
"Kak Lucky …". Nasya memanggil Lucky dengan suara lirih. Dia menatap sang kekasih yang berjalan melewatinya dan malah menghampiri Dara, dengan mata berkaca-kaca, dia terus menatap Lucky.
"Apa kamu benar-benar Dara?", tanya Lucky dengan ekspresi wajah sedih dan penuh penyesalan. Dia berusaha menyentuh wajah Dara dengan sebelah tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?". Saat tangan Lucky hampir menyentuh pipi Dara, Kenzie langsung menghalaunya. Suaranya yang biasa terdengar ramah dan tenang kini terdengar dingin dan mengintimidasi. Apalagi sorot matanya yang menatap Lucky dengan tajam.
"Aku … hanya ingin memastikan saja", jawab Lucky dengan sikap yang datar dan sedikit ragu.
"Apa menurutmu dengan menyentuh wajahnya kamu dapat memastikan kalau dia Dara atau bukan?". Kenzie bicara dengan sikap yang dingin.
"Maaf …"
"Sudahlah Kak, tidak perlu hiraukan dia. Pak polisi bawa saja dia!", ujar Dara menunjuk pada Nasya sambil berpegangan pada tangan Kenzie.
"Tidak mau! Aku tidak bersalah! Kalian tidak bisa membawaku tanpa bukti!". Teriak Nasya yang terus meronta.
"Siapa bilang kami tidak punya bukti? Aku punya cukup bukti untuk menyeretmu ke penjara!", ujar Dara dengan sikap yang dingin. Polisi pun mulai membawa Nasya ke dalam mobil.
"Nenek, tolong aku! Aku tidak ingin masuk penjara! Kak Lucky!".Nasya yang diseret polisi terus saja berteriak dan meronta meminta pertolongan.
"Tunggu!".
Nasya dan polisi itupun menghentikan langkah mereka setelah mendengar suara Lucky. Dia perlahan berjalan menghampiri Nasya.
"Aku tahu kalau kak Lucky menyayangiku", ujar Nasya yang tersenyum ceria pada Lucky yang mendekat kearahnya.
"Aku hanya ingin mengatakan kalau pertunangan kita … cukup sampai disini saja"
"Apa?! Tidak. Kak Lucky bercanda kan? Kakak tidak serius kan? Aku memcintaimu, bagaimana kamu bisa memutuskan hubungan kita begitu saja?!"
Bagaikan tersambar petir disiang bolong, Nasya sangat terkejut mendengar ucapan Lucky. Perlahan air matanya mulai mengalir deras membasahi kedua pipinya. Dia bicara dengan derai air mata dan senyum terpaksa.
Tidak hanya Nasya saja yang terkejut, bahkan bu Melati dan juga Dara pun sangat terkejut mendengar ucapan Lucky. Belum juga Lucky menanggapi Nasya, bu Melati iku bicara untuk meyakinkan Lucky.
"Lucky, kamu bercanda kan? Kalian ini sudah bertunangan dan akan segera menikah. Bagaimana bisa kamu memutuskannya begitu saja?!".
__ADS_1
Bu Melati tampak tak percaya mendengar Lucky memutuskan pertunangannya dengan cucu kesayangannya.
"Saya lebih dari serius. Saya tidak bisa melanjutkan hubungan dengan Nasya lagi. Saya masih bisa terima kalau kalian hanya bangkrut saja, tapi setelah tahu kalau dia berusaha mencelakai orang lain … rasanya saya tidak akan bisa tetap dengannya".
Lucky menjelaskan dengan sikap yang tenang pada bu Melati agar mau menerima keputusannya.
"Tapi itu tidak benar. Itu hanya karangan mereka berdua saja. Kita masih belum tahu kalau dia benar-benar Dara atau bukan. Dengan wajahnya yang berbeda … bisa saja dia hanya menjebak kita dengan mengatakan perihal Dara. Jelas-jelas Dara sudah dinyatakan meninggal saat kecelakaan itu terjadi!".
Bu Melati terus saja bicara pada Lucky dengan mata meendelik dan nada bicara yang sinis.
"Kita memang tidak tahu pasti itu Dara atau bukan, tapi fakta yang sudah pasti diketahui kalau Nasya berusaha menyakiti orang lain itu sudah tidak bisa diragukan", ujar Lucky yang bersikeras mengakhiri hubungannya dengan Nasya.
"Pak silahkan bawa dia", sambung Lucky pada polisi.
"Tidak! Kak Lucky, jangan lakukan ini padaku. Nenek tolong aku! Aku tidak mau dipenjara!". Naaya kembali berteriak sambil meronta agar tidak dibawa kekantor polisi.
"Sayang, tenanglah. Nenek pasti akan mengeluarkanmu dari penjara. Nenek akan mencari cara untuk itu!". Bu Melati menenangkan Nasya sambil berteriak karena tidak bisa berjalan dengan cepat mengimbangi polisi yang membawa Nasya pergi.
