Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Perdebatan Dara Dan Nasya


__ADS_3

"Untuk meeting dikantor besok tolong di atur ulang jadwalnya, karena aku ada meeting yang lebih penting dengan klien yang baru tiba dari luar negeri". Kenzie terus bicara pada Dara sambil memeriksa dokumen yang dibawa Dara untuk Kenzie tanda tangani.


Bagaimana aku bisa izin ya? Apa pak Kenzie akan mengizinkanku pulang lebih awal? Tapi besok pak Kenzie bilang ada meeting, itu berarti aku juga harus ikut dengannya untuk menuliskan laporan hasil meeting kan? Tapi jika aku tidak datang ke reuni itu... Teman-teman SMA pasti akan mengejekku karena tidak menyempatkan waktu bertemu dengan mereka padahal sudah sangat lama kami tidak bertemu. Apa yang harus aku lakukan?


Dara berkecamuk dengan batinnya sendiri memikirkan apa yang harus dia lakukan agar bisa bertemu dengan rekan-rekannya semasa sekolah dulu.


"Dara! Ra, apa kamu mendengarkan apa yang aku katakan?". Kenzie memanggil Dara berkali-kali karena melihat sang sekretaris sedang melamun.


"Ah. Maafkan saya, Pak. Bisa anda ulangi lagi apa yang anda katakan?", ujar Dara setelah dia tersadar dari lamunannya sendiri.


"Ku bilang, besok atur ulang jadwalku karena aku ada meeting yang lebih penting diluar kantor. Mungkin untuk besok aku tidak akan datang ke kantor. Kamu tidak perlu ikut pergi denganku karena Noey akan pergi denganku". Kenzie bicara dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa.


"Apa saya bisa pulang lebih awal? Begini, besok ada undangan yang harus saya hadiri. Saya sudah bilang akan hadir". Dara bicara dengan sedikit ragu-ragu.


"Tentu saja. Kamu bisa pulang sesuai dengan jam kerja". Kenzie menanggapi dengan sikap tenang.


"Baik, Pak. Terimaka kasih. Kalau begitu saya permisi".


"Hmn …". Dara langsung berbalik pergi meninggalkan ruangan Kenzie setelah mendapatkan izin darinya.


...****************...


Keesokan harinya.


Dara bersiap ke reuni setelah dia selesai bekerja. Dia membawa pakaian ganti agar bisa langsung pergi ke tempat acara.


Tak butuh waktu lama untuk Dara tiba ditempat acara. Restoran tempat mereka mengadakan acara tidak terlalu jauh dari tempat kerja Dara. Jadi hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja dengan menggunakan taksi.


Dara langsung masuk kedalam restoran begitu dia tiba.


"Dara, akhirnya kamu datang juga". Bunga langsung menyambut Dara begitu dia tiba.

__ADS_1


"Hai, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?". Dara pun menyambut Bunga sambil saling berpelukan.


"Aku baik. Kamu sudah berubah ya. Ayo kita temui yang lainnya". Mereka berdua pun langsung masuk dan menyapa teman-teman yang lainnya.


"Lihatlah siapa yang datang", ujar Bunga sambil menggandeng Dara bersamanya.


"Eh Dara?". Semua teman sekolah Dara saling berkumpul dan mulai membicarakan banyak hal.


"Lihatlah siapa ya datang!". Dara dan rekan-rekannya langsung menoleh begitu mendengar ada teman mereka yang lain yang baru saja tiba.


Seketika raut wajah Dara berubah suram. Senyum yang sebelumnya terlihat diwajahnya yang cantik, seketika hilang begitu melihat Nasya dan Lucky.


"Oh, ada pasangan kita. Selamat ya atas pertunangan kalian", ujar Bunga yang menghampiri Nasya dan Lucky lebih dulu diikuti temannya yang lain.


"Kamu juga datang, Ra?". Sapa Nasya begitu melihat Dara.


"Iya, Kak. Aku baru saja datang. Selamat atas pertunangan Kakak. Saat dipesta kemarin, aku tidak sempat menghampir Kak Nasya untuk mengucapkan selamat". Dara bicara dengan senyum lembut dibibirnya.


"Ya, aku masih ada urusan lagi setelah dari pesta Kakak". Dara pun menanggapi dengan senyum dibibirnya, namun dalam hatinya dia menggerutu kesal.


Bukannya kamu tahu sendiri kenapa aku buru-buru pergi? Jika bukan karena kalian yang berusaha menangkapku seperti binatang, aku tidak mungkin akan lari begitu saja.


