
Karena berita yang tersebar dimedia mengenai Soni Darnawan, dia kini dipanggil ke kantor utama untuk mendapatkan teguran atas kehebohan yang dia timbulkan. Soni sedang diinterogasi dihadapan para petinggi lain dari kelompoknya.
"Pak Soni, apa anda tahu apa kesalahan yang telah anda lakukan hingga anda dipanggil kemari?", tanya salah satu atasan Soni.
"Saya tahu, Pak. Saya telah merusak kepercayaan rakyat dengan memiliki 2 orang istri. Tapi itu masalah pribadi saya, apa tidak bisa dikesampingkan karena saya selalu profesional dalam melakukan tugas-tugas saya?" . Soni menanggapi dengan sikap sopan dan raut wajah penuh penyesalan.
"Pak Soni, apa anda masih tidak mengerti dengan pekerjaan anda? Saat anda terpilih menjadi wakil rakyat, saat itu pula anda menjadi panutan mereka. Segala sesuatu yang menyangkut dengan anda pasti akan menjadi sorotan, termasuk dengan kehidupan pribadi anda", ujar salah satu atasan Soni.
Soni terdiam dengan kepala tertunduk. Dia memainkan tangannya menghilangkan rasa gugupnya, sementara para petinggi mendiskusikan keputusan apa yang akan mereka ambil terhadap Soni.
"Pak Soni, kami sudah mengambil keputusan ". Soni mengangkat kepalanya menatap pada seorang pria paruh baya yang duduk dihadapannya.
"Karena anda sudah melanggar kode etik sebagai wakil rakyat, kami semua sepakat untuk mengeluarkan anda dari kursi pemerintahan. Kami tidak bisa lagi mempercayakan jabatan ini pada anda", ujar atasan Soni
"Tapi Pak, mengingat kerja keras saya selama ini apa tidak ada keringanan untuk saya?"
"Kami sudah mempertimbangkan semuanya dan ini sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Harusnya anda berterima kasih karena anda tidak didenda atas tindakan anda yang sudah mencemarkan nama baik pemerintahan!". Atasan Soni terlihat sangat kesal dengan dahi berkerut karena tidak ingin mundur dari pemerintahan.
Soni terdiam sesaat mendengar keputisan dari anggota dewan itu.
"Apa semua fasilitas yang saya miliki harus dikembalikan?", tanya Soni memastikan.
"Tentu saja. Itu sudah bukan hak anda lagi, jadi anda harus mengembalikannya pada kami".
Soni tampak lemas dan tak bersemangat setelah mendengar keputusan yang diberikan atasannya, namun dia harus menerimanya dengan ikhlas dan mengembalikan semua fasilitas yang dia dapatkan.
Soni bergegas pulang setelah rapatnya selesai. Ia terus termenung selama dalam perjalanan menuju kerumah. Dia melangkahkan kaki dengan lemas turun dari taksi setelah tiba dirumah, betapa terkejutnya Soni saat melihat ada beberapa orang didepan rumahnya sedang berdebat dengan sang ibu.
"Kalian tidak bisa melakukan ini padaku! Perusahaan kami masih belum bangkrut dan pasti bisa diselamatkan!", teriak bu Melati pada orang-orang dihadapannya.
"Mah! Apa yang terjadi?". Soni langsung bergegas mendekati sang ibu dan bertanya untuk mengetahui situasinya.
"Nak, katakan pada mereka kalau kita masih belum bangkrut! Krisis diperusahaan kita masih bisa diselesaikan kan?"ujar sang ibu berusaha meyakinkan orang-orang yang akan menyita rumah mereka.
__ADS_1
"Tak berselang lama Nasya pulang dengan mengendarai mobilnya. Dia juga terkejut melihat keributan yang sedang terjadi dirumahnya.
"Ayah, Nenek, ada apa ini? Siapa mereka?", tanya Nasya dengan dahi berkerut heran menatap orang-orang itu.
"Mereka bilang akan menyita rumah kita", sahut bu Melati dengan rait wajah panik.
"Apa?! Menyita rumah kita?! Tapi kan perusahaan kita belum bangkrut? Kita masih punya harapan", ujar Nasya pada sang nenek.
"Tidak. Saham perusahaan kita menurun drastis dan para pemegang saham memutuskan menjual saham mereka dengan harga rendah sebelum terlambat. Jadi sudah tidak ada harapan dan perusahaan kita dinyatakan bangkrut dan untuk menutupi hutang kita, pihak bank akan melakukan lelang gedung perusahaan dan juga rumah ini". Bu Melati menjelaskan dengan raut wajah sedih.
"Apa?! Perusahaan kita dinyatakan bangkrut?!". Soni sangat terkejut mendengar kalau perusahaan mereka sudah bangkrut. Dia langsung terdiam tanpa kata.
