Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Impian Dara


__ADS_3

Dara terus menoleh kesana kemari memperhatikan karyawan yang seakan memperhatikannya.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?". Dara tidak menyadari kedatangan Kenzie yang kini telah berada dibelakangnya.


"Oh. Tidak, tidak ada apa-apa?". Dara yang terkejut menanggapi dengan gugup sambil menggelengkan kepala perlahan.


"Kalau begitu ayo naik".


"Baik, Pak". Dara pun langsung mengikuti Kenzie dari belakangnya. Mereka berjalan menuju lift dan sesekali masih ada karyawan yang menyapa Kenzie.


"Apa jadwalku hari ini?", tanya Kenzie setelah mereka tiba diruangannya.


"Anda ada meeting dengan salah satu perusahaan. Saya sudah melakukan reservasi disalah satu restoran saat jam makan siang nanti". Dara menyebutkan satu persatu agenda yang dimiliki Kenzie.


"Oh, baiklah. Kalau begitu aku bisa menghabiskan waktu makan siangku dengan istriku ini". Kenzie bicara pada Dara dengan senyum menggoda dan mata yang saling bertatapan satu sama lain.


"Anda terlalu dekat. Kita sedang berada dikantor". Dara mengingatkan dengan sikap yang dingin sambil mendorong Kenzie perlahan .


"Ya, aku tahu". Kenzie menanggapi dengan sedikit kecewa.


"Kalau begitu saya akan kembali bekerja".


"Baiklah". Kenzie menganggukkan kepala dan membiarkan Dara meninggalkan ruangannya. Diapun mulai fokus pada pekerjaannya.


"Apa terjadi sesuatu? Kenapa sikapnya terlihat aneh?", gumam Kenzie sambil menatap punggung Dara yang berjalan keluar meninggalkan ruangannya.


...****************...


Waktu makan siang pun tiba. Dara dan Kenzie telah tiba di restoran yang telah direservasi sebelumnya.


"Katakan padaku, apa terjadi sesuatu?". Kenzie menahan tangan Dara ketika dia hendak keluar dari mobil.


"Katakan apa? Tidak terjadi apa-apa". Dara menanggapi dengan sikap tenang sambil menatap Kenzie dengan tatapan seakan tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Aku yakin kamu menyembunyikan sesuatu dariku". Kenzie tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan sang istri.


"Tidak ada. Hanya saja... aku rasa tidak baik jika kita bekerja dikantor yang sama". Dara menjelaskan pada Kenzie dengan kepala tertunduk dan sedikit ragu.


"Apa maksudnya?", tanya Kenzie dengan raut wajah bingung dan menunggu penjelasan dari Dara.


"Akhir-akhir ini aku merasa kalau orang-orang dikantor memperhatikan kedekatan kita. Dan yang selalu aku dengar adalah mereka membandingkanku dengan Dara. Mereka mengatakan kalau aku hanya jadi pengganti dihatimu setelah kepergian Dara. Aku tahu kalau ini sama sekali tidak berarti karena Dara dan Ana adalah orang yang sama. Tapi tetap saja aku merasa kesal karena mereka memandang rendah aku". Dara mengeluh dengan ekspresi kesal diwajahnya. Dia juga mengepalkan sebelah tangannya untuk melengkapi ekspresinya.


"Apa perlu aku mengatakan kepada semua orang kalau kamu adalah istriku?". Kenzie menanggapi Dara dengan senyum lembut dan sikap yang tenang.


"Tidak! Jangan lakukan itu. Maksudku tidak untuk sekarang. Aku ingin itu terjadi secara alami. Dan aku juga ingin jadi wanita yang memang pantas bersanding denganmu". Dara menjelaskan dengan ragu-ragu mengenai apa yang dia pikirkan mengenai hubungan mereka.


"Kenapa kamu berpikir kalau sekarang kamu tidak pantas untukku? Sayang, aku menjadikan kamu istriku karena kamu wanita yang sempurna untukku. Aku tidak peduli dengan pendapat orang lain tentangmu". Kenzie menjelaskan sambil memegang lembut tangan Dara.


"Aku tahu. Aku tidak perlu mendengar pendapat orang lain mengenai hubungan kita, tapi kita ini hidup didunia masyarakat, tentu saja pendapat orang lain tentang kita akan selalu kita dengarkan". Dara kembali menjelaskan tentang pemikirannya.


