Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Tantangan Dari Cheva


__ADS_3

Dara dan Cheva menikmati makan malam mereka sambil bercengkrama dan sesekali tertawa bersama. Mereka terlihat sangat anggun dan berkelas. Diantara para tamu restoran ada 2 orang pria yang terus memperhatikan mereka berdua.


"Mih, sepertinya ada yang memperhatikan kita sejak tadi". Dara bicara dengan nada suara yang pelan sambil melirik pria yang terus memperhatikan mereka.


"Benarkah? Mana? Apa mereka tampan?". Cheva pun bertanya dengan antusias pada Dara.


"Itu, Mih. Yang duduk disebelah sana". Dara menunjuk kedua pria itu dengan dagunya.


Cheva pun menolehkan kepala mengikuti arah yang Dara tunjukkan.


"Ah, tidak lebih tampan dari suamiku". Cheva menanggapi dengan nada mencibir.


"Tentu saja Mih. Mereka juga tidak lebih tampan dari suamiku". Dara pun menanggapi dengan hal serupa sambil sedikit menoleh dan mereka pun tersenyum. Setelah itu mereka kembali fokus pada makanan masing-masing.


"Permisi. Bolehkah kami bergabung disini?", tanya seorang pria yang tanpa diduga menghampiri meja Cheva dan Dara.


Cheva dan Dara menoleh perlahan dan memperhatikan kedua pria yang kini berdiri di samping mereka.


"Maaf, kami tidak menerima orang luar", jawab Cheva dengan sikap yang dingin.


Dara memperhatikan sikap Cheva yang berubah seketika.


"Apa kalian akan menolak kami meskipun belum saling mengenal?", ujar pria tadi dengan sikap yang lembut.


"Kami sudah punya suami, jadi tidak perlu berkenalan dengan pria lain lagi". Dara pun ikut menanggapi dengan sikap yang dingin.


Cheva tersenyum melihat tanggapan Dara. Namun sepertinya kedua pria itu tidak ingin mundur begitu saja.


"Benarkah? Padahal kamu adalah tipeku. Sayang sekali". Salah satu pria itu masih terus saja berusaha mendekati Dara.


"Sudahlah Kris. Ayo kita pergi. Maaf sudah mengganggu waktu kalian". Salah satu pria bersikap sopan dan berusaha membawa rekannya pergi.


"Tunggu. Nona tidak bisakah kita berteman saja. Mungkin suatu hari nanti anda berubah pikiran", ujar pria satu lagi dengan nada menggoda.

__ADS_1


Cheva yang mulai kesal kini menoleh pada pria itu dan menatapnya dengan sorot mata yang tajam.


"Apa kamu tidak berniat pergi? Bukankah putriku sudah bilang kalau kami tidak ingin dekat dengan kalian?", ujar Cheva dengan sikap yang dingin.


"Apa dia putrimu?", tanya rekan Kris yang bernama Fauzi. Dia menatap Cheva dengan tatapan tak percaya.


"Ya, dia putriku. Apa ada masalah?". Cheva menjawab dengan sikap yang tegas.


"Oh tidak. Maaf kalau aku bersikap tidak sopan. Aku hanya tidak percaya kalau dia putrimu. Kalian tidak terlihat seperti ibu dan anak, tapi terlihat seperti kakak beradik". Fauzi menjelaskan dengan tergesa-gesa karena takut Cheva tersinggung.


"Sudahlah. Sebaiknya kalian pergi karena aku ingin menikmati waktu makan dengan putriku tanpa gangguan dari orang luar". Lagi-lagi Cheva bersikap tegas dan dingin agar kedua pria itu pergi.


"Tante. Saya hanya ingin mengenal putri tante. Apa benar-benar tidak boleh? Tante tidak akan menyesal jika membiarkan kami saling dekat. Aku bisa memberikan koneksi tanpa batas untuk setiap urusan tante". Kris bicara dengan sikap yang sombong.


Cheva langsung menatap Kris dengan tatapan yang tajam.


"Memangnya kamu siapa sampai kamu berani mengatakan hal itu padaku?", tanya Cheva yang sedang menahan kesal dengan mengeratkan giginya.


"Aku Kristian Budiono, salah satu pengusaha muda yang berpengaruh di kota ini". Kris memperkenalkan dirinya dengan bangga dan penuh percaya diri.


"Aku punya sebuah perusahaan makanan dan juga beberapa restoran siap saji". Kris menjawab dengan sikap tenang dan bangga.


"Oh. Hanya itu saja? Hanya perusahaan itu saja dan kamu sudah berani sombong padaku". Cheva menanggapi Kris dengan nada mencibir.


