Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Keteguhan Delia


__ADS_3

"Bu, apa anda percaya pada Kenzie? Sudah jad rahasia umum kalau dia adalah pengusaha yang menghalalkan segala cara dan patut diwaspadai. Kurasa... Bukan hal yang baik jika ibu berurusan dengan dia". Bella bicara dengan hati-hati setelah mereka meninggalkan restoran.


"Aku tidak peduli jika memang harus terlibat dengannya. Toh kita tidak membuat masalah untuknya. Justru kita berada dipihaknya. Oh ya seperti yang dikatakan Dara dan Kenzie, bisakah kamu mendapatkan bukti lebih banyak tentang suamiku? Aku sudah memiliki beberapa foto. Kurasa itu masih kurang cukup untuk menjatuhkannya". Delia menanggapi dengan sikap yang tenang dan terkesan dingin.


"Baik, Bu. Saya akan mencari bukti sebanyak-banyaknya". Bella mengangguk setuju dengan sopan menanggapi permintaan Delia.


...****************...


Ditempat lain Nasya sedang bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Dia terus termenung diruangannya sambil memainkan pulpen ditangannya.


"Sebenarnya siapa pria itu? Apa memang aku yang mendekatinya lebih dulu atau dia punya tujuan mendekatiku?". Nasya terus memikirkan apa yang terjadi padanya sambil bergumam pada dirinya sendiri.


Drrt drrt drrt


Dering ponselnya membuat Nasya tersadar dan mengalihkan pikirannya.


"Nenek? Ada apa ya?", gumam Nasya setelah melihat nama pada layar ponselnya.


"Halo, Nek. Ada apa?", tanya Nasya begitu dia menerima telepon dari sang nenek.


"Apa kamu sudah melihat postingan online tentang ayahmu?", tanya bu Melati yang terdengar panik.


"Postingan online tentang papa? Aku sama sekali belum melihatnya. Memangnya postingan tentang apa, Nek? Kenapa Nenek jadi panik begitu?". Nasya mengerutkan dahi saat bertanya pada neneknya. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain.


"Kamu bisa lihat sendiri beritanya, karena sekarang ini media sosial digemparkan oleh berita tentang ayahmu!".


Nasya semakin tak mengerti dengan apa yang diucapakan neneknya.


"Kalau begitu aku akan cari tahu dulu. Nanti aku hubungi Nenek lagi. Sampai jumpa, Nek". Nasya langsung menutup telepon bu Melati tanpa menunggu tanggapan darinya lagi.


"Sebenarnya postingan tentang apa? Kenapa nenek sampai khawatir seperti itu?", gumam Nasya yang tidak mengerti sambil memainkan ponselnya untuk mencari tahu maksud sang nenek.

__ADS_1


"Apa ini?!". Nasya sangat terkejut melihat postingan tentang ayahnya yang memang ramai dikomentari orang-orang..


Seorang aparatur negara berselingkuh dari istrinya sampai memiliki seorang putra berusia sekitar 5 tahun.


"Bagaimana berita ini bisa menyebar ke media sosial? Foto-foto ini … apa papa benar melakukannya? Bagaimana bisa papa menyembunyikan kenyataan ini selama bertahun-tahun?". Nasya terlihat tak percaya dengan apa yang dia lihat di media sosial. Diapun memiliki banyak sekali pertanyaan dikepalanya tentang kebenaran akan perselingkuhan ayahnya.


"Daripada itu … sekarang aku harus memikirkan cara untuk meredam berita ini. Ini akan sangat berdampak buruk pada jabatan papa dan juga perkembangan perusahaan keluarga kami". Nasya terdiam sesaat memikirkan rencana yang akan dia ambil selanjutnya.


"Mama, aku harus menghubungi mama". Tanpa pikir panjang, Nasya langsung menghubungi sang ibu untuk merundingkan masalah ini.


Tuut tuut tuut.


Tak perlu waktu lama untuk Nasya bicara dengan sang ibu.


"Halo, Mama", sapa Nasya begitu teleponnya diterima sang ibu.


"Ya, Sya. Ada apa?". Delia menanggapi Nasya dengan sikap yang dingin.


"Sya, halo Sya".


"Ah, iya Mah!". Panggilan sang ibu menyadarkan Nasya dari lamunannya sendiri


"Kenapa kamu diam saja? Ada perlu apa kamu menghubungi Mama?", tanya Delia karena Nasya diam saja.


