Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Hari Pertama Gathering


__ADS_3

Dara tiba dikantor setelah menempuh perjalanan beberapa lama dari rumahnya. Dia mengendarai mobil SUV milik Kenzie dengan anggunnya. Semua orang memperhatikan saat Dara baru saja tiba dikantor.


"Lihatlah sekretaris baru pak Kenzie. Mana mungkin seorang sekretaris bisa mengendarai mobil mewah seperti itu. Apalagi dia baru saja mendapat pekerjaan sebagai sekretaris", ujar salah satu karyawati yang sudah lama menjadi staf marketing. Dia bernama Tia.


"Maksudmu Ana? Mungkin saja dia memang berasal dari keluarga berada. Lagipula kita tidak tahu kan sebelumnya dia bekerja diperusahaan mana? Jadi kita tidak bisa langsung berprasangka buruk padanya begitu saja". Rekan Tia menanggapi dengan sikap positif tanpa terpancing oleh kata-kata yang dilontarkan Tia.


"Kita memang tidak tahu tentang identitas dia, tapi tetap saja untuk ukuran sekretaris kalau mengendarai mobil semewah itu kekantor rasanya agak …". Tia menggantungkan kalimatnya dan membuat ekspresi wajah yang sulit dimengerti hingga membuat orang lain curiga.


"Apa yang kalian bicarakan?", tanya seorang karyawati lain dari bagian yang sama dengan Tia.


"Itu Fel, Ana, sekretaris baru pak Kenzie. Lihatlah mobil yang dia gunakan. Menurutmu apa pantas jika seseorang yang hanya bekerja sebagai sekretaris menggunakan mobil mewah seperti itu ke kantor? Dia bertingkah seperti dia memiliki jabatan yang tinggi diperusahaan ini saja". Tia berusaha memprovokasi sambil menunjuk kearah Dara dengan dagunya.


Felin menatap kearah Dara dan melihat mobil yang dia gunakan.


"Sepertinya mobil itu tidak asing bagiku. Tapi aku juga tidak ingat siapa yang pernah menggunakan mobil itu sebelumnya", ujar Felin sambil nenatap mobil Dara seakan sambil berpikir.


"Mobil itu diproduksi secara masal, tentu saja ada orang lain juga yang memakainya", ujar salah seorang karyawan pria yang ada disana.


"Alah, kamu membelanya karena kamu tertarik padanya kan?". Tia bertanya dengan nada sinis dan mata mendelik tajam.


"Perhatian semuanya. Ayo berkumpul terlebih dahulu sebelum kita berangkat!". Ujar penanggung jawab acara.


Semua orang pun mulai berkumpul dan berbaris sesuai dengan bagian mereka masing-masing. Dara yang hanya sendiri berdiri bersama bagian HRD.


"Kita akan mengadakan gathering selama 3 hari 2 malam. Disana kita akan mengadakan beberapa kegiatan untuk mempererat kekompakan kita. Saya harap semuanya dapat bekerja sama dan saling membantu satu sama lain". Ketua pelaksana menjelaskan mengenai apa yang akan mereka lakukan saat acara nanti.


"Apa ada yang ingin kalian tanyakan?". Sambung ketua pelaksana memastikan sebelum berangkat.


"Tidak ada!". Semua orang menjawab dengan serempak pertanyaan ketua.


"Kalau begitu mari kita berangkat sekarang".


Satu persatu karyawan pun mulai naik ke dalam bus yang telah disiapkan perusahaan. Dara terlihat tetap tenang meskipun dia sendirian. Dia meninggalkan mobilnya terparkir dikantor.


"Ana, sebelah sini! Bergabunglah dengan kami!".


Salah satu karyawati menawarkan pada Dara dengan sikap yang ramah. Sayangnya dia duduk didekat Tia. Namun karena Dara tidak mengenal Tia, jadi diapun menerima tawaran gadis itu.

__ADS_1


"Terima kasih", ujar Dara dengan sopan dan senyum lembut dibibirnya.


"Sama-sama. Karena kamu baru, kamu pasti belum bisa beradaptasi dengan baik. Oh iya, namaku Saskia, ini Tia dan ini Felin". Gadis itu memperkenalkan dirinya dan teman-temannya.


"Hai, namaku Ana". Dara menanggapi dengan senyum ramah.


"Ana, sudah berapa lama kamu bekerja sebagai sekretaris?", tanya Tia dengan nada yang sinis.


