
"Sayang, apa kamu sudah siap? Kita harus berangkat sekarang". Kenzie bicara pada sang istri yang sedang bersiap pergi kekantor dengannya.
"Iya. Ini jasnya. Sini, aku bantu pakaikan". Dara menanggapi sambil berjalan menghampiri Kenzie dengan tas dan juga jas ditangannya. Lalu dia meletakkan tasnya di meja dan membantu memakaikan jas milik Kenzie.
"Baiklah". Kenzie mengulurkan tangannya dan membiarkan Dara memakaikan jasnya dan merapikannya.
"Terima kasih , Sayang. Ayo kita berangkat".
Kenzie dan Dara mulai melangkahkan kaki mereka setelah Dara menanggapi dengan anggukan kepala. Kenzie berjalan lebih dulu diikuti Dara berjalan dibelakangnya.
"Silahkan masuk permaisuriku", ujar Kenzie sambil membukakan pintu mobil untuk Dara.
"Terima kasih". Dara menanggapi sambil tersipu malu dengan panggilan Kenzie untuknya.
"Hari ini aku dan Noey ada meeting diluar, sepertinya itu akan memakan waktu lama, apa kamu tidak papa jika makan siang sendiri?". Kenzie bertanya pada Dara setelah dia mulai menjalankan mobilnya.
"Ya, tidak masalah. Kak Zie tidak perlu khawatir". Dara menanggapi dengan sikap yang tenang sambil menggelengkan kepala perlahan.
"Baguslah kalau begitu. Aku akan kembali sebelum jam pulang kerja, jadi kita bisa pulang bersama".
"Baiklah".
Tak lama mereka tiba dikantor. Seperti biasa, Dara turun ditikungan sebelum kantor.
"Sampai kapan aku harus menurunkan kamu disini? Rasanya aku tidak tega membiarkan istriku jalan sendiri". Raut wajah Kenzie terlihat sedih saat Dara hendak turun dari mobil.
"Untuk saat ini, kurasa ini yang terbaik. Karyawan lain akan sangat terkejut jika tahu hubungan kita. Aku tidak ingin ada gosip buruk tentang Kak Zie dikantor". Dara menanggapi Kenzie dengan senyum yang lembut sambil memegang sebelah tangannya untuk menenangkan sang suami.
"Haah... Baiklah. Aku tidak akan mengatakan apapun lagi. Turunlah dulu. Aku akan melihatmu dari belakang".
Sesaat Dara terdiam dengan senyum lembut tanpa mengatakan apapun. Dia tahu betul kalau sang suami tidak bisa dibantah ataupun dilarang.
"Baiklah aku turun duluan". Dara pun akhirnya turun dan mulai berjalan sendiri menuju gedung kantor. Tak lama setelah dia memasuki gedung kantor, Kenzie pun tiba dikantor.
"Selamat pagi, Pak"
"Pagi Pak Kenzie".
Setiap karyawan yang berpapasan dengan Kenzie menyapanya dengan hormat. Kenzie hanya menanggapi dengan anggukan kepala serta sikap yang berwibawa dan tetap berjalan menuju ruangannya bersama Dara berjalan dibelakangnya.
__ADS_1
"Setelah memeriksa beberapa dokumen, aku akan langsung pergi meeting keluar. Jika ada sesuatu hubungi aku". Kenzie bicara pada Dara yang mengikutinya keruangan.
"Baik, Pak". Dara menanggapi dengan sopan dan formal karena mereka ada dikantor dan banyak yang memperhatikan mereka berdua.
Setelah disibukan dengan pekerjaan yang menumpuk, akhirnya tiba waktunya makan siang. Dara pergi ke kantin sendiri karena Kenzie sedang meeting keluar kantor. Dia mengambil makanan sambil bicara dengan Delia melalui sambungan telepon.
"Tante bisa langsung mengoperasikan perusahaan. Cukup kirim laporan padaku secara berkala. Pemilik saham lain tidak perlu tahu mengenai pemilik perusahaan saat ini". Dara bicara dengan sikap yang tenang sambil ikut mengantri.
"Baiklah. Aku akan lakukan seperti apa yang kamu katakan", ujar Delia dari ujung telepon.
"Terima kasih, Tante. Sampai jumpa". Dara langsung menutup teleponnya setelah dia selesai bicara dan kembali mengantri untuk mengambil makan siangnya.
"Oh, lihatlah siapa ini? sekretaris pengganti sedang makan siang". Tia yang juga hendak makan siang bersama Felin dan Saskia bicara dengan nada sarkas dan menatap Dara dengan tatapan yang sinis.
Dara menoleh mendengar ucapan Tia, namun dia kembali berbalik dan hendak meninggalkan mereka sebelum Tia kembali berulah.
"Eh, siapa yang menyuruhmu pergi? Kami kan sedang bicara padamu!". Tia menahan langkah Dara dengan berdiri dihadapannya.