"Ah itu … apa Mama sudah melihat postingan di media sosial mengenai papa?"tanya Nasya tanpa basa basi.


Sudah kuduga kalau dia sama sekali tidak peduli padaku. Dia hanya bertanya untuk memastikan apa aku yang melakukannya atau bukan.


Pikir Delia begitu mendengar pertanyaan putrinya.


"Ya, Mama sudah melihatnya. Bagaimana ada orang lain yang tahu mengenai perselingkuhan papamu? Atau mungkin … Mamalah orang terakhir yang mengetahui hal ini?". Delia bicara dengan nada yang sedikit curiga pada Nasya.

__ADS_1


"Tidak, Mah. Aku juga baru mengetahui hal ini. Aku bersumpah!" Nasya terdengar sangat panik mendengar kecurigaan Delia.


"Ya, Mama percaya. Lalu apa yang kamu inginkan dari Mama?", tanya Delia pada Nasya tanpa basa basi.


"Apa Mama bisa muncul di depan media dan melakukan konferensi pers?"


Dahi Delia berkerut hingga kedua alisnya hampir menyatu begitu mendengar permintaan dari Nasya.


"Apa masudmu?".


"Begini, Mah. Sekarang ini kan karir papa sebagai pejabat negara sedang meroket, perusahaan kira juga sedang menghadapi banyak masalah. Jika Mama membiarkan ini terus berlanjut, maka semuanya akan hancur. Semua usaha yang dilakukan akan percuma saja". Nasya menjelaskan pada sang ibu dengan hati-hati .


"Jadi maksud mu, Mama harus jelaskan pada wartawan kalau papamu difitnah dan semua foto itu palsu?". Delia bertanya untuk memastikan apa yang dimaksud putrinya.


"Ya, kurasa itu pilihan yang terbaik untuk kita. Lagipula Mama sudah terbiasa mengurus perusahaan, apa Mama mau perusahaan yang Mama kembangkan selama ini hancur begitu saja?".


Delia tersenyum mencibir lalu terbahak karena ucapan Nasya.


"Hah hah hahaha … kamu menghubungi Mama untuk mengatakan itu? Mama kira kamu akan mengerti bagaimana perasaan Mama saat ini karena kamu juga seorang perempuan, tapi nyatamya kamu mirip seperti nenekmu yang sama sekali tidak menganggap penting arti sebuah hubungan", ujar Delia dengan sikap yang kesal.


"Bukan begitu Mah. Aku hanya ingin mengatakan kalau kita bisa menyelesaikan masalah ini tanpa adanya keributan. Dengan begitu urusan papa selesai dan perusahaan juga bisa diselamatkan".


"Bagaimana cara menyelamatkannya? Urusan dengan papamu. Apa kamu tahu cara memberikan efek jera padanya?". Delia berusaha mencari tahu pendapat Nasya mengenai ayahnya.


"Kurasa bercerai bukan jalan terbaik. Itu malah jadi kesempatan baik untuk papa bertemu dengan wanita itu dan menjalin hubungan resmi tanpa rasa khawatir. Bagaimana jika hanya menjauhkan wanita itu dari jangkauan papa saja?". Nasya begitu mudah bicara mengenai hukuman untuk sang ayah.


"Selama ini Mama memang selalu menuruti keinginan papa dan juga nenekmu, tapi bukan berarti Mama tidak punya pendirian. Mama hanya bersikap sopan terhadap mereka. Masalah perusahaan … itu bukan lagi urusan Mama, karena itu perusahaan keluarga Darmawan, bukan perusahaan Mama, jadi tidak ada yang perlu disesalkan. Katakan pada papa dan nenekmu kalau rasa hormat Mama pada mereka telah berakhir sejak papa mengkhianati Mama. Tidak ada alasan lagi untuk terus bertahan dalam keluarga itu. Sampai jumpa!"


"Mah! Mama!". Nasya berusaha memanggil sang ibu saat sambungan teleponnya berakhir.


"Memikirkan keluarga itu? Untuk apa? Sementara mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri. Aku tidak sudi jika harus bertahan lebih lama dalam keluarga itu. Rasanya sungguh memuakkan!", gumam Delia dengan seringai tipis dibibirnya setelah panggilan teleponnya berakhir.

__ADS_1


__ADS_2