Kini mereka hanya bisa menatap mobil polisi yang membawa Nasya semakin menjauh.
"Jika maksud Nenek semua yang kalian alami sekarang ini untuk balasan atas apa yang kalian lakukan selama ini padaku … maka ini belum cukup. Kalian selalu menindasku, menjadikanku pembantu dirumahku sendiri, membiarkanku tumbuh dengan rasa rendah diri karena kalian selalu menyalahkanku atas kematian orang tuaku, merebut orang yang aku cintai. Ini sama sekali tidak akan pernah sebanding. Terlebih lagi, karena kalian aku harus kehilangan wajah asliku bahkan hampir mati. Apa menurut Nenek ini sebanding? Tidak. Ini tidak seberapa, tapi aku akan mengakhiri ini sampai disini. Aku tidak punya urusan lagi dengan kalian. Ayo Kak, kita pergi".
Dara mengajak Kenzie pergi setelah dia bicara dengan sang nenek. Dia berjalan menjauh meninggalkan neneknya yang terpaku setelah mendengar ucapan Dara.
"Dara, apa kita bisa bicara sebentar?", ujar Lucky menahan Dara dan Kenzie.
"Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan". Dara menanggapi dengan sikap yang dingin.
"Apa?! Tidak mungkin!".
Dara, Kenzie dan Lucky langsung menoleh begitu mendengar bu Melati berteriak. Mereka terus memperhatikan bu Melati yang kini terkulai lemas di tanah sambil menelepon dengan derai air mata yang mengalir dipipinya.
"Tidak mungkin! Soni tidak mungkin meninggal! Kalian pasti salah orang! Hu…u…u…u hu…u…u…u". Teriak bu Melati disela isak tangisnya.
"Om Soni … meninggal?". Dara menatap Kenzie penuh tanya.
__ADS_1
"Aku akan cari informasinya. Sebaiknya kita pulang sekarang. Kita sudah tidak ada urusan lagi disini" Kenzie bicara dengan lembut sambil melingkarkan sebelah tangannya dipinggang Dara.
"Euh". Dara mengangguk setuju dengan senyum lembut diwajahnya.
"Dara … apa itu benar-benar kamu? Apa yang sudah kamu alami sampai harus merubah wajahmu?".
Lucky terus menatap punggung Dara dan Kenzie yang berjalan menjauh dengan tatapan penuh penyesalan.
...****************...
Ditempat lain. Nasya telah tiba dikantor polisi. Dia langsung ditempatkan disebuah ruang untuk dilakukan interogasi.
"Duduklah!". Polisi meminta Nasya duduk dengan sikap yang sedikit kasar.
Nasya menitikan air mata karena dia harus berada disebuah ruangan sebagai seorang tersangka.
"Aku tidak bersalah. Tolong lepaskan aku", ujar Nasya dengan air mata dipipinya.
"Kamu baru menangis sekarang. Kenapa tidak berpikir dulu sebelum bertindak? Kamu berani berbuat jahat tapi tidak ingin dihukum". Polisi wanita itu bicara dengan nada yang dingin.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun!". Bantah Nasya yang tidak ingin dipenjara.
"Tidak melakukan kesalahan apapun katamu? Menyebabkan sepupu sendiri kecelakaan bahkan sampai hampir merenggut nyawanya bukan kejahatan? Apa kamu bukan manusia? Apa sebegitu tidak pentingnya nyawa seseorang bagimu? Bagaimana jika kamu berada diposisi yang sama? Apa kamu tidak pernah memikirkan hal itu? Kamu hanya dilaporkan ke polisi, bagaimana jika kamu yang masuk kejurang?".
Nasya hanya bisa terdiam mendengarkan perkataan polisi.
"Sudah kuduga. Kamu ini hanya anak manja yang dibesarkan dengan uang tanpa diberi tahu mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang renungkanlah semua kesalahan yang pernah kamu perbiat dibalik jeruji besi. Ini akan jadi tempat berpikir yang paling berkesan untukmu". Polisi langsung memindahkan Nasya ke sel tahanan begitu dia selesai diinterogasi.
"Tidak. Bu polisi tolong keluarkan aku. Jangan biarkan aku disini. Aku ini Nasya Darmawan, mana mungkin bisa ditempatkan disel kumuh bersama orang-orang kotor ini!".
"Apa kamu bilang? Kotor?!". Nasya berbalik setelah mendengar suara seseorang dari arah belakangnya. Dia terkejut melihat beberapa wanita dewasa menatapnya dengan penuh kebencian dan nada bicara yang dingin.
"Tidak jangan mendekat! Pergi kalian! Tinggalkan aku sendiri!". Teriak Nasya pada tahanan senior yang berjalan mendekat kearahnya.
"Meninggalkanmu sendiri? Tidak mungkin. Jangan khawatir begitu , kami akan membuatmu tidak kesepian selama disini", ujar salah satu narapidana dengan seringai tipis dibibirnya.
__ADS_1