
Bu Melati langsung bergegas pergi kerumah sakit setelah dia mendapatkan telepon perihal keadaan Soni.
"Permisi suster, korban kecelakaan atas nama Soni Darmawan ada dimana?". Bu Melati langsung menghampiri perawat dan bertanya padanya dengan suara bergetar.
"Oh, jenazah ditempatkan dikamar mayat sebelah sana". Perawat itu menanggapui sambil menunjuk arah dengan tangannya.
"Terima kasih". Bu Melati langsung bergegas menuju ruang jenazah dengan langkah kaki yang sempoyongan.
"Hati-hati, Bu!" Seorang perawat dengan cepat memegangi bu Melati ketika dia hamoir terjatuh.
"Terima kasih", ujar bu Melati dengan sedikit linglung.
"Ibu mau kemana?", tanya perawat itu khawatir.
"Saya … ingin melihat anak saya. Katanya dia kecelakaan, dan dibawa kemari". Bu Melati menjawab dengan suara bergetar.
"Siapa nama anak ibu?", tanya perawat yang membantu bu Melati.
"Soni, Soni Darmawan. Dia … korban kecelakaan hari ini. hiks … hiks … hiks…". Bu Melati menjawab disela isak tangisnya.
"Oh, kalau begitu biar saya antar. Kebetulan saya bertugas dikamar mayat. Mari". Bu Melati menganggukkan kepalanya lalu berjalan dengan perawat pria yang sejak tadi membantunya.
Bu Melati dibawa perawat keruang mayat. Mereka masuk dan melewati beberapa mayat yang berjajar rapi dengan seluruh tubuh ditutup kain.
"Sebelah sini, Bu". Perawat itu berdiri disebelah tubuh Soni yang telah tertutup kain.
Bu Melati kembali menitikan air mata. Dia terdiam sesaat didekat jasad sang putra. Lalu perlahan dia membuka kain yang menutup bagian kepala Soni dan melihat wajah pucat sang putra.
"Soni...! Hu …u …u … Kenapa kamu tinggalkan mama begitu cepat hiks …hiks…hiks? Bagaimana kamu bisa pergi seperti ini?". Bu Melati menangis histeris sambil memeluk jasad Soni.
"Sebenarnya apa yang terjadi?", sambung bu Melati lagi yang masih histeris.
"Polisi mengatakan kalau putra anda menjadi korban tabrak lari. Diduga korban sedang dalam keadaan mabuk lalu berjalan ketengah jalan raya tanpa tahu ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Korban meninggal ditempat".
Bu Melati hanya mendengarkan penjelasan perawat yang sebelumnya telah diberitahu oleh polisi.
"Tidak, tidak mungkin". Bu Melati menggelengkan kepalanya sambil menangis tersedu-sedu karena kepergian Soni.
Bruk!.
Karena terlalu sedih, Bu Melati tiba-tiba jatuh pingsan.
"Bu! Bu! Bangun Bu!". Perawat yang bersamanya seketika merasa panik dan pergo mencari bantuan.
...****************...
__ADS_1
Sementara itu ditempat lain. Kenzie dan Dara sedang dalam perjalanan setelah mengikuti lelang aset keluarga Darmawan.
"Kak Zie, apa kamu sudah mendapatkan info tentang om Soni?", Dara bertanya dengan sikap yang lembut pada Kenzie yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah menempatkan seseorang dirumah sakit dan juga dipenjara. Kita akan selalu dapat perkembangan terbaru darisana", ujar Kenzie menanggapi dengan senyum lembut.
Belum lama mereka bicara ponsel Kenzie tiba-tiba berdering.
Drrt drrt drrt
"Ya, ada apa?". Kenzie langsung menerima telepon dan bertanya dengan sikap yang tenang.
"Halo, Pak. Baru saja bu Melati datang kemari, namun saat disini tiba-tiba dia pingsan". Orang suruhan Kenzie menjelaskan dengan sopan.
"Pingsan? Kenapa dia pingsan? Bagaimana kondisinya sekarang?". Dahi Kenzie berkerut saat dia bertanya tentang bu Melati.
"Beliau sudah sadar. Dokter bilang bu Melati terkena stroke karena tekanan darah tingginya yang naik".
Kenzie sangat terkejut mendengar kondisi bu Melati.
"Stroke? Lalu bagaimana dengan jasad Soni? Kapan akan dilakukan pemakaman?". Kenzie bicara dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh.
Dara langsung menoleh begitu mendengar perkataan Kenzie. Dia menatap sang suami dengan tatapan penuh tanya dan menunggu hingga sang suami selesai dengan panggilan teleponnya.
"Apa yang terkadi dengan nenek?", tanya Dara setelah dia cukup lama menunggu sang suami mengakhiri panggilan teleponnya.
