
"Terjual! Perusahaan Darmawan terjual dengan harga 20 milyar kepada penawar tertinggi kita. Langsung saja kali ini kita akan kembali menawarkan satu lagi aset keluarga Darmawan, yaitu rumah beserta seluruh isinya. Harga awal yang akan ditawarkan untuk rumah mewah ini adalah 10 milyar. Silahkan!".
Pelelangan kembali berlanjut setelah gedung perusahaan Darmawan terjual. Kini mereka mulai mengajukan penawaran untuk rumah mewahnya.
"10,5!"
"10,5 milyar pertama"
"11 milyar!"
"11 milyar pertama"
"12 milyar!"
"12 milyar pertama"
"15 milyar!"
"15 milyar pertama"
"16 milyar!"
"16 milyar pertama"
"20 milyar!"
"Ya, 20 milyar pertama"
Penawaran terjadi cukup lama karena banyak yang menginginkan rumah mewah itu.
"30 milyar!"
"35 milyar!"
"37 milyar!"
"50 milyar!"
Semua kembali terkejut mendengar Kenzie yang sejak tadi diam saja dan tidak melakukan penawaran, kini keluar dengan harga tinggi.
"Dia lagi? Ku kira akan cukup dengan mendapatkan gedung perusahaan Darmawan?", bisik salah satu penawar yang hadir.
"Ya, ku kira juga begitu. Sepertinya pak Kenzie sangat terobsesi dengan keluarga Darnawan", jawab seorang peserta lelang disebelahnya.
__ADS_1
"50 milyar pertama! Ada lagi yang ingin menawar dengan harga lebih tinggi?". Tentu saja semua orang diam dan menyerah setelah Kenzie mengajukan penawaran. Mereka tidak mungkin bisa menyaingi Kenzie dalam hal keuangan.
"Sepertinya tidak ada lagi yang ingin menawar. Kalau begitu kita hitung sampai 10. 1… 2… 3… 4… 5… 6… 7… 8… 9… 10. Terjual! Dengan ini Pak Kenzie Lutherin Anggara menjadi pembeli tunggal dalam lelang kali ini. Selamat Pak Kenzie".
Kenzie hanya menganggukkan kepala dengan sikap yang tenang saat pembawa acara mengucapkan selamat padanya.
"Dengan terjualnya semua aset milik keluarga Darmawan, maka acara ini pun dinyatakan selesai. Terima kasih karena para tamu sekalian telah ikut berpartisipasi dalam pelelangan hari ini. Sampai jumpa".
Satu persatu peserta pelelangan mulai meninggalkan tempat acara. Kenzie dan Dara masih disana untuk menyelesaikan apa yang diperlukan.
"Permisi, bisa kita bicara sebentar?".
Kenzie dan Dara langsung menoleh ketika mendengar suara seseorang yang familiar yang berasal dari belakang mereka.
"Oh, tentu". Kenzie menanggapi dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa.
"Kalau begitu kami permisi dulu. Kami akan langsung mengurus surat-suratnya untuk anda", ujar salah satu tim pelelangan.
"Baik. Terima kasih banyak". Kenzie menanggapi dengan sikap tenang sambil berjabat tangan dengan penuh wibawa.
"Apa yang ingin kalian bicarakan?", tanya Kenzie pada bu Melati dan juga Nasya setelah tim pelelang itu pergi. Dara diam saja dengan memperhatikan dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh, namun tanpa ada yang menyadari kedua tangannya mengepal dengan keras melihat bu Melati dan Nasya.
"Kenapa anda membeli properti keluarga kami? Boleh saya tahu apa tujuan anda?", tanya bu Melati dengan sikap yang dingin.
"Uhm … hanya membelinya kembali untuk dikembalikan pada pemilik aslinya". Kenzie menanggapi dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuh.
"Kapan aku menyebut nama kalian? Dan … sejak kapan semua ini menjadi milik kalian? Kurasa … kalian lebih tahu apa yang aku katakan". Seketika nada bicara Kenzie berubah dingin dan sorot matanya terlihat menyeramkan. Nasya langsung terdiam setelah mendengarnya.
Bu Melati melihat perubahan Kenzie yang membuat Nasya terkejut. Diapun langsung mengambil alih meneruskan pembicaraan.
"Kamu tahu sendiri kalau kami adalah keluarga Darmawan, rumah dan perusahaan itu adalah milik keluarga kami".
"Ya, ini memang milik kekuarga Darmawan, tapi ini bukan milik kalian. Kalian tahu kan milik siapa ini sebenarnya? Harusnya kalian sadar kalau itu bukanlah hak kalian meskipun kalian menggunakan nama yang sama". Kenzie bicara dengan tegas tanpa menginginkan bantahan.
