
"Nenek terkena stroke, ayah meninggal, kak Lucky meninggalkanku. Bagaimana bisa seperti ini? Tidak mungkin. Aku ini seorang Nasya Darmawan. Keluargaku adalah salah satu keluarga kaya yang memiliki perusahaan sendiri dan juga mall besar. Hahaha … banyak orang yang iri padaku hahahaha. Tapi … kenapa aku ada disini? Ini bukan rumahku, tempat apa ini... ?".
Setelah kepergian Dara dan Kenzie, Nasya terus termenung. Dia. berbicara sendiri sambil tertawa terbahak-bahak dan sesaat kemudian dia tiba-tiba menangis sedih.
"Ada apa dengannya? Kenapa sejak tadi dia bersikap seperti itu?", ujar rekan satu sel Nasya yang merasa aneh dengan sikapnya.
"Entahlah. Mungkin dia sudah gila". Nasya yang mendengar ucapan rekan satu selnya itu langsung menoleh dengan sorot mata yang tajam.
"Apa katamu?! Aku gila?! Aku Nasya Darmawan tidak mungkin gila! Kamu yang gila! Dasar miskin! Bau! Mati kamu!".
"Aah tolong! Wanita ini sudah gila!".
Nasya yang tiba-tiba emosi langsung menarik rekan satu selnya itu dan menjambak rambutnya dengan sangat keras. Dia juga terus memukul-mukul punggung wanita yang mengejeknya.
"Penjaga! Lepaskan!". Semua rekan satu sel Nasya berusaha memisahkan mereka, namun Nasya tetap tidak ingin melepaskan rambut wanita sampai dua orang petugas datang dan melihat kejadian itu.
"Nasya Darmawan!". Mendengar namanya dipanggil, Nasya langsung menoleh dan melepaskan wanita itu.
"Kamu tahu aku? Kamu mengenalku? Benar, tidak mungkin kamu tidak mengenal Nasya Darmawan. Aku ini kan putri dari salah satu keluarga kaya dinegara ini".
Nasya langsung bicara dengan mata berbinar bahagia setelah namanya dipanggil. Hal itu tentu membuat petugas sipir dan tahanan lain mengerutkan dahi karena heran dengan tingkah laku Nasya.
"Sepertinya dia sudah gila. Sebaiknya anda bawa saja dia kedokter!", ujar salah satu tahanan.
Nasya pun dibawa oleh 2 orang sipir penjara untuk diperiksa.
...****************...
Sementara itu Delia pergi kerumah sakit setelah mendengar kabar kematian Soni.
"Permisi. Kamar mayatnya ada disebelah mana ya?", tanya Delia pada bagian informasi.
__ADS_1
"Ada disebelah sana". Perawat itu menunjukkan arahnya pada Delia.
"Terima kasih". Delia pun berjalan mengikuti arah yang ditunjuk perawat. Dia berdiri didepan kamar mayat sambil menunggu staf yang bertugas disana.
"Permisi. Saya ingin melihat jenazah Soni Darmawan", ujar Delia pada perawat yang ada di kamar mayat.
"Sebelah sini, Bu". Petugas kamar mayat berjalan lebih dulu diikuti Delia dibelakangnya.
"Ini jasadnya", ujar perawat pria yang berdiri didepan mayat Soni.
"Terima kasih". Delia berdiri disamping jasadnya. Dia membuka kain yang menutup bagian kepala Soni untuk sapat melihat wajahnya. Delia terdiam dengan ekspresi datar melihat wajah pucat sang mantan suami.
"Apa belum ada yang mengurus jasadnya?", tanya Deliapada petugas itu.
"Sebelumnya ibu beliau datang kemari untuk mengidentifikasi jasadnya namun setelah tiba disini, ibu itu sakit dan saat ini masih berada diruang perawatan. Kami tidak tahu lagi bagaimana kelanjutannya karena belum ada konfirmasi dari keluarga yang bersangkutan lagi", jelas perawat itu menerangkan.
Delia memicingkan mata mendengar penjelasan perawat.
"Benar. Beliau juga dirawat dirumah sakit ini".
"Oh. Terima kasih".
"Lalu … bagaimana dengan jenazah ini? Ini sudah lebih dari 2 hari, jika terus dibiarkan begini saja maka jasadnya bisa membusuk", penjaga itu bertanya dengan ragu-ragu mengenai tubuh Soni.
"Tolong disiapkan saja. Saya akan langsung mengadakan pemakamannya. Kalau begitu saya akan menemui bu Melati terlebih dahulu".
