Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Terbongkarnya Perselingkuhan Ayah Nasya


__ADS_3

"Halo, apa kamu bersama bapak?". Delia sedang bertanya pada asisten suaminya melalui sambungan telepon.


"Umm … saya … ". Asisten ayah Nasya terdengar gugup untuk berbohong.


"Apa bapak ada tugas diluar kota? Ada sesuatu yang harus saya sampaikan pada bapak", ujar Delia berusaha meyakinkan asisten suaminya.


"Tidak, Bu. Bapak ada dikantor". Jelas asisten ayah Nasya dengan sikap tenang.


"Oh begitu. Terima kasih". Delia langsung menutup teleponnya setelah dia mendapatkan jawabannya.


"Masih siang. Sebaiknya aku kesana", gumam Delia setelah dia melihat jam tangannya. Dia pun langsung mengendarai mobilnya menuju tempat kerja sang suami.


Perjalanan menuju kantor suaminya memakan waktu lumayan lama, namun karena dia berangkat sebelum jam pulang kantor, jadi jalanan belum terlalu macet. Tidak butuh waktu lama untuknya tiba di kantor sang suami.


"Apa papa sudah pulang? Seharusnya belum karena dia sangat loyal pada pekerjaannya sebagai wakil daerah", gumam Delia sambil terus memperhatikan kantor sang suami yang ada didepannya.


Tak berapa lama terlihat sang suami keluar dari kantornya.


"Itu papa. Ternyata dia memang tidak keluar kota, tapi kenapa dia harus berbohong?", gumam Delia lagi yang melihat sang suami. Diapun mengikuti mobil suaminya dari belakang. Delia memberikan sedikit jarak agar suaminya tidak sadar akan keberadaannya.


"Papa mau pergi kemana ya? Ini kan bukan jalan pulang?". Delia bicara sambil terus memperhatikan jalan sekelilingnya dan memperhatikan mobil sang suami agar tidak kehilangan jejak. Dia menghentikan mobilnya setelah melihat mobil sang suami berhenti disebuah rumah yang cukup besar.


"Papa sudah pulang".


Papa?!


Delia sangat terkejut mendengar suara seorang wanita yang memanggil suaminya dengan sebutan papa. Terlebih lagi dia juga menggendong seorang anak kecil dipangkuannya.


Air matanya perlahan mulai mengalir di kedua pipinya. Delia turun dari mobil untuk melihat secara langsung kebahagiaan sang suami yang saat inibtengah menggendong anak kecil sambil tertawa ceria ditemani seorang wanita dsampingnya. Langkah kakinya seakan berat, tubuhnya gemetar, namun Delia tetap ingin memastikan prasangkanya.


"Pah, siapa mereka?". Delia bertanya dengan suara gemetar karena tangisnya.

__ADS_1


Suaminya menoleh setelah mendengar suara yang tidak asing ditelinganya. Dia menatap Delia dengan raut wajah terkejut dan mata membelalak.


"Ma-ma? Apa yang Mama lakukan disini?", tanya sang suami yang terkejut, diapun menatap wanita disampingnya dengan ekspresi bingung dan canggung.


"Siapa mereka? Kenapa kamu terlihat akrab dengan mereka?". Delia bertanya dengan derai air mata dipipinya. Diapun sambil menunjuk wanita disamping sang suami.


"Ini... Mereka...". Ayah Nasya tampak bingung saat menjelaskan pada sang istri.


"Pah, siapa dia?". Wanita itu bertanya tentang Delia.


"Pah? Dia juga memanggilmu Papa? Sepertinya hubungan kalian itu jauh melebihi ekspektasiku". Delia bertanya pada suaminya dengan senyum ketir dibibirnya.


"Soni Darmawan, sebaiknya kamu jelaskan padanya siapa aku!", sambung Delia dengan sikap yang dingin.


"Oh tidak perlu, aku berubah pikiran. Cukup katakan saja aku mantan istrimu. Aku akan segera mengurus perceraian kita. Setelah apa yang aku lakukan pada keluargamu selama ini, inilah perlakukan yang aku dapatkan darimu? Tidak tahu terima kasih. Aku tidak bisa terima. Aku pastikan akan menghancurkan semuanya". Delia bicara dengan penuh emosi. Diapun membalikkan badan hendak meninggalkan sang suami.


"Tunggu, sayang!". Ayah Nasya langsung memberikan anak yang dia gendong pada ibunya dan bergegas mengejar Delia ke mobilnya.