"Ini milik mendiang anakku. Dia adalah putra kandungku, jadi aku berhak memiliki semua harta peninggalannya", ujar bu Melati bersikeras.
"Anda salah. Yang lebih berhak adalah putri semata wayangnya, putri kandungnya, Andara Prianka Darmawan. Kurasa … anda juga bukan orang bodoh yang tidak mengerti tentang aturan mengenai ahli waris". Kenzie bicara dengan sikap tenang dan seringai tipis diujung bibirnya.
"Huh, tapi putrinya itu juga sudah meninggal. Selain kami tidak ada lagi Darmawan didunia ini". Nasya ikut menimpali dengan senyum bangga dibibirnya dan nada bicara yang merendahkan.
"Siapa bilang kalau putrinya sudah meninggal? Apakah kalian sudah mengkonfirmasi hal tersebut?", tanya Kenzie dengan senyum tipis.
"Tentu saja kami sudah yakin. Polisi sudah menyatakan sendiri kalau Dara sudah meninggal…"
__ADS_1
"Tapi kalian tidak bisa menemukan jasadnya kan? Maka itu tidak bisa dijadikam asumsi kalau Dara sudah meninggal!". Kenzie langsung menyela ucapan Nasya yang menyatakan kalau Dara sudah meninggal. Dia dan bu Melati pun terlihat bingung dan saling menatap satu sama lain.
"Apa sebenarnya yang ingin coba kamu katakan? Apa kamu ingin mengatakan kalau sebenarnya … Dara masih hidup?". Bu Melati pun terlihat mulai penasaran dengan maksud ucapan Kenzie.
"Hmn … Bagaimana kalau aku ingin mengatakan … Ya, Dara masih hidup?". Kenzie menyeringai dengan nada bicara yang tenang.
"Mustahil! Itu tidak mungkin terjadi. Bagaimana mungkin Dara bisa selamat sedangkan aku melihat sendiri kalau taksinya terbakar?". Nasya terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kenzie.
"Tentu saja bisa, jika dia keluar sebelum mobil itu meledak dan hangus terbakar". Nasya masih menatap tak percaya dengan ucapan Kenzie.
"Itu mustahil!"
"Apa yang mustahil? Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, Nenek, Nasya". Dara yang sejak tadi diam saja kini mulai bicara dengan senyum percaya diri.
"Kamu … siapa kamu? Bukannya kamu kekasihnya pak Kenzie?", tanya Nasya bingung.
"Bagaimana jika aku bilang kalau aku adalah Dara? Andara Prianka Darmawan". Dara bicara dengan sikap dingin dan sorot mata yang tajam.
"Jangan bercanda kamu! Tidak mungkin kalau kamu adalah Dara!", ujar Nasya sinis.
"Saat orang tuaku meninggal, nenek datang dan mengatakan akan menjadi waliku dan membantuku mengelola perusahaan papa. Saat itu juga keluarga Nasya pertama kali masuk kerumahku. Kalian mendiskriminasikan aku dan menjadikanku seperti pembantu dirumah ini. Kalian menghujaniku dengan hinaan dan cacian dan selalu mengatakan kalau aku anak pembawa sial yang menyebabkan orang tuaku meninggal".
Bu Melati dan Nasya saling menatap tak percaya mendengar ucapan Dara.
"Kenapa? Kalian tidak percaya kalau aku masih bisa berdiri dihadapan kalian meskipun dengan wajah berbeda?", tanya Dara dengan sikap acuh tak acuh.
"Bagaimana mungkin? A-aku tidak percaya kalau Dara masih hidup. Kalian pasti bohong!". Nasya tergagap dengan wajah panik.
"Selamat siang. Kami mendapatkan laporan tindakan kejahatan". 2 orang polisi datang dan menghampiri mereka.
"Ya, saya yang mengajukan laporan", ujar Kenzie dengan sikap penuh wibawa.
Dara berjalan mendekat pada Nasya dan berbisik padanya.
"Kamu akan percaya setelah kamu mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu dikantor polisi!". Bisik Dara dengan sikap yang dingin.
"Apa maksudmu? Aku tidak ingin masuk penjara! Aku tidak bersalah!", teriak Nasya sambil sedikit menjauh dari Dara.
"Sayangnya kamu tidak dapat mengelak karena berusaha membunuhku!"
"Tidak! Itu tidak benar!"
"Apa kamu … benar-benar Dara?". Semua menoleh mendengar suara seseorang.
__ADS_1
"Kak Lucky! Akhirnya kamu datang. Kamu kemari untuk menyelamatkanku kan? Aku tidak bersalah!". Nasya langsung berlari menghampiri Lucky yang baru saja tiba namun Lucky mengabaikannya. Dia hanya berjalan menghampiri Dara
"Apa kamu benar-benar Dara?"