
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi?". Kenzie bertanya pada Dara setelah mereka meninggalkan kantin.
"Tidak ada. Hanya sedikit bersikap sombong saja". Dara menanggapi dengan sikap yang tenang dan senyum yang lembut.
Kenzie pun tersenyum melihat ekspresi wajah sang istri.
"Apa kamu cukup bersenang-senang?". tanya Kenzie lagi dengan senyum dan tatapan yang lembut pada sang istri.
"Aku tidak bersenang-senang. Aku hanya sedikit menunjukan padanya kalau dia tidak bisa bersikap seenaknya pada siapapun". Dara menanggapi dengan acuh tak acuh.
Kenzie tidak lagi mengatakan apapun. Dia hanya tersenyum sambil berjalan berdampingan dengan sang suami.
"Oh. Aku juga menggunakan sedikit kekuasaanku sebagai istrimu". Sambung Dara setelah mengingat apa yang dia lakukan pada Tia.
"Sebagai istriku?", tanya kenzie memastikan sambil menatap Dara dengan tatapan penasaran dan senyum menggoda.
"Ya, aku memintanya untuk berhenti bermimpi menjadi pasanganmu dan memintanya untuk mengajukan surat pengunduran diri secepatnya. Aku tidak ingin melihat wajahnya disini". Awalnya Dara terlihat percaya diri dengan apa yang dia katakan, namun setelah melihat ekspresi wajah Kenzie, Dara terlihat ragu-ragu.
"Apa... kamu marah?", tanya Dara dengan ragu-ragu sambil menatap Kenzie dengan tatapan penuh tanya.
"Marah? Kenapa aku harus marah hanya karena istriku cemburu?", ujar Kenzie menanggapi sambil tersenyum lembut.
"Si-siapa yang cemburu? Aku sama sekali tidak merasa cemburu". Dara tergagap karena panik lalu dia berjalan meninggalkan Kenzie dengan salah tingkah. Kenzie hanya bisa tersenyum melihat tingkah sang istri yang menggemaskan.
Drrt drrt drrt.
Saat Kenzie memperhatikan punggung Dara yang berjalan di depannya, ponselnya berdering. Kenzie merogoh saku jasnya dan melihat nama yang tertera dilayar ponsel.
"Mami! Gawat. Aku merasakan firasat buruk untuk panggilan ini". Gumam Kenzie sambil terus menatap ponselnya yang terus berdering.
hmmmp huuh
Kenzie menarik napas terlebih dahulu sebelum dia menerima panggilan telepon Cheva.
"Halo, Mih". Sapa Kenzie dengan lembut dan ceria.
"Zie, Mami dengar kamu sudah punya pendamping? Kenapa tidak beritahu Mami? Sampai kapan kamu akan menyembunyikan dia, hah?! Kamu pikir, kamu hidup sebatang kara? Bisa-bisanya kamu menyembunyikan hal sepenting ini dari Mami!". Cheva terus bicara dengan nada yang tinggi sampai Zie sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.
Noey sialan. Ini pasti ulahnya. Pasti dia yang memberitahu Mami tentang Dara. Awas saja kamu. Akan kupotong gajimu nanti.
Kenzie terus menggerutu dan mengutuk Noey dalam hatinya.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak mendengarkan Mami, hah?!". Cheva terus bicara tanpa memberikan Kenzie kesempatan untuk bicara.
"Bagaimana aku bisa bicara sementara Mami tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskannya?". Kenzie bicara dengan nada mengeluh.
"Baiklah. Sekarang jelaskan semuanya!". Cheva bicara dengan nada yang sinis lalu dia diam untuk membiarkan Zie menjelaskan.
__ADS_1
"Sebenarnya... "
"Eh tidak perlu. Mami akan memastikan sendiri bagaimana menantu Mami! Tut tut tut"
"Mami? Mami! Haah gimana aku bisa punya ibu seperti itu? Bagaimana papi bisa jatuh cinta pada mami".
Belum sempat Kenzie menjelaskan tentang Dara, Cheva sudah memotongnya lagi lalu menutup telepon tanpa menunggu tanggapan dari Kenzie.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?", tanya Dara yang kembali lagi setelah menyadari Kenzie tertinggal dibelakangnya.
"Untuk sekarang tidak terjadi apa-apa, tapi tidak lama lagi pasti akan terjadi sesuatu yang tak terbayangkan", ujar Kenzie dengan senyum manis dibibirnya.
"Hah? Apa maksudnya?".
Dara memicingkan matanya mendengar jawaban Kenzie
"Sudahlah. Ayo kita kembali keruangan. Sebentar lagi waktunya pulang kerja".
Dara mengangguk setuju dan berjalan mengikuti Kenzie.
...****************...
Sementara itu di Negara A
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu kelihatan kesal begitu?". Lian bertanya pada sang istri yang terlihat sangat kesal.
"Bagaimana aku tidak kesal, aku tahu tentang pernikahan anakku dari orang lain, bukan dari mulutnya sendiri". Cheva mengeluh pada Lian dengan raut wajah penuh emosi.
Cheva langsung menoleh pada Lian dan menatapnya dengan tatapan semakin kesal.
"Tentu saja Kenzie. Kenzo kan sudah menikah lebih dulu! memangnya ada yang lain?", ujar Cheva dengan nada kesal dan bibir mengerucut.
