Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
One Night Stand Nasya


__ADS_3

Keesokan harinya Nasya terbangun disebuah kamar hotel tanpa mengenakan sehelai pakaian pun ditubuhnya. Dia tertidur hanya dengan selimut yang menutupi tubuh indahnya.


"Euh … kepalaku sakit sekali", gumam Nasya yang mulai bangun daei tidur lelapnya.


"Selamat pagi … kamu sudah bangun?".


Nasya terkejut mendengar suara seorang pria disampingnya. Diapun langsung membuka mata dan menoleh pada pria yang berbaring disebelahnya.


"Siapa kamu? Kenapa kamu disini?!", teriak Nasya dengan panik. Diapun langsung duduk dan sangat terkejut dengan selimut yang hampir saja terbuka dan menunjukkan bentuk tubuh bagia atasnya.


"Ini …". Nasya baru menyadari kalau dia tidak mengenakan pakaian dan mulai menoleh kesekelilingnya. Dia melihat bajunya dan pria itu berserakan dilantai.


"Apa yang telah kamu lakukan padaku?! Kenapa kita berada dikamar yang sama?!". Nasya kembali berteriak dengan panik setelah menyadari apa yang terjadi padanya.


"Aku sangat sedih melihat reaksimu seperti itu. Bagaimana kamu bisa melupakan malam indah kita yang panjang sementara aku mengingat semuanya dengan jelas?".


Pria itu menanggapi Nasya dengan sikap yang tenang sambil tersenyum manis padanya. Diapun mulai beranjak dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya.


"A-apa yang sudah terjadi antara kita? Memangnya apa yang sudah kita kakukan?". Nasya terlihat gugup dan juga penasaran dengan apa yang terjadi diantara mereka berdua.


"Kamu benar-benar tidak ingat bagaimana kita menghabiskan malam bersama?".


Pria itu mendekatkan wajahnya pada Nasya dan bicara dengan nada yang menggoda. Jarak wajah mereka sangat dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan.


Nasya memalingkan wajahnya dari pria itu dan berpikir keras untuk mengingat apa yang terjadi diantara mereka.


"Aku benar-benar kecewa karena kamu melupakan bagaimana kamu menggodaku dan mengatakan kalau kamu butuh seseorang untuk mencurahkan kegundahan yang tengah kamu rasakan". Pria itupun berdiri dan kembali mengenakan pakaiannya yang belum selesai.


Saat itulah Nasya mulai mengingat apa yang terjadi padanya dan pria itu. Dia mengingat bagaimana dia datang ke bar dan mulai minum alkohol.


Flash back on


"Berikan aku alkohol dengan kadar tinggi".

__ADS_1


Dia juga mengingat bagaimana pria itu mendekatinya.


"Hai cantik, apa kamu sendiri? Bagaimana bisa gadis secantik dirimu berada ditempat seperti ini sendirian?". Pria itu datang saat Nasya mulai mabuk.


"Tidak ada yang bisa menemaniku. Saat aku membutuhkan seseorang bersamaku. Kak Lucky justru sibuk dan pergi dinas keluar kota". Nasya yang setengah mabuk menanggapi pria itu sambil menenggak minumannya.


"Kalau begitu biar aku yang menemanimu. Aku yakin kalau aku bisa membuatmu nyaman dan sejenak melupakan kesedihanmu. Kita bisa menghabiskan malam bersama dengan bahagia", ujar pria itu dengan senyum menggoda.


"Benarkah? Apa kamu bisa membuatku bahagia? Apa kamu bisa menghilangkan masalahku?", tanya Nasya yang pandangannya semakin berkunang-kunang.


"Tentu saja. Aku bisa jamin kalau malam ini kamu akan merasa sangat bahagia dan melupakan semua kesedihanmu. Bagaimana kalau kita pergi darisini dan mencari tempat untuk kita berdua saja?". Senyum pria itu semakin lebar saat dia berusaha untuk terus meyakinkan Nasya.


Nasya yang mabuk mengangguk setuju dan percaya dengan apa yang dikatakan pria itu. Mereka pun pergi meninggalkan bar dan mencari hotel yang dekat


Flash back off


"Sepertinya kamu sudah mengingat apa yang terjadi antara kita berdua?".


Suara pria itu menyadarkan Nasya dari lamunannya.


Nasya bicara dengan sikap yang dingin. Diapun mulai beranjak dari tempat tidurnya dan mengenakan semua pakaian miliknya.


"Apa kamu yakin ingin seperti itu?", tanya pria itu memastikan.


"Ya. Aku tidak ingin memiliki hubungan yang lebih jauh denganmu", ujar Nasya menegaskan.


