Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Aku Hanya Peduli Apa Kata Istriku


__ADS_3

Fauzi terkejut mendengar tantangan Cheva.


"Nyonya, temanku ini sedang tidak waras. Sebaiknya anda tidak mendengarkan apa yang dia katakan". Fauzi berusaha menenagkan Cheva karena dia mengerti tentang keluarga Kusuma.


"Siapa bilang aku tidak waras?! Aku serius dengan apa yang aku katakan. Anda yakin ingin menantang saya? Anda tidak lupa kan kalau saya ini laki-laki sedangkan anda seorang perempuan? Ditambah lagi... usia anda juga... ". Kris menanggapi Fauzi dengan sikap arogan, setelah itu dia beralih pada Cheva dengan nada bicara yang mencibir.


"Huh, memang apa salahnya jika aku perempuan dengan usia yang lebih tua darimu?Kamu memang seumuran dengan kedua putraku, tapi kemampuanmu belum tentu bisa dibandingkan dengan mereka, jadi itu tidak akan menjadi masalah untukku". Cheva menanggapi dengan sikap tenang.


"Anda itu tidak sadar diri diusia segitu. Baik, saya terima tantangan anda. Pertandingan seperti apa yang anda inginkan?"


"Kris!"


"Jangan khawatir. Aku pasti bisa menyelesaikan ini tanpa ada masalah lain". Kris tidak menanggapi Fauzi yang terlihat ketar ketir dengan kelakuannya.


"Oke. Bagaimana kalau kita pergi ke arena olahraga. Kita bisa melakukan banyak hal disana. Bahkan jika kamu ingin menghajarku secara langsung", ujar Cheva dengan penuh percaya diri.


"Baik. Ayo pergi!".


Cheva dan Kris beranjak pergi dari restoran diikuti Fauzi dan Dara berjalan dibelakang mereka.


"Itu … kamu tidak berusaha menghentikan ibu mertuamu?". Fauzi bertanya pada Dara dengan ragu-ragu.


"Menghentikan mami? Untuk apa? Aku tidak berniat menghentikan mami. Mami baru saja datang kemari setelah sekian lama, jadi kenapa aku harus menahannya untuk bersenang-senang? Kurasa ini hiburan yang bagus untuk mami karena papi tidak ada disini". Dara menanggapi Fauzi dengan sikap tenang disertai senyum tipis di bibirnya.


Hiburan? Bersenang-senang dengan hal seperti ini? Bagaimana dia bisa tetap tenang saat mertuanya membuat keributan? Apa aku tidak salah dengar? Atau mungkin … memang mereka yang tidak normal?


Fauzi terlihat bingung setelah mendengar tanggapan dari Dara. Dia terus menatap Dara dan Cheva dengan raut wajah tak percaya.


Tak berselang lama, mereka tiba disebuah tempat pelatihan olahraga. Ada banyak peralatan yang tersedia untuk itu.


"Kita sudah sampai. Karena anda seorang wanita, jadi saya persilahkan anda memilih pertandingan apapun. Saya tidak masalah dengan itu". Kris bicara dengan sikap yang sombong. Dia bicara seakan dia menguasai semua jenis olahraga.


Cheva baru saja melangkahkan sebelah kakinya untuk mendekati Kris namun Dara menahannya.


"Mami, karena ini pertama kalinya Mami datang kemari apa tidak sebaiknya Mami istirahat saja?".


Fauzi tersenyum lega mendengar saran dari Dara.


"Istirahat? Kenapa? Mami tidak lelah sama sekali". Cheva menanggapi dengan dahi berkerut dan sikap yang tenang.

__ADS_1


"Aku tahu Mami tidak lelah, tapi bisakah Mami hanya melihatku saja?". Dara bicara dengan senyum yang manis.


Cheva yang tadinya merasa heran pun kini tersenyum ceria, berbanding terbalik dengan Fauzi yang kini memasang wajah khawatir.


"Begitukah? Ya sudah terserah kamu saja. Kamu bisa lakukan apapun yang kamu mau, tapi... apa kamu yakin bisa mengatasinya?". Cheva bicara sambil mengusap lembut tangan Dara.


"Jika aku tidak bisa mengatasinya, maka Mami bisa menggantikanku bermain-main dengannya".


"Baiklah... "


"Sampai kapan kalian akan terus mengulur waktu? Bisakah kita selesaikan ini secepatnya?", ujar Kris dengan sikap yang arogan.


"Oh. Sepertinya anda ini sangat tidak sabaran. Baiklah, apa yang ingin anda mainkan?". Dara menanggapi dengan acuh tak acuh.


