
Delia langsung mengemasi barang-barangnya ketika dia tiba dirumah.
"Mama? Mama mau pergi kemana? Kenapa mengemasi barang-barang Mama?". Nasya bertanya pada sang ibu dengan tatapan heran. Dia berdiri dihadapan Delia yang sedang merapikan barang-barangnya ke dalam koper.
"Mama mau kembali kerumah nenekmu. Kamu sudah bukan anak kecil lagi, jadi kamu bisa mengambil keputusan sendiri, mau ikut dengan Mama atau tetap disini bersama papamu". Delia menanggapi Nasya dengan sikap yang tenang sambil terus mengemasi barang-barangnya.
"Apa maksud Mama? Mama dan Papa akan berpisah?". Nasya semakin bingung dengan apa yang ibunya katakan.
"Ya, Mama akan berpisah dengan Papa. Sepertinya sekarang sudah saatnya bagi Mama untuk kembali menjadi burung yang bebas. Sudah cukup semua usaha dan kerja keras yang Mama lakukan untuk keluarga ini". Delia bicara pada Nasya dengan tenang tanpa ada beban atau keraguan dihatinya. Dia terlihat tegar tanpa air mata dipipinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Mama mengambil keputusan seperti itu?!"
"Delia! Delia, sayang. Kamu dimana?!".
Saat Delia sedang sibuk berkemas ditemani Nasya bersamanya, terdengar suara ayah Nasya yang berteriak memanggil namanya. Tak lama diapun masuk ke kamar.
"Delia, apa yang kamu lakukan? Dengarkan penjelasanku dulu!". Ayah Nasya terlihat terkejut dan panik melihat sang istri yang sedang berkemas.
"Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan! Aku sudah mengerti betul dengan apa yang terjadi". Delia bicara dengan sikap dingin dan acuh tak acuh. Dia juga melemparkan foto-foto yang dia dapatkan pada sang suami.
"Sebenarnya ada apa ini? Coba beritahu aku apa yang terjadi!". Nasya berteriak pada kedua orang tuanya meminta penjelasan disela isak tangisnya sambil mematap foto yang berserakan.
"Papamu, dia memiliki keluarga lain selain kita. Mereka terlihat seperti keluaga yang bahagia dengan seorang anak laki-laki diantara mereka". Delia menjelaskan pada Nasya apa yang terjadi. Meskipun matanya terlihat berkaca-kaca, namun dia sama sekali tidak terlihat gentar dengan keputusannya.
"Apa?! Apa itu benar, Pah? Jelaskan kalau ini semua bohong, Pah!". Setelah terkejut mendengar cerita sang ibu, Nasya memastikan kebenarannya pada sang ayah dan mulai melihat foto-foto itu.
"Itu … ya Papa punya istri dan anak lain". Ayah Nasya menjawab dengan kepala tertunduk malu pada sang anak.
"Jadi itu benar? Bisa-bisanya Papa menduakan Mama yang selama ini sangat menyayangi Papa dan menghormati Papa!". Nasya juga terlihat sangat marah pada sang ayah dan mengutarakan isi hatinya.
__ADS_1
Reaksi berbeda ditunjukan oleh Delia. Daripada mencaci maki sang suami, Delia lebih memilih menutup kopernya dan beranjak pergi dari hadapan suami dan anaknya.
"Ma! Mama!". Ayah Nasya langsung mengejar sang istri yang hendak pergi. Dia menahan Delia dengan memegangi tangannya.
"Lepaskan tanganku!", ujar Delia dengan sikap yang dingin.
"Jangan pergi! Kita bicarakan semuanya baik-baik. Aku mengaku salah. Kamu bisa menamparku, memukulku atau apapun itu, tapi jangan tinggalkan aku. Karirku bisa hancur jika kamu meninggalkanku seperti ini!".
"Hah? Karir?! Kamu benar. Karirmu yang selama ini telah kita bangun dan perjuangkan bisa hancur begitu saja. Tapi itu lebih baik daripada aku harus mengotori tanganku sendiri". Delia menyeringain dan bicara dengan sikap yang dingin lalu menetis tangan suami dan beranjak pergi.
"Ada apa ini ribu-ribut?!". Bu Melati yang mendengar keributan dari kamarnya langsung keluar dan bertanya.
"Mama tanyakan saja pada putra Mama ini. Aku sudah tidak sudi tinggal satu atap dengannya!". Delia langsung beranjak pergi meninggalkan rumah keluarga Darmawan.
"Mama! Jangan pergi Ma!". Nasya berteriak memanggil sang ibu sambil berlari mengejarnya.
