
"Zie, langsung antarkan Mami ke bandara saja", ujar Cheva pada Kenzie yang sedang mengemudi.
"Bandara? Mami tidak akan mengjnap disini?". Dara yang duduk disamping Kenzie langsung menoleh kebelakang begitu mendengar ucapan Cheva.
"Tidak sayang. Mami harus pulang. Mami tidak bisa meninggalkan Papi terlalu lama", jawab Cheva dengan lembut.
"Jika tidak ingin meninggalkan Papi, kenapa Mami datang kemari? Harusnya Mami tetap berada disamping Papi". Kenzie menanggapi Cheva dengan sinis dan acuh tak acuh.
"Siapa yang membuat Mami harus jauh-jauh datang kemari, hah?! Jika kamu tidak melakukan hal gila dengan menikahi Dara tanpa sepengetahuan kami, maka Mami tidak perlu datang kemari. Mami tinggal menunggu menantu Mami dirumah. Kamu bahkan tidak merasa bersalah setelah menculik anak gadis orang!". Cheva terlihat kesal dengan ucapan Kenzie. Dia bicara dengan nada tinggi hingga dahi Kenzie berkerut. Dara yang mendengar ocehan Cheva hanya bisa tersenyum sambil menatap iba pada sang suami.
"Hah, sudahlah. Tidak ada gunanya bicara padamu. Kamu dan Kenzo sama saja, selalu membuat Mami kesal", lanjut Cheva yang langsung membuang mukanya setelah bicara pada Kenzie.
"Mami, tenanglah. Aku yang melarang Kak Zie untuk memberitahu kalian, karena saat itu situasinya mendesak. Saat itu aku dalam kondisi sulit, jika ada yang tahu kalau aku berada disamping kak Zie, maka bisa saja ada seseorang yang berusaha kembali membunuhku". Dara menjelaskan situasinya pasa Cheva untuk mengurangi kemarahan sang ibu mertua.
"Mami tidak menyalahkanmu. Mami hanya kesal pada kedua putra Mami yang selalu membuat pusing padahal mereka bukan anak kecil lagi". Cheva bicara dengan lembut pada Dara, lain halnya dengan cara dia berbicara pada Kenzie.
Kenzie yang sedang mengemudi hanya bisa bersikap acuh tak acuh mendengar ocehan sang ibu.
"Ya ya. Aku mengaku salah. Mami, maafkan aku ya? Hmn?". Kenzie akhirnya menanggapi sang ibu dengan sikap tenang. Diapun bicara dengan nada merayu dan senyum manis ditunjukan pada Cheva melalui kaca spion.
"Cih, menyebalkan. Bisa-bisanya aku punya anak sepertimu?", ujar Cheva yang masih merajuk manja.
"Bukankah Mami bilang sendiri kalau aku ini mirip dengan Mami, jadi kurasa sikap dan sifatku ini diturunkan langsung dari Mami".
Mendengar ucapan Kenzie, Cheva yang sudah tenang kembali bereaksi.
"Kamu ini! Dasar anak kurang ajar!"
"Aaah kupingku. Mami ...! hentikan... ! aku sedang mengemudi!".
...****************...
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari mall, akhirnya mereka tiba di bandara. Ini jiga merulakan perjalanan yang berat bagi Kenzie karena Cheva terus saja mengomel padanya selama perjalanan. Kenzie memarkirkan mobil disalah satu sudut parkiran, lalu mereka keluar untuk mengantarkan Cheva.
"Mami, Mami yakin tidak ingin menginap disini? Ini sudah malam, Mih". Dara bertanya untuk memastikan pada Cheva akan keputusannya.
"Mami yakin sayang. Kamu tidak perlu khawatir karena Mami menggunakan jet pribadi", ujar Cheva menjelaskan dengan senyum yang ramah. Lalu Cheva menoleh pada Kenzie dab berkata
"Zie, kamu harus menjaga dan melindungi Dara! Jangan biarkan ada seorang pun yang mengganggu atau menyakiti Dara!". Cheva memperingati Kenzie dengan serius.
"Baik, Mami. Mami tidak perlu khawatir. Aku pasti menjaga dan melindunginya". Kenzie menanggapi sambil melingjarkan tangannya diseputar pundak Dara.
Cheva mengangguk berkali-kali sambil tersenyum melihat hubungan Kenzie dan Dara.