"Baiklah. Tapi jika kamu berubah pikiran, kamu bisa langsung mencariku. Ini kartu namaku dan akan kupastikan kalau aku bisa membuatmu selalu bahagia saat sedang bersamaku". Pria itu meletakkan kartu namanya diatas nakas sebelum dia berlalu pergi meninggalkan kamar hotel.


"Bagaimana ini? Jika Lucky sampai tahu apa yang telah terjadi padaku semalam … dia pasti langsung membatalkan pertunangan kami dan meninggalkanku tanpa ragu. Aku tidak ingin kehilangan dia". Nasya langsung terkulai lemas saat pria itu telah pergi. Dia merasa khawatir akan kelanjutan hubungannya dengan Lucky


"Dia tidak boleh sampai tahu hal ini. Ya, tidak boleh!". Nasya kembali mengumpulkan tekadnya dan terlihat sangat yakin dengan apa yang jadi keputusannya.


...****************...

__ADS_1


Ditempat lain, Dara bersiap pergi ke kantor untuk acara gathering. Sedangkan Kenzie tidak bisa pergi dengannya karena ada rapat penting.


"Kamu yakin tidak ingin aku mengantarmu ke kantor lebih dulu? Ini masih sempat dan kurasa tidak akan ada masalah". Kenzie bertanya pada sang istri yang sedang bersiap untuk pergi.


"Tidak perlu. Kita berbeda arah, aku tidak ingin kamu membuang waktumu dengan mengantarku lebih dulu. Tapi, apa boleh aku menggunakan salah satu mobil yang ada diparkiran?". Dara menolak dengan halus usulan Kenzie ean meyakinkan sang suami untuk pergi berkendara masing-masing.


"Sepertinya kamu mengajukan pertanyaan yang tidak perlu jawaban. Kamu nyonya rumah ini, tentu saja kamu bisa menggunakan apapun yang ada dirumah ini sesuka hatimu". Kenzie menanggapi pertanyaan Dara dengan wajah yang sedikit kesal.


"Maaf, aku hanya ingin mendapatkan persetujuan darimu saja". Dara kembali menanggapi dengan senyum manis.


"Baiklah. Kalau begitu sebaiknya kita pergi sekarang. Kamu bisa memilih lebih dulu mobil yang ingin kamu gunakan di basement".


Kenzie dan Dara bicara sambil melangkahkan kaki ke basement untuk memilih mobil. Ada 4 mobil yang Kenzie miliki. 1 mobil yang selalu dia gunakan ke kantor, 2 mobil sport dan 1 mobil SUV.


"Aku hanya akan menggunakan mobil biasa saja", ujar Dara sebelum melihat mobil Kenzie.


"Kalau begitu kamu bisa gunakan SUV itu. Itu terlihat lebih biasa dibandingkan mobil sport". Tunjuk Kenzie pada salah satu mobilnya.


"Apanya yang biasa? Mobil keluaran Mercedes tidak bisa dikatakan biasa". Dara mengeluh saat Kenzie menunjuk mobil SUV miliknya. Kenzie tidak bisa mengatakan apapun lagi dan hanya tersenyum.


"Kalau begitu sampai jumpa. Hati-hati saat berkendara dan ingat untuk memberikan kabar saat kamu tiba". Dara bicara pada Kenzie sebelum dia pergi. Dia mengingatkan sang suami untuk tetap berhati-hati.


"Ya, aku akan mengingatnya. Jika urusanku telah selesai, aku akan datang ke lokasi dan bergabung dengan kalian. Tapi aku tidak tahu pasti kapan urusanku akan selesai".


Kenzie biacra pada Dara dengan sikap yang tenang.


"Tidak perlu memaksakan diri. Aku tidak papa lagipula disana banyak orang. Aku tidak ingin ada yang curiga dengan hubungan kita".


"Ya, aku mengerti. Kuharap kamu bisa bersenang-senang dengan yang lain. Oh, aku belum sempat membuatkan kartu kredit untukmu, jadi untuk sementara ini kamu gunakan saja kartu kredit milikku". Kenzie memberikan Dara kartu kreditnya sebelum mereka berpisah.


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi". Dara menerima kartu kredit Kenzie dan mulai mengendarai mobilnya.


"Ya, sampai jumpa". Kenzie melambaikan tangan menatap mobil Dara yang semakin menjauh.

__ADS_1


"Melihatnya pergi … rasanya aku sama sekali tidak rela. Aku harus segera menyelesaikan urusanku dan segera berlari kearahnya. Tidak peduli dia ada dimana, aku ingin selalu berada disampingnya"


__ADS_2