"Nenekmu mengalami stroke. Katanya itu terjadi karena tekanan darah tingginya naik. Mungkin karena usianya sudah tua jadi dia tidak sanggup menerima semuanya". Kenzie menjelaskan dengan sikap yang tenang. Lalu dia menatap sang istri yang diam saja tanpa memberikan tanggapan apapun.
"Apa kamu menyesal setelah mendengar apa yang telah terjadi pada nenekmu?", tanya Kenzie penasaran.
"Ehm … haruskah aku merasa begitu? Setelah apa yang aku alami selama ini … aku sama sekali tidak merasakan apapun untuknya". Dara menanggapi dengan acuh tak acuh.
"Ya. kurasa kamu sudah banyak belajar dari pengalaman. Tidak baik jika terlalu menggunakan perasaan" ujar Kenzie dengan senyum tipis setelah mendengar jawaban sang istri.
"Apa maksudmu?", tanya Dara dengan dahi berkerut.
"Tidak ada".
Dahi Dara semakin berkerut dengan kedua alis yang hampir menyatu setelah melihat tanggapan sang suami yang sepertinya sedang senang.
"Haruskah kita mengunjungi mereka? Nasya dan nenekmu, akan sangat menyenangkan melihat mereka mendapatkan hadiah dari permainan yang telah mereka lakukan padamu selama ini".
"Hadiah? Permainan?". Dara kembali mengerutkan dahi heran mendengar kata-kata Kenzie.
"Ya. Memang apalagi?".
__ADS_1
Dara hanya menggelengkan kepala disertai senyum menanggapi ucapan Kenzie.
...****************...
"Lepaskan aku! Keluarkan aku dari sini!". Nasya terus berteriak sambil menangis memegangi jeruji besi.
"Berisik! Apa masih tidak cukup pelajaran yang kami berikan, hah?!".
Nasya langsung terdiam dengan air mata yang masih mengalir dipipinya.
"Tahanan nomor 192, ada kunjungan untukmu".
Nasya langsung menoleh begitu mendengar sipir penjara mengatakan ada kunjungan untuknya. Dia langsung berdiri dan mendekati sipir itu.
"Siapa yang mengunjungiku? Apa dia ibuku?". Nasya bertanya dengan antusias pada petugas. Namun petugas itu menanggapinya dengan acuh tak acuh sambil memasangkan borgol pada kedua tangannya.
"Kamu bisa melihatnya sendiri nanti. Ayo jalan!". Petugas langsung membawa Nasya menuju ruang kunjungan. Disana sudah ada 2 orang yang sedang menunggu Nasya.
"Kamu. Untuk apa kamu datang kemari?!". Nasya langsung bertanya dengan kesal begitu melihat orang yang datang mengunjunginya. Bahkan sebelum 2 orang itu melihat kedatangannya.
"Oh. Kamu sudah disini. Aku hanya ingin melihat betapa cantiknya Kakakku ini dengan seragam tahanan". Dara menanggapi Nasya dengan sikap yang tenang dan senyum yang tipis. Dia terlihat bersikap sombong saat bicara pada Nasya.
"Kamu sudah lihat kan? Jadi pergi saja darisini!". Nasya langsung berbalik dan hendak pergi setelah mengusir Dara dan Kenzie.
"Nenek masuk rumah sakit!".
Langkah Nasya langsung terhenti mendengar ucapan Dara. Dia berbalik dan menatap Dara
"Apa katamu?", tanya Nasya memastikan.
"Nenek masuk rumah sakit dan terkena stroke sedangkah papamu …". Dara tidak menggantungkan kalimatnya karena dia bingung bagaimana mengatakan pada Nasya.
"Ada apa dengan papa? Cepat katakan!". Nasya bertanya sambil menatap Dara dengan tatapan tajam.
"Papamu sudah meninggal. Dia menjadi korban tabrak lari".
"Kamu pasti bercanda? Itu pasti akal-akalanmu saja kan?", tanya Nasya dengan seringai dibibirnya.
"Aku sama sekali tidak bercanda. Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang penting aku sudah memberitahumu!". Dara menanggapi Nasya dengan acuh tak acuh.
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa begini! Hidupku kini hancur berantakan! Semua gara-gara kamu! Kamu yang jadi penyebabnya. Dasar pembawa sial! Akan kubunuh kamu!".
Nasya menangis histeris mendengar kabar kematian dari ayahnya. Dia terduduk lemas dilantai lalu setelah itu berusaha menyerang Dara namun Kenzie dan petugas sipir langsung menahannya.
"Dengar ini sama sekali bukan salah Dara. Jika ada yang harus disalahkan maka ini semua adalah kesalahan kalian karena terlalu serakah. Jika kalian tidak merebut hak orang lain, maka kalian tidak akan mengalami kehilangan seperti ini! Dan satu lagi, jika kamu menyakiti istriku, maka aku orang pertama yang akan membalasmu. Dengar itu!"
__ADS_1