Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Hari Ini Terasa Seperti Naik Roller Coaster


__ADS_3

Dara sangat terkejut mendengar ucapan Kenzie. Dia menatap Kenzie dengan dahi berkerut heran.


"Kenapa kamu sangat terkejut seperti itu? Memang apanya yang aneh?". Kenzie bertanya dengan sikap yang tenang sambil tersenyum.


"Pak Kenzie, saya ini sekretaris anda, bagaimana mungkin saya jadi pacar anda?". Dara bicara sambil mengusap kepalanya sendiri karena pusing.


"Kenapa tidak mungkin? Kamu perempuan dan aku laki-laki, apa yang jadi masalah sampai kamu mengatakan tidak mungkin?". Kenzie menanggapi dengan sikap acuh tak acuh disertai senyum tipis dibibirnya.


"Itu karena … anu … saya …". Dara terlihat salah tingkah saat Kenzie mendesaknya untuk menjadi pacarnya.


Imutnya


"A-e-a-e. Apa …?". Kenzie terus saja menggoda Dara yang terlihat lucu karena salah tingkah.


"Ah sudahlah. Bisakah anda langsung mengantarkan saya pulang saja? Tangan saya rasanya panas sampai ingin memasukkannya kedalam air es". Dara mencoba mengalihkan perhatian Kenzie dengan menjadikan lukanya sebagai alasan.


"Biar aku bantu tiupkan saja. Sepertinya jika aku yang meniupnya, lukanya akan sembuh dengan cepat". Kenzie langsung mendekati Dara hendak meniup luka dikedua tangannya.


"Eeh Pak Kenzie, apa yang akan anda lakukan?!". Dara berteriak dengan panik dan mata membelalak tajam saat Kenzie sedikit menundukkan tubuhnya dan mendekatinya.


"Meniup lukanya. Bukannya kamu bilang sangat panas?". Kenzie terus saja menggoda Dara yang kini wajahnya sudah berubah merah karena tersipu malu.


"Pak Kenzie, berhentilah menggoda saya", ujar Dara dengan nada manja


"Hahaha … baiklah baiklah. Aku akan mengantarmu pulang. Selama tanganmu masih belum sembuh, maka kamu tidak boleh masuk kerja". Kenzie yang sebelumnya terbahak setelah menggoda Dara, kini kembali bersikap tenang dan bicara dengan serius.


"Baik. Saya mengerti". Dara mengangguk setuju dengan ucapan Kenzie.


"Kamu ini lugu, polos atau justru bodoh? Bagaimana bisa kamu masuk perangkap mereka?". Kenzie bicara dengan sikap yang tenang namun sangat sarkastik membuat Dara langsung menoleh dan menatapnya dengan sinis.


"Apa maksudnya itu? Anda merendahkan saya?", ujar Dara dengan sikap yang dingin dan kesal.


"Kamu tahu kalau ada kemungkinan besar terjadi hal tidak terduga seperti itu, kenapa kamu malah datang keacara begitu?".

__ADS_1


"Itu karena saya hanya berpikir kalau tidak enak jika harus menolak undangan teman lama saya. Lagipula saya tidak tahu kalau kak Nasya dan tunangannya itu akan datang dan membuat keributan". Dara mengeluh dengan bibir mengerucut manja.


"Kamu harus bisa mengantisipasi hal buruk terjadi setiap ada kesempatan bertemu dengan keluarga Dermawan. Melihat kejadian tadi saja, aku sudah bisa bayangkan seberapa buruknya hubungan diantara kalian".


Dara terdiam dan tidak menanggapi ucapan Kenzie, lalu dia teringat pada Noey yang masih berada dipesta.


"Pak, bukannya pak Noey masih ada di restoran? Apa yang beliau lakukan? Atau mungkin gara-gara saya, meeting anda jadi berantakan?". Dara bertanya dengan ragu pada Kenzie sambil menatapnya yang kini mendorong kursi roda.


"Tidak perlu pikirkan itu. Keselamatanmu lebih penting daripada meeting". Dara tersipu malu dan tidak mengatakan apa-apa.


...****************...


Sementara itu di restoran.


Semua orang masih membicarakan perihal kejadian yang menimpa Dara


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?". Lucky bertanya pada Nasya yang masih terlihat gugup.


"Ya, aku tidak papa". Nasya menanggapi dengan senyum yang terlihat dipaksa sambil memegangi gelas minuman.


"Jika aku jadi kamu juga pasti akan menyiramnya dengan sup panas itu. Mulutnya sangat kurang ajar. Padahal kamu sudah berbaik hati tinggal dengannya sejak kecil. Rumah besar itu juga milik nenekmu kan?"


