Sekretaris Arogan Kesayangan CEO

Sekretaris Arogan Kesayangan CEO
Identitas Baru Dara


__ADS_3

Dara dan Kenzie kembali kerumah setelah mereka selesai bekerja. Kini mereka duduk bersama sambil menikmati waktu bersantai.


"Sayang, apa kamu sudah memikirkan matang-matang keinginanmu tadi?". Kenzie membuka pembicaraan mengenai keinginan Dara untuk berhenti bekerja dengannya.


"Iya. Kurasa … aku ingin mencoba melakukan itu". Dara mengangguk dan menanggapi dengan senyum ceria.


"Apa kamu yakin?".


"Ya, aku sangat yakin". Dara terlihat sangat bersemangat.


Kenzie terdiam sesaat seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Jika tekadmu memang sudah bulat, maka aku tidak akan menghalangi. Tapi, jika kamu memiliki kesulitan apapun, kamu harus langsung mengatakannya padaku".


"Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah lama jadi sekretarismu, kurasa … aku sudah mampu mengatasi masalahku sendiri". Jawab Dara dengan percaya diri.


"Hmn … kalau begitu kita harus segera buat identitas baru untukmu".


Dara menatap Kenzie penuh tanya.


"Identitas baru? Kenapa?".


"Karena Andara Prianka Darmawan sudah meninggal. Dan nama Ana hanya kita gunakan dikantor ini saja".


"Kurasa tidak perlu seperti itu. Kita cukup perbarui semua data tentangku saja".


"Apa kamu yakin tidak ingin identitas baru? Akan sangat merepotkan jika harus selalu mengkonfirmasi identitas lamamu dengan wajahmu yang sekarang"


Dara kini terdiam mendengar ucapan Kenzie.


"Haruskah aku mengganti namaku? Apa yang Kak Zie katakan itu memang benar, Andara sudah meninggal. Meskipun pada kenyataannya aku masih hidup, tapi tidak ada yang mengenaliku dengan wajahku yang sekarang. Tidak mungkin orang akan dengan mudah percaya kalau aku adalah Dara".


Dara merenung memikirkan ucapan Kenzie sebelum membuat keputusan.


"Seperinya Kak Zie memang benar. Aku harus move on dan melangkah kedepan melupakan masa lalu. Baiklah. Apa kak Zie memiliki nama yang cocok untukku?". Dara tersenyum sambil bersikap manja pada Kenzie.


"Kamu tidak ingin memilih namamu sendiri?". Kenzie bertanya dengan senyum lembut dibibirnya.


"Tidak. Aku ingin Kak Zie yang memilihkan nama yang cocok untukku". Dara bicara sambil menggelengkan kepala perlahan.


"Ehm … Bagaimana kalau Liliana Prianka Anggara? Bukankah Lili adalah bunga kesukaanmu? Kamu juga masih bisa dipanggil Ana seperti biasanya, nama tengahnya tetap gunakan namamu dan untuk nama belakangnya karena kamu adalah istriku jadi gunakan nama keluargaku". Kenzie bicara sambil menyentuh ujung hidung Dara dengan lembut.


"Bagaimana kak Zie tahu kalau aku suka bunga lili?". Dara menatap Kenzie dengan wajah penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu. Itu sama sekali bukan hal yang sulit untuk tahu apa yang disukai istriku".


Mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh cinta.


"Baiklah. Karena itu nama yang diberikan suamiku, jadi aku akan menerimanya dengan senang hati. Mulai sekarang, namaku adalah Liliana Prianka Anggara. Aku akan segera mengurus kartu identitasku".


"Aku senang jika kamu menyukainya".


...****************...


Dara pergi kekantor seperti biasa. Kali ini dia akan mengemas semua barang-barang miliknya yang ada dikantor.


"Apa kamu sudah mengemas semuanya?", tanya Kenzie dengan lembut pada Dara.


"Ya, aku sedang bersiap".


"Apa kamu yakin akan berhenti? Jika kamu keluar, maka Kenzie bisa seenaknya dikantor". Noey yang ada disana berusaha menahan Dara agar tidak berhenti.


"Ada kamu yang akan mengawasinya. Lagipula kami tetap bisa bertemu dirumah". Dara menanggapi sambil tersenyum.


"Tamatlah riwayatku jika kamu tidak ada. Aku harus mengerjakan semuanya sendiri sampai ada sekretaris pengganti nanti".


"Aku harap kamu memilih sekretaris kak Zie dengan bijak. Jika kamu salah pilih maka aku akan kembali dan memotong gajimu!". Noey merengut kesal mendengar apa yang dikatakan Dara padanya.