"Tidak, sayang. Mama harus pergi. Mama tidak bisa tetap berada disamping orang yang telah mengkhianati Mama. Jika kamu mau, kamu bisa ikut dengan Mama, tapi jika tidak … maka kamu tahu dimana harus mencari Mama saat kamu membutuhkan Mama". Delia terus melangkah dan bergegas mengendarai mobilnya dengan derai air mata dipipinya. Setelah semakin menjauh, Delia terus melihat putrinya yang mengis melalui kaca spion mobil.
...****************...
"Aku … Delia melihatku sedang bersama istri dan juga anakku yang lain".
"Apa katamu?! Kamu punya istri dan anak yang lain? Maksudnya kamu berselingkuh dari Delia?!". Bu Melati bertanya pada sang putra dengan nada bicara yang tinggi karena kesal.
"Iya, Mah. Namanya Merry dan kami sudah memiliki putra berusia 5 tahun yang bernama Aston". Soni menjelaskan pada sang ibu dengan kepala tertunduk.
Bu Melati tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya menutup mata sambil memijat pelipis matanya saja.
"Jika Delia sampai pergi, maka tidak ada yang bisa mengelola perusahaan kita dengan baik karena Nasya sedang sibuk dengan masalah yang terjadi di mall. Kamu juga sibuk sebagai pemimpin daerah, jadi apapun yang terjadi kamu harus bisa mempertahankan Delia disamping kita, atau semuanya bisa hancur", ujar bu Melati yang bicara dengan sikap yang datar.
__ADS_1
"Baik, Bu. Aku mengerti". Soni menanggapi sang ibu dengan sikap yang tenang. Dia juga tidak ingin karirnya hancur karena skandal perselingkuhan yang ia lakukan.
...****************...
Nasya yang sedang gundah dan sedih akhirnya menghubungi Lucky saat tengah malam.
Tuut tuut tuut
"Halo". Tak lama terdengar suara Lucky dari ujung telepon.
"Halo, Kak Lucky". Nasya menanggapi dengan suara yang terdengar parau karena terlalu lama menangis.
"Sya, apa kamu menangis? Apa yang terjadi?". Lucky bertanya dengan panik setelah mendengar suara Nasya yang sedikit aneh.
"Kak, aku sedang sedih. Papa dan Mamaku … mereka bertengkar dan Mama meninggalkan rumah kami". Nasya bicara disela isak tangisnya.
"Apa? Tenanglah dulu! Ceritakan perlahan, apa yang sebenarnya terjadi pada orang tuamu?". Lucky bicara dengan lembut. Meskipun saat ini dia sudah sangat lelah setelah bekerja seharian, namun dia berusaha tetap bersikap baik pada Nasya setelah mengingat mereka telah bertunangan.
"Mama mendapatkan kiriman foto yang mengutarakan kalau papa telah berselingkuh. Setelah mama mencari tahu … ternyata itu benar, jadi mama memilih meninggalkan rumah ini dan bersiap untuk bercerai dari papa". Nasya menjelaskan disela isak tangisnya.
"Apa kamu yakin kalau itu adalah kebenarannya?", tanya Lucky berusaha memastikan.
"Ya, mama sudah melihatnya sendiri dan papa juga telah mengakui kesalahannya. Apa yang harus aku lakukan sekarang, Kak? Belum selesai masalah yang harus aku selesaikan berkaitan dengan sepinya mall, sekarang keluargaku juga ditimpa prahara seperti ini. Kenapa hidupku jadi begini?". Nasya mengeluh pada Lucky dengan mencurahkan isi hatinya.
"Tenanglah dulu. Menangis saja tidak akan membantumu menyelesaikan masalah. Sebaiknya kamu istirahat dulu dan besok kembali bicarakan masalah ini dengan ibumu. Aku yakin kalau ibumu tidak akan mengambil keputusan dengan gegabah". Lucky menjelaskan pada Nasya dengan sikap yang lembut.
"Kak Lucky, bisakah kamu menemaniku malam ini?", tanya Nasya dengan suara yang terdengar putus asa.
"Maafkan aku. Saat ini aku sedang ada diluar kota karena masalah bisnis. Aku baru akan kembali besok lusa". Lucky menanggapi dengan berat hati.
__ADS_1
"Jadi begitu. Baiklah, kalau begitu aku akan istirahat. Sampai jumpa". Nasya langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Lucky. Dia berusaha untuk tidur dengan memejamkan matanya, namun itu sama sekali tidak berhasil.
"Aku sama sekali tidak bisa tidur. Sebaiknya aku keluar untuk menenangkan diri". Setelah beberapa lama, Nasya yang tidak bisa tidur memutuskan untuk pergi keluar dan menenangkan pikirannya. Dia yang kalut memutuskan untuk pergi ke bar.