"Kamu saja yang tentukan. Aku tidak ingin memaksakan kemampuan wanita". Kris bicara dengan sikap sombong dan arogan.


"Jika aku yang tentukan, maka kamu tidak boleh mengeluhkan apapun!". Dara pun menanggapi dengan sikap yang tenang.


"Tentu. Kamu bisa pilih apapun yang kamu inginkan. Aku tidak akan menolaknya".


"Kalau begitu kita mainkan itu terlebih dahulu". Dara menunjuk pada ring tinju.


"Kenapa? Toh ada pelindung kepala, jadi kurasa itu tidak akan masalah. Apa kamu takut?". Dara menanggapi dengan sikap acuk tak acuh.


"Takut? Mana mungkin aku takut pada seorang perempuan sombong sepertimu. Lebih baik kita bersiap. Jangan menunda semakin banyak waktu!". Kris bicara sambil berbalik dan berrjalan pergi untuk mengambil sarung tinju dan juga pelindung wajah.


"Sayang, apa kamu yakin bisa melakukan itu?".Cheva terlihat khawatit pada Dara yang memilih bermain tinju.


"Mami tenang saja. Aku pasti baik-baik saja". Dara memegang tangan Cheva lalu berjalan pergi mengikuti Kris untuk melakukan persiapan.


"Itu... nyonya... ". Fauzi menghampiri Cheva dengan ragu untuk bicara padanya.


Cheva sedikit menoleh pada Fauzi dengan tatapan sinis.


"Sebaiknya kamu berdoa agar menantuku baik-baik saja. Aku tidak akan memaafkan siapapun yang berani menyakiti menantuku.


Fauzi tertegun dengan raut wajah yang tegang.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Kris yang sudah berdiri di ring tinju.

__ADS_1


"Tentu saja aku siap". Dara pun langsung mengambil ancang-ancang untuk pertandingannya.


Hiat!


Bag bug bag bug!!


Dara dan Kria milai bertarung. Mereka saling melawan dan berusaha untuk saling memukul namun keduanya bisa saling menangkis dan bertahan.


Ceklek!


Sementara mereka bertarung, Cheva mengambil gambar dan mengirimkannya pada Kenzie...


"Kita lihat bagaimana bocah itu akan bereaksi", gumam Cheva dengan seringai di bibirnya. Fauzi masih terus memperhatikan dengan raut wajah khawatir.


...****************...


Sementara itu dikantor Kenzie..


Tring!


Sebuah pesan diterima Kenzie.


Kenzie yang masih fokus dalam pekerjaannya meraih ponsel yang ada disampingnya dan membuka isi pesan tersebut.


"Ternyata istrimu kuat juga ya. Mami harap dia bisa tetap bertahan di dunia kita yang keras", tulis Cheva dalam pesan singkatnya yang disertai foto Dara sedang bermain tinju dengan Kris.


"Hah? Apa yang sedang mereka lakukan? Bukankah mereka pergi untuk bersenang-senang?. Aku harus kesana!".


Kenzie langsung berdiri dan memakai jasnya yang disangkutkan disandaran kursi. Dia berjalan dengan langkah kaki yang cepat sambil menghubungi Cheva.


"Mami, kalian ada dimana?", tanya Kenzie tanpa basa basi.


"Pusat pelatihan yang tidak jauh dari mall. Apa kamu akan datang kemari? Apa yang akan kamu lakukan setelah meninggalkan pekerjaanmu yang banyak itu". Cheva bertanya pada putranya dengan senyum manis dan sikap cuh tak acuh.


"Zie, kamu mau kemana? Bukankah pekerjaanmu masih banyak?". Noey bertanya setelah melihat Kenzie keluar dari ruangannya, namun Kenzia tidak menanggapi dan terus berjalan meninggalkan kantor.


"Entahlah. Pertama hanya memastikan istriku tidak melakukan olahraga yang membuatnya terluka. Setelah itu … kita lihat saja bagaimana hasilnya. Apakah orang itu bisa masuk penjara atau berkeliaran djalanan. Yang pasti aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik istriku". Kenzie bersikap acuh tak acuh, dia bahkan tidak menanggapi orang-orang yang menyapanya.


"Oh baguslah. Mami kira kamu tidak akan melakukan apa-apa". Cheva kembali tersenyum mendengar ucapan Zie.

__ADS_1


"Mih, dia istriku, bagian dari hidupku. Aku tidak akan membiarkan siapapun bersikap seenaknya padanya. Entah apa kata dunia, aku hanya peduli apa kata istriku!"


__ADS_2