
"Hah? Apa?".
Delia sangat terkejut dan juga tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Dara.
"Kamu bercanda kan? Ini sama sekali tidak lucu. Dara sudah meninggal dan Nasya melihat jelas saat taksi yang dinaiki Dara masuk ke jurang dan terbakar". Delia bertanya sambil menunjukkan seringai tipis saat dia bicara.
"Apa tante ingat, hari dimana kedua orang tuaku meninggal? Saat itu tante datang dan memelukku, saat itu juga nenek datang dan mengatakan kalau aku harus belajar hidup mandiri. Kalian akan tinggal bersamaku sambil mengajariku bagaimana caranya merawat diriku sendiri". Dara bicara dengan sikap yang dingin.
"Pada kenyataannya kami tidak mengajarimu justru kami memaksamu untuk melakukannya sendiri". Delia tertunduk dengan air mata yang mulai membasahi kedua pipinya.
"Tapi … apa benar itu kamu, Dara? Kamu tidak sedang mempermainkanku saja kan?". Delia berusaha meyakinkan dirinya dengan apa yang dikatakan Dara.
"Ya, aku Dara. Dara yang didorong putri tante ke jurang. Dara yang terus didorong ke neraka hanya demi harta yang ingin kalian miliki". Sorot mata Dara penuh dengan kemarahan saat dia mengatakan apa yang selama ini ingin dia katakan pada Delia.
"Maaf, maafkan tante karena selama ini tidak memiliki keberanian untuk membantumu melawan nenekmu. Maafkan tante juga karena tidak bisa melindungimu dari sikap buruk Nasya yang semakin lama semakin menjadi". Delia bicara dengan kepala tertunduk dan derai air mata yang terus saja mengalir tanpa henti.
"Haa … sudahlah tante. Lupakan saja. Aku tahu kalau selama ini tante berusaha menolongku meskipun tante tidak pernah mengatakan apapun padaku". Dara menghela napas panjang saat bicara.
"Terimakasih, tapi... bagaimana kamu bisa selamat dari kecelakaan itu? Dan wajahmu ... ". Delia menghapus air matanya dan bicara dengan lembut pada Dara. Dia juga menunjuk wajah Dara dengan ragu karena ingin mendapatkan penjelasan dari perubahan wajahnya.
"Aku terlempar keluar dari mobil. Beruntungnya pak Kenzie dapat menemukanku sebelum terlambat, sayangnya tubuhku mengalami luka bakar yang sangat serius sampai harus menjalani operasi plastik. Jadi... yah, beginilah wajahku sekarang". Dara menjelaskan dengan sikap yang tenang.
"Tante bersyukur karena kamu bisa selamat, tapi... tante harap bu Melati dan Nasya tidak tahu kalau kamu masih hidup. Kamu tahu sendiri kalau mereka bisa melakukan apa saja padamu". Delia bicara dengan raut wajah khawatir.
"Tante tidak khawatir. Aku dan Nasya pernah bertemu tapi karena wajahku telah berubah, jadi dia tidak mengenaliku". Dara tersenyum tipis pada Delia saat dia bicara.
"Kamu tinggal dimana sekarang? Karena tante sudah keluar dari rumah itu dan sedang mempersiapkan perceraian ... Apa kamu mau tinggal bersama tante?". Pada awalnya Delia terlihat ragu namun sorot matanya menunjukkan kalau dia tulus mengatakan itu pada Dara.
Dara tersenyum mendengar ucapan Delia kemudian dia menoleh pada Kenzie.
__ADS_1
"Terima kasih Tante, tapi aku tinggal bersama suamiku. Kami sudah menikah, Tante". Dara bicara dengan senyum lembut dibibirnya sambil menoleh pada Kenzie.
"Benarkah? Tante merasa senang mendengarnya. Tante harap kalian selalu berbahagia selamanya".
"Terima kasih, Tante. Apa yang akan tante lakukan sekarang?", tanya Dara dengan lembut.
"Tante belum merencanakan apapun, tapi tante berencana kembali kerumah keluarga tante dan melupakan semua yang ada disini". Delia sedikit tersenyum sambil memainkan gelas minuman miliknya.
"Bagaimana jika tante tetap disini dan kembali mengelola perusahaan?"
Delia dan Bella saling menatap satu sama lain setelah mendengar tawaran Dara.
"Mengelola perusahaan? Perusahaan mana maksudmu?", tanya Delia sambil memicingkan mata.