"Minggir". Dara masih bicara dengan sikap yang tenang meskipun dia terlihat dingin dan acuh tak acuh.
"Ada apa dengan nada bicaramu, hah?! Kamu berani bersikap sinis padaku?". Tia bicara dengan nada mencibir dan sikap yang angkuh.
Raut wajah mereka seketika berubah. Terutama Felin dan Saskia yang saling menatap satu sama lain.
"Kamu sudah berani mengancamku, hah?!". Tia bicara dengan sinis sambil menarik bahu Dara hingga dia kembali berbalik dan menumpahkan semua makanan yang sedang dia bawa ditanyannya.
Prang!!
Semua orang menoleh karena suara keributan yang ditimbulkan. Dara menatap dengan kesal karena makan siangnya yang berserakan dilantai.
"Apa mau kalian sebenarnya?" tanya Dara dengan sikap yang dingin.
"Tidak ada. Kami hanya tidak suka saja melihatmu bekerja disamping pak Kenzie. Perempuan tidak jelas dan murahan!". Tia terus bicara dengan sikap yang sombong.
"Apa katamu? Katakan sekali lagi!". Dara kembali bertanya dengan sikap yang dingin sambil melangkah maju mendekati Tia.
"Kamu perempuan murahan!".
Plak!
__ADS_1
Ah
Dara langsung menampar pipi Tia dengan keras sampai semua orang menoleh padanya.
"Kamu gila ya! Berani-beraninya kamu menamparku!".
"Sebenarnya aku tidak ingin menampar pipimu, aku hanya ingin menampar mulut kurang ajarmu itu! Haruskah aku melakukannya?!". Dara bicara dengan sikap yang tenang dan dingin yang membuat Tia langsung diam dengan kata-katanya.
"Dengarkan aku. Aku memang baru bekerja disini, tapi bukan berarti kamu bisa bertindak seenaknya karena kamu. Terlebih lagi dengan alasan yang tidak masuk akal. Meskipun aku tidak bekerja sebagai sekretaris pak Kenzie, kamu pikir posisi itu tidak akan diisi orang lain? Pak Kenzie butuh sekretaris dan orang sepertimu tidak pantas mengisi posisi itu. Bahkan bekerja disini saja kamu tidak pantas!", sambung Dara dengan sikap acuh tak acuh.
"A-apa maksudmu? Kamu pikir aku menginginkan posisi itu?!" Tia langsung panik setelah Dara tahu kalau Tia ingin jadi sekretaris Kenzie.
"Meskipun kamu menginginkannya, aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkannya", ujar Dara dengan sikap yang tenang lalu dia berjalan mendekati Tia.
"Apa? Mau apa kamu? Jangan mendekat!". Tia terlihat sangat panik saat Dara berjalan kearahnya.
"Aku tidak akan membiarkan wanita sepertimu berada disamping suamiku. Jadi sebaiknya urus surat pengunduran dirimu sebelum aku mengatakan pada kak Zie kalau kamu yang menyebabkan aku terluka saat gathering!". Bisik Dara dengan sikap yang dingin.
"Apa?!"
"Ada keributan apa ini?!". Semua menoleh mendengar suara Kenzie.
"Anda sudah kembali? Apa meetingnya berjalan lancar?". Dara kembali bersikap lembut dengan senyum manis ketika dia melihat Kenzie.
"Ya, semuanya berjalan lancar. Apa yang terjadi? Apa terjadi sesuatu saat aku tidak ada disini?", ujar Kenzie yang masih belum mendapatkan jawaban dari Dara.
"Tidak ada apa-apa. Sebaiknya kita pergi, Pak. ada dokumen yang harus saya laporkan pada anda. Tolong bersikan itu", pinta Dara pada cleaning service yang kebetulan berada disana
"Baiklah. Ayo tunjukan dokumennya"
Dara mengangguk dan mengikuti Kenzie meninggalkan kantin.
"Dia istri pak Kenzie? Bagaimana ini? Jika itu benar dan dia mengatakan semua pada pak Kenzie maka aku tidak akan bisa bekerja dimanapun. Sial! Kenapa aku malah melakukan ini? Habis sudah. Aku tidak punya pilihan selain berhenti darisini agar tidak bertemu dengan pak Kenzie".
Batin Tia terus saja bicara sambil terus melihat punggung Dara dan Kenzie yang semakin menjauh.
"Ada apa? Apa yang dia katakan padamu?". Felin dan Saskia yang berdiri sedikit dibelakang Tia langsung mendekat dan bertanya dengan antusias pada Tia.
"Aku harus mengajukan surat pengunduran diri sebelum terlambat!"
__ADS_1
"Apa? Apa maksudmu?" Felin dan Saskia sangat terkejut, heran dan penasaran dengan apa yang terjadi pada Tia. Namun mereka tidak mendapatkan jawaban apapun karena Tia langsung pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun pada kedua rekan kerjanya itu.