"Sudah sudah. Meskipun ada sekretaris baru, tapi dia tidak mungkin bersikap seenaknya seperti sekretarisku yang satu ini". Kenzie mencubit lembut ujung hidung Dara saat dia bicara.


"Aku harus pergi. Aku akan menyiapkan persyaratan untuk lamaran kerjaku besok", ujar Dara pada Kenzie dan Noey.


"Baiklah. Jangan lupa makan siang. Aku tidak bisa makan siang denganmu karena ada janji nanti". Kenzie mengingatkan sebelum Dara pergi.


"Ya, kakak tenang saja. Aku akan kabari nanti. Sampai jumpa dirumah nanti, muach. Sampai jumpa Noey". Dara bicara dengan lembut lalu mencium sebelah pipi Kenzie kemudian melambaikan tangan pada Noey.


"Sampai jumpa".


Noey pun mengangguk dan berdiri disamping Kenzie.


"Kamu yakin tidak ingin menahannya disampingmu?", tanya Noey sambil menatap punggung Dara yang kini menghilang dibalik pintu.


"Aku tidak ingin mengekangnya. Biarkan saja dia melakukan apapun yang dia inginkan. Cukup aku awasi dari belakang saja". Kenzie menjawab dengan sikap tenang lalu kembali duduk di kursinya.


"Ya, itu terserah padamu. Aku hanya penasaran saja". Noey pun melenggang pergi meninggalkan ruangan Kenzie untuk kembali ke meja kerjanya.


...****************...

__ADS_1


Sementara itu di lobby kantor Zie, beberapa karyawan memperhatikan Dara yang meninggalkan kantor sambil membawa kotak berisi barang-barang miliknya.


"Lihat itu, apa benar dia berhenti bekerja?", tunjuk salah seorang karyawati pada Dara.


"Sepertinya begitu. Apa kamu tahu alasannya apa?", tanya rekannya menanggapi.


"Entahlah. Yang pasti kita tidak harus melihat dia yang sok dekat dengan bos lagi".


Dara mengabaikan tatapan orang-orang dan tetap berjalan keluar dari kantor dengan sikap yang tenang. Dia berjalan menuju kafetaria yang letaknya tidak jauh dari kantor Kenzie.


"Selamat datang". Sambut pelayan kafe begitu Dara masuk kesana.


Dara meletakkan barangnya diatas meja dan memesan minuman.


"Saya pesan Americano 1".


"Baik".


Dara duduk disalah satu kursi dengan box berisi barang dihadapannya.


"Apa anda baru saja kehilangan pekerjaan?". Dara mengangkat kepalanya menatap seseorang yang berdiri dihadapannya.


"Hmn. Anda siapa?", tanya Dara dengan sikap yang dingin.


"Oh maaf. Saya Emil. Boleh saya bergabung disini?". Pria itu bertanya sambil menarik kursi dan duduk dihadapan Dara.


"Bukankah anda sudah duduk sebelum saya mengizinkan?". Dara terus menanggapi dengan sikap sinis.


"Ya, anda benar. Saya hanya pensaran, apa gadis secantik anda baru saja dipecat dari perusahaan?". Emil terus bertanya pada Dara dengan nada yang lembut.


"Apa urusannya dengan anda? Anda mau memberi saya pekerjaan?". Dara memicingkan mata dengan sikap yang sinis.


"Kebetulan diperusahaan saya sedang membuka lowongan sebagai sekretaris. Jika anda ingin mencoba, anda bisa datang langsung". Emil bicara sambil memberikan selembar kartu namanya pada Dara.


"Emil Santoso, direktur PT. Santoso Sejahtera? Bukankah ini perusahaan sepatu?", tanya Dara sambil membaca kartu nama yang diberikan padanya.


"Ya, aku sedang mencari sekretaris. Mungkin kamu ingin mencoba ikut tes".


"Tidak. Aku tidak tertarik". Dara langsung menolak tawaran Emil tanpa ragu-ragu.


"Kamu yakin? Bukankah kamu sedang mencari pekerjaan?". Emil yang bingung bertanya dengan raut wajah penasaran.


"Siapa bilang aku sedang butuh pekerjaan? Aku hanya ingin istirahat saja".

__ADS_1


Saat Dara dan Emil sedang berbincang, ada seorang gadis dari kejauhan yang memperhatikan mereka.


"Siapa gadis yang bersama Emil itu? Kenapa mereka terlihat sangat akrab? Apa dia kekasih baru Emil?"


__ADS_2