"Sayang, dengarkan penjelasanku dulu. Aku mengaku salah, tapi kamu tidak boleh meninggalkanku begitu saja!". Ayah Nasya berusaha menahan Delia dengan bicara padanya.


"Sebenarnya siapa wanita itu?", tanya istri muda Soni


"Dia istri pertamaku". Soni menanggapi dengan tenang sambil menatap mobil Delia yang semakin menjauh.


"Apa?! Bukankah kamu bilang kalau kamu tidak memiliki istri?! Jadi selama ini kamu juga membohongiku? Selama ini kamu menjadikan aku sebagai istri simpanan?!". Wanita itu sangat terkejut mendengar jawaban Soni. Air matanya pun tak terbendung mengetahui kalau selama ini dia telah dibohongi.


"Aku tidak bermaksud begitu. Tolong dengarkan aku dulu". Ayah Nasya berusaha meyakinkan istri mudanya yang tengah menangis sambil berjalan memasuki rumah.


"Apalagi yang harus aku dengar?! Selama ini aku pikir kamu adalah suami terbaik yang sangat menyayangiku dan juga putra kita. Kamu selalu menghujaniku dan anakku dengan kasih sayang. Aku tidak pernah berpikir kalau ternyata kamu memiliki istri lain. Aku tidak ingin melihatmu lagi!". Wanita itu langsung berbalik masuk ke dalam rumah meninggalkan Soni yang berusaha menahannya.


"Sayang! Sayang, dengarkan aku dulu!. Ayo buka pintunya. Kita perlu bicara!". Soni terus berteriak dibalik pintu memanggil sang istri.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan! Sebaiknya kamu pergi dan selesaikan urusanmu!", ujar sang istri disela isak tangisnya. Dia sama sekali tidak membukakan pintu untuk Soni.


"Bagaimana ini? Aku harus kembali dan menjelaskan semuanya pada Delia", gumam Soni dan langsung beranjak pergi mengendarai mobilnya untuk mengejar Delia.


...****************...


Ditempat lain, Dara sedang mempersiapkan keperluan yang akan dia bawa untuk acara gathering kantor, dia juga mempersiapkan keperluan Kenzie untuk pergi keluar kota.


"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?", tanya Kenzie pada Dara yang sedang berkemas.


"Aku sedang menunggu pertunjukan yang bagus". Dara menanggapi dengan senyum yang lembut dibibirnya.


"Pertunjukan? Pertunjukan apa yang kamu maksud?". Kenzie bertanya dengan dahi yang berkerut.


"Pertunjukan orang tua Nasya tentang prahara rumah tangga mereka. Selama ini kita tahu kalau tante Delia yang menjalankan perusahaan sementara suaminya adalah lejabat daerah. Menurutmu apa jadinya jika tante Delia meninggalkan rumah dan perusahaan itu?". Daea bertanya dengan seringai tipis yang menunjukkan kalau dia merencanakan sesuatu.


"Apa dia akan melakukan seperti yang telah kamu katakan?", tanya Kenzie lagi memastikan.


"Tentu saja. Aku tahu tante Delia. Dia telah melakukan banyak hal untuk keluarga itu. Dia tidak akan diam saja setelah semua usaha dan kerja merasnya dibalas dengan pengkhianatan".


"Lalu, kapan kita akan seperti suami istri pada umumnya?". Kenzie menggoda Dara perihal mereka yang belum melakukan hubungan suami istri.


"I-itu... Aku akan mengambil kemejamu. Sepertinya segini masih belum cukup untuk kamu bawa". Dara yang terlihat gugup dan salah tingkah dengan pertanyaan Kenzie langsung mengalihkan pembicaraan dan meninggalkan Kenzie dengan berbagai alasan.


Lucunya.


Kenzie tersenyum melihat reaksi Dara lalu dia menahan tangan Dara sebelum sang istri pergi menjauh darinya


"Ah".


Dara dan Kenzie kini saling menatap satu sama lain dengan Kenzie memegang pergelangan tangan Dara.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan hubungan intim denganku. Selalu berada disampingmu saja sudah jadi kebahagiaan untukku. Aku akan menunggumu dengan sabar. Menunggu hingga kamu siap dan seluruh hatimu hanya berisi semua tentangku".


Wajah Dara seketika berubah menjadi merah setelah mendengar ucapan Kenzie. Hatinya terasa terkelitik hingga jantungnya berdegup kencang.


__ADS_2