"Haah... jadi sekarang apa yang kamu inginkan, sayang?". Kenzie menghela napas panjang menunggu jawaban sang istri.


"Aku ingin berhenti jadi sekretarismu dan melakukan pekerjaan lain". Dara tersenyum dengan penuh semangat mengatakan keinginannya.


"Tidak. Aku ingin bekerja dibidang fashion dan jadi perancang busana". Dara menggelengkan kepala sebelum dia menjawab dengan semangat.


"Perancang busana?". Kenzie terlihat heran dengan dahi berkerut.


"Iya, perancang busana. Waktu kecil, aku pernah melihat sketsa design pakaian yang mama buat, dan itu terlihat sangat bagus. Aku ingin membuat hal yang sama. Aku ingin merancang pakaian dan memiliki brand sendiri". Dara terlihat sangat senang dengan mata berbinar saat dia menceritakan apa yang dia impikan selama ini.


"Kenapa kamu tidak mulai dengan membuat butik sendiri saja?", tanya Kenzie pada sang istri.


"Tidak tidak. Aku masih harus banyak belajar. Ada banyak hal yang perlu aku pelajari sebagai seorang desaigner, jadi aku ingin mencari pengalaman dan mengembangkan kemampuanku terlebih dahulu sebelum memulai bisnis sendiri". Dara menjelaskan sambil menggelengkan kepala berkali-kali.


"Ya sudah. Kita bahas lagi nanti. Sekarang kita harus turun untuk rapat". Kenzie mengingatkan Dara tujuan mereka datang ke restoran.


"Baiklah".

__ADS_1


Mereka pun turun dari mobil dan berjalan menuju restoran yang telah di reservasi Dara sebelumnya.


"Selamat siang, maaf kami datang terlambat". Kenzie dan Dara langsung menghampiri tempat yang sudah mereka pesan, dimana disana telah menunggu 2 orang pria dari perusahaan lain.


"Oh Pak Kenzie. Tidak masalah, kami juga baru saja tiba", ujar salah satu kolega bisnis Zie sambil mengulurkan sebelah tangan untuk saling berjabat tangan.


"Silahkan duduk. Ini sudah waktunya makan siang. Apa kalian sudah memesan makanan?". Mereka pun duduk bersama dalam satu meja. Kenzie bertanya sambil melambaikan tangan memanggil pelayan.


"Belum. Kami sengaja menunggu anda datang terlebih dahulu". Jawab koleganya dengan sopan.


Tak lama seorang pelayan datang menghampiri meja mereka.


"Selamat siang. Mau pesan apa?". Pelayan itu bertanya dengan sopan dan senyum yang ramah.


"Tolong bawakan ini, ini, ini dan ini. Untuk minumannya saya pesan yang ini. Anda berdua kau pesan apa? ". Kenzie memesan makanan untuknya dan juga untuk Dara. Dia menunjuk beberapa macam hidangan yang telah tercatat dimenu. Setelah itu dia bertanya pada koleganya.


"Eum... kami... pesan yang ini, ini dan ini saja". Rekan bisnis Kenzie pun memesan dengan cara yang sama.


"Baik, mohon tunggu sebentar. Kami akan segera menyiapkan pesanan anda". Pelayan itu berbalik meninggalkan meja Kenzie untuk menyiapkan pesanannya.


Sambil menunggu pesanan mereka diantarkan, mereka mulai membahas kerja sama yang akan mereka lakukan kedepannya.


"Ini proposal yang saya katakan sebelumnya. Disini saya sudah menerangkan apa saja yang akan kita peroleh dari kerja sama kita nanti". Kolegan Kenzie memberikan proposan untuk Kensie pelajari.


"Apa anda sudah mempertimbangkan semua kemungkinannya?". Kenzie bertanya sambil membaca isi proposal.


"Ya. Kami sudah memperhitungkan setiap kemungkinan yang terjadi nanti. Saya rasa ini bukan kerja sama yang buruk".


Kenzie mendengarkan penjelasan koleganya sambil membaca setiap rinciannnya.


"Ya, saya rasa tidak ada yang buruk dengan rancangannya. Saya harap kerja sama kita berjalan dengan baik kedepannya". Kenzie menyambut baik kerja sama dengan koleganya sambil mengulurkan tangan tanda kerja sama mereka akan dimulai.


"Benarkah? Ya, saya harap juga begitu".

__ADS_1


"Sekarang kita nikmati makan siang kita"


__ADS_2