"Baik, Bu. Saya akan menyiapkan semuanya".
Delia langsung berbalik pergi meninggalkan kamar mayat setelah bicara dengan perawat. Kali ini dia menuju ruangan bu Melati setelah bertanya letak kamarnya terlebih dahulu.
Delia tiba dikamar bu Melati. Dia melihat kondisi sang mantan ibu mertua yang kini memprihatinkan. Bu Melati hanya bisa berbaring di tempat tidur dengan bibir sebelah miring dan kedua tangan terlihat kaku. Dia pun kesulitan untuk bicara.
__ADS_1
"Mah". Delia menyapa sang ibu yang menatapnya dengan tatapan seakan mencaci.
"Aku tidak menyangka kalau kondisi Mama jadi seperti ini. Sepertinya setelah aku meninggalkan keluarga Darmawan, semuanya hancur". Delia bicara dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuh. Tidak ada penyesalan ataupun rasa iba yang terlihat dari wajahnya.
"Aku sudah melihat jenazah Soni, karena tidak ada lagi keluarga kalian … aku akan berbaik hati untuk terakhir kalinya. Aku yang akan menyiapkan pemakaman untuk Soni, dan untuk Mama … aku akan menyerahkan Mama untuk dibawa kepanti jompo karena aku tidak bisa merawat Mama"
"Euh euh euh …". Bu Melati mencoba untuk bicara sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia berusaha menolak tawaran Delia untuk mengirimnya ke panti jompo.
"Maaf Mah. Aku sudah memutuskan akan bekerja pada Dara. Lagipula, aku tidak cukup baik untuk bisa mengurus Mama dengan kondisi seperti ini. Panti jompo adalah pilihan terbaik untuk Mama". Delia bicara pada bu Melati dengan sikap yang tenang.
Mendengarkan apa yang dikatakan Delia, Melati hanya bisa menitikan air mata. Dia terlihat sedih tanpa bisa melakukan apapun lagi.
"Aku sudah mengatakan semuanya. Jadi aku akan pergi sekarang. Mama tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun. Mantan menantumu ini akan mengurus semuanya". Delia berbalik dan pergi meninggalkan bu Melati yang terus menatapnya dengan linangan air mata.
"Permisi, saya ingin mengurus administrasi pasien bernama Melati Darmawan dan juga jenazah Soni Darmawan. Saya juga ingin meminta pihak rumah sakit untuk membantu pemakamannya dan mengantarkan bu Melati ke panti jompo", ujar Delia pada bagian administrasi.
"Baik. Tolong tunggu sebentar". Petugas pun langsung mengurus administrasi bu Melati dan akan mengirim jenazah Soni ke pemakaman untuk diuruskan.
"Bu, ini total tagihannya. Apa anda akan hadir untuk pemakamannya atau …"
"Tidak, katakan saja pada pihak pemakaman untuk melakukannya dan beritahu saya lokasi pemakaman dan juga panti jomponya nanti". Delia langsung menyela sebelum petugas rumah sakit selesai dengan kalimatnya.
"Baik. Kami akan lakukan seperti yang anda minta. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?". Petugas rumah sakit melayani dengan ramah.
"Tidak, terima kasih". Delia langsung berbalik pergi dengan sikap yang tenang setelah selesai mengurus semua administrasinya.
"Akhirnya semua selesai. Sekarang aku bisa menutup lembaran lama dan membuka lembaran baruku dengan lebih baik. Aku harus segera menemui pak Kenzie dan Dara untuk membahas pekerjaanku diperusahaan Darmawan. Sekarang aku tidak perlu lagi merasa bersalah pada Dara atau mendiang orang tamuanya. Dan Nasya … kuharap dia bisa belajar dari apa yang telah dia alami dan hidup lebih baik lagi tanpa ada rasa iri atau serakah"
Delia mengambil napas lega setelah dia keluar dari rumah sakit. Dia membulatkan tekadnya untuk hidup lebih baik dan mengabdi pada Dara. Dia juga mengharapkan yang terbaik untuk Nasya tanpa tahu kalau sang putri kini telah masuk rumah sakit jiwa.
Keluarkan aku! Kalian tidak tahu siapa aku? Aku ini Nasya Darmawan, aku adalah putri dari keluarga Darmawan dan juga tunangannya Lucky. Aku memiliki mall dan juga perusahaan keluarga. Hahaha..
__ADS_1