Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Malam Panas Kenzie Dan Dara


__ADS_3

"Ky, apa kamu sudah tahu kalau keluarga Nasya bangkrut?". Ibu Lucky sedang bicara dengan sang putra melalui sambungan telepon.


"Benarkah Mah? Aku belum tahu. Nasya belum menghubungiku sejak beberapa hari yang lalu". Lucky menanggapi dengan sikap yang tenang ketika dia mendengar kabar dari sang ibu.


"Yang Mama dengar rumah dan semua aset mereka juga disita, tapi Mama juga belum tahu kebenarannya", ujar ibu Lucky dengan sikap yang tenang.


"Baiklah Mah, aku akan tanyakan langsung pada Nasya", ujar Lucky menenangkan sang ibu.


"Umm … Ky, apa kamu yakin mau melanjutkan hubunganmu dengan Nasya?". Ibu Kucky bertanya dengan ragu pada sang putra.


"Apa maksud Mama?". Lucky bertanya dengan dahi berkerut pada sang ibu.


"Tidak, maksud Mama … kamu mengerti kan? Nasya terbiasa hidup mewah, sekarang keadaan keluarganya tidak seperti dulu. Mama khawatir kalau dia dan keluarganya hanya ingin memanfaatkanmu saja". Ibu Lucky kembali bicara dengan ragu pada putranya.


"Mama tidak perlu khawatir. Nasya adalah gadis yang baik, aku yakin kalau setelah menikah nanti, aku pasti bisa mengaturnya". Lucky meyakinkan sang ibu sambil tersenyum tipis.


"Mah sudah dulu ya. Aku sedang ada pekerjaan. Besok aku akan pulang darisini", sambung Lucky berusaha mengakhiri telepon dengan sang ibu.


"Ya, baiklah. Hati-hati dalam perjalananmu"


"Iya, Mah. Sampai jumpa". Lucky langsung menutup telepon sang ibu tanpa menunggu tanggapan lagi.


Nasya bangkrut? Dia selalu hidup mewah, bagaimana keadaannya sekarang? Apa aku telepon saja?


Lucky hendak menghubungi Nasya setelah dia selesai bicara dengan sang ibu, tapi tiba-tiba sekretarisnya datang dan memanggilnya untuk rapat.


Tok tok tok


"Permisi, Pak. Waktunya rapat sudah tiba, anda bisa datang keruang rapat sekarang".


"Oh ya, baiklah". Lucky kembali meletakkan ponselnya diatas meja dan tidak jadi menghubungi Nasya.


...****************...


Sementara itu ditempat lain Nasya beserta nenek dan ayahnya sedang kebingungan mencari tempat tinggal sambil menarik koper ditangan mereka.


"Pah, sebenarnya Papa mau membawa kita kemana?", tanya Nasya dengan raut wajah bingung.


"Sebentar lagi kita akan sampai", ujar Soni yang berjalan didepan Nasya dan bu Melati.

__ADS_1


Nasya dan bu Melati tidak bertanya lagi. Mereka mengikuti langkah Soni tanpa mengeluh. Setelah beberapa lama, mereka akhirnya tiba ditempat yang dituju.


Tingnong tingnong


"Ini rumah siapa?", tanya Nasya sambil memperhatikan rumah itu. Soni tidak menjelaskan apapun dan tetap diam sambil menunggu pintu dibuka.


Tingnong tingnong


Ceklek


Terlihat seorang wanita membuka pintu. Dia menatap Soni dengan ekspresi wajah datar.


"Sayang". Soni menyapa dengan senyum ceria dan suara yang lembut.


"Ada apa ini? Kenapa kamu kemari? Siapa mereka?". Wanita itu bertanya dengan sikap yang dingin sambil menatap Soni dengan tatapan sinis.


"Ini ibu dan juga putriku, Nasya. Ada sedikit masalah dengan rumah kami, jadi aku membawa mereka kemari agar bisa tinggal sementara disini, bolehkan?". Soni bicara dengan lembut pada wanita itu.


Wanita itu terdiam sambil menatap Nasya dan juga bu Melati.


"Ini bukan hotel. Lagipula … apa kamu tahu, gara-gara foto kita tersebar luas, semua orang yang berpapasan denganku menatapku dengan tatapan jijik? Aku dan anakku tidak melakukan kesalahan tapi kenapa kami yang harus menanggung hukuman atas kesalahanmu? Aku menikah denganmu karena kamu bilang akan bercerai dengan istrimu tapi kenyataannya aku malah jadi perebut suami orang". Wanita meluapkan semua kekesalannya pada Soni dengan sikap yang dingin dan air mata yang perlahan menetes dari kedua matanya.