"Sebelumnya aku bekerja selama 3 tahun, tapi karena ada beberapa alasan pribadi, jadi aku berhenti dan sekarang aku kembali menjadi sekretaris pak Kenzie". Dara menjelaskan dengan sikap yang tenang dan tersenyum tipis pada Tia dan juga teman-temannya.


"Berarti kamu memang sekretaris yang sudah berpengalaman ya?", tanya Saskia dengan sikap yang ramah.


"Ya bisa dibilang begitu". Dara menanggapi dengan sikap yang tenang.


"Apa kamu memang berasal dari keluarga kaya?", tanya Tia dengan sinis.


"Eum … tidak bisa dikatakan kaya juga. Orang tuaku sudah lama meninggal, jadi aku tinggal bersama nenek sampai 3 tahun yang lalu aku memutuskan untuk hidup mandiri". Dara tersenyum canggung saat menjelaskan sedikit tentang dirinya.


"Kamu turut berduka. Apa sekarang kamu tinggal sendiri?".


"Oh kalau begitu selamat. Kami tidak menyangka kalau kamu sudah menikah", ujar Felin dengan senyum ramah.


"Terima kasih".


"Apa suamimu tidak marah karena kau ikut acara ini?", tanya Saskia khawatir.


"Tidak. Kebetulan juga dia sedang ada urisan diluar kota, jadi tidak masalah". Dara menanggapi sambil menggelengkan kepala dan tersenyum lembut.


"Apa dia juga seorang pekerja?"


"Ya, dia bekerja, namun pekerjaan tidak pasti dibagian apa, karena terkadang dia berada diperusahaan dan kadang juga berada diluar perusahaan".


Tia, Felin dan Saskia menganggukkan kepala menanggapi ucapan Dara.


Mereka terus berbincang mengenai banyak hal hingga tanpa terasa mereka telah tiba di tempat tujuan mereka.


"Kita sudah sampai. Semuanya boleh turun!", ujar kordinator yang ada di mobil bus Dara.

__ADS_1


Mereka pun turun satu persatu dan memperhatikan sekeliling begitu mereka turun dari bus.


"Waah pemandangannya indah sekali"


"Benar. Disini sangat sejuk dan indah"


"Aku tidak sabar melihat bagian dalam vila"


"Aku juga"


Semuanya tampak asyik membicarakan tempat mereka akan menginap. Dara pun ikut terpesona dengan tempat itu


Waah … indah sekali. Jika kak Kenzie ada disini, tentu kami bisa menikmati pemandangan indah ini bersama.


Pikiran Dara secara tak sengaja langsung tertuju pada Kenzie.


Aish!! Dara … apa yang kamu pikirkan! Mana mungkin bisa menikmati momen romantis seperti itu dengan Kak Kenzie. Memangnya apa yang akan kamu lakukan berdua dengannya? Kamu sendiri bahkan tidak berani mengatakan perasaanmu padalah dia sudah jadi suamimu.


Dara menggelengkan kepalanya sambil sesekali memukul kepalanya sendiri untuk menghilangkan pikiran dalam kepalanya.


"Semuanya! Berkumpul!".


Dara tersadar dari lamunannya setelah mendengar instruksi untuk berkumpul. Semua orang pun berkumpul seperti sebelum mereka berangkat.


"Perhatian semuanya. Kami disini telah mengatur kamar masing-masing sesuai dengan bagian kerja kalian. Nanti kalian bisa mengikuti karyawan resort yang ada disana untuk diarahkan ke kamar kalian masing-masing. Sekarang kalian bisa istirahat dan membereskan barang kalian terlebih dahulu. Nanti kita akan berkumpul lagi setelah jam makan siang. Kalian mengerti?!"


"Mengerti!".


Kordinator pelaksana memberikan pengarahan pada semuanya, dan panitia lain memberikan kunci kamar masing-masing yang akan mereka tempati. Karena Dara sendirian dari bagian sekretaris, jadi dia juga mendapatkan kamar sendiri.


"Enak sekali jadi Ana. Dia tidak harus berbagi kamar dengan orang lain", ujar Tia yang menatap Dara dengan tatapan sinis.


"Sudahlah. Dia kan memang sendiri jadi dia mendapatkan kamar sendiri tanpa rekan. Kamu tidak mau satu kamar denganku?". Saskia menanggapi ucapan Tia dengan sikap yang tenang.


"Bukan begitu. Hanya saja kan lebih menyenangkan berada di resort sendiri sambil menikmati suasana. Jika boleh pilih … aku lebih suka satu kamar dengan pria dan menikmati suasana romantis daripada denganmu"


"Itu sih memang maunya kamu!"

__ADS_1


__ADS_2