
"Bagaimana kondisinya?", tanya Kenzie pada dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD.
"Kondisi pasien kritis. Meskipun pasien tidak terkena ledakan secara langsung, namun percikan api yang besar mengenai wajah korban dan merusak jaringan kulitnya. Wajah dan bagian tangan korban mengalami luka yang sangat parah. Pasien harus menjalani operasi plastik untuk memperbaiki jaringan kulitnya".
Kenzie mendengarkan dengan seksama ketika dokter menjelaskan padanya mengenai kondisi Dara saat ini. Dia berpikir mengenai tindakan yang harus diambil untuk kesembuhan Dara.
"Operasi plastik? Apa bisa dilakukan dirumah sakit ini? Atau … Dara harus dibawa kerumah sakit lain?". Kenzie memicingkan mata dengan dahi berkerut saat memastikan operasi Dara.
"Pasien harus dirujuk kerumah sakit lain, karena rumah sakit ini tidak melakukan bedah plastik secara menyeluruh. Saya akan memberikan rujukan untuk pasien agar bisa dipindahkan kerumah sakit tersebut. Begitu kondisi pasien mulai stabil, kita bisa langsung memindahkannya".
Kenzie mengangguk-anggukkan kepalanya memahami apa yang dikatakan dokter.
"Baiklah dokter, saya akan mengikuti instruksi anda. Saya harap ini bisa jadi pilihan terbaik untuk tunangan saya. Saya percaya kalau anda akan melakukan yang terbaik untuk setiap pasien".
"Tentu. Kesembuhan pasien adahal hal yang saya utamakan. Kalau begitu saya permisi".
"Ya, silahkan"
"Apa yang dikatakan oleh dokter? Bagaimana kondisi Dara?". Noey mendekati Kenzie dan bertanya padanya setelah dokter beranjak pergi dari hadapan Kenzie.
"Kondisi Dara lebih buruk dari yang kita duga. Dia harus menjalani operasi plastik karena jaringan kulit pada bagian wajah dan tangannya rusak. Dokter akan memberikan rujukan untuk Dara dipindahkan kerumah sakit lain. Noey sementara itu, sepertinya aku tidak bisa pergi kekantor. Aku harap kamu bisa menjaga kantorku agar tetap stabil". Kenzie bicara dengan sikap yang dingin sambil terus memperhatikan keruang ICU dimana Dara sedang dirawat.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga kantormu dan melaporkan setiap hal detilyang penting padamu. Hanya saja … bagaimana jika ibumu dan Kenzo tahu kalau kamu tidak datang ke kantor dan justru menemani Dara dirumah sakit? Tidak akan jadi masalah jika Kenzo yang datang untuk memeriksa keadaanmu, tapi kamu tahu sendiri kan keributan seperti apa yang akan ditimbulkan ibumu jika dia sampai mendengar kalau kamu tidak datang ke kantor dan menemani seorang gadis dirumah sakit?". Noey mengerutkan dahi dan menunggu jawaban dari Kenzie.
__ADS_1
"Ya. Aku tahu. Membayangkan mami datang kesini saja sudah membuatku merinding. Jangan sampai mami tahu kalau aku tidak pergi kekantor. Kamu harus menutupi hal itu sebisa mungkin dari mami. Kurasa mami tidak akan mengecek langsung cara kerjaku. Mami hanya butuh laporan dan perkembangan bagus dari kantor yang disini saja"
"Baiklah. Aku mengerti. Kamu tidak perlu memikirkan masalah kantor. Aku akan langsung menghubungimu jika ada sesuatu yang penting"
"Terimakasih karena kamu selalu membantuku. Sepertinya untuk sementara waktu ini, kamu tidak akan bisa menghabiskan waktu dengan istrimu". Kenzie tersenyum sambil menggoda Noey.
"Tidak perlu khawatirkan itu. Karena aku sudah menikah, aku bisa bertemu dengan istriku kapan saja. Tidak ada yang bisa melarangku menghabiskan waktu dengannya setelah aku pulang bekerja". Noey menanggapi Kenzie dengan senyum penuh kemenangan.
"Cih. menyebalkan!". Kenzie berdecih dengan senyum mencibir saat dia tidak berhasil menggoda Noey.
Tak berselang lama saat kunjungan pasien telah tiba, Kenzie diizinkan masuk keruang ICU untuk menjenguk Dara. Air matanya mulai mengalir ketika melihat Dara terbaring diranjang rumah sakit dengan badan penuh selang, wajahnya tertutup perban dan napas yang dibantu dengan oksigen. Kenzie duduk disebelahnya sambil memegangi sebelah tangan Dara.