"Bukan begitu. Harusnya kamu senang kan karena Kenzie sudah bisa membuka lembaran barunya dengan wanita lain? Kamu sendiri yang selama ini berusaha keras mengenalkan dia dengan para gadis hingga dia memutuskan untuk membuka perusahaan yang sekarang". Lian bicara dengan senyum lembut dan nada bicara yang tenang.
"Menang benar ... tapi tetap saja dia telah menyembunyikan istrinya itu dariku. Aku tidak bisa terima. Aku harus pergi menemuinya sekarang juga. Akan kuberi dia pelajaran karena berani bermain rahasia denganku". Cheva awalnya terlihat tenang saat mendengarkan perkataan Lian, namun tak lama kemudian dia kembali kesal mengingat apa yang telah Kenzie lakukan.
"Haah... terserah kamu saja, tapi aku tidak bisa ikut pergi denganmu. Ada kolektor lukisan dari luar negeri yang akan datang kemari. Aku harus menemuinya". Lian menghela napas panjang setelah sang istri bersikeras dengan keinginannya.
"Baiklah. Tidak masalah. Aku bisa pergi sendiri". Cheva menanggapi ucapan Lian dengan acuh tak acuh setelah itu terlihat seringai tipis di bibirnya.
"Ingat. Jangan membuat keributan disana. Kenzie akan mengeluh tanpa henti padaku jika kamu melakukan itu". Lian memperingatkan Cheva dengan sikap yang lembut dan tenang.
"Aku tahu. Memangnya kapan aku membuat keributan?". Cheve menanggapi pesan sang suami dengan keluhan disertai bibir mengerucut.
"Ya. Memang tidak direncanakan, tapi kamu akan mudah terprovokasi hanya dengan satu tindakan saja".
"Baik. Aku mengerti!". Cheva langsung beranjak pergi dari hadapan Lian sambil terus mengeluh. Dia perlu mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan nanti.
__ADS_1
Tak lama Lian mengikutinya ke kamar. Dia berdiri sejenak, menatap punggung sang istri yang sedang merapikan barang bawaannya. Kemudian dia berjalan mendekati Cheva dan memeluk pinggangnya dari belakang.
"My princess, jangan tinggal disana terlalu lama ya. Kamu tahu kan kalau aku tidak bisa hidup jauh darimu?", ujar Lian sambil membenamkan kepalanya pada pundak Cheva.
"Ya, aku tahu. Aku tidak akan lama. Aku hanya akan pergi beberapa hari untuk melihat menantu baru kita. Aku yakin ada sesuatu, karena jika tidak ada sesuatu … Kenzie tidak akan menyembunyikan perihal pernikahannya itu". Cheva yang sejak tadi bicara dengan sikap yang kesal, sekarang menanggapi Lian dengan sikap yang lembut dan tenang.
"Baiklah".
...****************...
Keesokan harinya.
Cheva tiba di bandara setelah dia melakukan perjalanan dengan jet pribadi semalam.
"Antarkan aku ke kantor Kusuma".
"Baik". Dia langsung bergegas ke kantor karena tahu kalau saat ini Kenzie pasti sudah dalam perjalanan kekantornya.
"Seperti kamu mengejutkan Mami dengan kavar pernikahanmu, seperti itu juga Mami akan memberikanmu kejutan", gumam Cheva dengan seringai tipis dibibirnya.
Setelah beberapa lama akhirnya dia tiba dikantor Kenzie.
"Terima kasih", ujar pada supir taksi sebelum turun dari mobil.
Karena masih terlalu pagi, belum banyak karyawan kantor yang datang. Hanya ada beberapa orang yang memang datang lebih awal. Cheva langsung melenggang masuk menuju ruangan Kenzie tanpa menghampiri resepsionis.
"Itu... bukannya itu bu Cheva?", tanya petugas resepsionis pada rekannya dengan ragu-ragu.
"Benar. Itu bu Cheva. Apa kita harus menghubungi pak Kenzie?". Rekannya menanggapi dengan raut wajah panik.
"Kita hubungi pak Noey saja. Sepertinya sekarang sudah dalam perjalanan kemari".
"Iya". Salah satu dari mereka pun menghubungi ponsel Noey.
Tuut tuut tuut
"Halo". Tak perlu menunggu lama, Noey langsung menerima panggilan teleponnya.
"Halo, Pak Noey. Pak, disini da bu Cheva, apa yang harus kami lakukan?", tanya resepsionis dengan panik.
"Apa? Bu Cheva?". Noey pun tampak terkejut mendengar peekataan resepsionis itu
Baru kemarin dapat informasi tentang Zie, sekarang sudah tiba disini? Sepertinya bu Cheva langsung melakukan penerbangan kemari. Harus cepat sampai untuk melihat pertunjukan bagus
Batin Noey terus bicara dengan seringai tipis muncul dibibirnya membayangkan pertemuan Cheva dan Kenzie.
"Aku akan segera sampai disana. Kamu layani dulu bu Cheva sampai aku datang. Tidak perlu hubungi Pak Kenzie", ujar Noey menjelaskan dengan tenang.
__ADS_1
"Baik, Pak. Saya mengerti"
"Zie, harusnya kamu sudah siapkan telinga cadangan"