"Aku baru ingat kalau kalian ini bersaudara kan? Tapi kenapa kalian sangat berbeda jauh sekali ya? Tidak cuma dari penampilan, bahkan gaya hidup kalian saja sangat berbeda", ujar salah satu teman Nasya.


Nasya dan Dara saling menatap satu sama lain seakan bingung menjelaskan apa hubungan diantara mereka.


"Kami memang sedikit memiliki hubungan, tapi untuk sekarang sepertinya sudah tidak bisa dikatakan sebagai saudara lagi, karena pamanku sudah meninggal dunia dan tidak ada lagi yang mengikat kami berdua". Nasya menjelaskan dengan senyum dibibirnya.


"Benar, lagipula Nasya tidak cocok memiliki saudara miskin yang merupakan seorang pencuri. Meskipun nama belakang mereka sama-sama Darmawan, kurasa sangat memalukan jika Nasya harus disamakan dengan Dara". Lisa ikut menimpali ucapan Nasya dengan nada bicara yang mengejek sambil tersenyum mencibir dan mata mendelik pada Dara.


Dara tersenyum mendengar ucapan Nasya dan Lisa.

__ADS_1


"Emn … tidak ada hubungan darah ya … dan aku seorang pencuri? Tapi kenapa justru keluarga yang kaya malah mengambil hak milik keluarga miskin ya? Tak cukup dengan Rumah, dan juga perusahaan, bahkan sekarang uang deposito senilai 3 milyar pun berusaha direbut lagi". Dara menanggapi dengan senyum tipis dan acuh tak acuh. Matanya terus menatap Nasya yang berdiri didepannya dengan tatapan mengejek.


Nasya yang sejak tadi terlihat tenang, kini mulai terlihat kesal dengan mata menatap tajam pada Dara dan tangan mengepal.


"Siapa yang kamu maksud dengan pencuri?! Kami tidak pernah mencuri darimu. Rumah dan perusahaan itu adalah milik Om Sakti, jadi wajar saja jika nenek mengelola aset milik anaknya sendiri!", ujar Nasya yang berusaha membela diri dengan nada yang kesal


"Om Sakti? Putranya nenek Melati? Tapi orang yang kamu panggil Om Sakti itu adalah ayahku, dan rumah juga perusahaan yang dikelola nenekmu itu juga adalah milik ayahku. Bukankah aku yang lebih berhak karena aku anaknya? Dan kalianlah yang seorang pencuri, bukan aku! Bagaimana bisa aku yang merupakan ahli waris bisa berubah menjadi pencuri, huh!"


Plak!


"Tutup mulutmu!"


Nasya langsung menampar Dara dengan sangat keras karena tidak terima disebut sebagai pencuri.


Sementara rekan mereka yang lain hanya menyaksikan perdebatan diantara Nasya dan Dara sambil berbisik pada rekan disebelahnya, seakan mereka sedang menonton sebuah pertunjukan drama secara langsung.


"Sayang, sudahlah. Sebaiknya kita pergi kesana dan menyapa yang lain saja". Lucky yang sejak tadi diam dan hanya menatap Dara dengan tatapan canggung, kini berusaha membawa Nasya menjauh setelah menyadari tatapan orang-orang disekitarnya.


"Lepaskan aku! Dara harus dikasih pelajaran karena mulutnya yang kurang ajar itu! Harusnya dia bersikap sopan karena bagaimanapun aku kakak sepupunya!". Nasya yang masih kesal berusaha memberontak saat Lucky akan membawanya menjauh dari Dara.


"Bukannya kamu bilang kalau kita bukan saudara? Kenapa sekarang kamu bilang kalau kita sepupu?". Dara bicara dengan sikap tenang dengan tangan yang masih memegangi pipinya yang terada panas akibat tamparan Nasya.


"Dara, hentikan! Harusnya kamu mengalah pada kakakmu! Jangan malah memancing amarahnya". Lucky membentak Dara saat dia bicara.


"Aku? Mengalah? Kenapa harus aku? Bukankah kamu sendiri yang paling tahu seberapa mengalahnya aku pada Kak Nasya? Bahkan aku memberikan pacarku untuk menjadi pasangan Kak Nasya. Masih harus mengalah apalagi, hah? Sudahlah, aku sudah lelah mengalah pada kalian. Kedepannya aku tidak akan pernah mengalah pada kalian lagi!", ujar Dara yang menanggapi dengan sikap acuh tak acuh.


"Kamu ya. Dasar darah rendahan kurang ajar!"


Byuuur


Aaahh!!!

__ADS_1


__ADS_2