Bagaimana ini? Aku diberhentikan dari jabatanku. Sekarang perusahaan keluarga kami juga bangkrut. Apa yang harus kami lakukan?
Soni terus termenung dalam lamunannya sendiri.
"Nasya, bagaimana dengan mall milikmu? Apa keadaannya sudah bisa diatasi?", tanya bu Melati yang membuat Soni tersadar dari lamunannya.
"Itu... para pedagang yang biasa berdagang didalam mall … satu persatu telah pergi dan menyewa tempat lain. Sekarang hanya ada kurang dari 10 pedagang saja. Itu juga hanya tinggal menunggu sampai waktu kontrak mereka habis", ujar Nasya menjelaskan dengan nada mengeluh.
"Iya, Pah. Kemungkinan besar hanya bertahan sampai akhir bulan ini karena kontrak dengan pedagang terakhir juga bulan ini".
Semua terdiam tanpa kata setelah mendengar penjelasan dari Nasya.
"Maaf mengganggu perbincangan kalian, kami disini untuk melakukan penyitaan aset keluarga Darmawan. Rumah ini akan disita dan disegel sampai acara lelang nanti. Jadi, harap anda semua segera mengosongkan rumah ini. Permisi". Pihak bank itu langsung berbalik dan pergi setelah mereka menyegel rumah milik keluarga Darmawan.
"Nenek, apa yang harus kita lakukan?", tanya Nasya dengan raut wajah bingung.
"Kita harus mencari tempat tinggal lain"
"Berikan gaji kami! Berikan hak kami! Berikan gaji kami! Berikan hak kami!".
Bu Melati, Soni, dan Nasya sangat terkejut mendengar teriakan orang-orang. Mereka langsung menoleh secara bersamaan kearah sumber suara, dan disana terlihat ada segerombolan orang datang dengan berbagai spanduk berjalan mengarah keumah mereka sambil berteriak.
__ADS_1
"Berikan gaji kami! Berikan hak kami! Berikan gaji kami! Berikan hak kami!"
"Tenang dulu semuanya, tenang!". Soni berusaha menenangkan para demonstran yang kini berkumpul dihadapan mereka.
"Bagaimana kami bisa tenang?! Kalian sudah menunggak pembayaran gaji kami selama 3 bulan ini! Kami juga perlu biaya untuk hidup!",ujar salah satu demonstran.
"Kami tahu. Nanti kami pasti akan membayar semua gaji kalian,tapi tidak sekarang"
"Kapan? Sampai kapan kalian akan terus menunda gaji kami?!". Salah satu demonstran itu bicara pada Soni sebagai perwakilan dengan raut wajah emosi dan kesal. Dia terus berteriak dan mendesak bu Melati untuk membayarkan gaji mereka yang beberapa bulan ini tidak mereka terima.
"Secepatnya. Kami akan bayar secepatnya. Kami janji!", ujar Soni berusaha menenangkan para demonstran itu.
"Baik. Kami akan memberikan kalian kesempatan. Kami harap kalian menepati janji!", ujar perwakilan dari demonstran.
"Ya, kami pasti akan tepatu janji kami!".
Mereka semua pun bubar dan meninggalkan rumah keluarga Darmawan setelah mendapatkan janji dari Soni.
"Ayah, Nenek, bagaimana ini? Rumah kita telah disita dan para karyawan juga mendesak agar kita membayarkan gaji mereka. Apa yang harus kita lakukan?". Nasya merengek manja kepada ayah dan neneknya.
"Soni, bisakah kamu mencarikan kita tempat tinggal sementara? Kita sudah tidak mungkin tinggal dirumah ini", ujar bu Melati dengan sikap tenang.
"Aku juga tidak tahu harus pergi kemana. Sebenarnya … hari ini … aku baru saja diberhentikan dari tugasku". Soni menjelaskan dengan hati-hati mengenai keadaannya.
"Apa katamu?! Kamu diberhentikan?! Lalu, apa yang akan kita lakukan?". Bu Melati mulai panik setelah mendengar cerita dari anaknya.
"Nasya, bisakah kamu minta tolong pada Lucky? Kalian sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah, apa dia tidak bisa membantu kita?", tanya bu Melati dengan ragu-ragu.
"Kak Lucky sedang berada diluar kota. Dia baru akan kembali 3 hari lagi", sahut Nasya menanggapi sang nenek.
"Apa?! Lalu sekarang bagaimana?".
Mereka semua terdiam dan berpikir tentang apa yang akan mereka lakukan kedepannya.
__ADS_1
"Aku tahu kemana kita harus pergi. Aku yakin kita bisa tinggal disana untuk sementara waktu", ujar Soni melepas keheningan.
"Kemana?"