"Kalian tidak boleh bicara seperti itu. Aku memang menyiramnya dengan sup panas. Tapi itu benar-benar kecelakaan. Aku tidak sengaja melakukannya. Tidak mungkin aku dengan sengaja mencelakai orang yang sejak kecil selalu membantu melayani kebutuhanku kan?". Nasya menanggapi ucapan teman-temannya dengan raut wajah penuh penyesalan dan nada bicara yang terlihat menyedihkan.


Kebanyakan orang-orang yang datang kereuni malah mendukung Nasya yang menyiram Dara dengan sup panas karena yang mereka tahu Nasya telah memberikan dukungan pada Dara agar dia bisa sekolah dan juga hidup mewah di kediaman Darmawan.


Tring!


Noey, apa kamu sudah mendapatkan bukti rekaman CCTV saat Dara disiram?.


Tulis Kanzie dalam pesan singkatnya.


Ya. Aku mendapatkannya. Tapi, apa kamu tahu? Disini tidak ada orang yang merasa iba atau kasihan pada Dara. Mereka berpikir kalau Dara memang pantas mendapatkannya.

__ADS_1


Aku sudah menebak sebelumnya. Gadis bernama Nasya itu sangat manipulatif.


Lalu, apa yang harus kita lakukan?


Sebarkan video saat dia menyiram Dara. Buat caption sedramatis mungkin sampai semua orang merasa iba pada Dara.


Baik. Akan aku lakukan.


Noey dan Kenzie pun berhenti saling berkirim pesan dan Noey bergegas pergi meninggalkan restoran.


"Sya, apa yang akan kamu lakukan dengan Dara? Bagaimana jika dia membawa masalah ini pada polisi?". Lisa bertanya pada Nasya sebelum mereka berpisah karena acaranya telah selesai.


"Tidak perlu khawatir. Banyak orang yang menjadi saksi kalau Dara yang mulai pertengkarannya. Lagipula, nenekku pasti akan melakukan sesuatu agar Dara tidak berani melakukan hal seperti itu". Nasya menanggapi dengan sikap yang tenang dan senyum percaya diri. Dia sama sekali tidak merasa takut karena sang nenek sudah pasti akan membelanya.


"Baguslah jika seperti itu Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa nanti". Lida pun beranjak pergi meninggalkan Nasya sambil melambaikan tangan saat mereka saling menjauh.


"Sayang, ayo kita pulang. Ini sudah larut, aku akan mengantarmu pulang kerumah", ujar Lucky yang sejak tadi menunggu Nasya yang sedang berbincang dengan Lisa.


"Ya, ayo pulang". Nasya tersenyum lembut sambil memasuki mobil Lucky.


"Apa benar kamu baik-baik saja?". Lucky bertanya dengan lembut sambil menggenggam erat tangan Nasya.


"Aku tidak papa. Tapi sepertinya karena masalah ini … Dara akan semakin membenciku. Masalahnya dengan nenek saja belum selesai, bagaimana bisa aku terbawa emosi dan membuat masalah baru dengannya?" Nasya menundukkan kepala dengan wajah penuh penyesalan.


"Tenanglah. Ini bukan salahmu. Ini terjadi karena Dara juga memprovokasimu, jika saja dia tidak membuatmu marah, pasti ini semua tidak akan terjadi". Lucky berusaha keras untuk menghibur Nasya yang terlihat sedih didepannya, namun saat dia berbalik terlihat sebelah ujung bibir Nasya sedikit naik hingga menunjukkan seringai tipis.


...****************...


Ditempat lain. Dara sudah sampai apartemen Sita setelah Kenzie mengantarnya hingga masuk ke dalam apartemen.


"Istirahatlah dan jangan lupa minum obatnya. Jika butuh sesuatu, hubungi saja aku. Ingat agar lukamu tidak terkena air selama beberapa hari". Kenzie berpesan terlebih dahulu sebelum dia pergi meninggalkannya.


"Ya, saya mengerti. Terima kasih banyak sudah mengantar saya". Kenzie hanya menganggukkan kepala dan langsung beranjak pergi meninggalkan apartemen Sita

__ADS_1


Dara berdiri dibalik pintu dengan raut wajah bingung


"Gila! Ini gila! Bagaimana bisa jadi seperti ini? Apa pak Kenzie diam-diam memperhatikan aku selama kerja?Tapi bagaimana mungkin, seorang Kenzie Lutherin Anggara bisa tertarik padaku? Sudahlah. Lupakan. Hari ini benar-benar penuh dengan kejutan untukku. Rasanya satu hari ini terasa seperti aku naik roller coaster yang sangat panjang.


__ADS_2