaris Nasya menjelaskan dengan rahu dan hati-hati.


"Apa sudah dicoba melakukan negosiasi ulang? Toko-toko ini merupakan merk terkenal dan mereka juga termasuk daya tarik mall kita selama ini". Nasya berusaha mencari solusi tentang mallnya.


"Kami sudah mengupayakan banyak cara tapi mereka tetap menolak". Sekretaris Nasya menjelaskan sambil menggelengkan kepalanya berkali-kapi sebagai tanda kalau usahanya telah gagal.


"Baik, aku mengerti. Kita sudahi sampai disini dulu. Kamu bisa kembali bekerja".


Sekretaris Nasya pun langsung beranjak oergi setelah mendapatkan izin dari atasannya.


"Apa sudah tidak bisa dipertahankan lagi?", gumam Nasya sambil menatap keluar jendela..


...****************...


"Bu, apa anda yakin akan meninggalkan perusahaan ini?". Sekretaris Delia bertanya dengan khawatir pada atasannya yang sedang mengemas barangnya.


"Tentu saja aku sangat yakin. Aku sudah tidak sudi lagi mengabdikan diriku pada keluarga ini". Delia menanggapi dengan sikap yang sinis tanpa menoleh pada sekretarisnya.


Sekretaris Delia terdiam mendengar perkataan atasannya.


"Izinkan saya ikut bersama anda".


Ucapan sekretarisnya membuat Delia berhenti lalu menatap sekretarisnya itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu ingin ikut denganku padahal sudah lama kamu bekerja disini?", tanya Delia dengan tatapan serius.


"Saya kerja disini juga mengikuti anda. Dari awal, andalah yang menerima saya jadi sekretaris, jadi saya ingin mengikuti atasan saya". Sekretaris Delia menjawab dengan senyum lembut diwajah cantiknya.


"Apa kamu yakin?Kamu tahu sendiri kalau keluargaku hanya keluarga kecil diluar kota. Jika kamu mengikutiku, maka kamu harus memgikutiku kesana". Delia berusaha membuat sekretarisnya mempertimbangkan kembali keinginannya.


"Tapi keluarga kecil yang anda maksud itu memiliki perusahaan yang cukup menjanjikan. Tapi sejauh yang saya tahu anda sama sekali tidak tertarik dengan mengelola perusahaan dan apapun itu, saya tetap ingin berada disamping anda". Sekretaris Delia tetap yakin dengan pendiriannya.


"Bella, dengarkan aku. Kamu masih muda masih banyak perusahaan lain yang bisa menjanjikan masa depan yang lebih baik untukmu. Terlebih lagi kamu memiliki pengalaman kerja sebagai sekretaris pribadi selama beberapa tahun terakhir".


"Maaf, bu. Tapi sebelum saya jadi sekretaris berpengalaman seperti yang anda katakan, saya hanyalah remaja tanpa kualifikasi sebagai sekretaris dan juga tanpa gelar pendidikan apapun. Anda yang mau menerima saya dan mengajari saya banyak hal, jadi saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk belajar lebih banyak dari anda".


Delia terdiam mendengar ucapan bella. Dia kembali mengingat saat wawancara diperusahaan Darmawan untuk pisisi sebagai sekretarisnya. Bella adalah salah satu pelamar dari sekian banyak orang yang hadir saat itu. Dia tidak berpengalaman dan masih sangat muda. Bella juga tidak menerima pelatihan khusus sebagai sekretaris maupun gelar pendidikan tinggi. Dia hanyalah remaja biasa dengan pendidikam terakhir SMA, namun yang membuat Delia menerima Bella sebagai sekretarisnya adalah dia begitu gigih, cerdas dan percaya diri. Dia tidak malu sama sekali meskipun palamar lain memiliki kualifikasi sebagai sekretaris dan berpendidikan tinggi, Bella tetap optimis dan menunjukkan semua kemampuannya.


"Haa … aku tidak bisa mengatakan apapun lagi. Kamu bisa melakukan apapun yang ingin kamu lakukan, asalkan kamu berjanji satu hal padaku". Delia menghela napas panjang karena perdebatannya dengan Bella.


"Apa itu, Bu?". Bella tampak bersemangat dan terlihat sangat antusias mendengar ucapan Delia.


"Saat kamu merasa tidak tahan menjadi sekretarisku dengan perkejaan baruku nanti, kamu harus berhenti dan tidak boleh memaksakan dirimu mengikutiku".


"Baik, Bu. Saya mengerti. Terima kasih banyak". Bella menjawab tanpa ragu dan penuh dengan semangat.


"Kalau begitu kamu bisa buat surat penguduran diri dan langsung kemasi barangmu. Kita akan meninggalkan perusahaan ini sekarang juga".


"Baik". Bella langsung berbalik pergi meninggalkan ruangan Delia untuk mengemasi barangnya.


Delia menatap kembali setiap sudut ruangannya setelah dia selesai mengemasi semua barang miliknya.

__ADS_1


"Aku mengelola dan mengembangkan perusahaan ini sejak orang tua Dara meninggal. Sudah sangat lama dan begitu banyak upaya yang aku lakukan untuk perusahaan dan juga keluarga ini. Tetap saja pada akhirnya aku hanya dimanfaatkan oleh mereka. Tapi tidak lagi. Aku yang membesarkan perusahaan ini dengan tanganku sendiri, jadi aku tidak ingin orang lain yang menikmati hasilnya. Karena itu perusahaan ini harus hancur. Dan orang yang bisa melakukannya hanya ada satu orang. Aku harus segera menemui orang itu secepatnya".


Delia bicara pada dirinya sendiri sambil mengusap kursi pemimpin tempatnya duduk. Matanya menatap tajam kearah jendela penuh tekad dengan nada bicara yang dingin.


__ADS_2