"Apa maksud anda? Perusahaanku cukup besar dan restoranku juga selalu ramai jadi omset kami juga lumayan besar". Kris menjelaskan dengan sedikit kesal karena cibiran Cheva.


"Ya, itu menurutmu. Tapi alangkah baiknya kalau kamu tidak menyombongkan hal sepele seperti itu. Perusahaan yang kamu bilang besar itu tidak bisa dibandingkan dengan keluarga kami. Bahkan mungkin keneksi yang kamu banggakan tidak lebih tinggi dari koneksi yang aku miliki, jadi aku tidak butuh koneksi darimu. Malah bisa jadi kamulah yang membutuhkan koneksi dari kami". Kali ini Cheva bersikap tenang dan penuh wibawa.


"Benarkah? Memangnya siapa anda sampai berani berkata seperti itu? Jika anda memang memiliki keneksi besar seperti yang anda katakan, maka aku pasti mengenal anda", ujar Kris yang sama sekali tidak ingin dipandang rendah.


"Aku? Chevania Sayna Krisnajaya. Tidak mungkin kalau kamu tidak pernah mendengar namaku. Dinegara ini memang aku tidak punya perusahaan sendiri, karena putraku yang mengelola perusahaan disini. Tapi tetap saja namaku selalu diperhitungkan oleh kalangan pebisnis". Cheva menjelaskan dengan senyum tipis penuh kebanggaan.


"Chevania … Sayna … Krisnajaya? Pewaris perusahaan Kusuma?". Kris tampak terkejut setelah mendengar nama Cheva. Kini dia hanya bisa terdiam tanpa berani mengatakan apapun lagi.

__ADS_1


"Nyonya, maafkan kekurang ajaran teman saya. Kami sama. sekali tidak bermaksud mengganggu ataupun menyinggung nyonya". Fauzi yang melihat rekannya tersudut kini berinisiatif meminta maaf pada Cheva.


"Ya ya aku maafkan. Sekarang bisakah kalian meninggalkan kami berdua? Kalian sungguh menyita banyak waktu kami". Cheva bicara dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh.


"Baiklah. Kami tidak akan mengganggu waktu anda lebih banyak lagi. Kalau begitu kami permisi".


Cheva hanya mengangguk tanpa memperhatikan kedua pemuda itu. Fauzi dan Kris pun langsung beranjak pergi dari hadapan Cheva.


"Cih. Mereka sombong sekali. Padahal mereka hanya wanita ****** yang berlindung dibalik nama keluarga mereka. Rasanya aku ingin memberikan pelajaran dengan meniduri mereka. Pasti sangat menyenangkan melihat mereka mengerang dibawah tubuh kita", ujar Kris sambil berlalu pergi menjauh dari Cheva.


"Mami …". Dara yang mendengar ucapan Kris menatapnya dengan kesal lalu menoleh pada Cheva yang juga terlihat kesal.


"Pelankan suaramu! Kamu juga tidak boleh bicara sembarangan! Akan berbahaya bagi perusahaanmu jika mereka mendengarnya". Fauzi menegur Kris agar dia lebih manjaga mulutnya.


"Mereka tidak mungkin mendengar kita. Lagipula … mereka hanya wanita, tidak mungkin mereka berani melawan laki-laki". Kris menanggapi dengan nada yang mencibir.


"Tapi …"


"Tunggu!". Langkah kaki Kris dan Fauzi terhenti setelah mendengar suara Cheva. Mereka berbalik untuk melihat Cheva.


Cheva yang mendengar pembicaraan Fauzi dan Kris terlihat kesal dan penuh amarah. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Kris dan Fauzi yang belum terlalu jauh darinya.


"Tadi kamu bicara apa?", tanya Cheva dengan sikap yang dingin.


"Tidak. Saya tidak mengatakan apa-apa", ujar Kris berusaha mengelak.


"Wanita sombong, ****** yang hanya berlindung dibalik nama keluarga, kamu ingin meniduri kami. Kamu pikir kami tuli sampai-sampai tidak mendengar kata-kata kotor dari mulut sampahmu itu?". Cheva bicara dengan sikap yang dingin dan mengintimidasi. Dia sama sekali tidak terlihat takut pada kris yang berbadan tinggi dan besar.


"Oh, bukankah itu memang kenyataan?!"


"Hust!". Fauzi menegur Kris dengan menyenggol tangannya.


"Biarkan saja. Toh itu memang kenyataan". Kris tidak ingin mendengarkan peringatan Fauzi dan bicara dengan nada menantang Cheva.

__ADS_1


"Oh jadi begitu. Aku menantangmu untuk bertanding denganku. Kamu bisa menentukan pertandingan yang ingin kamu lakukan!"


__ADS_2