"Sayang, dengarkan penjelasanku dulu"


Brak!


Soni berusaha mendekati wanita itu untuk membujuknya, namun saat dia mendekat, tangan Soni ditepis dan dia sedikit menjauh. Dia langsung menutup pintu rumahnya dengan keras setelah mengatakan ingin berpisah.


Soni terpaku sambil menatap pintu rumah didepannya.


"Ayah, Nenek, sekarang kita mau pergi kemana? Haruskah kita pergi ke hotel?", tanya Nasya dengan sedikit bingung setelah menyaksikan apa yang terjadi dihadapannya


"Kita hanya bisa mencari hotel sederhana atau mencari rumah sewa saja. Kita tidak mungkin bisa menginap dihotel mewah", ujar Soni menanggapi putrinya dengan raut wajah sedih.


"Sebaiknya kita mencari rumah sewa saja. Itu langkah terbaik untuk bisa bertahan saat ini", ujar bu Melati menimpali.


"Baiklah kalau begitu kita cari rumah sewa saja".


Mereka pun bergegas meninggalkan rumah istri muda Soni dengan langkah kaki yang lemas. Soni yang sedang kacau berkali-kali menoleh rumah istri mudanya yang tertutup rapat.

__ADS_1


...****************...


Dirumah Kenzie.


"Sayang, apa kamu dengar kalau keluarga Darmawan sudah dinyatakan bangkrut? Semua aset sudah disita. Rumah dan perusahaan akan dilelang dalam beberapa hari kedepan". Kenzie memberitahu Dara mengenai kondisi keluarganya.


"Benarkah? Bagaimana bisa secepat itu? Bukankah masih ada waktu hingga batas pembayaran pinjaman?". Dara memicingkan mata dan menatap Kenzie dengan tatapan curiga.


"Kenapa menatapku begitu?". Kenzie bertanya dengan senyum tipis dibibirnya.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Hanya sedikit main komputer saja. Itu bukan perkara sulit untuk dilakukan Noey". Kenzie bersikap acuh tak acuh menanggapi Dara. Dia menganggap itu bukan masalah besar untuk ditangani.


"Benarkah? Kenapa tidak dilakukan sejak awal?", tanya Dara dengan senyum dibibirnya.


"Awalnya aku hanya menghargaimu dan tidak ingin menghancurkan apa yang dibangun oleh ayahmu, tapi sekarang aku ingin menghadiahkan itu semua untukmu"


"Benarkah?". Dara kembali menatap Kenzie dengan senyum tak percaya.


"Tentu saja, tapi itu tidak gratis. Aku ingin imbalan yang besar darimu?", ujar Kenzie dengan senyum menggoda.


"Imbalan? Imbalan apa? Berapa harga yang harus kubayar?", tanya Dara memastikan.


"Harganya?". Kenzie kembali tersenyum nakal setelah Dara menganggukan kepala dengan wajah menggemaskan.


"Harganya … aku ingin seluruh tubuhmu dan seluruh hidupmu hanya untukku".


Kenzie mendekatkan wajahnya pada wajah Dara yang kini memerah karena malu. Lalu perlahan dia mendetkan bibirnya pada bibir sang istri. Mereka saling menutup mata satu sama lain. Kenzie mulai mencium Dara dengan mesra dan lembut. Setelah beberapa saat dia melupaskan ciumannya dan menggendong Dara yang sebelumnya duduk dikursi dengan hati-hati lalu memindahkannya ketempat tidur. Merekapun mulai menghabiskan malam panjang yang intim ditemani cahaya bulan yang terlihat jelas dari kamar mereka.


"Kak Zie, sejak kapan kamu menyukaiku?", tanya Dara yang berada dalam dekapan Kenzie setelah aktifitas mereka yang melelahkan.


"Hmm … sudah sejak lama. Bahkan sebelum kamu jadi sekretarisku". Kenzie menanggapi dengan lembut sambil sesekali mengecup kening sang istri.


"Apakah cinta pada pandangan pertama?", tanya Dara sambil mendongan dan menatap wajah tampan sang suami.


"Ya. Bisa dikatakan seperti itu".


"Sekarang kita sudah menjadi suami istri, kapan kamu akan memperkenalkanku pada keluargamu? Apa mereka memiliki kriteria menantu idaman?". Dara terlihat ragu dan gugup menunggu jawaban Kenzie.

__ADS_1


"Kriteria menantu idaman ya? Hmn … mungkin gadis yang aku cintai dan juga cinta padaku? Kurasa itu sudah cukup".


"Benarkah? Kalau begitu aku bisa tenang, karena perlahan aku semakin mencintaimu"


__ADS_2