"Bagus. Kalau begitu sekarang Mami harus pergi. Ingat untuk tetap menjaga hubungan baik diantara kalian dan Mami harap kalian bisa segera memberi Mami cucu karena Kenzo dan Saphira masih belum memilikinya".
Seketika wajah Dara tersipu malu mendengar permintaan sang ibu mertua.
"Mami doakan saja karena kami akan berusaha".
"Tentu saja. Sampai jumpa lagi. Hubungi Mami jika terjadi sesuatu". Cheva berpamitan sambil memeluk Kenzie dan Dara secara bergantian.
"Ya. Hati-hati dalam perjalanan Mami. Sampaikan juga salamku untuk papi dan yang lainnya"
"Kamu tenang saja. Pasti Mami sampaikan pada mereka. Daah.... ". Cheva pun perlahan berjalan menjauh dari Dara dan Kenzie menuju jet pribadi milik keluarga Kusuma.
"Haruskah kita makan dulu sebelum pulang?", tanya Kenzie pada Dara sambil berjalan keluar dai bandara.
"Euh. Aku juga merasa lapar". Dara mengangguk sambil menanggapi ucapan Kenzie dengan senyum ceria dibibirnya. Mereka pun bergegas menuju parkiran dan mencari restoran sebelum pulang.
...****************...
Keesokan harinya. Kantor Kenzie masih dihebohkan dengan perkara Cheva yang datang ke kantor dan pergi bersama dengan Dara.
__ADS_1
"Apa kemarin kalian lihat bu Cheva pergi dengan Ana?", tanya salah satu karyawan yang membuka pembicaraan sebelum mereka mulai bekerja.
"Ya. Aku lihat. Itu pertama kalinya aku melihat bu Cheva secara langsung. Selama ini aku hanya bisa melihatnya melalui majalah dan acara televisi saja. Meskipun aku bekerja di anak perusahaan Kusuma, tetap saja aku tidak pernah bisa melihat bu Cheva secara langsung karena beliau tidak pernah datang kemari". Salah satu rekan mereka menimpali.
"Kamu benar. Bu Cheva juga tidak pernah sengaja datang kemari padahal perusahaan ini sudah cukup lama berdiri. Tapi … apa yang membuat bu Cheva datang kemari? Bahkan dia langsung pergi lagi dengan bu Ana. Tidak mungkin kalau alasannya hanya untuk meminta bantuan sekretaris pak Kenzie, karena bu Dara yang bekerja disini lebih lama darinya tidak pernah mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu".
Kini semua saling menatap satu sama lain seakan memikirkan jawaban dari pertanyaan barusan.
"Apa jangan-jangan … bu Ana dan pak Kenzie memiliki hubungan khusus?".
"Tidak mungkin. Kita tahu betul kalau pak Kenzie memiliki perasaan pada bu Dara".
"Tapi bu Dara sudah tidak ada. Jadi tidak menutup kemungkinan kalau mereka memiliki hubungan khusus".
"Kamu memang benar, tapi bu Dara belum lama meninggal, apa iya pak Kenzie bisa dengan mudahnya melupakan bu Dara?".
"Apa yang tidak mungkin? Kalian lihat sendiri kan bagaimana sikap bu Ana? Dia sepertinya bisa mengambil hati pak Kenzie dengan mudah"
"Ya memang tapi …"
"Sudah-sudah. Sebenarnya apa yang jadi masalahnya? Kenapa kalian malah meributkan hubungan mereka? Biarkan saja mereka dengan urusannya sendiri. Itu tidak ada hubungannya dengan kita".
"Kamu memang benar. Ini hanya kecurigaan kami saja kalau bu Ana bisa masuk kesini dengan mudah karena dia bisa merayu pak Kenzie. Dia bahkan bisa membuat pak Kenzie bertekuk lutut padanya dan melakukan apa saja untuknya. Kurasa dia pakai guna-guna". Semua kembali saling menatap mendengar ucapan itu.
"Intan, jangan bicara sembarangan! Jika ada yang mendengarnya, kamu bisa berada dalam masalah besar",ujar salah satu rekannya mengingatkan.
"Itu memang benar. Dimana salahnya?!"
"Sssstt, bu Ana datang"
Perbincangan mereka terhenti saat melihat Dara memasuki kantor. Mereka langsung menoleh ke arah pintu masuk secara bersamaan
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa semua orang memperhatikanku?"