"Ra, apa kamu bisa mendengarku? Melihatmu seperti ini membuat hatiku sakit. Yang biasanya aku lihat adalah Dara yang ceria dan berani, tapi hari ini aku harus melihat kami terbaring tak berdaya seperti ini. Maafkan aku karena aku gagal melindungimu. Ra, kumohon, bertahanlah. Aku janji setelah kamu sembuh, aku akan menjagamu disisiku. Tidak akan kubiarkan siapapun mengganggumu lagi. Dan untuk keluarga Darmawan, aku akan merebut kembali semua hal yang seharusnya jadi milikmu. Akan kupastikan kalau mereka kehilangan semuanya secara perlahan. Aku akan membuat mereka malu dan mengakui kalau selama ini merekalah yang menyebarkan berita bohong tentangmu. Ra, apa kamu mendengarku? Kuharap kamu mendengar semua yang aku katakan padamu. Hanya kamu yang bisa jadi pendampingku. Jadi kumohon, bertahanlah. Aku akan mencarikan dokter bedah plastik terbaik untukmu". Kenzie bicara sambil menitikan air mata dan mencium punggung tangan Dara yang lemas tak berdaya. Tanpa Kenzie sadari Dara ikut meneteskan air mata dalam ketidak sadarannya.
Beberapa hari kemudian.
Dokter memanggil Kenzie sebagai wali Dara untuk membicarakan sesuatu mengenai Dara.
"Dok, ada apa memanggil saya? Apa anda sudah mendapatkan informasi mengenai dokter terbaik yang bisa melakukan operasi tunangan saya?". Kenzie bertanya dengan sikap dingin dan berwibawa.
"Ya. Saya sudah mendapatkannya dan kebetulan dokter itu sedang ada dinegara ini. Beliau sedang melakukan praktek disalah satu rumah sakit besar dikota. Saya akan merujul tunangan anda. Kabar baiknya juga, saat ini kondisi pasien sudah berangsur membaik, jadi kita bisa memindahkannya hari ini juga. Saya sudah menghubungi dokternya dan beliau juga setuju". Dokter menjelaskan pada Kenzie sambil tersenyum lega. Dia pun terlihat bahagia mendapatkan kabar perkembangan pasiennya.
"Benarkah? Itu kabar yang sangat baik. Kalau begitu kita tidak perlu menundanya lagi. Saya akan mengurus administrasinya sekarang juga". Kenzie pun terlihat sangat antusias mendengar kabar dari dokter mengenai Dara.
__ADS_1
"Ya silahkan. Saya juga akan meminta salah satu suster untuk bersiap dan pergi menemani anda kesana"
"Baiklah, dok. Terima kasih banyak. Permisi". Kenzie pun beranjak pergi dari ruangan dokter dengan senyum bahagia tersungging dibibirnya. Beban berat yang menimpanya seakan terangkat sudah ketika mendengar kabar baik kalau Dara bisa segera disembuhkan.
Sembari menunggu menyelesaikan administrasi, Kenzie menghubungi Noey.
"Halo Noey. Bagaimana perkembangan dilantor? Apa ada masalah?", tanya Kenzie tanpa basa basi terlebih dahulu.
"Semuanya baik-baik saja. Apa terjadi sesuatu dirumah sakit?", tanya Noey setelah mendengar daei nada bicara Kenzie yang sepertinya sedang bahagia.
"Ya, dokter bilang kalau Dara bisa segera dioperasi dan kebetulan dokternya sedang berada di negara ini, jadi aku akan memindahkan Dara hari ini juga". Kenzie menjelaskan dengan sikap yang tenang dan senyum manis yang tak pernah hilang dari wajahnya.
"Benarkah? Itu kabar bagus. Sepertinya, kamu juga sangat bahagia mendengarnya", ujar Noey dengan sikap dinginnya.
"Tentu saja aku bahagia. Mana mungkin tidak. Orang yang aku sayangi bisa segera melakukan operasi dan terlepas dari penderitaannya. Apa yang akan membuatku tidak bahagia?"
"Apa kamu tidak khawatir?". Noey terlihat sangat penasaran dengan dahi berkerut menunggu jawaban Kenzie.
"Khawatir tentang apa? Aku hanya khawatir kalau terlalu lama Dara tidak dioperasi maka dia akan semakin menderita karena sakit", ujar Kenzie dengan sikap acuh tak acuh.
"Bukan itu. Jika Dara melakukan operasi plastik, maka otomatis wajahnya akan berubah. Kamu tidak khawatir mengenai perubahan Dara?"
"Untuk apa khawatir? Yang aku cintai adalah Dara, bukan wajah Dara. Jadi dia berubah seperti apapun, aku tidak peduli. Asalkan dia sembuh kembali dan bisa berada disisiku lagi"
__ADS_1