"Kak Zie berencana mengakuisisi perusahaan Darmawan. Tante sudah lama bekerja keras mengembangkan perusahaan itu, apa tante masih bersedia membantuku untuk terus mengelola perusahaan itu?", Dara bertanya dengan sikap yang tenang.
"Aku cukup memantau perkembangannya saja melalui tante. Aku akan tetap berada disamping suamiku dan menjadi sekretaris pribadinya". Dara menatap Kenzie dan tersenyum lembut saat dia memberikan jawaban.
"Tapi …"
"Tidak ada kata tapi. Aku tahu kalau tante ingin melakukannya. Sampai kami mendapatkan kembali perusahaan itu, tante dan sekretaris tante bisa tenangkan pikiran kalian lebih dulu"
"Tidak. Kami akan membantu kalian. Kamu cukup katakan saja pada tante apa yang harus tante lakukan. Lagipula tante tidak bisa diam saja dan hanya memperhatikan. Tante juga ingin ikut andil membalaskan sakit hati tante pada mantan suami tante itu". Delia bicara dengan sorot mata penuh dengan kebencian.
"Hmn … kalau begitu tante bisa buat om menyesal atas apa yang telah dia lakukan. Sebagai aparatur negara tentu tante tahu kan kalau mereka tidak boleh memiliki hubungan gelap dengan pihak ketiga yang dapat menjadi contoh buruk bagi masyarakat biasa. Tante bisa keluar menjadi korban dan mengatakan pada semua orang kalau tante adah korban kekerasan om. Tidak hanya fisik, tapi juga mental".
Delia tersenyum mendengar ucapan Dara.
"Maksud kamu, tante gunakan wartawan dan mengatakan pada mereka kalau suamiku menyakitiku? Tidak hanya secara fisik, tapi juga menyakiti mentalku?", tanya Delia memastikan maksud ucapan Dara.
__ADS_1
"Benar. Dengan begitu om tidak akan berani keluar rumah karena akan selalu ada orang yang mengkritiknya. Mungkin tidak cuma om yang akan jadi sasaran, harga saham perusahaan juga akan anjlok, karena pangsa pasar selalu berkembang berdasarkan rumor yang ada". Dara bicara dengan sikap yang dingin disertai senyum tipis dibibirnya.
Kenzie menatap Dara dengan tatapan penuh kasih sayang. Dia tersenyum bangga pada sang istri.
"Apa tidak masalah jika tante melakukan itu? Bukannya suamimu akan mengakuisisi perusahaan?". Delia menatap ragu pada Dara dan Kenzie secara bergantian.
"Tidak perlu pedulikan hal itu. Kami akan mengurusnya setelah semua selesai. Yang terpenting adalah menjatuhkan dulu keluarga itu", ujar Kenzie dengan sikap yang tenang.
"Aku mengerti. Kalau begitu aku akan melakukan seperti apa yang kalian katakan. Jika kalian membutuhkan sesuatu, tinggal katakan saja pada kami. Kami yang akan melakukan semuanya untuk kalian". Delia bicara dengan sikap yang tenang.
"Aku harap tidak ada yang tahu tentang Dara"
"Kalian tenang saja, tidak akan ada yang tahu masalah ini. Kalau begitu kami pergi dulu. Hubungi kami jika kalian butuh sesuatu", ujar Delia sambil beranjak pergi dari restoran.
"Apa kamu yakin kalau mereka bisa dipercaya? Bagaimana jika mereka hanya menjadi mata-mata dari nenek saja? Aku sedikit menyesal memberi tahu tante identitasku". Dara bicara sambil menatap punggung Delia yang berjalan keluar dari restoran.
"Tidak perlu khawatir. Jika memang dia adalah mata-mata, anggap saja sebagai umpan untuk memancing ikan besar. Bagaimanapun juga, mereka tidak akan bisa mengalahkan seorang Kenzie Lutherin Anggara, karena sebelum mereka bertindak, aku yang akan bertindak lebih dulu".
"Haa … ternyata aku punya suami yang tingkat percaya dirinya melebihi batas normal", ujar Dara sambil menggelengkan kepala perlahan.
"Tidak perlu khawatirkan masalah itu. Kamu sudah mengakuiku sebagai suami, kapan kamu mengizinkanku menjadi suami seutuhnya?". Kenzie berbisik sambil menggoda Dara.
"Ah itu … anu … itu …"
Kenzie terbahak melihat sikap Dara yang panik.
"Hahaha. Tidak perlu panik. Ketika saatnya tiba, kamu tidak akan bisa menghindar dariku".
Dara tersipu malu dengan wajah tertunduk mendengar ucapan Kenzie.
__ADS_1